
"Aku bisa menjadi bodoh ketika mencintai. Tetapi aku bisa menjadi sangat kejam jika disakiti." Zion Zein.
Pagi ini Faith berencana untuk beres-beres rumah. Hal yang pertama kali ingin dia lakukan adalah mengganti seprei dan sarung bantal. Wanita itu menarik seprei dan meletakkannya di lantai. Faith memegang kedua pinggangnya sambil memandang tempat tidur lagi. Dia tahu hari ini pasti akan sangat melelahkan. Tetapi, lelah akan jauh lebih baik daripada dia harus duduk diam tidak melakukan apapun.
Faith berjalan ke arah lemari yang terletak di sudut ruangan. Menarik pintu lemari dan mendongak ke atas. Ternyata seprei gantinya ada di tumpukan atas. Untuk badan Faith yang hanya 155 cm, dia tidak bisa mengambil seprei itu. Meskipun sambil berjinjit.
"Kursi. Aku butuh kursi." Faith keluar meninggalkan kamar. Dia menyeret kursi meja makan dan membawanya ke kamar. Di kamar hanya ada sofa. Faith tidak akan kuat menarik sofa itu.
Setelah meletakkan kursi di depan lemari, wanita itu naik ke atasnya ingin mengambil seprei ganti. Ada tiga warna di sana. Faith sempat bingung harus memilih warna yang mana karena ketiganya sangat bagus.
Tanpa sadar Faith melangkah ke samping karena memang menarik seprei itu terasa sulit. Faith memegang seprei itu dan menariknya sekuat tenaga. Keseimbangan Faith mulai oleng. Wanita itu memegang seprei sambil berteriak karena takut jatuh.
Sebelum benar-benar jatuh, Faith segera melompat hingga membuat lututnya terbentur lantai. Seprei yang sempat dia pegang terlepas dan jatuh di lantai. Bukan hanya seprei yang ia pilih saja. Dua seprei lainnya juga ikut terjatuh dan menumpuk di lantai.
Faith mengeluh kesal. Dia ingin membereskan semua kekacauan itu. Namun, pintu kamar sudah terbuka. Zion muncul dengan sekotak paper bag di tangannya. Pria itu terlihat khawatir.
"Apa yang terjadi?" Dia segera meletakkan paper bag tersebut di atas nakas sebelum mendekati Faith untuk menolongnya.
"Aku baru saja jatuh," jawab Faith. "Ini sakit." Faith menunjuk lututnya yang memar. Tanpa pikir panjang Zion segera menggendong Faith dan membawanya ke sofa. Pria itu meluruskan kaki Faith untuk memeriksanya.
"Kenapa kau bisa sampai terjatuh?"
"Aku mau ambil seprei di atas." Faith memandang paper bag yang tadi di bawa oleh Zion. "Apa itu?"
"Baju ganti." Zion masih memperhatikan lutut Faith yang memar.
"Kenapa banyak sekali? Setiap kau datang kau selalu membawa baju ganti untukku. Bukankah baju yang sudah dipakai bisa dicuci dan dipakai kembali. Untuk apa beli baju banyak-banyak?"
"Anggap saja itu hadiah dariku karena kau sudah baik-baik saja selama berada di rumah," jawab Zion asal saja.
__ADS_1
Faith tertawa mendengarnya. "Ternyata di balik wajahmu yang menyeramkan, kau ini pria yang sangat humoris. Kau memberiku hadiah karena aku baik-baik saja? Itu sangat tidak masuk akal."
Zion tidak mau bicara lagi. Pria itu berdiri dan melangkah meninggalkan kamar. Faith mengeryitkan dahinya dan menurunkan kedua kakinya ke bawah. Tadinya dia ingin mengambil paper bag di atas nakas. Namun, karena lututnya sakit wanita itu tidak bisa berjalan. Faith kembali terduduk di sofa sambil meringis kesakitan.
Zion masuk lagi dengan alat kompres dan kotak P3K di tangannya. Pria itu sempat marah melihat Faith yang tidak bisa duduk diam.
"Aku belum ada mengizinkanmu untuk jalan!" Zion meletakkan barang bawaannya di meja.
"Untuk apa semua barang-barang ini?"
"Mengobati kakimu yang terluka."
Tanpa permisi Zion mengangkat kedua kaki Faith ke atas meja. Lutut yang sebelah kanan memar dan lutut yang sebelah kiri lecet sedikit. Bagi Zion, luka itu adalah luka yang sepele. Namun dia tahu kalau wanita seperti Faith tidak akan sanggup menahan rasa sakitnya. Dia membersihkan luka lecet terlebih dahulu sebelum memberinya obat antiseptik. Lutut yang sebelahnya lagi di kompres agar tidak sakit.
"Apa anda seorang dokter, Tuan?"
"Untuk melakukan hal seperti ini aku tidak perlu menjadi seorang dokter. Siapapun bisa melakukannya," jawab Zion masih dengan ekspresi dingin favoritnya.
Faith mengeryitkan dahi. "Tuan, apa anda bisa tersenyum?"
"Aku tidak suka tersenyum," jawab Zion. Dia kembali mengompres kaki Faith.
Sesekali Faith melirik wajah Zion. Memang sebelumnya Faith sudah mulai menilai Zion sebagai pria baik. Namun, melihat tingkah laku dan eskpresi Zion yang dingin seperti ini kadang membuatnya ragu.
"Apakah orang-orang yang berjaga di depan rumah masih ada? Hampir setiap saat aku lihat mereka berdiri. Kapan mereka istirahat. Orangnya juga tidak pernah ganti."
"Mereka tidak akan berani pergi tanpa izin dariku. Waktu istirahat biar mereka saja yang memikirkannya. Kau tidak perlu ikut campur. Mereka akan tetap hidup dan berdiri di sana."
"Untuk yang kesekian kalinya aku ingin mengucapkan terima kasih. Tapi kenapa anda melakukan semua ini? Aku merasa tidak enak. Sejak awal aku sudah merepotkan Anda. Apa tidak ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menebus kebaikan anda selama ini, Tuan?"
"Kau hanya perlu menuruti perkataanku dan itu sudah lebih dari cukup," jawab Zion cepat.
__ADS_1
"Tuan, hidup anda tidak akan tenang setelah anda menolong saya. Bukannya saya ingin menakut-nakuti anda. Tetapi sebelum menyesal sebaiknya pikir-pikir saja lebih dahulu. Dominic itu pria yang sangat berbahaya dan berkuasa. Dia tidak akan membiarkan musuhnya hidup dengan tenang. Jika dia sampai tahu kalau sekarang saya ada pada anda, hidup anda dan keluarga anda tidak akan bisa tenang lagi." Faith Hanya berusaha memperingati Zion. Dia tidak mau disalahkan pada akhirnya nanti.
"Jika dia sampai berani mengusik keluargaku, maka
dia akan menyesal."
"Baiklah aku akui Anda pria yang hebat dan kuat. Mungkin dari segi kemampuan Anda bisa mengalahkan Dominic jika kalian bertarung. Tapi Dominic itu pria yang sangat licik dan kaya raya. Untuk menang tidak selamanya dia menggunakan kekerasan. Lalu apa Anda sudah siap untuk menghadapinya?"
Kali ini Zion memandang Faith. Sedangkan Faith yang merasa grogi memilih untuk mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ada di sekitar sana.
"Apa kau ingin kembali padanya?"
"Tidak," jawab Faith cepat. Bahkan dia tidak mau sampai membayangkannya. Berada di samping Dominic hanya membuat hidupnya seperti berada di neraka.
"Itu sudah lebih dari cukup. Kita ikuti saja bagaimana permainannya. Kita tidak perlu melakukan hal apapun sebelum dia mengambil tindakan. Jika dia muncul kita hadapi. Jika dia menyerang kita serang balik." Zion memang selalu tenang menghadapi masalah apapun. Prinsipnya dia tidak akan mau menyerang lebih dulu selama keluarganya baik-baik saja.
"Lalu, jika dia berhasil membawaku pergi. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan membiarkanmu pergi." Zion terlihat santai ketika menjawabnya. Seolah tidak ada beban di hidupnya.
Faith menjadi semakin sedih. Padahal tadinya dia berpikir Zion akan merebutnya kembali dari Dominic.
"Astaga apa yang aku harapkan darinya. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Untuk apa juga dia mempertahankanku untuk selalu ada di sisinya," gumam Faith di dalam hati.
"Kecuali kau bilang kalau kau ingin selalu ada disampingmu. Maka aku akan pertimbangkan lagi untuk merebutmu darinya." Kali ini Zion sedikit jual mahal. Walau sebenarnya yang terjadi tidak akan seperti itu. Dia tidak akan membiarkan Dominic merebut Faith dari sisinya.
"Hai tuan. Sebenarnya Anda ini kenpa? Apa anda telah jatuh cinta pada saya sejak pandangan pertama?"
Zion membisu mendengarnya. Tidak mungkin juga dia berkata jujur. Itu akan menjatuhkan harga dirinya.
"Aku memiliki adik perempuan dan kau adalah seorang perempuan. Jadi anggap saja semua yang aku lakukan adalah rasa simpatiku terhadapmu sebagai seorang wanita." Zion melempar kain yang tadi dia gunakan untuk mengompres lutut Faith.
__ADS_1
"Bereskan semua ini dan segera ganti pakaianmu. Kita akan pergi keluar. Kau pasti bosan karena selama beberapa hari ini terkurung di dalam rumah. Aku akan meminta orang untuk mengganti seprei di tempat tidur."
Faith diam sejenak. Ketika ingin bertanya lagi Zion sudah pergi meninggalkan kamar itu. "Dia benar-benar pria yang aneh," umpat Faith di dalam hati.