
Foster sudah tiba di kasino. Ada wanita cantik dan seksi yang kini menggandeng lengannya. Di belakang Foster ada beberapa bodyguard. Dari balik kacamata hitam yang kini kenakan oleh Foster, pria itu memperhatikan satu persatu pengawal yang berjaga di kasino tersebut. Dia sengaja berpenampilan seperti itu agar terlihat seperti pria kaya raya yang ingin bermain dan bersenang-senang di kasino tersebut. Gayanya terlihat sangat mewah. Foster juga menyamarkan identitasnya yang saat itu menjadi pria beristri yang sangat suka foya-foya. Foster menggunakan identitas pamannya yang tidak lain adalah keluarga Matthew. Hanya itu yang terpikirkan olehnya untuk saat ini. Karena tanpa identitas keluarga Matthew, Foster tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam kasino tersebut.
"Tugasmu hanya menjawab apa yang aku tanyakan dan melakukan apa yang aku perintahkan. Mereka harus berpikir kalau kita adalah sepasang kekasih," ucap Foster kepada wanita yang kini ada di sampingnya. Sudah berulang kali ia katakan. Berharap wanita itu bersikap sesuai yang diinginkan oleh Foster.
"Baiklah, Tuan. Saya akan melakukan tugas saya sesuai dengan perintah anda. Tapi ingat untuk membayar saya jika pekerjaan saya telah selesai," jawab wanita tersebut.
"Tentu saja aku tidak pernah berbohong. Apa wajahku ini tidak bisa dipercaya?"
Wanita itu menahan langkah kakinya lalu berdiri di depan Foster. Dia segera mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Foster seperti ingin mencium pria itu. "Jika anda tidak membayar saya dengan uang, Anda harus membayarnya dengan bibir Anda yang seksi ini." Wanita itu menggoda Foster dengan begitu ahli.
"Aku sudah memiliki kekasih. Jadi, tolong jaga sikapmu. Bekerjalah secara profesional." Foster menyingkirkan wanita itu dari hadapan lalu merapikan kembali penampilannya. Wanita itu sempat memajukan bibirnya ke depan sebelum merangkul lengan Foster dengan hati-hati.
Pria berjas rapi menyambut kedatangan Foster. Pria itu terlihat sangat bahagia bisa dikunjungi oleh pria hebat seperti Foster.
"Selamat malam, Tuan. Saya sempat kaget ketika mendapat kabar kalau penerus keluarga Matthew akan hadir di kasino kami. Saya harap anda bisa bersenang-senang malam ini, Tuan. Silakan masuk."
"Terima kasih," jawab Foster sekedarnya. Lagi-lagi pria itu memandang lokasi sekitar yang ada di sana.
__ADS_1
"Saya membawa banyak uang malam ini. Saya akan bermain sampai pagi," ucap Foster menyombongkan diri.
"Anda beruntung karena datang malam ini. Tuan Dominic akan datang ke kasino. Hanya orang-orang tertentu yang bisa bermain dengan Tuan Dominic. Saya harap Tuan Dominic memilih anda untuk menjadi lawannya malam ini. Jika menang anda bisa membawa pulang uang yang berkali-kali lipat nilainya. Tetapi jika anda tidak beruntung anda bisa pulang dengan tangan kosong," ucap pria di samping Foster.
Dengan santainya Foster mengambil sejumlah uang dari dalam koper lalu memberikannya kepada pria tersebut.
"Aku ingin bermain dengan Tuan Dominic malam ini," ucap poster tanpa memandang.
Pria itu langsung mengangguk cepat. Dia terlihat senang sekali melihat tumpukan uang yang kini ada di genggaman tangannya. "Baiklah, Tuan. Saya akan mengurusnya. Saya pastikan malam ini anda akan bermain dengan Tuan Dominic. Semoga anda beruntung," ujar pria itu sebelum pergi.
Foster tersenyum kecil memandang kepergian pria itu. Dia duduk di kursi yang sudah disiapkan. Foster masih ingin mengamati kasino tersebut sebelum melakukan penyerangan. Dia harus tahu jumlah musuh yang akan dihadapi nantinya.
Wanita itu menggangguk sebelum mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan sesuai dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Foster lalu mengirimnya ke nomor Lukas. Sebelum tiba di kasino memang Foster telah memberikan nomor Lukas kepada wanita tersebut. Selain berpura-pura menjadi kekasih Foster, wanita itu juga bertugas untuk menyampaikan informasi yang Foster tidak bisa sampaikan secara langsung.
"Sudah, Tuan. Ada lagi?" tanya wanita itu dengan senyum manis di bibirnya.
Foster memandang Dominic yang kini berjalan menghampirinya. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Katakan kalau permainan akan segera dimulai."
__ADS_1
...***...
Lukas memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah membaca pesan yang dikirimkan wanita tersebut. Dia memandang Zion dan Austin yang terlihat sudah tidak sabar untuk melakukan penyerangan. Dua pria itu ditugaskan untuk menyerang Dominic di tengah jalan. Namun mereka berdua terlihat kurang setuju. Mereka meminta Lukas untuk mengizinkan mereka berdua menyerang mansion mewah milik Dominic.
"Opa, menurut saja dengan apa yang kami katakan. Opa diam di sini. Awasi kami dari kejauhan. Kami berdua bisa diandalkan. Setelah memporak-porandakan mansion mewah milik Dominic, kami akan segera berangkat ke jalan ini untuk menyerang Dominic," ucap Zion berharap kali ini Lukas mau mengizinkan mereka.
"Tadinya Opa memang berpikir seperti itu. Kalian berdua saja yang melakukan penyerangan di rumah Dominic. Tapi setelah melihat penjagaan di sana Opa mengkhawatirkan keselamatan kalian berdua. Kalian berdua ini masih muda dan masa depan kalian masih panjang. Biar Opa saja yang melakukannya. Sejak dulu Opa sudah terbiasa dengan tugas seperti ini. Pengalaman Opa jauh lebih banyak daripada pengalaman kalian berdua," ucap Lukas sambil memandang Zion dan Austin secara bergantian.
"Maafkan aku Opa. Tapi aku tidak tenang jika Opa pergi ke sana sendirian." Zion memandang Austin yang kini berdiri di sampingnya. "Bagaimana kalau kau saja yang temani Opa berangkat untuk menyerang Mansion. Kita harus bergerak cepat karena sekarang Foster sudah bisa menguasai keadaan. Biar aku yang menunggu Dominic di tempat ini."
"Tidak! Opa tidak setuju," sahut Lukas dengan wajah yang serius.
"Opa, kita tidak memiliki banyak waktu. Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah. Pergilah Opa bersama dengan Austin ke mansion itu. Sekarang biar aku yang menunggu di sini bersama dengan pasukan Gold Dragon."
"Benar yang dikatakan oleh Kak Zion, Opa. Kita tidak memiliki banyak waktu sekarang. Kita harus segera bergerak."
Lukas masih berat hati untuk meninggalkan Zion sendirian di sana. Meskipun ada pasukan Gold Dragon, tetap saja dia tidak bisa tenang. Namun Zion sangat keras kepala. Membujuknya akan memakan banyak waktu. Hingga pada akhirnya Lukas memutuskan untuk pergi bersama Austin untuk menyerang mansion mewah milik Dominic. Mereka akan dihadapkan banyak musuh di sana. Lukas harus ekstra hati-hati mengingat usianya sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
Setelah Lukas dan Austin pergi, Zion memandang ke jalanan yang nantinya akan menjadi tempat munculnya Dominic. Pria itu memeriksa lagi senjata api yang kini akan ia gunakan untuk bertarung. Rasa-rasanya persiapan yang ia sediakan sudah cukup matang. Kini Zion siap untuk bertarung untuk melawan Dominic.
"Kenapa tiba-tiba aku mengingat Faith. Apakah dia sekarang baik-baik saja? Aku harap anak buah Dominic tidak mengetahui persembunyian Faith saat ini," gumam Zion di dalam hati.