Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 74


__ADS_3

Foster mengambil tisu dan membersihkan selai cokelat yang ada di sudut bibir Daisy.


"Terima kasih," ucap Daisy dengan wajah malu-malu.


Foster hanya tersenyum saja mendengarnya. Pria itu diizinkan menginap di rumah ini. Jordan sendiri yang mengizinkannya. Jordan percaya kalau Foster adalah pria baik. Tidak mungkin mengkhianati kepercayaannya. Selain jago bela diri, Foster juga berasal dari keluarga terpandang. Dia tidak akan mungkin mencoreng nama baik keluarganya.


Untuk sementara waktu Jordan dan Leona pergi ke rumah Zeroun. Mereka harus merawat pria itu. Pria yang dulunya terkenal sebagai pria tangguh itu kini jatuh sakit dan tidak lagi memiliki semangat hidup. Semua orang berkumpul untuk memberikan semangat kepadanya.


"Daisy, bagaimana kabar Kak Norah? Kapan mereka akan tiba di rumah ini? Sebenarnya Kak Zion menjemput Kak Norah dimana?"


Daisy menggeleng kepalanya. "Aku juga gak tahu kak. Sudah hampir dua hari Kak Zion pergi untuk menjemput Kak Norah. Tetapi sampai sekarang dia tidak juga kembali. Aku jadi khawatir." Daisy yang sudah tidak berselera untuk menghabisi cakenya meletakkan sendok di piring. Wanita itu menghela napas panjang dan bersandar. "Semoga saja mereka sudah dalam perjalanan pulang hari ini. Aku sangat merindukan Kak Norah dan Kak Zion."


"Semua akan baik-baik saja." Foster memegang tangan Daisy. "Percayalah padaku. Semua masalah ini akan segera berlalu."


Daisy tersenyum kecil. Wanita itu memandang ke samping ketika mendengar segerombolan orang baru saja masuk ke dalam rumah.


Foster yang tadinya sedang memegang tangan Daisy kini sudah melepaskannya. Pria itu tidak mau ambil resiko. Di tambah lagi ketika dia melihat Zion ada di antara gerombolan itu. Dia terlihat gugup dan takut. Foster segera beranjak dari kursi dan berdiri dengan kepala menunduk.


"Kak Zion!" Berbeda dengan Daisy. Wanita itu langsung berlari mendekati Zion. Tanpa pikir-pikir dia memeluk Zion karena sangat rindu. "Kak, aku merindukan kakak. Kenapa kakak tidak menghubungiku?"


Suasana hati Zion sedang buruk karena dia gagal menemui Norah. Di tambah lagi kini dia harus melihat Foster ada di rumahnya. Duduk di kursi yang biasa ia duduki. Rasanya darah Zion kembali mendidih hingga membuatnya ingin marah dan berteriak. Wajahnya sampai memerah karena menahan amarah.

__ADS_1


Daisy yang mulai menyadari perubahan sikap kakaknya melangkah mundur dengan wajah ketakutan. Biasanya Zion selalu membalas pelukannya dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya tersenyum. Tidak di pagi ini. Pria itu terlihat seperti ingin melahap Foster hidup-hidup.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" Zion memandang wajah Daisy. "Sepertinya kau dan Norah sama saja! Kalian dua wanita yang tidak bisa di atur. Apa kalian pikir perkataan dan semua nasehat yang pernah aku ucapkan tidak ada artinya?"


"Kak, apa yang kakak katakan?" Daisy mencari keberadaan Norah. "Dimana Kak Norah?"


"Dia pergi bersama pria yang sudah membuatnya bodoh!" Zion menatap ke arah Foster. "Sama sepertimu! Usir pria ini. Jika aku masih melihatnya ada di rumah ini, aku akan mengusirnya dengan tanganku sendiri."


Zion segera pergi meninggalkan Daisy dan Foster yang mematung dengan wajah bingung. Padahal bisa dibilang Foster adalah pria yang baik dan berjasa. Tetapi, Zion juga belum bisa menerima Foster. Di tambah lagi, setelah melakukan penyelidikan. Keluarga Foster sering kali menjelek-jelekkan nama baik keluarga mereka. Hal itu membuat Zion berpikir kalau Daisy tidak cocok dengan Foster. Zion hanya tidak mau adiknya sedih karena mendapat mertua yang sombong dan galak seperti ibu kandung Foster.


Daisy menghapus air matanya tanpa mau diketahui oleh Foster. Foster segera berjalan mendekati Daisy. Dia tahu kalau kekasihnya itu sedang menyembunyikan kesedihannya. Tetapi, Foster sendiri tidak bisa berbuat banyak. Dia harus segera keluar dari rumah itu agar tidak ada masalah lagi. Sudah cukup Daisy bersedih. Dia tidak mau membuat kekasihnya semakin sedih lagi.


"Daisy, kau tidak perlu menangis. Aku baik-baik saja. Aku akan menghubungimu nanti. Sepertinya Kak Zion memiliki masalah dengan Kan Norah. Kau harus menemaninya. Bantu dia menenangkan dirinya."


"Hei, kenapa kau bicara seperti itu. Semua orang bisa bersikap seperti itu jika dalam keadaan lelah dan emosi. Aku paham dengan apa yang dipikirkan Kak Zion. Mungkin, jika aku jadi dia aku juga akan melakukan hal yang sama. Memiliki dua adik perempuan tidak mudah. Bukan hanya menjaga fisiknya saja, tetapi kita juga harus bisa menjaga hatinya agar tidak pernah merasakan yang namanya sakit hati dan putus asa."


Daisy semakin kagum melihat Foster. Pria itu sangat dewasa. Bahkan lebih dewasa dari Zion. Foster pria yang selalu tenang ketika menghadapi masalah.


"Tetapi kasih kak karena kakak sudah mau mengerti keluarga Daisy."


Foster mengacak rambut Daisy. "Sana naik ke atas. Aku harus pulang."

__ADS_1


Daisy mengangguk setuju. Wanita itu memutar tubuhnya dan melangkah ke tangga. Dia memutar tubuhnya untuk memandang Foster sekali lagi sebelum melangkah lebih cepat naik ke atas. Foster juga segera pergi. Dia tidak mau ketika Zion turun dia masih ada di sana.


Setibanya di dalam kamar, Daisy masih belum berani bicara duluan. Wanita itu memandang punggung kakaknya yang tidak pakai baju. Tato Gold Dragon terlihat dengan jelas. Daisy menunduk tanpa berani melangkah mendekat.


"Maafkan aku. Tidak seharusnya kau membentak mu seperti tadi." Zion angkat bicara lebih dulu. Pria itu memutar tubuhnya dan memandang Daisy. "Kemarilah."


Daisy melangkah maju mendekati Zion. Dia duduk di sofa yang ada di hadapan Zion. Situasi di dalam kamar itu sangat canggih seolah mereka tidak saling kenal.


"Aku sudah berhasil menemukan Norah. Aku bahkan sudah membawanya masuk ke dalam pesawat. Tetapi sialnya, aku tidak berhasil membawanya pulang. Norah kabur dari pesawat tanpa sepengetahuan siapapun. Apa kau tahu, Daisy. Dia kabur bersama siapa? Bersama Austin. Pria yang sudah menculikmu. Pria yang sudah membuat keributan di rumah ini. Pria yang sudah menyebabkan GrandNa tewas. Aku kasih tidak habis pikir. Dimana letak akal sehat Norah. Kenapa dia mau membela dan menolong pembunuh itu?"


Kini Daisy tahu apa yang sudah menyebabkan kakaknya pulang dalam keadaan emosi. Daisy sendiri tidak sepenuhnya menyalahkan Norah. Dia tahu bagaimana sifat kakaknya itu. Norah wanita yang sangat hati-hati. Bahkan ketika berhubungan dengan perasaan. Dia tidak akan mungkin membela Austin sampai seperti ini jika tidak ada dasarnya. Pasti ada alasannya. Hanya saja Daisy tidak mengetahuinya. Tetapi, untuk saat ini dia tidak mau ikut-ikutan Zion menyalahkan Norah. Karena memang Daisy merasa yakin kalau belum tentu kakak kandungnya itu bersalah.


"Kak, kakak sudah makan?" tanya Daisy. Dia terpaksa mengalihkan pembicaraan agar Zion tidak semakin benci kepada Norah.


"Aku belum lapar!" sahut Zion tidak semangat. "Aku ingin membawanya pulang."


"Kak, jangan marah sama Kak Norah. Ini pasti hanya salah paham saja. Kita keluarga kak. Papa dan mama sedang sedih memikirkan kesehatan Opa Zen. Janganlah kita tambah beban mereka dengan masalah ini. Yang penting Kak Norah masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Itu sudah cukup kak. Selebihnya, akan kita pikirkan nanti. Aku yakin, Kak Norah pasti akan pulang. Prinsip Kak Norah, dia tidak akan mungkin membantah kakak kalau tidak benar-benar terpaksa. Kakak jangan marah lagi ya sama Kak Norah." Daisy berusaha membujuk Zion agar tidak larut dengan amarahnya. Wanita itu tahu, kalau mereka sebenarnya saling menyayangi dan saling membutuhkan. Daisy tidak mau masalah seperti ini membuat perpecahan di antara mereka.


"Baiklah. Aku akan pikirkan lagi. Untuk saat ini, aku masih berusaha mencarinya. Aku tidak bisa tenang jika dia belum kembali ke rumah ini," jawab Zion dengan suasana hati yang mulai tenang.


"Kalau begitu, kakak makan ya. Aku akan siapkan sarapan untuk kakak."

__ADS_1


Zion mengangguk setuju. Pria itu mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. Sedangkan Daisy segera pergi untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Aku tidak tahu ini berhasil atau tidak. Tapi, Opa Zen pernah bilang. Jika ingin persaudaraan di antara kami tetap erat, harus ada yang mengalah! Mungkin ini saatnya aku untuk mengalah. Mengabaikan perasaanku sendiri demi Kak Zion dan juga Kak Norah. Aku harap Kak Foster bisa mengerti dan tidak salah paham terhadap keluarga kami," gumam Daisy di dalam hati.


__ADS_2