
Faith dan Zion saling memandang satu sama lain. Mereka berdua terlihat malu-malu. Tidak ada yang berani mengganggu sepasang kekasih itu. Mereka sengaja memberi waktu kepada Zion dan Faith untuk berduaan.
"Mama masih sibuk berkumpul dengan yang lain. Aku akan ceritakan masalah ini kepada Mama besok pagi selesai sarapan." Zion memasukkan sosis yang sudah dibakar ke dalam mulutnya. Setelah ini pria itu ingin mencicipi daging.
"Aku juga belum memberitahu Papa masalah ini. Aku akan memberitahu papa besok pagi saja Aku takut Papa menjadi kepikiran." Faith mengambil jus segar yang ada di meja lalu meminumnya secara perlahan.
Zion mengangguk setuju. "Ya, kau benar. Sepertinya besok sore kapal kita akan berlabuh. Setelah itu kalian mau pergi ke mana? Apa pulang menyusul Dominic di Las Vegas atau kembali ke rumah yang ada di Amerika? Karena Dominic tidak ada, biar aku saja yang mengantar kau dan Paman Zean nanti."
"Aku belum membicarakan masalah ini kepada Papa. Dokter bilang Papa harus kontrol setiap 1 bulan sekali. Itu berarti kami tidak perlu lagi tinggal di Amerika.
Sebenarnya aku sendiri ingin berangkat ke Las Vegas untuk menemui Kak Dominic. Aku juga ingin mengajak Papa untuk tinggal di sana. Tetapi aku tidak tahu apa yang ada di pikiran papa. Sebelum kita menikah, aku akan ikut kemanapun Papa pergi." Faith mengalihkan pandangannya. Wanita itu menikmati keindahan lautan saat malam hari.
"Lalu setelah kita menikah nanti, kau ingin tinggal di mana?" tanya Zion tiba-tiba hingga membuat Faith menatapnya tidak percaya. "Kita akan menikah dalam waktu dekat. Itu berarti mulai sekarang kita harus memikirkan tempat tinggal," sambung Zion lagi.
Faith menyipitkan matanya mendengar pertanyaan Zion. "Aku akan ikut kemanapun Kak Zion pergi."
"Tidak bisa seperti itu. Kau harus katakan padaku kau ingin tinggal di mana? Apa ada negara atau kota khusus yang ingin kau tempati? Kebetulan sekali aku belum membangun rumah sampai saat ini. Aku akan memikirkannya dari sekarang. Jadi tentukan saja di mana lokasinya."
Zion merasa bahagia karena kini hidupnya tidak meluluh membahas masalah kekuasaan dan musuh. Membicarakan soal rumah membuat Zion terlihat bersemangat malam itu. Rasanya Zion sudah tidak sabar untuk tinggal di rumah yang mereka bangun hanya berduaan saja.
"Meskipun jauh, apa tidak akan jadi masalah?" tanya Faith ragu-ragu. Sebenarnya wanita itu pernah bermimpi kalau dia akan memiliki sebuah rumah di kota yang memiliki 4 musim. Faith ingin merasakan tinggal di sebuah rumah yang setiap tahunnya akan turun salju.
Zion memegang tangan Faith lalu mengusapnya dengan lembut. "Tidak masalah. Aku akan membangun rumah di tempat yang kau inginkan. Dimanapun itu. Termasuk ke ujung dunia sekalipun."
Faith terlihat bahagia mendengar jawaban Zion. "Jika pernikahan kita akan dilaksanakan dalam waktu dekat, sepertinya membangun rumah tidak akan selesai dalam waktu sesingkat itu. Lebih baik kita cari saja rumah yang sudah jadi. Ada banyak di luar sana rumah-rumah sederhana yang cocok untuk kita tempati."
"Sederhana?" tanya Zion lagi dengan wajah yang serius.
Faith mengangguk setuju. "Jika terlalu besar aku tidak mampu untuk membersihkannya," jawab Faith sambil tertawa malu-malu. Hal itu membuat Zion semakin mencintainya.
"Kau memang wanita yang beda dari wanita di luar sana. Bisa-bisanya di saat calon suamimu bertanya rumah seperti apa yang kau inginkan kau justru menjawab sebuah rumah yang sederhana. Baiklah, aku akan membeli sebuah rumah yang sederhana tetapi sesuai dengan versiku," gumam Zion di dalam hati.
"Aku ingin memiliki rumah di negara yang memiliki empat musim. Aku sudah bosan tinggal di tempat yang panas." Faith memandang Zion dengan serius. "Apa boleh?"
"Baiklah." Zion terlihat setuju. Pria itu sama sekali tidak keberatan jika harus menetap di negara yang memiliki empat musim.
"Kak Zion, apa Kakak sibuk?" Tiba-tiba Daisy berdiri di sana. Wanita itu bersama dengan Foster di sampingnya. Sama dengan yang lainnya, mereka berdua memakai pakaian serba hitam.
"Ada apa?" tanya Zion. Dia tidak suka di ganggu.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Daisy memandang ke arah Faith sambil tersenyum. "Kakak ipar, apakah aku boleh meminjam kakakku sebentar saja? Aku akan segera memulangkannya."
"Tentu saja," jawab Faith cepat. wanita itu sama sekali tidak keberatan.
Zion segera beranjak dari kursi yang sejak tadi iya duduki. Pria itu mengikuti langkah Daisy. Mereka berdua akhirnya berdiri di pinggiran kapal seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius. Sedangkan Foster masih tetap berada di dekat Faith. Daisy memang menugaskan Foster untuk menjaga Faith agar tidak sampai menguping pembicaraan mereka.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Untuk apa kau membawaku sejauh ini?" Zion sedikit protes. Dia tidak suka bermain-main karena pria itu masih ingin berada di dekat wanita yang ia cintai itu.
"Kak Foster baru saja mendapat kabar dari seseorang kalau Las Vegas diserang oleh sebuah gang mafia. Mereka tahu kalau selama beberapa bulan ini Dominic tidak menempati Las Vegas. Jadi mereka mengambil kesempatan ini untuk menguasainya dan mengusir Dominic dari Las Vegas."
"Apa?" tanya Zion tidak percaya. Kini pria itu jadi tahu apa alasan utama Dominic pergi diam-diam tadi siang.
"Apa Kakak akan diam saja melihat calon kakak ipar Kakak diserang di sana?"
"Tentu saja aku akan ke sana untuk membantunya!" jawab Zion mantap. "Malam ini juga aku akan pergi ke Las Vegas."
"Ada satu lagi masalahnya. Jika Kakak menghilang, tentu semua orang akan curiga. Apa lagi jika berita ini sampai ke telinga Paman Zean dan juga Kak Faith, mereka pasti akan kepikiran. Kita harus mencari cara agar Kak Zion bisa pergi meninggalkan kapal ini tanpa dicurigai oleh siapapun. Tapi apa alasan yang tepat agar semua orang percaya?"
Zion terdiam. Apa yang dikatakan Daisy ada benarnya. "Apa kau memiliki ide?"
"Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Yang aku tahu Kak Foster akan ikut dengan kakak untuk membantu kakak. Karena kita tidak mungkin melibatkan Kak Norah dan Kak Austin lagi. Mereka sudah memiliki Harumi, Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu kepada mereka dan membuat Harumi sedih."
"Kalau begitu urusannya akan semakin mudah. Aku akan katakan pada Faith kalau aku pergi karena ingin membantu Foster untuk mengatasi masalahnya di Jepang. Dengan begitu tidak akan ada yang curiga karena setahu mereka aku pergi untuk membantu Foster bukan membantu Dominic."
"Lebih baik kita jujur saja kepada Mama karena itu akan jauh lebih baik. Supaya Mama juga bisa menenangkan Paman Zean dan juga Faith selama aku tidak ada di kapal ini. Aku juga akan meminta Mama untuk kembali melanjutkan perjalanan agar selama aku membantu Dominic, Paman Zean dan Faith tetap tertahan di kapal ini. Semoga saja yang lain tetap setuju dengan ideku ini."
"Baiklah, aku akan membantu Kak Zion. Aku harap tidak ada yang menyadarinya kalau kita sedang menutupi sesuatu. Terutama Opa Zen. Semoga saja mereka semua mau melanjutkan perjalanan ini lagi."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Faith akan curiga jika kita bicara terlalu lama."
Daisy menggangguk. "Aku akan menunggu Kak Foster di sini. Ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan lagi dengannya. Oh iya, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan kepada Kak Zion."
Zion yang tadinya ingin melangkah pergi terpaksa berhenti lagi lalu memandang ke arah Daisy. "Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?"
"Selama Kak Foster menemani Kak Zion, tolong jaga Kak Foster dengan baik. Aku tidak mau dia sampai celaka. Begitupun dengan Kak Zion sendiri. Aku ingin dua pria yang aku sayangi ini pulang dalam keadaan selamat. Karena kita juga tidak tahu musuh seperti apa yang sekarang kita hadapi. Bisa jadi kemampuan mereka dibawa Kak Zion dan ada kemungkinan besar juga kemampuan mereka di atas kemampuan yang Kak Zion miliki. Ditambah lagi mereka sudah cukup lama berdiam diri di Las Vegas. Sudah pasti rencana yang mereka siapkan sangat matang."
"Baiklah. Aku janji padamu akan kembali dalam keadaan selamat." Zion mengacak rambut Daisy sebelum pergi. Daisy tersenyum hangat saat itu. Meskipun debaran jantungnya tidak tenang lagi, tetapi ini resiko yang harus mereka hadapi karena mereka adalah keluarga mafia.
"Kak Zion harus berkorban dengan begitu berat hanya untuk menjadikan Kak Faith istrinya. Aku harap setelah menikah nanti mereka akan menemukan kebahagiaan yang tidak ada habisnya."
__ADS_1
...***...
Dominic sudah tiba di Las Vegas. Bahkan kini kedatangannya tidak mendapat sambutan hangat lagi dari orang-orang kepercayaannya. Sampai situ saja Dominic sudah merasa curiga kalau memang kini wilayah kekuasaannya sedang diusik oleh orang asing. Sampai-sampai orang yang bekerja di bawah pimpinannya tidak memiliki kesempatan untuk menyambutnya di bandara.
Walaupun begitu Dominic masih tetap tenang. Pria itu naik ke dalam sebuah taksi lalu meminta taksi itu untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Jelas saja Dominic tidak bisa langsung pulang ke kediamannya karena itu sama saja dengan menyerahkan diri kepada musuh.
Saat tiba di Las Vegas, jam masih menunjukkan pukul 10.00 malam. Dominic terlihat santai di dalam taksi yang kini membawanya ke sebuah rumah sederhana di sudut kota.
"Belum ada yang berubah. Sepertinya mereka hanya menyerang kediamanku saja," gumam Dominic sembari memperhatikan kota Las Vegas saat malam hari.
Supir taksi yang duduk di depan terlihat memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dominic di belakang sana.
"Tuan, kelihatannya Anda lelah sekali. Apa anda mau minum?" tawar supir taksi itu sembari menyodorkan sebotol air mineral kepada Dominic. Karena memang saat itu Dominic dalam keadaan haus, pria itu segera menerima botol mineral itu lalu menenguknya sedikit. Dominic kembali memeriksa ponselnya setelah ia meneguk air minum tersebut.
Tiba-tiba saja Dominic merasa ngantuk. Pria itu mencari posisi yang nyaman sebelum bersandar dengan tenang. Supir taksi yang ada di depan terlihat tersenyum bahagia melihat Dominic sudah tertidur. Pria itu melajukan taksinya menuju ke suatu tempat yang berlawanan arah dengan tujuan yang ingin didatangi oleh Dominic.
Mobil itu melaju cepat menembus keheningan malam. Dari ekspresi wajah supir taksi itu, bisa terlihat jelas kalau dia sudah tidak sabar untuk membawa Dominic ke tuannya.
Tiba-tiba saja Dominic melilitkan sebuah tali di leher supir taksi tersebut sehingga supir taksi itu tidak lagi berkonsentrasi melajukan taksinya. Ternyata Dominic tidak semudah itu untuk dijebak. Apa lagi ini wilayah kekuasaannya. Jelas saja dia tahu yang mana warga Las Vegas asli dan yang mana orang luar.
"Siapa kau? Apa yang kau inginkan? Ke mana kau akan membawaku pergi?" Dominic masih memberi kesempatan kepada pria itu untuk menjelaskan.
"Tuan, Kenapa anda melakukan ini kepada saya? Apa salah saya?" tanya supir taksi itu masih dengan wajah pura-pura bodoh.
"Apa Kau pikir aku tidak tahu kalau diminuman itu sudah ada sesuatu yang kau campurkan agar aku tertidur! Dengan begitu kau dengan mudahnya membawaku ke tempat yang sudah ditentukan oleh orang yang membayarmu." Tebakan Dominic benar 100% sampai akhirnya membuat supir taksi itu kesal.
Supir taksi itu melebarkan matanya. "Gawat. Ternyata dia tidak sebodoh yang aku pikirkan." Dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Dominic sudah mengetahui rencananya. "Maafkan saya, Tuan. Saya juga sedang menyelamatkan keluarga saya. Mereka mengancam saya. Jadi mau tidak mau saya melakukan ini terhadap anda," dusta supir taksi tersebut. Padahal yang sebenarnya terjadi, supir taksi itu adalah pembunuh bayaran yang memang ditugaskan untuk membunuh Dominic.
Supir taksi itu segera menghentikan laju mobilnya agar tidak celaka. Dia memilih tempat yang sunyi.
Dominic berpikir kalau supir taksi itu bukan lawan yang pantas untuknya dan dia juga merasa kasihan ketika supir taksi itu berkata kalau keluarganya dalam bahaya. Hingga akhirnya Dominic melepas tali yang sempat melilit di leher supir taksi tersebut.
"Turunlah. Biar aku yang memulihkan taksi ini. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi!" usir Dominic.
"Baik, Tuan," jawab supir taksi itu. Dia segera keluar dari taksi. Begitupun dengan Dominic karena saat ini Dominic ingin masuk ke dalam taksi lagi dan menlajukan taksi itu menuju ke lokasi yang ingin Ia kunjungi.
Baru saja keluar, tiba-tiba sopir taksi itu sudah menghajar Dominic. Dengan cepat Dominic menangkis tangan pria itu lalu menghajarnya balik. Dia merasa menyesal karena sempat percaya dengan apa yang dikatakan oleh supir taksi tersebut.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos!" Supir taksi itu mengeluarkan senjata apinya. Dia ingin menembak Dominic namun dengan cepat Dominic mengangkat tangannya dan menendang pistol tersebut sampai terpental. Bersamaan dengan itu Dominic menghajar lagi pria itu hingga babak belur. Mereka saling memukul satu sama lain dan bergulat di atas jalanan yang sunyi.
__ADS_1
Karena keadaan begitu mendesak, akhirnya sopir taksi gadungan itu mengeluarkan sebuah belati. Dia ingin menusukkan senjata tajam itu ke perut Dominic. Tetapi Dominic menyadarinya terlebih dahulu. Hingga akhirnya Dominic lebih cepat mengeluarkan pistolnya lalu menembak pria itu hingga berulang kali sampai tewas.
Setelah memastikan lawannya sudah tidak bernyawa lagi, Dominic duduk di samping pria itu lalu mengatur napasnya. Dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan sambutan seperti ini di wilayah kekuasaannya sendiri. "Aku harus segera bergerak cepat. Aku tidak bisa membiarkan mereka menguasai Las Vegas!"