Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 160


__ADS_3

Las Vegas


Zion, Lukas, Austin dan Foster telah tiba di Las Vegas. Tidak sulit bagi mereka untuk bisa menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan Dominic tersebut. Mereka menggunakan identitas palsu dan menggunakan penyamaran agar tidak ketahuan anak buah Dominic yang berjaga di bandara. Bahkan mereka juga tidak naik pesawat pribadi agar tidak terlalu mencolok. Mereka turun bersama dengan penumpang pesawat lainnya. Menghindar dari pasukan Dominic yang berjaga di sekitar bandara.


"Setelah ini apa yang harus kita lakukan Opa. Apa kita langsung menyerang ke markas Dominic. Aku tahu di mana dia tinggal," ucap Zion dengan penuh antusias. Rasa-rasanya pria itu sudah tidak sabar untuk menghajar Dominic dengan tangannya sendiri.


"Kita tidak boleh gegabah menghadapi musuh yang licik seperti Dominic. Kita harus tahu sampai mana permainannya. Kita hanya berempat sedangkan mereka ada banyak. Salah gerakan kita bisa kalah," jawab Lukas sambil memperhatikan lokasi sekitar.


"Tadi di pesawat Opa sempat bertanya siapa di antara kami yang pandai bermain judi. Apa itu salah satu trik yang akan kita gunakan sebelum menyerang Dominic?" tanya Austin ingin tahu.


"Ya, kau benar Austin. Di sini ada banyak sekali Kasino. Istananya para penjudi. Kita akan masuk ke kasino milik Dominic. Kasino terbesar yang ada di Las Vegas."

__ADS_1


"Saya bisa diandalkan dalam berjudi," ucap Foster dengan penuh percaya diri. Zion memandang Foster dengan tatapan yang begitu tajam. Ternyata selain menjengkelkan, ternyata calon adik iparnya itu juga pandai berjudi. Zion semakin kesal melihatnya.


"Benarkah kau bisa berjudi?" tanya Lukas untuk kembali memastikan.


"Tidak selalu menang tetapi saya bisa," jawab Foster sembari garuk-garuk kepala.


"Di sini kita tidak perlu menang. Kita hanya perlu mengalihkan perhatian Dominic. Kau harus bisa mengajak Dominic bermain di arena judi. Zion dan Austin akan melakukan tugas selanjutnya. Target utama kita adalah meledakkan istana Dominic. Ini akan jadi pembuka dalam penyerangan kita," ucap Lukas dengan wajah yang serius.


"Kita hanya berempat saja Opa?" tanya Austin. Sejak tadi pria itu tidak melihat pasukan Gold Dragon maupun pasukan The Filast.


"Opa yakin mau menyerang istana Dominic? Kenapa harus rumah pria itu yang kita Serang. Kenapa tidak ladang bisnisnya saja seperti Kasino," ucap Foster memberi solusi.

__ADS_1


"Karena kita harus membuatnya marah. Membuatnya terpancing untuk pulang ke rumah. Setelah dia mendapat kabar Kalau markas yang dia miliki dihancurkan oleh seseorang tidak dikenal. Di tengah perjalanan kita akan menyerangnya. Di sinilah yang menentukan berhasil atau tidaknya rencana kita." Lukas semakin bersemangat. Dia Surya tidak sabar menunggu saat penyerangan itu datang.


"Kedengarannya rencana ini sangat keren. Bahkan saya sudah tidak sabar untuk menjalaninya. Apa bisa kita mulai dari sekarang Opa?" ajak Austin. Dia ingin segera pulang menemui Norah.


"Tidak. Sebelum masuk ke kasino Kita harus mencari seorang wanita. Pria kaya yang masuk ke dalam Kasino selalu menggandeng wanita bukan? Kita juga harus terlihat seperti itu." Kali ini Lukas kembali berpikir keras.


"Itu masalah yang mudah, Opa. Saya bisa mencari wanita yang-" Foster menahan kalimatnya. Lagi-lagi dia mendapatkan tatapan menakutkan dari Zion. Sudah pandai judi, suka bikin patah hati, pandai dalam mencari wanita lagi.


"Baiklah. Urusan ini aku serahkan kepadamu, Foster." Lukas menepuk pundak Zion. "Jangan terlalu galak dengan calon adik iparmu, Zion. Dia membantu kita bukan menyusahkan kita!" bisik Lukas. Pria itu tidak mau ada keributan ketika mereka ingin melakukan penyerangan.


"Dia bukan calon adik iparku!" ketus Zion sebelum pergi.

__ADS_1


Austin memandang Foster lalu tersenyum. "Kakak ipar kita memang seperti itu. Kelihatannya galak. Tapi aku berani jamin kalau dia tidak akan tega membiarkan kita dalam bahaya." Foster hanya mengangguk saja. Pria itu memandang punggung Zion dan Lukas yang semakin menjauh.


"Aku harus memanfaatkan masalah ini untuk mendapatkan restu dari kakak ipar," gumam Foster di dalam hati.


__ADS_2