
Daisy membuka matanya ketika merasakan kepalanya berat dan sakit. Dia memegang kepalanya dan memejamkan matanya lagi. Semua terasa bergoyang. Karena terlalu banyak menangis, kini Daisy demam. Dia sakit. Selimut hangat sudah menutupi tubuhnya yang sempat kedinginan. Bahkan Daisy tidak sadar kalau tadi malam dia sempat menggigil. Sapu tangan kecil yang ada di dahi ia pegang dengan alis saling bertaut. Daisy terlihat bingung.
"Kau sudah bangun?"
Suara Opa Zen membuat Daisy memiringkan kepalanya. Ternyata opa nya duduk di sofa dekat jendela dengan setelan yang sudah rapi. Sepertinya Zeroun sudah mengakhiri kesedihannya. Kini pria itu telah bangkit lagi. "Apa masih sakit?"
"Opa, apa yang terjadi?" Daisy tidak bisa duduk karena merasa oyong. Zeroun berjalan cepat menghampiri Daisy. Pria itu membawa segelas air putih di tangannya.
"Minumlah." Zeroun membantu Daisy duduk. Bahkan membantu Daisy meneguk air putihnya. "Kata dokter kau hanya butuh istirahat."
"Opa, kenapa harus panggil dokter?"
"Kau demam tinggi dan mengigau Daisy. Seorang pria. Foster. Apa dia kekasihmu?"
Mendengar nama Foster membuat desiran perih di dalam hatinya. Daisy memalingkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Ternyata dia masih belum tegar. Hatinya masih rapuh dan belum siap kehilangan Foster.
"Ya, Opa."
"Kau mencintainya?"
Daisy mengangguk. "Aku butuh penjelasan Opa. Aku tidak mau ditinggal tanpa alasan. Setidaknya aku bisa memperbaiki diri jika memang kesalahannya ada pada diriku."
"Daisy, setiap hubungan memang akan memiliki resiko seperti itu. Jika kita tidak meninggalkannya, maka kita yang akan ditinggalkan. Tetapi kali ini Opa setuju dengan keinginanmu. Dia harus menjelaskan apa yang sudah membuat dia mengakhiri semua ini. Apa mau Opa bantu?"
"Opa bisa? Bukankah Opa seharusnya banyak istirahat?" Zeroun tersenyum kecil. Dia menghela napas panjang. "Opa sedih karena kehilangan GrandNa atau sedih karena hal lain?"
"Hidup Opa sangat rumit. Kau tidak akan bisa mengerti. Daisy, sekarang kita fokus dengan kebahagiaanmu saja. Opa ini sudah tua. Tidak lama lagi akan mati."
"Opa, jangan bilang gitu." Daisy memeluk Zeroun. "Aku belum terbiasa kehilangan GrandNa dan juga Oma Emelie. Jangan biarkan aku kehilangan Opa Zen juga. Aku masih butuh Opa. Aku ijinkan Opa pergi jika aku sudah menikah!"
Zeroun terkekeh geli mendengar permintaan cucunya. "Oke, baiklah. Opa akan pergi setelah kau menikah."
"Ya, aku akan menikah jika usiaku sudah 28 tahun. Itu berarti masih ada banyak waktu untuk kita bermain bersama."
Zeroun lagi-lagi tertawa. "Jika tunggu kau menikah, usia Opa sudah mendekati 90. Apa Opa masih bisa melihatmu dengan jelas? Apa Opa masih bisa berjalan?"
__ADS_1
"Pakai kursi roda juga gak masalah, opa. Nanti aku yang mendorongnya. Opa, jangan pergi ya. Walau Opa sudah tua, tapi aku tetap belum siap kehilangan Opa."
Zeroun tersenyum kecil mendengarnya. Dia mengusap rambut Daisy dengan lembut. "Memang kehilangan adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh siapapun. Entah itu kehilangan harta atau orang yang kita cintai. Belum ada manusia yang siap untuk ikhlas ketika kehilangan. Tapi, setiap manusia yang kehilangan, dia pasti akan berusaha menerimanya. Dia pasti berusaha menerima jalan takdir walau ada yang cepat dan ada yang lama."
"Opa, aku ingin kuliah lagi. Apa Opa bisa mengantarkanku ke Universitas Yale? Aku ingin pergi sama Opa."
"Tentu sayang. Apa saja akan Opa lakukan." Zeroun diam sejenak. "Bagaimana dengan Norah?"
"Kak Norah sudah sadar Opa. Dia terlihat jauh lebih baik ketika tahu kalau Kak Zion sudah menerima Austin sebagai adik iparnya. Sepertinya tidak lama lagi mereka akan menikah. Kak Zion ketinggalan," sahut Daisy.
"Opa ingin cucu-cucu Opa bahagia. Karena untuk sekarang ini, hanya kebahagiaan kalian yang bisa membuat Opa bertahan."
"Opa ... ayo kita berangkat," rengek Daisy.
"Tidak hari ini. Kau masih sakit. Nanti setelah kau sudah jauh lebih baik, Opa akan antarkan kau pergi ke ini Yale. Bila perlu Opa juga akan menjemputmu setiap sore."
"Terima kasih Opa." Daisy sudah merasa jauh lebih baik setelah mengobrol dengan Opa Zen. Memang jarak antara Universitas Yale dengan kediaman Zeroun tidak terlalu jauh. Ini juga yang menjadi alasan Daisy memilih Univ Yale karena dia ingin dekat dengan Zeroun dan juga Emelie.
...***...
"Siapa yang membawaku ke sini? Apa yang sudah terjadi?" Livy memeriksa tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap. Walau memang pakaian seksi itu yang melekat pada tubuhnya. Jas milik Abio yang tersampir di ujung tempat tidur membuat Livy tahu kalau Abio yang sudah membawanya ke kamar ini.
Pintu kamar mandi terbuka. Abio keluar dengan handuk yang melilit pinggang. Dada kekar pria itu terekspos hingga membuatnya terlihat sangat gagah.
Wajah Livy memerah melihat tubuh Abio. Wanita itu memalingkan wajahnya karena malu. Abio Menaikan satu alisnya dan melemparkan handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut ke lantai. Pria itu berjalan ke arah meja untuk mengambil air putih.
"Kau sudah bangun?"
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Lalu kemana lagi? Hanya kamar ini yang dekat. Aku tidak mungkin mengantarkanmu pulang dalam keadaan mabuk. Bisa-bisa aku di bunuh oleh paman Oliver," sahut Abio dengan santainya. Dia meneguk air putih itu dan membantingnya di atas meja. "Tapi kau tenang saja. Aku ini pria yang bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab? Apa maksudmu?" Livy menjadi semakin panik. Dia takut jika terjadi sesuatu antara dirinya dan Abio tadi malam.
"Bertanggung jawab menjagamu. Memangnya apa yang ada di dalam pikiranmu? Apa kau berpikir kalau aku sudah menidurimu?" ledek Abio dengan lantang. Pria itu langsung mendapat lemparan bantal.
__ADS_1
"Kau memang menyebalkan. Ini semua salahmu! Kenapa kau harus pergi ke tempat itu!" teriak Livy hingga suaranya memenuhi ruangan putih abu-abu tersebut.
"Hei, bukan aku yang salah. Tapi kau! Kenapa kau datang ke tempat itu juga? Awalnya kau menolak ketika aku ajak. Kenapa tiba-tiba kau muncul dengan penampilan seperti itu?"
"Aku tidak akan seperti itu jika kau tidak pergi ke tempat seperti itu!" sahut Livy tanpa sadar.
Abio Menaikan satu alisnya. "Jadi kau memang benar mengikutiku?"
"Ya," jawab Livy cepat.
"Kenapa?"
"Karena aku-" Livy menahan kalimatnya. Dia tidak mau sampai salah bicara.
"Aku?" Abio semakin penasaran.
"Karena aku tidak mau kau ...." Livy memutar otaknya agar bisa mendapatkan jawaban yang tepat. "Mabuk. Ya. Mabuk. Aku tidak mau kau sampai mabuk."
"Gak salah? Kau tidak mau aku mabuk tapi kau mabuk?"
"Apa kau bisa berhenti bicara? Kepalaku pusing!" Livy yang sudah kalah lagi-lagi memalingkan wajahnya dari Abio. "Aku mau mandi. Pergi dari kamar ini."
Abio berjalan mendekati Livy. Hal itu membuat debaran jantung Livy menjadi tidak karuan. Bukan karena dia takut. Tetapi karena dia tidak mau didekati Abio saat pria itu tidak memakai baju.
"Apa yang mau kau lakukan?"
Abio menunduk hingga tubuh mereka sangat dekat. Abio menatap wajah Livy dalam-dalam seperti ingin mencium wanita itu.
"Abio!" teriak Livy. Tiba-tiba saja Abio menjauh sambil menggenggam ponselnya. "Dasar wanita mesum!" ledeknya sebelum pergi.
"Abio! Kau yang mesum!" sahut Livy tidak mau kalah.
"Aku tunggu di bawah. Aku akan ganti di kamar lain," ujarnya sebelum pergi meninggalkan kamar.
Livy melipat kedua tangannya dengan wajah kesal. "Kenapa aku bisa sampai mabuk? Dasar payah!" umpatnya pada diri sendiri.
__ADS_1