Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 225


__ADS_3

Ternyata semua tidak yang semudah dibayangkan oleh Norah dan pasukan Gold Dragon. Untuk beberapa hari justru Harumi tidak bisa keluar rumah karena anak kecil itu sakit. Harumi demam tinggi sehingga berulang kali dokter pribadi mereka datang untuk memeriksa.


Kedua orang tua angkat Harumi tidak mungkin memaksa Harumi untuk keluar berjalan-jalan pagi di Taman. Karena itu bisa membuat semua pekerja yang ada di rumah curiga. Bagaimanapun juga rencana pembunuhan Harumi hanya diketahui oleh mereka berdua saja.


Bahkan Paman mereka saja tidak mengetahuinya. Kejadian ini benar-benar ingin dibuat seperti kasus penculikan anak. Tidak boleh ada satu orang pun yang curiga agar harta warisan yang mereka incar bisa berhasil mereka miliki tanpa hambatan lagi.


Norah dan Austin masih berada di rumah utama keluarga Edritz Chen. Kelakuan mereka berdua mengingatkan seluruh pekerja yang ada di rumah itu dengan Serena dan Daniel. Dulu ketika Serena dan Daniel masih muda mereka juga terlihat mesra. Sampai-sampai membuat beberapa pekerja wanita yang kini sudah tua merasa sangat iri.


"Pekerja yang ada di rumah ini benar-benar sangat hebat. Meskipun bangunan rumah ini sudah sangat tua, tetapi mereka merenovasinya menjadi rumah yang modern lagi. Mereka bisa menyesuaikan warna cat zaman sekarang. Taman dan kolam renang yang ada juga terlihat selalu baru. Sepertinya dulu nenek moyangmu adalah wanita yang hebat. Sampai-sampai dia bisa memilih para pekerja yang setia seperti mereka," ucap Austin.


"GrandNa sering bercerita kalau wanita yang biasa dipanggil Nyonya Edritz itu adalah mertua yang sangat sempurna. Karena terlalu sering mendengar ceritanya sampai-sampai dulu aku sempat kepikiran ingin memiliki mertua seperti dia. Tetapi justru pada kenyataannya aku jadi tidak memiliki mertua. Ini sangat tidak asik."


Austin tertawa sejenak mendengar cerita istrinya. Pria itu memeluk Norah lebih erat lagi sebelum sesekali mengecupnya dengan mesra. "Meskipun tidak berlibur di tempat mewah dan indah tetapi rumah ini sudah menjadi wadah bulan madu kita. Aku senang ada di rumah ini. Apa kau tidak memiliki pemikiran untuk menetap di rumah ini saja?"


Norah mengernyitkan dahi mendengar permintaan Austin. "Kau setuju jika kita menetap di rumah ini. Apa kau benar-benar yakin. Tadinya aku pikir kau akan mengajakku untuk tinggal di kediaman keluargamu." Norah memajukan bibirnya. Suaminya memang orang yang tidak mudah di tebak.


"Dibandingkan rumahku yang ada di sana, Aku lebih nyaman tinggal di rumah ini. Aku merasakan sebuah kehangatan keluarga di sini. Bukankah kau sendiri pernah bilang kalau sebenarnya rumah ini diwariskan oleh GrandNa untukmu. Lalu tunggu apa lagi? Mau sampai kapan kita mengabaikan rumah ini hingga menjadi bangunan tidak bertuan. Para pekerja yang ada di sini juga lama-kelamaan pasti akan tutup usia. Kau sendiri yang harus turun tangan untuk mengaturnya agar rumah ini tetap terawat."


"Aku juga setuju. Setelah bulan madu aku akan bicarakan hal ini lagi dengan mama dan papa. Tentu saja pindah rumah tidak semudah mampir. Ada banyak barang pribadiku yang harus dipindahkan dari sana ke sini."


"Kenapa tidak beli yang baru saja. Sebenarnya barang penting apa yang ingin kau bawa?" Austin menatap Norah dengan begitu serius.


"Kenangan yang ada di rumah itu. Kau juga tidak lupakan kalau aku lahir di sana. Itu berarti ada banyak sekali benda berharga yang harus aku bawa agar bisa aku kenang ketika aku menginginkannya."


"Baiklah terserah kau saja. Oh iya Bagaimana kabar Harumi. Apa kau tidak tertarik untuk menjenguknya. Kita bisa katakan kepada kedua orang tua angkat Harumi kalau kita adalah calon tetangga mereka yang nantinya akan menetap di sini. Aku pikir mereka berdua tidak akan curiga."


Norah mengangguk. "Sebenarnya sudah sejak kemarin aku ingin sekali menjenguk Harumi. Tetapi aku takut jika rencana yang sudah kami susun menjadi gagal karena aku menjenguknya."


"Tidak akan. Percayakan semuanya padaku. Aku akan membantumu untuk melindungi Harumi. Jika kau benar-benar ingin bertemu dengan Harumi Ayo kita berangkat sekarang selagi langit masih terang. Rasanya kurang baik jika kita berkunjung untuk menjenguk orang sakit ketika malam hari."


Austin beranjak dari kursi besi itu lalu mengulurkan tangannya. Norah tersenyum manis sebelum menyambut uluran tangan suaminya dan beranjak dari kursi tersebut. Dengan manjanya wanita itu merangkul dengan kekar Austin lalu meletakkan kepalanya di pundak pria tersebut.


"Aku mencintaimu Austin."

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu sayangku."


...***...


Tidak butuh waktu lama Norah dan Austin sudah tiba di kediaman Harumi. Kedatangan mereka disambut hangat dengan senyuman cantik dari bibir Harumi. Anak kecil itu sangat merindukan Norah selama beberapa hari ini. Hanya saja dia tidak tahu kalau selama ini Norah tinggal di rumah yang tidak jauh dari rumahnya.


"Tante baik. Kenapa Tante tiba-tiba menghilang? Aku mencari Tante dan ingin memperkenalkan Tante kepada kedua orang tua Harumi. Harumi sangat sedih. Tapi sekarang Harumi senang karena bisa melihat tante lagi," ucap anak kecil itu sambil memandang Norah yang kini duduk di hadapannya.


"Maafkan Tante ya sayang. Tante sama sekali tidak berniat untuk membuatmu sedih. Kemarin tiba-tiba saja ada yang menghubungi tante dan meminta tante untuk menemuinya. Tante lihat kau sangat sibuk jadi tante tidak sempat berpamitan. Lalu bagaimana keadaanmu sekarang. Kenapa wanita kuat sepertimu bisa sampai jatuh sakit? Jika seperti ini keadaanmu kau tidak akan bisa melawan para penculik yang ingin menculik mu."


Perkataan Norah membuat kedua orang tua angkat Harumi saling memandang. Namun mereka tidak mau yang lain curiga. Hingga akhirnya sang Ibu angkat bicara.


"Nona, bisakah saya bicara berdua dengan anda? Sejak Harumi pulang, saya sangat ingin bertemu dengan anda. Setiap saatnya Harumi selalu bercerita tentang anda. Saya yakin anda adalah wanita yang baik." Wanita itu mengukir senyum manis.


"Tentu saja," jawab Norah tanpa keberatan. Wanita itu segera beranjak dari tempat tidur Harumi lalu mendekati orang tua angkat Harumi. Memandang Austin sekilas dan menyerahkan keselamatan Harumi kepada suaminya.


Orang tua angkat Harumi membawa Norah ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang kamar Harumi. Norah memperhatikan kamar berukuran sedang itu dengan seksama sebelum memandang ke depan.


"Nona, sebenarnya Ada hal penting apa yang ingin anda katakan? Kenapa anda membawa saya ke tempat seperti ini?"


Norah menautkan alisnya. "Maaf, apa maksud anda saya tidak boleh menolong Harumi?"


"Bukan. Bukan seperti itu maksud saya." Wanita itu mulai gugup. "Sepertinya anda sudah salah paham mengartikan tujuan saya." Wanita itu berusaha untuk mencari alasan agar Norah tidak curiga.


"Sebagai orang tua kami bisa menjaga Harumi. Sejak Harumi hilang karena diculik Kemarin kami tidak lagi percaya dengan siapapun. Termasuk dengan anda. Kami tidak mau putri kami dekat dengan orang asing. Karena di zaman sekarang tidak ada yang benar-benar baik selain keluarga sendiri."


"Anda salah Nyonya. Justru terkadang keluarga sendiri yang bisa menusuk kita dari belakang. Dia selalu berada di sekitar kita hingga dia tahu di mana letak kelemahan kita. Saya benar-benar tulus untuk berteman dengan Harumi. Dia anak yang pintar dan cerdas. Saya menyukai anak cerdas seperti Harumi. Dia memiliki bakat berani. Justru saya ingin membantu Harumi untuk menyelidiki kasus penculikan yang semalam ia alami.


Orang-orang yang sudah berniat untuk menculik Harumi harus segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Semua ini bukan hanya demi kebaikan Harumi saja tetapi demi keamanan dan kenyamanan semua anak kecil yang ada di Jepang.


Karena bisa jadi bukan penculik ini tidak hanya menculik Harumi tetapi menculik anak sekolah yang lainnya."


"Itu tidak mungkin," ucap orang tua angkat Harumi keceplosan. Wanita itu segera menutup mulutnya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Tidak mungkin? Apa maksud Anda Nyonya?" Norah semakin tertarik untuk membuat wanita dihadapannya terjebak.


"Maksud saya Harumi tidak akan mungkin diculik lagi. Saya tidak mau cari ribut dengan para penculik itu. Jadi saya mohon kepada anda untuk tidak ikut campur."


"Kelihatan jelas kalau dia sangat menginginkan nyawa Harumi. Dasar wanita tidak berhati. Sepertinya aku harus memberi pelajaran kepada wanita ini. Tetapi apa. Sampai detik ini pasti Harumi masih memandangnya sebagai seorang ibu yang sangat dicintainya. Jika aku secara terang-terangan mengatakan sifat asli wanita ini di depan Harumi aku yakin Harumi juga tidak akan percaya." Norah membatin.


"Nona, Mari kita keluar. Sepertinya suami Anda sudah terlalu lama menunggu."


Norah mengangguk lalu memutar tubuhnya. Dia berjalan lebih dulu ke arah pintu.


Tiba-tiba saja orang tua angkat Harumi mengambil sebuah tongkat baseball. Ternyata wanita itu berniat untuk memukul Norah.


"Sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh wanita gila ini," umpat Norah di dalam hati. Sebelum tongkat baseball itu berhasil mendarat di kepalanya, Norah lebih dulu berputar dan menahan tongkat baseball tersebut. Dengan mudahnya Norah menarik tongkat baseball itu hingga posisinya terbalik. Kini nyawa orang tua angkat Harumi yang terancam.


"Nyonya, apa yang ingin anda lakukan? Kenapa Anda ingin mencelakai saya?" teriak Norah marah. "Apa seperti ini cara anda memperlakukan tamu!" Norah sengaja memperkuat suara teriakannya agar satu rumah dengar dan tahu kalau seperti ini kelakuan Nyonya mereka.


"Gawat! Jika seperti ini satu rumah bisa tahu kalau aku adalah wanita yang jahat," gumamnya di dalam hati dengan wajah yang panik. "Aku harus mencari cara agar wanita ini segera diusir."


Wanita itu langsung mengajak-ngacak rambutnya. Norah mengernyitkan dahi dan memandangnya dengan bingung. "Apalagi yang anda rencanakan?" ketus Norah semakin kesal.


"Tolong! Tolong!" teriak wanita itu dengan sangat kencang.


Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan lebar. Penjaga di rumah itu muncul bersama dengan Austin dan juga ayah angkat Harumi.


"Apa yang terjadi? Kenapa Norah bisa memegang tongkat baseball dan kenapa penampilan wanita itu seperti habis bertengkar?" gumam Austin bingung. Pria itu segera mendekati istrinya untuk mendengar penjelasannya langsung.


"Pa, wanita ini benar-benar jahat. Dia meminta Mama untuk membiarkan Harumi pergi dari rumah ini. Dia memaksa Mama untuk menyerahkan Harumi. Dia datang ke sini untuk menculik anak kita Pa," lirih wanita itu dengan derai air mata palsu.


Para pekerja yang ada di rumah itu saling memandang dan berbisik. Mereka melihat Norah seperti melihat musuh yang ingin mereka usir.


"Sepertinya saya tidak perlu sungkat lagi sekarang karena anda sudah seperti ini. Bukankah sejak awal Anda yang berniat untuk mencelakai Harumi karena ingin menguasai hartanya? Untuk apa anda membuat cerita bohong seperti ini? Bagi saya cerita anda ini sama sekali tidak berpengaruh. Apapun yang terjadi saya akan tetap melindungi Harumi dari orang-orang jahat seperti anda." Norah melempar tongkat baseball yang sejak tadi dia pegang ke bawah kaki orang tua angkat Harumi. "Saya minta kepada anda untuk tidak menyentuh Harumi dan membayar orang untuk menculik Harumi lagi. Karena jika hal itu sampai terjadi, Saya tidak akan segan-segan menghubungi polisi dan menjebloskan Anda berdua ke dalam penjara."


Ancaman Norah membuat kedua orang tua angkat Harumi tidak berani protes lagi.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Norah kepada Austin. Wanita itu segera menarik tangan suaminya dan membawanya pergi meninggalkan kamar. Lagi-lagi Norah harus pergi meninggalkan Harumi tanpa permisi. Austin sendiri tidak mau banyak tanya karena dia tahu apa yang terjadi di sana. Pria itu kini hanya berusaha membujuk istrinya agar suasana hatinya kembali membaik.


__ADS_2