
Faith terbangun ketika mendengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga. Kedengarannya memang suara tembakan itu sangat dekat. Padahal sebenarnya sangat jauh. Zion, Norah, Austin, Livy dan Abio sedang latihan di ruang bawah tanah. Mereka sudah lama tidak mengasah kemampuan yang mereka miliki. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk latihan. Mereka tidak mau sampai keliru. Kali ini mereka harus menang tanpa ada yang dikorbankan.
Faith yang penasaran segera berjalan menuju ke sumber tembakan. Walau ada rasa takut di dalam hatinya, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Kita itu ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di sana.
Belum sampai dia menuju ke ruang tempat latihan Seorang pria sudah mencegahnya. Memang tadi Zion sempat memberi pesan agar Faith tidak boleh masuk ke ruang latihan mereka. Zion Tidak mau Faith trauma ketika melihat ruang penyiksaan.
"Nona, anda di larang masuk." Pria itu meletakkan tangannya untuk menghadang Faith.
"Apa yang terjadi di sana. Apa Tuan Zion baik-baik saja?"
"Bos Zion hanya latihan saja, Nona." Pengawal itu memandang rekannya. "Kami sudah menyiapkan makan malam untuk anda. Mari kami antar, Nona."
Faith menggeleng. "Saya tidak mau makan. Saya mau bertemu dengan Tuan Zion. Saya ingin tahu sebenarnya apa yang dia lakukan di sana? Apa benar dia baik-baik saja? Kenapa tadi saya dengar suara tembakan?"
__ADS_1
"Kak Zion baik-baik saja Kak. Kakak jangan khawatir." Suara Norah muncul dari arah lorong yang gelap. Wanita itu langkah mendekat hingga akhirnya dia terlihat dengan jelas. Bersama dengan Livy, Norah muncul dengan tubuh dipenuhi keringat.
"Norah?" Faith segera mendekati wanita itu. "Dimana Tuan Zion? Apa dia baik-baik saja?"
"Kakak mengkhawatirkan Kak Zion?" tanya Norah penuh selidik.
"Saya hanya tidak mau orang yang sudah menolong saya celaka. Setidaknya saya tahu kalau dia baik-baik saja di sana."
Faith memandang ke lorong yang gelap itu sebelum mengikuti Norah dari belakang. "Apa aku boleh lihat?"
Norah mengeryitkan dahinya. "Kak Faith mau latihan juga?" Norah mengambil botol minum dan meneguknya dengan rakus. Livy juga meminum minuman botol yang ada di sana. Wanita itu tidak mau banyak bicara karena memang dia belum kenal dengan Faith.
"Latihan?" Faith seperti sedang berpikir. "Aku suka latihan. Tubuhku terasa pegal jika tidak melakukan apapun," dusta Faith agar diizinkan untuk bertemu dengan Zion.
__ADS_1
Norah memandang wajah Livy sejenak sebelum meletakkan botol minum itu di meja. Dia membawa botol minum yang masih baru. Di bantu oleh Livy. Mereka akan membawa minuman itu ke tempat latihan.
"Tapi ada syaratnya kak," ujar Norah.
"Apa syaratnya?"
"Kakak jangan kaget ketika masuk ke dalam. Lokasinya sangat menyeramkan. Kita akan melewati rumah hantu tapi tidak berhantu," ucap Norah dengan nada berbisik hingga membuat Faith merinding.
"Rumah hantu? Apa tempat semewah ini ada hantu?" Faith mengitari ruangan sekitar dengan perasaan tidak tenang. Mendengar perkataan Norah membuatnya ragu untuk bertemu dengan Zion.
"Kak Faith yakin mau ikut?" tanya Norah lagi untuk memastikan.
Faith mengangguk ragu-ragu. Hal itu membuat Livy tertawa geli mendengarnya. "Jangan dengarkan apa yang dikatakan Norah. Dia memang seperti itu. Jika kau mau ikut, ayo ikut denganku," sahut Livy sebelum menggenggam tangan Faith dan membawanya menuju ke lorong. Norah hanya tersenyum kecil sebelum mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1