Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 226


__ADS_3

Harumi tertidur dengan nyenyak di dalam kamarnya. Dari jendela, tiba-tiba saja seorang pria bertopeng masuk secara mengendap-endap. Pria itu memandang ke arah pintu sebelum melangkahkan kakinya secara perlahan.


Dari dalam saku dia mengeluarkan sapu tangan yang sudah di semprot cairan bius. Ia menatap Harumi sejenak sebelum melangkah lebih dekat lagi.


"Maafkan saya Nona manis. Saya harus membawa anda malam ini," ucap pria itu. Dia segera membungkam mulut Harumi dengan sapu tangan yang ia pegang sampai Harumi tidak sadarkan diri. Setelah memastikan Harumi tidak sadarkan diri, pria itu segera menggendong Harumi dan membawanya untuk pergi melalui jendela.


Secara tiba-tiba pintu terbuka lebar. Wanita yang berdiri di sana adalah ibu angkat Harumi. Bukan berteriak karena melihat Harumi di bawa pergi justru wanita itu diam saja di sana. Dia bersikap seolah-olah tidak melihat kejadian itu.


Pria yang membawa Harumi memandang ke arah ibu angkat Harumi sejenak sebelum melompat pergi. Setelah pria itu tidak terlihat lagi, ibu angkat Harumi memasang wajah khawatir.


"TOLONG! HARUMI DI CULIK! TOLONG!"


Semua orang yang ada di rumah itu keluar dari kamar dan berlari ke kamar Harumi. Ibu angkat Harumi berlari ke jendela. Ada seulas senyum dibibirnya ketika dia tidak lagi melihat Harumi dan pria misterius tersebut.


"Bagus! Mereka bekerja lebih cepat dari apa yang aku pikirkan," gumam wanita itu di dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya sang suami. Pria itu berlari mendekati istrinya. Bersamaan dengan itu penjaga rumah juga menghampiri mereka.


"Harumi di bawa lari oleh pria bertopeng. Cepat periksa CCTV. Kita harus lihat kemana pria itu membawa Harumi pergi!"


Penjaga itu mengangguk. Dia ingin segera memeriksa rekaman CCTV. Sedangkan orang tua angkat Harumi saling memandang dengan tatapan penuh arti.


Di sisi lain, pria misterius itu memasukkan Harumi ke dalam mobil. Setelah Harumi tertidur, dia membuka topengnya dan bernapas dengan lega.


"Sayang, sekarang kita ke mana? Apa kau berencana untuk membawa anak kecil ini selama kita bulan madu?"


Austin mengangguk. "Memang kau memberiku pilihan?" Pria itu memandang ke arah Harumi lalu tersenyum. "Tidak buruk jika anak pertama kita perempuan. Itu berarti kau harus mengandung anak laki-laki untukku agar anak kita sepasang."


Norah hanya tersenyum saja mendengarnya. Wanita itu menambah laju mobilnya meninggalkan kota Sapporo.


...***...

__ADS_1


Daisy merasa kesal ketika teman satu kelasnya terus saja membullynya. Memang sampai detik ini mereka semua belum tahu kalau Daisy berasal dari keluarga kerajaan Cambridge. Daisy masih menahan semua ledekan teman sekelasnya sendiri. Tetapi entah kenapa kali ini dia merasa muak. Wanita itu ingin memberi tahu semua orang identitasnya yang asli.


BRUAAKKK


Daisy menggebrak meja hingga membuat temannya di sana tersenyum sinis.


"Hei, Daisy. Kenapa kau marah? Kau malu? Bukankah memang benar kalau kau masuk ke Universitas Yale karena keluarga kerajaan Cambridge kasihan pada orang tuamu. Bahkan kau bermimpi menjadi orang kaya hingga mendekati Kak Foster bukan? Sungguh memalukan!"


Daisy memutar tubuhnya lalu mendekati orang yang baru saja meledeknya. "Hati-hati jika bicara! Jangan suka menyebar informasi palsu yang nantinya akan membuatmu malu sendiri!" ucap Daisy kesal.


"Oh ya? Lalu, siapa kau sebenarnya? Cepat katakan di depan kami semua," tantang wanita itu.


Daisy mengepal kuat tangannya. Dia sebenarnya malas sekali memberi tahu identitas aslinya. Tetapi kini Zion dan Norah sudah tidak menjaganya lagi. Daisy juga sudah memiliki Foster yang akan melindunginya dari bahaya.


"Aku Daisy! Aku cucu dari Ratu Emelie dan Raja Zeroun Zein ! Aku putri dari Pangeran Jordan Zein dan Ratu Eleonora!"

__ADS_1


__ADS_2