
Lukas dan Austin baru saja tiba di depan gerbang mansion mewah milik Dominic. Kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh beberapa pria bersenjata. Mereka tidak langsung menghakimi karena mereka juga ingin tahu sebenarnya apa tujuan tamu mereka yang datang malam ini. Mereka tidak mau sampai salah sasaran dan membuat pemilik mansion marah.
"Selamat malam, Tuan. Apa Anda sudah ada janji dengan Bos Dominic?" tanya salah satu pria yang ada di sana. Mereka memeriksa mobil yang ditumpangi Lukas dan Austin dengan begitu teliti.
"Belum. Saya sangat ingin bertemu dengan Tuan Dominic. Kami akan membahas soal kerja sama yang pastinya sangat menguntungkan bagi Tuan Dominic," ujar Austin dengan ekspresi wajah yang begitu meyakinkan.
"Tapi Bos tidak ada di rumah. Anda bisa datang lagi besok. Katakan saja siapa Anda. Saya akan mengatakannya nanti kepada Bos ketika beliau sudah pulang," ujar pria itu.
Austin turun dari mobil. Sedangkan Lukas tetap ada di dalam mobil sambil memperhatikan orang-orang yang kini berjaga-jaga di depan gerbang. Gerbang itu sangat kokoh. Rasanya mustahil jika menerobos gerbang itu dengan mobil. Tetapi, tidak ada yang tidak mungkin.
"Anda tidak bisa memaksa masuk ke dalam. Jika anda masih bersikeras untuk masuk ke dalam tanpa izin dari Bos Dominic, kami akan mengambil tindakan!" ancam pengawal itu dengan wajah yang serius.
Austin mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Pria itu melemparkannya ke dalam. Karena malam hari, penjaga yang ada di dekat Austin tidak sadar kalau sebenarnya Austin melempar granat di sana. Tanpa mau bicara apa-apa Austin segera berlari masuk ke dalam mobil untuk berlindung. Bersamaan dengan itu granat yang ia lemparkan meledak hingga membuat gerbang sedikit terbuka dan penjaga yang ada di sana tewas seketika.
"Kita berhasil," ujar Austin dengan wajah yang bahagia. Pria itu segera memundurkan mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi untuk menabrak gerbang yang sudah sedikit terbuka.
Dengan mudahnya mobil yang ditumpangi oleh Austin dan Lucas berhasil menerobos masuk ke dalam. Sebelum memilih mobil, mereka juga sudah memikirkan fungsi dari mobil itu sendiri. Kali ini Lukas memilih mobil yang kuat.
Setibanya mereka di dalam, mobil yang mereka tumpangi dihujani dengan ratusan peluru yang tidak tahu datang dari mana. Karena kaca yang ada di mobil sudah dilapisi anti peluru Austin dan Lukas tetap aman berada di dalamnya. Austin lagi-lagi melajukan mobilnya menuju ke gerombolan orang yang kini terus menembaknya. Dengan mudahnya pria itu menabrak orang-orang yang ingin mencelakainya.
Kali ini Lukas sedikit puas dengan hasil kerja Austin. Pria itu tidak perlu repot-repot mengajari Austin karena Austin memang terlihat sangat berpengalaman. Bahkan lebih cerdik dari Lukas. Apa yang dilakukan Austin bahkan tidak terpikirkan oleh Lukas.
"Pantas saja ia dipilih oleh Mr. A sebagai pemimpin sebuah geng mafia yang sangat berbahaya dan kejam. Trik yang ia gunakan tidak main-main dalam membantai musuh," ujar Lukas di dalam hati.
__ADS_1
"Opa, pegangan yang kuat. Jangan sampai Anda terjatuh dan cedera. Itu akan membuat saya disalahkan oleh kakak ipar," ujar Austin sambil menyetir mobilnya dan membawa mobil itu berputar-putar di depan halaman depan.
Lukas tersenyum mendengarnya lalu berpegangan. Kali ini pria itu memilih untuk menurut saja daripada benar-benar celaka. Sekarang juga pinggangnya merasa mulai sakit. Ia kembali ingat dengan minyak oles yang pernah ditawarkan oleh Zeroun. Pria itu tertawa kecil meskipun kini keadaan sedang genting.
"Opa tidak menertawakan caraku mengemudi kan?" tanya Austin sambil memandang wajah Lukas sejenak sebelum kembali fokus dengan laju mobilnya lagi.
"Kau pria yang berbakat dalam bertarung. Kau pantas menjadi pendamping Norah. Kalian memiliki kekuatan yang bisa saling melengkapi satu sama lain," puji Lukas. Meskipun dia tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal seperti itu.
Austin tersenyum mendengar perkataan Lukas. "Terima kasih Opa karena sudah memujiku. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengobrol karena masalah di depan kita sudah semakin banyak."
Austin memberhentikan laju mobilnya. Pria itu mengambil senjata api yang sudah ia persiapkan. Begitu juga dengan Lukas. Mereka berdua harus menghadapi musuh yang menyambut kedatangan mereka.
"Kita harus memasukkan mobil ini ke dalam Mansion sebelum meledakkan bom yang ada di dalamnya," ujar Lukas sambil memandang Austin.
Autis menggeleng dengan wajah bingung. Bangunan rumah itu Sangat kokoh. Ia tidak mungkin nekat untuk menabrakkan mobilnya ke pintu rumah. Austin tidak yakin kalau mobilnya berhasil menerobos masuk ke dalam. Satu-satunya cara yang harus ia lakukan adalah menyerang orang yang berjaga di depan sana lalu membuka pintunya lebar-lebar sebelum membawa mobil itu menerobos masuk ke dalam mansion.
"Di mana pasukan Gold Dragon? Kenapa mereka tidak datang juga. Bukankah sekarang waktu yang tepat bagi mereka untuk membantu kita?" protes Austin dengan wajah yang kesal.
"Mereka bertugas di halaman belakang. Tanpa bantuan mereka jumlah yang sekarang menyerang kita tidak akan seperti sekarang. Mungkin akan jauh lebih banyak," sahut Lukas apa adanya.
Austin hanya geleng-geleng kepala saja mendengarnya. "Sedikit saja sudah sebanyak ini. Apalagi kalau sampai menyerang semuanya. Sepertinya Dominic memang benar-benar pria yang berkuasa. Sampai-sampai orang satu Las Vegas kini menyerang kita," ujar Austin sebelum lanjut untuk menembak.
...***...
__ADS_1
Foster Letakkan gelas terakhir di atas meja. Jika ditotalkan, pria itu sudah meminum 10 gelas yang berisi minuman beralkohol. Namun Foster masih terjaga. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan mabuk.
"Apa anda mau bermain lagi dengan saya Tuan?Sepertinya waktu untuk istirahat sudah berakhir. Sekarang saat yang tepat untuk kita bermain lagi. Kali ini saya yakin kalau saya akan menang. Semua uang yang anda miliki akan menjadi milik saya seluruhnya," ucap Dominic dengan penuh semangat.
Foster melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu yang ia nanti-nanti telah tiba. Kini tidak ada alasan lagi bagi Foster untuk bertahan di kasino itu. Dia harus segera pergi dan menemui Zion untuk membantu pria itu. Karena Foster bisa menebak kalau tidak lama lagi Dominic akan mendapatkan kabar buruk.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi rasanya Saya sudah tidak tertarik untuk bermain lagi. Meskipun saya pulang tidak dengan jumlah uang yang sama seperti yang saya bawa tadi. Tetapi uang ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya saya bisa membuat wanita yang saya bawa malam ini senang. Dia bisa membeli apapun yang dia inginkan," tolak Foster yang saat itu langsung mendapat respon buruk dari Dominic.
"Anda harus bermain lagi dengan saya. Jika tidak, Anda tidak bisa keluar dari tempat ini dengan selamat," ancam Dominic dengan tatapan yang begitu tajam.
"Ternyata seperti ini cara dia hingga bisa cepat kaya. Dia memaksa lawannya untuk terus bermain dan menghabiskan semua uang yang dimiliki oleh lawannya. Tapi aku harus mencari alasan agar bisa segera keluar dari Kasino ini. Aku harus segera menemui Kak Zion dan menyiapkan segalanya di sana," gumam Foster di dalam hati.
Wanita yang ada di samping Foster seolah mengerti dengan apa yang kini dipikirkan oleh Foster . Tiba-tiba saja wanita itu memegang kepalanya lalu meringis kesakitan. Foster yang mengerti segera menangkap wanita itu dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Apa kau baik-baik saja sayang?"
"Kepalaku sangat pusing. Tadi aku hanya minum sedikit saja tapi rasanya tubuhku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin segera tidur," lirih Wanita itu dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan.
"Tidak sia-sia aku membayarnya. Dia memang bisa diandalkan," gumam Foster di dalam hati. Pria itu kembali memandang wajah Dominic lalu menggendong wanita yang tadi sempat dipangku.
"Besok kita akan bertemu lagi, Tuan. Untuk malam ini saya harus membawa kekasih saya pulang dengan selamat. Dia sedang sakit. Sekarang kekasih Saya butuh istirahat. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk bertahan di tempat ini," ucap Foster. Berharap kali ini alasan yang ia katakan diterima oleh Dominic dan pria itu mengizinkannya untuk pergi meninggalkan kasino.
Dominic sebenarnya tidak mau membiarkan Foster pergi dengan membawa semua uang kemenangan itu. Tiba-tiba saja seorang pria menghampiri Dominic dan membisikkan sesuatu. Hal itu membuat ekspresi wajah Dominic berubah. Dalam hitungan detik saja pria itu memutar tubuhnya dan mengabaikan Foster begitu saja. Tidak lagi mempedulikan uang yang kini ada di genggaman Foster .
__ADS_1
"Apa rencana kita berhasil? Apa sekarang dia tidak lagi menahanmu?" bisik wanita itu sambil memejamkan mata.
"Belum dikatakan berhasil sebelum kita tiba di mobil. Sekarang ayo kita pergi sebelum dia menahan kita lagi." Foster membawa wanita itu di dalam gendongannya menuju ke mobil.