Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 40


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Amerika Serikat, Universitas Yale


Daisy sudah kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Sejak kejadian itu, dia semakin di jaga ketat oleh Zion atau pun pasukan Gold Dragon. Daisy sendiri tidak bisa menolak. Dia juga takut jika kejadian serupa sampai terulang lagi. Tetapi, karena di jaga dengan begitu ketat, sampai-sampai Daisy tidak bisa bertemu dengan Foster. Foster sendiri merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Setiap kali dia mendekati Daisy, Daisy selalu terlihat menghindar. Padahal sebenarnya Daisy hanya tidak  mau Foster dalam masalah. Sudah cukup kejadian yang pernah terjadi. Daisy tidak mau Foster celaka lagi.


Siang itu, selesai belajar Daisy memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ada beberapa buku yang ingin dia cari. Daisy ditemani oleh Esme. Sampai detik ini semua orang belum tahu kalau Esme dan Rula adalah adik kakak. Esme sangat cerdas dalam menyembunyikan identitasnya hingga seorang Zion pun tidak dapat mengetahuinya. Walau begitu, sekarang dia menyimpan dendam kepada keluarga Daisy. Dia berpikir kalau kakak kandung Daisy yang sudah membunuh kakaknya. 


“Daisy, tadi aku lihat Kak Foster juga masuk ke perpustakaan. Apa dia mengikutimu? Apa dia tahu kalau kau mau ke perpustakaan?” tanya Esme. Wanita itu bersikap baik di depan Daisy. Ia juga tidak mau sampai Daisy curiga. Setidaknya dia bersikap seperti ini sampai keadaan memungkinkan untuknya balas dendam terhadap Daisy.


Daisy diam sejenak. Dia memandang ke kanan ke kiri seperti seorang pencuri. Wanita itu hanya sedang memeriksa. Kira-kira Zion atau anak buah Zion ada gak disekitar sana. Ketika lokasi itu benar-benar sunyi, dia terlihat sedikit tenang. 


“Daisy, apa yang kau cari?” tanya Esme ingin tahu.


“Tidak ada. Ayo kita  masuk,” ajak Daisy. Wanita itu merangkul lengan Esme dan membawanya masuk ke dalam perpustakaan.


Seperti apa yang tadi di katakan Esme. Foster memang ada di dalam perpustakaan. Pria itu duduk di kursi sambil membaca sebuah buku. Pria itu terlihat cuek ketika Daisy muncul. Dia seperti sedang fokus dengan buku yang ia letakkan di atas meja.


“Daisy, semua kursi penuh. Yang kosong hanya yang ada di dekat Kak Foster,” ucap Esme. Daisy memandang ke arah Foster sejenak sebelum memandang Esme. 


“Kau duluan saja duduk di sana. Aku mau ambil buku dulu,” ucap Daisy. Wanita itu melangkah ke arah rak buku sedangkan Esme duduk di kursi yang ada di depan Foster.


Foster memandang Daisy dengan begitu serius. Ketika Esme duduk dan ingin menyapanya, tiba-tiba Foster beranjak dari tempat duduknya. Pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku sebelum melangkah menuju ke tempat Daisy berada.


Esme mengepal kuat tangannya. Dicueki seperti itu oleh Foster membuatnya sakit hati. Padahal Esme merasa kalau dia jauh lebih cantik dari Daisy. Semakin hari rasa bencinya terhadap Daisy semakin besar. 


Daisy berjongkok untuk  mencari buku yang dia inginkan. Namun tidak juga ketemu. Ketika Daisy berdiri, Foster sudah berdiri di sana. Pria itu menatap Daisy dan tersenyum.


“Kak Foster?” ujar Daisy.


“Kau kaget?”


“Tidak,” jawab Daisy malu-malu. “Kak Foster apa kabar? Apa luka Kak Foster sudah sembuh?” tanya Daisy tanpa berani memandang secara langsung.


“Tidak akan ada yang tahu kalau sekarang kita bertemu. Termasuk kak Zion dan anggotanya,” ucap Foster. Dia sengaja berkata seperti itu agar Daisy bisa kembali tenang dan tidak bersikap seperti sedang ketakutan.


“Kak Foster tahu tentang Kak Zion?” tanya Daisy dengan nada pelan.


Foster mengangguk. “Aku bahkan sempat bertemu dengannya. Tetapi aku tidak tahu wajahnya. Mungkin suatu saat nanti aku bisa akrab dengannya,” jawab Foster dengan senyuman.


Daisy mengangguk. “Kak Foster ngapain ke perpustakaan?”

__ADS_1


“Menunggumu, Daisy. Aku sangat ingin bertemu denganmu seperti ini. Sejak kejadian waktu itu, aku tidak memiliki kesempatan untuk menemuimu lagi. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Mungkin kau akan berpikir kalau aku ini pria yang tidak tahu malu.”


“Apa yang ingin Kak Foster tanyakan sama Daisy?”


Foster menghela napas. Dia menatap wajah Daisy dengan saksama. “Daisy, sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu.”


Daisy tercengang. Wanita itu tidak menyangka kalau Foster masih mencintainya setelah kejadian buruk yang dialami pria itu. Ini sungguh di luar dugaan. Perasaan yang tadinya ingin melupakan Foster dan melupakan rasa cinta yang pernah ada untuk Foster kini telah hilang terganti dengan perasaan cinta yang begitu tulus. Daisy juga mencintai Foster. Dia sangat ingin menjalin hubungan dengan pria pujaannya itu. Tetapi, bagaimana dengan Zion Zein? Lagi-lagi Daisy menunduk sebelum menjawab pertanyaan Foster.


“Kau tidak mencintaiku, Daisy?” 


Sudah saatnya Foster bersikap tegas. Dia harus tahu sebenarnya Daisy merasakan hal yang sama seperti dirinya atau tidak. Foster tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dia butuh kepastian. Jika memang Daisy juga mencintainya, ia akan berjuang untuk mendapatkan restu keluarganya. Sesulit apapun itu. Tetapi jika Daisy tidak mencintainya, mau tidak mau Foster akan belajar untuk melupakan Daisy. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Foster tidak mau Daisy mencintainya karena terpaksa apa lagi karena hutang budi.


“Daisy … Daisy ….” Daisy terlihat dilema.


“Daisy, apa kau sudah ketemu bukunya?” Belum sempat wanita itu menjawab, Esme sudah muncul di sana untuk mengganggu. Sepertinya wanita itu sengaja muncul untuk merusak semuanya.


Foster terlihat geram melihat Esme. Namun, dia kembali fokus kepada Daisy. Daisy yang sudah kebingungan memilih untuk mendekati Esme. “Maaf, Kak. Daisy permisi dulu.” Wanita itu menarik tangan Esme untuk pergi dari sana. Foster hanya bisa menghela napas sambil melihat Daisy yang semakin menjauh.


“Lagi-lagi dia menggantungkan jawabannya. Sebenarnya dia cinta atau tidak padaku?” gumam Foster di dalam hati.


***


Sapporo


“GrandNa di sini sayang ….”


Norah melihat ke arah balkon. “GrandNa?” Wanita itu segera menuju ke balkon. Dia ingin menemui GrandNanya sekaligus memaksanya untuk masuk ke dalam.


“Kenapa kau belum tidur?” tanya Serena dengan senyuman.


“GrandNa kok di luar? Di sini dingin, GrandNa ….” Norah mengambil selimut dan segera menyelimuti Serena. “GrandNa bisa sakit nanti.”


“GrandNa tidak bisa tidur. GrandNa kangen sama Opa Daniel.”


Norah menghela napas berat. Dia memeluk Serena dari belakang. “GrandNa yang sabar ya. Opa Daniel bisa sedih kalau GrandNa sedih seperti ini,” bujuk Norah berharap wanita itu tidak  bersedih lagi.


“Opa janji akan menjaga GrandNa,” jawab Serena lagi.


“Sekarang sudah ada Norah yang jagain GrandNa.” Norah berdiri di samping Serena. “Norah mau tanya. Kenapa GrandNa mengusir semua penjaga yang ada di rumah ini? Hanya menyisakan beberapa pelayan saja. GrandNa … rumah ini besar sekali. Butuh penjaga yang banyak dan pelayan yang banyak. Jika cuma sedikit, itu bisa bahaya buat GrandNa sendiri.”


“GrandNa bisa menjaga diri, sayang.” Serena memandang ke arah Norah. “Kau tidak tidur?”

__ADS_1


Norah menggeleng. “Norah mau buat cokelat panas tetapi di dapur enggak ada cokelat. Norah mau izin keluar sebentar, GrandNa.”


Serena mengusap wajah Norah sambil mengangguk. “Hati-hati ya sayang. Tidak jauh dari sini ada minimarket yang buka 24 jam.”


“Baik GrandNa. GrandNa segera masuk ya. Kalau Norah pulang GrandNa belum masuk, nanti Norah laporin sama mama,” ancam Norah.


“Ya, GrandNa akan masuk sebentar lagi.”


Norah mencium pipi Serena. “Norah sayang sama GrandNa.” Wanita itu segera pergi meninggalkan Serena sendirian di kamar. Dia menutup pintu dengan hati-hati sebelum berjalan cepat menuju ke tangga. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Norah harus bergerak cepat agar bisa segera kembali ke rumah.


Norah mengambil helm yang tergeletak di lemari kaca dan kunci sepeda motor. Walau sudah malam seperti ini, tetap saja dia lebih memilih sepeda motor daripada mobil. Wanita itu memandang penjaga yang berdiri di depan pintu sebelum tersenyum. “Jaga rumah ya, Pak!”


“Baik, Non.”


Norah segera naik ke atas sepeda motor dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Pengawal yang tadi berjaga di depan pintu di buat geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Norah.


Norah menurunkan laju sepeda motornya ketika mini market tempatnya ingin belanja sudah dekat. Malam itu dia hanya mengenakan baju kaos putih dengan celana pendek hitam. Norah bahkan tidak mengenakan jaket karena jaraknya tidak terlalu jauh.


“Pasti ini mini market yang dimaksud, GrandNa,” gumam Norah. Dia memberhentikan laju sepeda motornya. Menarik cagak kereta dengan kaki sebelum melepas helm. Wanita itu memandang ke kanan ke kiri. Di sana lokasinya terlihat sunyi walau banyak gedung-gedung tinggi dan toko-toko yang masih buka. Berbeda jauh dengan di Inggris. Yang pastinya jam segini di sana masih ramai.


Norah segera masuk ke dalam untuk  mencari cokelat. Dia mengambil cokelat favoritnya beberapa buah dan membawanya ke kasir. Wanita itu memandang keluar lagi sambil menunggu kasir menghitung total belanjaannya. Norah membayar sejumlah uang setelahnya. 


“Cokelat panas ini akan membuatku tidur nyenyak,” gumam Norah. Dia membawa belanjaannya keluar mini market dengan bibir tersenyum. 


“Berhenti!”


Norah memandang ke samping kanan. Dia melihat seorang pria dikejar-kejar oleh segerombolan pria bersenjata. Pria itu berlari menuju ke tempat Norah berdiri. Semakin lama semakin dekat hingga membuat Norah semakin bisa melihat wajah pria yang berlari itu. “Austin?” Belanjaan Norah sampai terlepas ketika pria itu berdiri di depannya dengan tubuh dipenuhi keringat.


“Apa ini sepeda motormu?” tanya Austin.


Norah hanya mengangguk dengan wajah kaget. Austin mengambil cokelat yang terjatuh di bawah dan merebut kunci kereta dari genggaman Norah. “Tolong bantu aku. Bawa aku pergi dari sini. Orang-orang itu akan membunuhku!”


DUARR


Norah menunduk dan kaget. Dia melihat ke arah gerombolan pria yang kini menodongkan senjata ke arahnya. Wanita itu tidak fokus lagi dengan Austin.


“Cepat naik!” perintah Austin. Pria itu sudah duduk di atas sepeda motor dan siap melajukannya.


Norah yang tidak tahu harus bagaimana segera naik ke atas boncengan. Austin melajukan sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya mau tidak mau Norah harus berpegangan.


“Maafkan aku. Aku jamin kau akan baik-baik saja. Percaya padaku. Nanti aku akan mengantarkanmu pulang setelah aku aman,” teriak Austin. Norah sendiri hanya diam saja tanpa mau menjawab apapun.

__ADS_1


“Dia Austin kan? Ya, aku tidak mungkin salah. Kenapa dia berlari? Kenapa dia takut di tembak? Bukankah dia bisa melawan mereka semua?” gumam Norah yang hanya berani di dalam hati saja.


__ADS_2