Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 41


__ADS_3

Austin terus saja menambah laju sepeda motor mereka. Terlebih lagi ketika beberapa mobil muncul di belakang mereka. Seperti sedang mengejar mereka. Austin memperhatikan mobil-mobil itu dari kaca spion. Norah memutar kepalanya ke belakang. Dia juga tahu kalau mobil yang ada di belakang itu mengejar mereka. Tetapi Norah tidak bisa berbuat banyak walau sekarang dia juga membawa senjata api.


“Sekarang dia mau bawa aku ke mana? Apa ini salah satu triknya untuk menjebakku? Dia tahu kalau aku adik Kak Zion Zein. Pemimpin Gold Dragon? Lalu dia ingin menangkapku dengan cara ini? Ingin menjadikanku tawanan seperti apa yang pernah di lakukan terhadap Daisy?” tuduh Norah di dalam hati.


DUARRR


Norah memejamkan mata sejenak ketika terdengar suara tembakan. Austin membelokkan sepeda motor mereka ke gang yang sempit. Hanya sepeda motor yang bisa lewat. Mobil-mobil itu berhenti sebelum mencari jalan lain agar bisa menangkap Austin. Tanpa disadari Austin, gang yang dia pilih adalah jalan buntuh. Pria itu memberhentikan laju sepeda motornya di depan tembok yang menjulang tinggi.


Norah cepat-cepat turun. Dia semakin yakin kalau Austin ingin menjebaknya. Buktinya sekarang dia di bawa ke lokasi seperti ini. Selain sunyi, jauh lagi dari jalan keluar. Norah sudah siap-siap mengeluarkan senjata apinya. Jika memang dia di jebak, dengan terpaksa Norah harus menembak Austin agar bisa kabur.


“Maafkan aku,” ucap Austin pelan. Norah yang tadinya sudah ingin menembak kini menyimpan senjatanya lagi. Wanita itu berdehem dan memandang ke arah lain. “Maaf kau bilang?” tanya Norah balik.


Austin menghela napas panjang. Dia memperhatikan wajah Norah dengan saksama. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Oh iya, kami tidak pernah bertemu secara langsung seperti ini. Untuk apa aku takut?” gumam Norah di dalam hati. “Tidak. Saya tidak merasa pernah bertemu dengan anda,” jawab Norah dengan ekspresi yang tenang agar Austin tidak curiga.


“Apa anda pernah tinggal di Amerika, Nona? Atau sekedar liburan di sana?” tanya Austin lagi.


“Dia pasti mengingat wajahku karena waktu itu aku yang membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit. Tapi, aku tidak boleh sampai mengaku. Toh dia juga masih ragu,” sahut Norah di dalam hati. “Kenapa mereka mengejar anda? Apa anda baru saja mencuri?” tanya Norah agar Austin tidak lagi fokus dengan wajahnya.


“Mereka ingin membunuhku. Mereka itu anak buah sebuah geng mafia,” jelas Austin apa adanya.


“Geng mafia?” celetuk Norah pelan.


Austin mengangguk. “Ya, geng mafia. Aku ada proyek di kota ini. Saat di tengah jalan mobilku rusak dan mereka menyerang. Aku berlari hingga akhirnya kita bertemu,” jelas Austin.


Norah masih tidak percaya dengan jawaban Austin. Bukankah jika memang benar pria yang ada di hadapannya ini adalah Austin, pria itu sudah melawan semua orang yang berniat mencelakainya? Dia juga pemimpin sebuah geng mafia. Lalu, kenapa dia harus lari dan kabur seperti seorang pengecut?


“Nona, apa anda warga sini?” tanya Austin lagi. Dia mengambil ponselnya seperti sedang mengirim pesan ke seseorang.


“Ya,” jawab Norah.


Austin memandang Norah. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Norah. “Saya Austin. Austin Clark.”


Norah melirik tangan Austin yang kini ada di depannya. Wanita itu merasa ragu. Namun, agar Austin tidak curiga, ia terpaksa memperkenalkan diri. “Saya Norah.


Austin masih belum mau melepas tangan Norah yang kini ada di genggaman tangannya. Tiba-tiba saja dia terpesona melihat kecantikan Norah. Wanita yang sederhana namun memiliki daya tarik yang begitu kuat. Austin sangat suka melihat wanita naik sepeda motor seperti Norah. Rasanya dia seperti bertemu dengan jodohnya yang selama ini dia cari.


“Wanita ini sangat cantik,” Puji Austin dalam hati.

__ADS_1


Norah melirik ke tangan Austin yang berkucuran cairan merah. Norah menarik tangan Austin dan memeriksanya dengan teliti.


“Apa kau tertembak?” tanya Norah khawatir. Dia yakin, peluru itu mendarat di lengan Austin ketika mereka ada di jalan tadi. Karena sebelum naik sepeda motor, pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda sudah tertembak.


Austin hanya mengangguk pelan, dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaan Norah karena terlalu asyik menikmati kecantikan Norah.


“Anda tidak mau pergi ke rumah sakit, Tuan Austin?” tawar Norah. “Aku akan mengantarkan anda.”


“Tidak! Seseorang sudah dalam perjalanan menjemput saya, Norah,” jawab Austin. Pria itu memandang ke arah jalan tempat mereka muncul tadi. “Sepertinya mereka sudah tidak ada. Ayo kita keluar dari gang sempit ini.”


Norah menarik napas dalam dan mengambil sapu tangan yang tersimpan di saku celananya.


“Kemarilah, aku akan menghentikan pendarahaannya.” Tanpa permisi, Norah mengikat luka Austin dengan sapu tangan kecil miliknya. Austin hanya diam, sambil terus memandang wajah Norah. Wajah keduanya menjadi semakin dekat saat Norah mengikatkan sapu tangan itu di tangan Austin.


“Baiklah, sudah jauh lebih baik.” Norah tersenyum sesaat. “Sekarang, kau bisa bertahan sampai orang yang menjemputmu tiba.”


“Terima kasih,” jawab Austin masih dengan memandang wajah Norah.


“Apa kita sudah bisa pergi sekarang?” tanya Norah tanpa basa-basi.


Austin mengangguk. Dia naik ke sepeda motor lagi. Pria itu ingin memastikan Norah ada di tempat yang aman sebelum meninggalkannya. Austin tidak mau Norah berada dalam bahaya setelah menolongnya.


Norah menerima kartu nama itu dan membacanya sebentar. Setelah itu dia memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celana. “Baiklah,” jawabnya.


“Pergilah. Aku akan masuk ke dalam mobil setelah kau pergi,” pinta Austin.


Norah segera memasang helmnya dan naik ke atas sepeda motor. Wanita itu memandang Austin lagi sebelum melajukan sepeda motornya. Cokelat yang tadi ia beli sudah entah kemana. Bahkan Norah tidak ingat, dimana cokelat itu jatuh. Sebelum terlalu jauh dari Austin, Norah masih sempat melirik Austin melalui spion sepeda motornya.


“Dia memang Austin. Tapi, kenapa dia berubah secepat ini?” gumam Norah di dalam hati. Ia menambah laju sepeda motornya karena tidak mau membuat GrandNa nya khawatir di rumah.


Setibanya di rumah, Serena sudah berdiri di depan pintu. Norah tersenyum sebelum turun dari sepeda motor. Tadi dia sempat kembali ke mini market tempatnya membeli cokelat. Sambil membawa belanjaannya, Norah bersuara lebih dulu.


“GrandNa kok belum tidur?”


“Sayang, kenapa lama sekali? GrandNa khawatir,” jawab Serena. Dia segera memeluk Norah sebelum mengajaknya masuk. “Apa kau membeli cokelatnya di luar kota?” sambung Serena lagi.


Norah tertawa kecil mendengarnya. “Tidak, GrandNa. Tadi Norah sekalian keliling kota,” jawab Norah asal saja.


“Tapi tadi kau hanya berpamitan untuk membeli cokelat,” protes Serena lagi.

__ADS_1


“Ya … maafkan Norah ya GrandNa.” Norah membimbing GrandNa nya agar duduk di kursi roda. Dia tahu kalau GrandNa nya itu pasti kelelahan karena terlalu lama berdiri menunggunya.


“Norah, GrandNa bisa sendiri. Cepat di buat cokelat panasnya lalu segera tidur. Ini sudah malam,” perintah Serena. Dia menekan tombol di kursi rodanya hingga kursi roda itu berjalan sendiri. Norah masih berdiri di depan tangga sambil melihat ke arah Serena.


“Syukur GrandNa tidak curiga. Kalau dia sampai curiga, bisa gawat. Mana aku tidak pandai berbohong di depan GrandNa lagi,” gumam Norah di dalam hati.


***


Austin melangkah cepat masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan pengawal yang menunduk hormat menyambutnya. Langkahnya semakin ia percepat menuju ke arah kamar. Seorang pria paruh baya melangkah cepat ke arah dapur untuk mencari obat-obatan. Dia tahu kalau Austin terluka. Dengan begitu dia ingin mengobati luka Austin.


Di dalam kamar, Austin membuka dasinya secara paksa. Melemparkan jas hitam itu ke sembarang arah. Austin membuka kemeja putih yang sudah berubah warna merah karena terkena darahnya sendiri secara perlahan. Pria itu memandang tubuhnya yang kini berada di depan cermin. Terlihat kain kecil berwarna cokelat yang kini terikat di tangan kanannya. Lagi-lagi dia tersenyum ketika kembali ingat dengan Norah.


“Wanita itu sangat cantik,” pujinya.


Austin mengambil satu buah belatih di laci lemarinya. Dia membuka kain kecil itu dan meletakkannya di atas meja. Austin mengarahkan belatih itu ke tangan kanannya sebelum mencungkil peluru itu agar keluar dari tangannya.


“ARRGH!”


Austin teriak dengan begitu keras, hingga teriakannya memenuhi isi kamarnya saat ini. Peluru itu berhasil ia keluarkan, tetesan cairan merah berkucur semakin deras di tangan kanannya saat ini.


“Tuan!” Pria paruh baya tadi berlari kencang menghampiri Austin. Dia meletakkan alat media yang ia bawa di atas meja.


Dengan sigap, pria itu menutup luka yang ada di tangan Austin dengan kapas. Dia melilitkan perban di tangan Austin setelahnya. Wajahnya terlihat khawatir saat melihat Austin hanya diam tanpa kata. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Maafkan saya, Tuan. Kalau saja tadi saya cepat datang, mungkin anda tidak sampai tertembak seperti ini,” ucap pria itu penuh rasa bersalah.


“Anda tidak perlu minta maaf,” jawab Austin dingin.


“Tuan, kenapa anda tidak mau melawanmusuh anda lagi? Bukan seperti ini maksud Tuan Clark. Dia meminta anda untuk bijak dalam memimpin geng mafia anda. Bukan meminta anda berubah menjadi pria lemah seperti sekarang. Musuh anda terus berdatangan. Tetapi anda terus saja menghindar. Mau sampai kapan, Tuan? Sampai kapan?”


“Sampai aku berhasil menemukan wanita yang aku cintai,” jawab Austin. Dia memandang wajah pria itu lagi. “Aku akan kuat jika ada sosok yang harus aku lindungi. Jika hanya diriku sendiri, aku akan tetap seperti ini. Buktinya sampai sekarang belum ada yang berhasil mengalahkanku.”


“Wanita?” Pria itu mengeryitkan dahinya. Dia ingin tahu seperti apa wanita yang dimaksud Austin. Jika memang wanita itu ada di dekat Austin, dia akan berjuang untuk menyatukan mereka. “Siapa namanya, Tuan? Apa dia juga suka sama anda?”


Austin tersenyum lagi. Pria itu bersandar di sofa sambil membayangkan wajah cantik Norah. “Aku baru pertama kali bertemu dengannya."


Pria itu mengeryitkan dahi. “Wanita yang naik sepeda motor tadi, Tuan?”


Austin mengangguk pelan. “Namanya Norah. Aku sudah berhutang budi padanya. Semoga saja dia mau menghubungiku besok. Aku ingin bertemu dengannya lagi.”

__ADS_1


Pria paruh baya itu hanya diam saja. Dia juga tidak kenal dan tidak tahu wanita yang dimaksud oleh Austin. Tadi dia tidak terlalu jelas melihat wajah Norah karena dia ada di dalam mobil. “Baru ini aku melihat Tuan Austin tersenyum lagi setelah beberapa bulan kepergian Tuan dan Nyonya. Semoga saja wanita itu wanita yang baik agar dia bisa memberikan nilai positif kepada Tuan Austin.”


__ADS_2