
Zion mengusap punggung Norah. Dia tahu kalau adiknya itu pasti belum siap kehilangan GrandNa. Ini yang membuatnya tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tugas Zion adalah membuat adiknya kembali tenang.
"Norah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa ada di pulau itu? Apa kau tahu, semua orang mengira kau sudah tewas dalam kecelakaan pesawat. Pesawat yang seharusnya kau tumpangi mengalami kecelakaan dan meledak di udara. Tidak ada satu penumpang pun yang selamat. Bahkan jenazahnya tidak bisa dievakuasi. Sekarang aku tidak tahu harus senang atau tidak setelah tahu kau di culik. Karena setidaknya kau terhindar dari kecelakaan pesawat itu."
"Kak, siapa yang memberi tahu kakak kalau aku ada di pulau itu?" tanya Norah tanpa mau menjawab pertanyaan Zion.
"Norah, kakak tidak tahu kalau kau ada di pulau itu. Tadinya kakak hanya ingin singgah saja. Tidak di sangka kau muncul. Norah, ini semua berkat Opa Lukas. Opa Lukas berhasil menyelidiki penculikanmu hingga akhirnya kami tahu kau di sekap di sebuah pulau oleh Mr. A." Dari raut wajah Zion saja Norah bisa tahu kalau kakaknya sangat-sangat khawatir.
Norah diam sejenak. "Kak, sebenarnya Mr. A itu siapa? Kenapa dia bisa tahu banyak tentang keluarga kita bahkan tentang Gold Dragon?"
"Dia adalah pasukan Gold Dragon, Norah. Opa Lukas sudah memberikan fotonya kepadaku. Sekarang target selanjutnya adalah dia. Kakak yakin pasti bisa menangkapnya dan menghabisinya. Dia harus merasakan penderitaan yang dirasakan oleh GrandNa. Dia juga harus merasakan sakit yang dirasakan GrandNa." Sorot mata Zion dipenuhi dendam. Setelah mengantarkan Norah pulang dengan selamat, Zion akan bergerak untuk menghabisi Mr. A. Pria itu tidak akan bisa bersembunyi lagi. Zion pasti bisa menangkapnya. Dimanapun pria itu bersembunyi.
"Kak, apa kondisi GrandNa separah itu sampai tidak bisa di selamatkan lagi?" Norah masih berharap semua ini tidak nyata. Dia ingin GrandNanya tetap hidup dan bicara padanya. Menyambutnya ketika pulang nanti dengan sebuah pelukan.
"Norah, kita harus bisa melepaskan kepergiannya. Hanya itu yang GrandNa inginkan." Zion lagi-lagi tidak tega melihat adiknya. Dia mengusap rambut Norah dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana dengan Opa Zen?"
"Opa Zen tidak mau bicara dengan siapapun. Sepertinya dia sangat kehilangan GrandNa. Begitu juga dengan mama."
Norah memandang ke arah dermaga yang sudah semakin dekat. Tidak lama lagi mereka akan kembali ke Cambridge. Norah akan pulang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Tetapi, bagaimana dengan Austin?
"Apa pertemuan tadi menjadi pertemuan terakhir aku dan Austin? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau sampai Austin celaka. Tetapi, aku sangat kecewa dengannya. Kenapa harus dia yang membunuh GrandNa? Kenapa?" umpat Norah di dalam hati.
Zion tahu apa yang ada dipikiran adiknya saat ini. Namun, dia juga tidak mau membahas soal Austin walau sebenarnya saat ini dia ingin sekali tahu apa yang sudah menyebabkan adiknya dan Austin bisa berduaan di pulau tersebut.
"Sekarang aku harus menjaga Norah dengan sebaik mungkin. Aku tidak mau mereka bertemu lagi," gumam Zion di dalam hati.
Di sisi lain, Daisy berbaring di tempat tidur sambil memandang foto dirinya dan Norah. Dia sangat merindukan kakak-kakaknya. Saat ini Daisy merasa sendiri. Biasanya dia selalu di kelilingi oleh keluarganya setiap kali pulang ke rumah. Kali ini semua orang masih fokus memperbaiki hatinya yang patah setelah kepergian Serena.
"Kakak, apa kabar? Aku ingin berkuda dengan kakak lagi," lirih Daisy. Dia menghapus air mata yang menetes membasahi pipi. "Apa Kak Zion berhasil menemukan keberadaan kakak? Aku senang ketika mendengar Opa Lukas bilang kalau kakak masih hidup. Tetapi aku khawatir ketika tahu kakak di sekap di sana. Aku takut kakak di sakiti oleh mereka."
Daisy meletakkan foto tersebut di samping kepalanya. Wanita itu duduk di atas tempat tidur dan memandang ke luar jendela. Langit sudah gelap. Tetapi sampai detik ini Zion belum memberi kabar.
Suara deringan ponsel membuat Daisy segera mendekati nakas. Ia berharap Zion lah yang menghubunginya malam itu. Raut wajahnya terlihat sangat kecewa ketika bukan Zion yang meneleponnya. Melainkan Foster.
Dengan ekspresi tidak bersemangat, Daisy mengangkat panggilan masuk tersebut. Dia meletakkan ponselnya di telinga.
"Halo." Nada bicara Daisy sangat lembut hingga membuat Foster menjadi khawatir.
"Daisy, apa kau sakit?"
"Aku baik-baik saja." Daisy mengusap wajahnya dengan tangan. "Ada apa kak?"
"Kau tidak mau aku telepon ya?" Foster tahu kalau Daisy sedang tidak mau bicara. "Tadinya aku pikir aku bisa menghiburmu agar tidak sedih lagi. Tapi sepertinya kau malas bicara."
"Aku memikirkan kak Norah dan Kak Zion. Kak, apa kakak sudah makan?"
Foster tersenyum. Walau sempat cuek, tetapi ternyata Daisy masih perhatian dengannya. "Sudah. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga sudah makan." Norah menahan kalimatnya. "Kak, terima kasih."
__ADS_1
"Terima kasih?"
"Berkat bantuan kakak, Opa Lukas bisa dengan cepat menemukan keberadaan Kak Norah."
"Aku tidak melakukan apapun, Norah. Hanya kebetulan saja penculikan Norah terekam camera cctv yang ada di perusahaanku. Sepertinya memang sudah ditakdirkan agar aku menjadi penyelamat kakakmu."
"Kak, sekarang kakak ada di mana?"
"Di depan kamarmu," jawab Foster dengan santainya.
Norah mengeryitkan dahinya. Depan jendela kamarnya terhubung dengan sebuah pagar tinggi. Bagaimana bisa Foster berdiri di sana. Darimana dia masuknya? Tidak mau terus bertanya di dalam hati, dia segera berlari menuju ke kamar. Daisy ingin memastikan sendiri apakah benar yang dikatakan oleh Foster.
Dengan sigap Daisy menyingkirkan gorden yang menutupi jendela kamar. Alisnya saling bertaut ketika dia tidak melihat siapapun ada di sana.
"Kak Foster bohong. Kak Foster ngerjain aku ya!" Daisy memajukan bibirnya. Padahal tadi dia sudah senang kalau memang benar Foster ada di rumahnya. Saat ini Daisy memang membutuhkan seseorang untuk menemaninya.
"Kau merindukanku ya." Foster tertawa. Sepertinya dia senang sekali mengetahui Daisy langsung berlari ke jendela ketika tahu kalau dia datang.
"Kak, aku butuh seseorang untuk menemaniku. Seisi rumah tidak ada yang peduli denganku. Mereka semua fokus dengan Opa Zen. Mereka tidak mau Opa Zen sampai jatuh sakit."
"Oke, baiklah. Aku akan datang dengan menggunakan pintu ajaib."
Daisy mengeryitkan dahinya. "Pintu ajaib?"
Tiba-tiba Foster muncul dari balik pohon. Pria itu melambaikan tangannya dengan bibir tersenyum. Daisy melebarkan kedua matanya melihat Foster muncul di bawah sana. Dia takut pasukan Gold Dragon yang sedang berjaga menangkap Foster dan menuduhnya sebagai seorang penyusup.
"Kak, apa yang kakak lakukan di sana? Bagaimana caranya kakak masuk?"
Daisy tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia segera memutuskan panggilan telepon itu dan berlari ke arah pintu. Daisy sudah tidak sabar untuk memeluk Foster dan menangis di dalam pelukan hangat pria itu.
...***...
Zion dan Norah sudah tiba di bandara. Perjalanan dari pulau menuju ke bandara memang cukup jauh. Sampai-sampai sudah sore dan langit telah gelap ketika tiba di sana.
Norah masih duduk di jok belakang sambil memandang pesawat yang akan ia tumpangi menuju Cambridge. Zion sendiri sudah berdiri di samping mobil dan sedang membicarakan sesuatu dengan pasukan Gold Dragon.
"Bos, Vila itu sudah kosong. Setelah kami periksa, kami menemukan ini." Pria itu memberikan sebuah ponsel dan alat pelacak. Zion menerimanya dan memeriksanya. hanya Zion yang bisa membuka ponsel itu dan mengetahui apa alat pelacak itu masih berfungsi.
Setelah hampir satu menit memeriksanya, Zion tersenyum tipis. "Ini milik Austin. Sepertinya dia akan benar-benar membusuk di pulau itu. Bahkan alat pelacak dan ponselnya saja sudah ada di tangan kita. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya!"
Zion memberikan ponsel dan alat pelacak itu kepada pasukannya lagi. "Hancurkan benda ini. Pastikan dia tidak bisa berfungsi lagi."
"Baik, Bos."
Zion memandang Norah yang hanya diam di dalam mobil. Wanita itu bisa mendengar percakapannya. Zion tahu pasti adiknya lagi-lagi memikirkan Austin.
"Norah, ayo kita masuk ke pesawat. Sebentar lagi kita akan berangkat." Zion membukakan pintu mobil. Norah segera turun. Dia berdiri di depan Zion dan tersenyum. Wanita itu merangkul lengan kakaknya dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar Zion Zein.
"Maafkan aku kak," lirih Norah.
"Aku tidak marah. Aku juga sudah memaafkanmu. Aku sangat menyayangimu Norah." Zion mengecup pucuk kepala adiknya sebelum membawanya masuk ke dalam pesawat. Beberapa pasukan Gold Dragon sudah berbaris rapi di depan tangga masuk pesawat. Mereka harus memastikan keadaan aman.
Setibanya di dalam pesawat, satu hal yang tidak terduga terjadi. Hujan turun dengan derasnya. Bahkan angin juga sangat kencang hingga membuat bandara di penuhi dengan air. Penerbangan harus di tunda untuk beberapa saat sampai landasan bisa di gunakan lagi.
__ADS_1
Norah sudah duduk di salah satu kursi yang ada di pesawat untuk menyantap makan malamnya. Walau ada banyak aneka menu di depannya, tetap saja dia tidak selera untuk makan. Pikirannya sudah dipenuhi nama Austin. Melihat hujan yang turun dengan deras, dia kini justru mengkhawatirkan keadaan Austin.
"Bagaimana kalau dia benar-benar tewas di pulau itu karena kedinginan?"
Semua perbuatan baik Austin kembali memenuhi pikiran Norah. Bahkan rayuan dan segala kalimat yang diucapkan Austin terus mengiang di telinganya. Norah meletakkan sendok dan garpu kembali ke meja tanpa mau memasukkan sedikit saja makanan ke dalam mulutnya.
"Nona, anda harus menghabiskan makan malam anda. Jika tidak Tuan Zion akan marah kepada kami," ujar pelayan yang ada di dekat Norah.
"Dimana Kak Zion?"
"Tuan Zion ada di ruangan lain sedang berbicara dengan pasukan Gold Dragon, Nona."
"Kapan pesawatnya berangkat?"
"Setelah hujan berhenti, Nona."
"Aku mau tidur." Norah meneguk air minum yang ada di depannya. "Bisakah kalian bereskan semua makanan ini. Aku ingin tidur tanpa di ganggu siapapun. Bangunkan aku jika setengah jam lagi kita tiba di Cambridge."
Pelayan itu saling memandang dengan wajah bingung. Norah belum memakan makan malamnya. Jika Zion tahu, bisa habis mereka.
"Katakan saja sama Kak Zion kalau aku sudah menghabiskan makananku. Aku juga akan bilang seperti itu nanti," ucap Norah yang seolah tahu apa yang dipikirkan pelayan yang ada di dekatnya.
"Baik, Nona." Tanpa pikir panjang mereka segera membersihkan makanan dan minuman yang ada di meja. Setelah itu mereka meninggalkan Norah agar bisa dengan tenang tidur.
Di sisi lain, Zion sudah selesai bicara dengan pasukan Gold Dragon. Pria itu juga merasa bosan menunggu hujan. Dia ingin segera berangkat agar segera tiba di Cambridge.
"Apa Norah sudah makan?" tanya Zion kepada pelayan wanita yang ada di dekatnya.
"Sudah, Tuan. Tetapi Nona Norah tidak menghabiskan makan malamnya," jawab pelayan itu takut-takut.
Seorang pilot datang menemui Zion. Pilot itu menunduk hormat di depan Zion dengan senyuman ramah.
"Tuan, kita akan segera berangkat. Apa masih ada yang di tunggu?"
"Tidak," sahut Zion cepat. Dia memandang pilot itu lagi. "Aku ingin segera tiba di Cambridge. Apakah anda bisa mengantarkan kami tiba di Cambridge dengan selamat?" Mengingat sering sekali terjadi kecelakaan pesawat membuat Zion sedikit khawatir. Bahkan Zion meminta pesawat milik keluarganya itu untuk di servis setiap waktunya.
Pilot itu mengeryitkan dahinya. Ini pertama kalinya dia mendengar Zion bertanya seperti itu. "Saya selalu berusaha untuk mengantarkan keluarga Gold Dragon tiba di tempat tujuan dengan selamat, Tuan."
"Bagus!" Zion mengambil gelas yang ada di meja dan meneguknya. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat!"
"Saya permisi, Tuan."
Setelah pilot itu pergi, Zion memandang pelayan wanita yang masih berdiri di sana. "Apa yang dilakukan Norah?"
"Nona Norah bilang ingin tidur, Tuan. Dia tidak mau di ganggu oleh siapapun. Setelah hampir tiba di Cambridge dia minta dibangunkan."
Zion mengangguk. "Pergilah. Aku ingin sendiri."
"Baik, Tuan." Pelayan itu segera pergi setelah di usir oleh Zion.
Pesawat mulai terbang dan melayang di udara. Zion masih belum bisa memejamkan mata. Perjalanan yang memakan waktu hampir 17 jam ini memang pasti akan sangat melelahkan. Mereka akan melewati malam sebelum pagi lagi.
"Sebaiknya aku tidur saja. Besok pagi aku akan bangunkan Norah dan mengajaknya untuk sarapan." Zion mencari posisi ternyamannya. Pria itu mulai memejamkan mata dan tidur.
__ADS_1