Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 179


__ADS_3

"Kak Foster, kita mau ke mana. Papa pasti akan mencariku. Kami juga harus segera kembali ke rumah sakit." Daisy terus saja berlari mengikuti Foster dari belakang. Sebenarnya wanita itu senang karena bisa berduaan seperti ini bersama dengan pria yang ia cintai. Namun sekarang bukan waktu yang tepat. Dia pulang untuk mengambil barang-barang pesanan Leona. Bisa dibilang dia hanya sebentar saja di rumah itu.


Foster tiba-tiba saja muncul ketika Daisy selesai mandi. Tanpa banyak kata pria itu membawa Daisy pergi. Para pengawal tahu kalau Daisy pergi bersama dengan Foster. Mereka semua juga sempat mencegahnya. Mereka tidak bisa terlalu melarang Daisy karena wanita itu masih tetap majikan mereka. Daisy berjanji akan segera kembali hingga akhirnya pengawal itu tidak memiliki alasan lagi untuk melarang Daisy pergi meninggalkan rumah.


"Ke suatu tempat tidak jauh dari rumah. Kau akan kembali tepat waktu. Tenang saja. Percayalah padaku," ucap Foster dengan penuh percaya diri.


Foster membawa Daisy ke lapangan golf yang tidak jauh dari lokasi rumah. Memang tempat itu sangat cocok jika dijadikan tempat untuk bersantai dan bercerita. Hembusan angin di sana sangat dingin karena banyak pepohonan rindang yang berbaris rapi.


Foster membawa Daisy duduk di salah satu kursi besi bercat warna putih yang ada di bawah pohon. Siang itu ada banyak sekali orang yang sedang bermain golf hingga lokasi di sana menjadi sangat ramai. Foster sama sekali tidak peduli dengan keramaian karena yang ia pikirkan hanya Daisy. Selama wanita itu ada di sisinya maka seramai apapun tidak akan mengganggu lagi.


"Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan Kak Foster kemarin. Kenapa Kak Foster tidak memberiku kabar apapun. Aku tidak bisa tidur nyenyak sejak Kak Foster pergi ke Las Vegas. Bukan hanya kak Foster saja sebenarnya. Aku juga memikirkan Opa Lukas, Kak Zion dan juga Kak Austin. Kami semua semakin khawatir ketika tahu kalau Oma Lana juga berangkat ke Las Vegas. Hampir saja Papa Zen ikut menyusul."


"Soal Oma Lana kami sendiri juga kaget. Tapi setidaknya kami pulang dengan kemenangan. Semua perjuangan kami tidak sia-sia. Pria itu telah mengaku kalah. Las Vegas benar-benar rumah seorang Dominic. Dia memiliki wilayah kekuasaan yang begitu luas. Bisa dibilang semalam kami termasuk beruntung karena bisa berhasil keluar dalam keadaan selamat. Entah negosiasi apa yang sudah dilakukan Zion dan pria itu. Bisa-bisanya kami menang ketika anak buah Dominic masih banyak."


"Ceritakan padaku bagaimana di sana. Oh iya tadi Kak Austin sempat menyinggung seorang wanita. Apa selama di Las Vegas Kakak ditemani oleh seorang wanita? Apakah itu benar?" tanya Daisy penuh selidik.


Wajah Foster terlihat kaget. Ia tidak menyangka kalau Austin akan membocorkan masalah ini kepada Daisy. Sekarang pria itu harus mencari alasan agar Daisy tidak sampai salah paham.


"Sebenarnya dia hanya orang bayaran yang tugasnya membantu kami. Kami bukan aku. Tidak ada hubungan apapun di antara kami bahkan aku tidak mengenal namanya. Jangan cemburu." Foster merangkul pinggang Daisy.


"Siapa juga yang cemburu. Tapi, aku jadi curiga ketika melihat ekspresi Kak Foster kali ini. Sepertinya Kak Foster sangat ketakutan ketika Aku menyinggung soal wanita itu."


"Aku sama sekali tidak takut hanya saja tujuanku membawamu kemari bukan untuk bertengkar. Apalagi dicurigai. Aku ke sini karena ingin melepas rindu denganmu. Aku sangat merindukanmu Daisy."


Sekarang Daisy tidak berani mendesak Foster terlalu jauh lagi. Wanita itu juga sangat merindukan Foster. Momen seperti ini adalah momen yang langka. Belum tentu nanti mereka bisa berduaan seperti ini lagi apalagi kalau Zion sudah keluar dari rumah sakit.


"Maafkan aku," ucap Daisy dengan wajah bersalah.


"Gak perlu minta maaf. Karena tidak ada yang salah di sini." Foster memandang ke depan lagi. Hanya berduaan seperti itu saja sudah membuatnya

__ADS_1


sangat senang.


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Baik Foster maupun Daisy tidak ada yang bicara. Mereka sedang menikmati pemandangan indah yang tersaji di depan. Jarang-jarang mereka bisa duduk berduaan di bawah pohon rindang seperti itu. Setelah putus dan kembali menjalin hubungan, baru ini Foster bisa mengajak Daisy mengobrol santai seperti itu. Biasanya mereka selalu sembunyi-sembunyi takut anak buah Zion melihat mereka dan melaporkannya kepada Zion.


"Pertarungan semalam memang melelahkan. Tapi aku senang karena berkat pertarungan kemarin, aku dan Kak Zion jadi kembali akrab," ucap Foster memecahkan keheningan.


Daisy mengeryitkan dahinya. "Kak Zion sudah merestui kita?"


Foster mengangkat kedua bahunya. "Dia sudah mau bicara denganku. Soal restu aku belum tahu." Dia memandang wajah Daisy. "Tapi aku harap Kak Zion merestui hubungan kita. Seperti dia mendukung hubungan Austin dan Norah."


"Semoga saja," jawab Daisy sebelum memandang ke depan lagi. "Aku baru tahu kalau di sini sangat cocok dijadikan tempat menenangkan pikiran. Jika tahu sejak awal, aku akan sering ke tempat ini."


"Tapi di sini terlalu berbahaya." Foster memperhatikan lingkungan sekitar. "Ada banyak tempat untuk musuh bersembunyi. Kau yang tidak dibekali ilmu bela diri tidak akan paham."


Daisy menghela napas panjang. "Ya, itu yang membuatku sejak kecil selalu ditemani pengawal. Sungguh melelahkan jika kemana-mana harus ada yang jaga."


Daisy terharu mendengar keseriusan yang ditunjukkan Foster. Namun wanita itu kembali memasang wajah sedih ketika mengingat masalah Foster.


"Kak, bagaimana masalah yang terjadi antara Kak Foster dengan kedua orang tua Kakak? Apa masalah itu sudah bisa diselesaikan? Apa kedua orang tua Kak Foster sudah memaafkan Kak poster?" tanya Daisy dengan hati-hati. Dia juga tidak mau sampai menyinggung perasaan Foster.


Namun dia ingin tahu bagaimana hubungan Foster dan kedua orang tuanya untuk saat ini. Bukankah kabar terakhir yang ia dengar kalau Foster bertengkar dengan kedua orang tuanya dan memilih untuk kabur dari rumah dan tidak memakai sepeserpun harta orang tuanya.


"Sepertinya mereka sekarang jauh lebih senang karena sudah tidak ada aku lagi di rumah itu. Aku sempat berpikir kalau aku ini bukan anak kandung mereka. Mana ada orang tua yang tega melihat anaknya sengsara. Berbeda dengan mereka berdua yang terlihat bahagia ketika melihatku menderita. Aku sama sekali tidak merasa menyesal karena sudah meninggalkan rumah. Justru aku merasa bahagia meskipun sekarang tidak ada nama Matthew lagi di belakang nama aku."


"Kak, jangan seperti itu. Bagaimanapun juga dia adalah orang tua Kak Foster. Wanita yang pernah mengandung dan melahirkan Kak Foster. Mungkin saat itu mereka sedang marah hingga emosi mereka tidak terkendali. Bagaimana kalau sekarang mereka sudah berubah dan menyesali semuanya. Saranku sebaiknya Kak Foster kembali pulang dan temui mereka. Minta maaf karena sebagai anak kitalah yang memang sepantasnya untuk meminta maaf ke mereka. Meskipun orang tua kita yang salah. Dalam keluarga kami memang tidak ada yang sampai seperti ini. Sesekali pernah Kak Zion atau Kak Norah berselisih paham dengan mama dan papa tetapi pada akhirnya mereka kembali akur. Sebagai anak harus kita yang memulainya. Kita tidak bisa menunggu orang tua kita sampai meminta maaf. Bagaimanapun juga mereka sebagai orang tua selalu merasa benar." Daisy memegang tangan Foster lalu memandang pria itu. "Bisa ya kak. Kakak harus temui kedua orang tua kakak dan minta maaf. Selama aku sibuk dengan kesehatan Kak Zion dan Kak Norah Aku minta Kak Foster untuk pulang dan memperbaiki hubungan Kak Foster dengan kedua orang tua kakak. Beri aku kabar baik setelah ini."


Foster sebenarnya juga tidak tenang selama ini. Dia ingin sekali kembali ke rumah orang tuanya. Bukan karena tidak siap untuk jatuh miskin tetapi ia kangen dengan kehangatan dan keharmonisan keluarganya. "Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi jika aku gagal Aku tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin memang takdirku seperti ini memiliki orang tua tapi seperti tidak memiliki orang tua."


Daisy tersenyum bahagia. "Aku yakin Kak Foster pasti bisa melewati semua ini. Aku tahu kalau Kak Foster adalah pria yang kuat dan tangguh. Kak Foster yang semangat ya."

__ADS_1


Foster menggangguk lalu menarik Daisy dan memeluknya. Pria itu mengecup pucuk kepala Daisy dengan mesra. "Terima kasih Daisy. Aku merasa beruntung karena telah memilikimu."


Dari kejauhan sebuah mobil hitam berhenti di pinggiran jalan. Di dalam mobil itu ada Leona yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Daisy dan Foster. Ia sama sekali tidak marah karena sejauh yang ia lihat Foster dan Daisy bisa menjaga batas. Tidak berpacaran terlalu berlebihan.


Tadinya Leona ingin menjemput Daisy dan membawa wanita itu pulang ke rumah karena waktu di tengah jalan Jordan sempat menghubungi Leona dan mengatakan kalau Daisy pergi bersama dengan Foster ke lapangan golf. Untuk memastikan kebenarannya Leona berangkat ke lapangan golf untuk memeriksa keberadaan Daisy bersama dengan supir yang membawanya. Setelah melihat anaknya sedang bermesraan wanita itu tidak tega untuk mengganggunya.


Hingga akhirnya ia putuskan untuk pulang ke rumah dan menemui suaminya dan mengajaknya berangkat lagi ke rumah sakit. Masalah Daisy akan ia serahkan kepada Foster. Leona merasa yakin kalau Foster pasti akan selalu menjaga Daisy di manapun dan kapanpun.


"Nyonya, apa kita berangkat sekarang?" tanya supir yang ada di depan.


"Ya. Jordan pasti sudah menungguku di rumah. Tidak perlu kita ganggu Daisy. Pastikan Daisy tidak melihat mobil ini. Karena jika dia melihatnya, dia pasti akan tahu kalau aku sedang mengawasinya."


"Baik, Nyonya."


Secara perlahan supir itu melajukan mobilnya. Leona yang tadinya ingin duduk santai kini teringat akan sesuatu. Tiba-tiba saja Leona kembali memikirkan Faith. Dia ingin tahu sebenarnya ke mana Faith ingin pergi kemarin. Pasukan Gold Dragon sempat menghubungi Leona dan memberitahu Leona kalau mereka ada di bandara karena Faith minta diantarkan ke bandara.


Leona mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menekan nomor pasukan Gold Dragon yang ia kenali. Tidak lama setelah panggilan telepon itu tersambung langsung ada suara pria yang menjawab dari kejauhan sana.


"Selamat siang bos. Ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin tahu satu informasi. Bukankah kemarin kau yang mengantarkan Faith berangkat ke bandara. Dia ingin pergi ke mana? Pasti kau juga kan yang membelikan dia tiket pesawat," tebak Leona.


Lawan bicara Leona tidak langsung menjawab. Seperti ada yang dipikirkan dan dia sangat hati-hati sebelum mengucapkannya. "Sebenarnya kabar ini akan sangat mengecewakan tapi saya harap ini tidak akan merubah suasana hati anda hari ini Bos," ucap pria itu.


"Aku sudah sering mendengar kabar yang tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Jadi aku sudah terbiasa untuk menghadapinya. Cepat katakan karena waktuku tidak banyak."


"Nona Faith meminta saya untuk memesan tiket ke Las Vegas, Bos."


"Las Vegas kau bilang?"

__ADS_1


__ADS_2