Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 110


__ADS_3

"Bagaimana? Apa sekarang kau sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa setelah melihat video ini kau masih memandang jelek keluarga kami?" Leona menunduk dan mendekati wajah Leona. "Kau masih terlalu muda untuk mengetahui dunia gelap yang selama ini kami jalani. Jangan pernah berpikir kalau kau bisa mengalahkan orang hanya dengan satu genggaman. Sekarang jika sudah seperti ini siapa yang mau disalahkan? Kau telah salah target. Kami tidak terlibat dalam kematian kakakmu. Justru Mr. A yang sudah membunuh Kakakmu. Dia tidak suka Kakakmu terlalu dekat dan mengusik Austin. Saat itu posisi Austin adalah orang yang paling diharapkan oleh Mr. A. Wanita seperti Rula tidak penting baginya. Maka dari itu dia membunuh Kakakmu ketika dia menjadi sanderaan kami. Agar semua orang berpikir kalau dia mati di tangan kami." Leona melipat kedua tangannya. "Sebenarnya kita sama-sama di jebak. Bedanya kami cerdas sedangkan kau bodoh."


"Aku ... aku tidak tahu kalau sebenarnya kakakku di bunuh oleh pria ini. Siapa Mr. A? Dimana dia? Aku akan membunuhnya. Maafkan saya Nyonya. Maafkan saya. Saya benar-benar khilaf. maafkan saya."


"Mr. A adalah orang yang sudah memintamu untuk menjebak Daisy. Mr. A sudah tewas. Kau tidak perlu susah-susah mencarinya. Anggap saja kami juga membantumu untuk balas dendam atas kematian Rula."


"Nyonya, seperti hidup saya memang sudah tidak ada artinya. Bahkan memandang wajah Daisy saja saya sudah tidak sanggup. Bunuh saja saya Nyonya. Bunuh saya." Esme menangis sejadinya menyesali perbuatannya. "Entah apa yang akan terjadi pada hidupku jika saat itu Daisy tidak selamat."


"Pertanyaan yang bagus. Akan aku jawab sekarang. Jika Daisy tidak selamat, maka kau tidak bisa berdiri di sini. Mungkin kau sudah berbaring di bawah tanah!" Leona kesal dan marah sama Esme. Namun, entah kenapa dia tidak bisa berbuat kasar pada wanita itu. Bahkan untuk menampar wajahnya saja dia tidak tega.


"Maafkan aku Daisy. Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku tidak melakukan semua ini padamu. Maafkan aku," lirih Esme sambil menangis tersedu-sedu.


Leona mengukir senyuman kecil di bibirnya. "Tidak ada penyiksaan yang paling menyakitkan selain perasaan bersalah. Walau tubuhnya tidak terluka, tetapi rasa bersalah di dalam hatinya akan membuat hidupnya hancur. Aku rasa ini hukuman yang tepat untuk wanita seperti dia!" gumam Leona di dalam hati. Wanita itu memutuskan untuk segera pergi meninggalkan ruangan penyiksaan.


"Nyonya, tolong sampaikan pesan saya kepada Daisy. Katakan padanya kalau saya sangat menyayanginya. Katakan padanya kalau saya rela mendonorkan organ tubuh saya jika dia dalam keadaan sakit. Katakan padanya, saya minta maaf dan sangat menyesal telah melakukan semua ini. Tolong sampaikan nyonya."

__ADS_1


Entah kenapa Leona ingin menangis mendengarnya. Ungkapan itu sangat tulus. Ya, Leona tahu kalau Esme memang telah menyesal. Tetapi Leona tidak mau sampai terhanyut dalam perkataan Esme. Bagaimanapun juga, semua kekacauan ini disebabkan oleh Esme. Wanita itu yang sudah memudahkan Mr. A menyerang keluarga mereka.


"Aku tidak janji!" jawab Leona sebelum pintu tertutup rapat.


"Nyonya, apa yang anda pikirkan? Apa anda ingin membebaskannya?" tanya pria itu penuh curiga. Ekspresi Leona menunjukkan kalau wanita paruh baya itu tidak tega menyiksa Esme lagi.


"Aku tidak tahu harus bagaimana. Beri dia makan dan minum. Beri dia vitamin," perintah Leona sebelum pergi. Dia melangkah cepat meninggalkan lokasi bawah tanah.


...***...


Zion memperhatikan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Dia bosan. Tapi, penjagaan Norah tidak bisa disepelekan. Apa lagi sekarang Austin dalam keadaan lemah. Dia harus tetap ada di rumah sakit walau rasanya ingin sekali dia pergi meninggalkan rumah sakit itu dan berkumpul dengan pasukan Gold Dragon. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Zion ingin menembak dan memukul. Dia juga harus menyelidiki ulang pasukannya agar pengkhianat seperti Mr. A tidak ada lagi di dalam geng mafia miliknya.


Zion memandang ke samping dan menemukan Abio berdiri di sana. Pria itu memegang dua gelas kopi. Satu dia berikan kepada Zion. "Tidak ada racunnya. Saya juga meminum kopi ini," ucap Abio lagi ketika Zion terlihat ragu untuk menerimanya.


"Terima kasih." Abio menerima kopi itu dan menyeruputnya perlahan. Abio segera duduk di samping Zion walau pria itu belum mengizinkan. Mereka berdua sama-sama menikmati kopi tersebut untuk beberapa saat. Melihat orang yang terkadang melintasi lorong itu.

__ADS_1


"Cuaca sore ini sangat indah. Di balkon kita bisa melihat matahari terbenam. Apa anda tidak mau menikmati angin di sana Tuan? Saya sering sekali ke sana walau sekedar menenangkan diri," ucap Abio penuh basa-basi. Berharap Zion tertarik dengan apa yang dia katakan.


"Aku tidak akan pergi meninggalkan ruangan ini. Aku tidak akan biarkan pria brengsek itu menemui Norah dan merubah pikiran Norah!"


"Uhuk uhuk!" Abio tidak menyangka kalau ternyata Zion sudah mengetahui rencananya saat itu. Padahal tadinya ia pikir akan berhasil membujuk Zion untuk bicara di balkon agar Foster bisa menerobos masuk ke dalam ruangan Norah.


"Aku mengetahui semuanya," sambung Zion lagi. Dia memandang Abio dan memberikan kopi itu kepada Abio lagi. "Katakan padanya. Kami tidak perlu keluarga seperti dia. Keluarga kami keluarga yang dipenuhi dengan kasih sayang. Bukan dipenuhi harta. Jadi, sebelum dia kecewa nantinya lebih baik dia mundur dari sekarang. Daisy dan Foster tidak akan pernah bersatu! Mereka memang harus dipisahkan. Jika kau masih bersih keras membantu Foster, kau tanggung sendiri akibatnya." Zion beranjak dari kursi itu dan masuk ke dalam ruangan. Abio menghela napas kecewa sebelum memandang Foster yang kini berdiri di balik dinding. Pria itu diminta Abio untuk menunggu di sana. Sayangnya semua rencana mereka gagal hingga akhirnya Foster memutuskan untuk pergi tanpa pamit dengan Abio.


"Maafkan aku Foster. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, menghadapi Zion sama saja menghadapi diri kita sendiri. Dia tahu apa yang kita pikirkan. Dia juga selalu tahu apa yang ingin kita lakukan," gumam Abio di dalam hati.


Ponselnya berdering. Dia segera mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Tuan, Nona Livy ada di tengah kota. Dia terlihat aneh. Apa anda bisa ke sini sekarang?"


"Aneh? Aneh seperti apa yang kau maksud?"

__ADS_1


"Penampilan Nona Livy sangat berantakan. Berbeda dengan penampilannya selama ini."


"Kirimkan lokasinya. Aku akan segera ke sana." Abio memutuskan panggilan telepon tersebut. Tidak lama kemudian, alamat telah di kirim ke ponselnya. Tanpa pikir panjang, Abio segera pergi meninggalkan rumah sakit. Dia sendiri juga belum berhasil menemukan cara untuk meluluhkan hati Livy.


__ADS_2