
"Kak, bagaimana? Apa enak?" tanya Norah sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut. Malam ini dia memutuskan untuk memasak makanan kesukaan Zion. Akhir-akhir Zion terlihat kelelahan dan banyak pikiran. Hanya dengan cara itu Norah membantu meringankan beban kakaknya. Walau dia sendiri tidak tahu sebenarnya masalah apa yang dihadapi kakak kandungnya tersebut.
"Enak. Apa kau sendiri yang memasaknya?" tanya Zion sambil memasukkan lagi makanan itu ke dalam mulut.
"Apa sangat terasa perbedaannya antara masakanku dan masakan koki di dapur. Aku yakin masakanku pasti tidak enak makanya kakak hanya makan sedikit saja," ucap Norah sambil memajukan bibirnya. "Kak, sebenarnya Kakak sedang mengatasi masalah apa? Kenapa aku dilarang untuk ikut. Aku ingin membantu Kakak seperti dulu lagi. Walau sudah memiliki Austin, aku tetap adik kakak yang hebat dan kuat. Aku selalu bisa diandalkan. Misi apapun yang sekarang sedang Kakak lakukan, ajak aku di dalamnya."
Zion hanya diam saja mendengar ocehan Norah. Pria itu bukan tidak mau melibatkan Norah ke dalam masalah yang ia hadapi. Tetapi ia tidak mau Nora terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya. Entah apa jadinya jika nanti Norah tahu kalau sekarang masalah yang ia hadapi menyangkut seorang wanita asing yang tidak tahu identitas aslinya.
"Semua baik-baik saja. Seperti apa yang kau lihat sekarang. Akhir-akhir ini kakak sering keluar rumah karena kakak kembali mengevaluasi pasukan Gold Dragon. Tidak ada misi apapun yang sedang kakak hadapi. Sebaiknya kau fokus saja dengan acara pertunanganmu dengan Austin. Jaga kesehatanmu dengan baik. Kurangi rasa ingin tahumu terhadap masalah orang lain. Hanya dengan begitu pikiranmu akan kembali tenang." Walau dia tahu adiknya tidak akan menurut. Tetapi Zion tetap berusaha untuk menyakinkannya. "Satu lagi. Berhentilah mengirim mata-mata untuk mengikutiku. Aku mengetahui semuanya."
Wajah Norah memerah mendengar perkataan Zion. Dia menunduk malu karena sudah mengirim mata-mata untuk menyelidiki masalah yang sekarang dihadapi oleh kakak kandungnya. "Bagaimana sih? Dapat informasi tidak, justru ketahuan sama Kak Zion. Dasar payah. Aku tidak akan membayarnya. Kerjanya sangat tidak bagus dan mengecewakan," umpat Norah di dalam hati.
Zion tertawa kecil melihat ekspresi wajah Norah malam itu. "Apa kau sudah memaki mata-mata yang kau kirimkan? Bahkan kau berniat untuk tidak membayarnya?" tebak Zion asal saja.
"Kenapa Kakak selalu bisa membaca pikiranku?" protes Norah kesal.
Zion tertawa geli. Padahal tadinya Ia hanya asal nebak saja. Tidak disangka tebakannya ternyata benar. "Cepat habiskan makananmu jangan banyak bicara lagi. Sekarang sudah malam dan sudah waktunya untuk tidur. Aku juga ingin istirahat."
"Baiklah Bos. Aku akan segera menghabiskan makananku dan tidur. Tapi sebelum tidur, aku ingin menelpon pacarku dulu apa boleh?" tanya Norah sambil mengedipkan kedua matanya.
"Kau tetap akan menghubunginya walau aku tidak mengizinkanmu bukan. Suruh saja dia datang kemari Jika setiap menit kau meneleponnya."
Zion merasa muak melihat adiknya teleponan dengan Austin. Bukan hanya sekali. Dalam sehari bisa berkali-kali Zion melihat Norah sedang menelepon Austin. Ia tahu kalau adiknya kini sedang kasmaran. Tapi Zion berpikir kalau adiknya terlalu berlebihan. Austin pergi untuk menyelesaikan pekerjaan di perusahaannya. Tetapi Norah justru mengganggu pria itu di setiap saat.
"Kakak kenapa bicara seperti itu. Kakak tuh tidak tahu bagaimana rasanya merindu. Aku sungguh tersiksa kak. Aku tidak bisa jauh-jauh dari Austin. Aku ingin dia selalu ada disampingku. Nanti kalau kakak sudah bertemu dengan wanita yang kakak cintai. Aku yakin Kakak jauh lebih bucin daripada aku. Pegang saja kata-kataku ini."
Zion hanya diam saja. Dia tidak mau masalah ini menjadi serius. Tujuan utamanya bicara seperti itu hanya sebagai bahan bercandaan saja. Tetapi ekspresi Norah memperlihatkan kalau wanita itu sedang tidak bisa diajak bercanda malam ini.
Zion meletakkan sendok di atas piring ketika sudah kenyang. Pria itu meneguk air putih yang telah disediakan.
Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak berdering. Zion memandang Norah sejenak sebelum beranjak dari kursi. Pria itu berjalan menjauh agar Norah tidak mendengar apa yang dia bicarakan.
Norah merasa tidak lapar lagi. Walau makanan di piring masih banyak, tetapi wanita itu tidak berselera untuk menghabiskannya. Setelah meneguk air putih, Norah segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu juga mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menekan nomor Austin. Norah memutuskan untuk duduk di sofa di depan TV sambil menelepon Austin sebelum tidur.
"Apa kau sibuk?" Norah mengirim pesan ke nomor Austin. Dia tidak mau mengganggu Austin seperti apa yang dikatakan oleh Zion di meja makan tadi.
Tidak menunggu lama panggilan masuk dari Austin segera muncul. Senyum mengembang terukir indah di wajah Norah. Tanpa pikir panjang wanita itu menekan tombol hijau dan melekatkan ponselnya di telinga.
"Halo sayang, apa kabar? Apa kau baik-baik saja hari ini. Apa Daisy sudah berangkat?"
Norah bersandar di sofa sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. "Aku baik-baik saja. Daisy sudah berangkat beberapa jam yang lalu. Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sibuk?"
__ADS_1
"Tidak. Aku sedang memikirkanmu. Tetapi aku takut mengganggu waktumu. Jadi aku putuskan untuk menghubungimu nanti saja. Kau di rumah dengan siapa? Bukankah tadi kau bilang kalau kedua mertuaku tidak ada di rumah?"
"Aku di rumah bersama Kak Zion. Mama dan papa akan pulang besok pagi. Kapan kau kemari. Aku sangat merindukanmu," rengek Norah dengan begitu manja.
"Secepatnya aku akan segera menemuimu. Jika sudah memutuskan untuk pergi ke sana, Aku tidak akan kembali lagi ke sini sampai pesta pertunangan kita berlangsung. Bersabarlah. Secepatnya kita akan bertemu. Kita tidak akan berpisah lagi nanti. Kemanapun aku melangkah, aku akan membawamu bersamaku."
Norah tersenyum mendengarnya. "Apa kau sudah makan?"
"Aku baru saja selesai makan."
Norah mengeryitkan dahi melihat Zion pergi dengan terburu-buru. Padahal tadi kata pria itu dia sudah mengantuk dan ingin segera tidur.
"Kak Zion mau ke mana?" teriak Norah dengan kencang. Sampai-sampai membuat Austin kaget mendengarnya.
"Aku akan segera kembali," jawab Zion tanpa memandang. Hanya melihat ekspresi Zion saja Norah sudah tahu kalau pria itu sedang dalam masalah.
"Sayang, ada apa dengan Kak Zion?" tanya Austin di dalam telepon. Pria itu juga penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Akhir-akhir ini Kak Zion terlihat sangat aneh. Austin aku akan menghubungimu lagi nanti. Sepertinya aku harus mengikuti kajian untuk mengetahui apa yang sedang dihadapi."
"Norah, Sebaiknya jangan. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Kak Zion tidak suka diikuti secara diam-diam? Biarkan saja dia melakukan hal yang dia suka. Dia juga memiliki privasi. Tidak semua hal yang ia lakukan harus kau ketahui walau kau adik kandungnya. Aku hanya tidak mau hubunganmu dan Kak Zion menjadi renggang hanya karena masalah ini."
"Bagaimana kalau masalah yang dihadapi Kak Zion itu sangat berat. Ia sengaja merahasiakan semua ini agar tidak menjadi beban pikiranku? Kak Zion memang seperti itu. Dia tidak suka menyusahkan orang lain! Maafkan aku Austin, tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan mengikuti Kak Zion. Aku harus memastikan teleponnya sekarang juga."
"Aku juga mencintaimu," jawab Norah cepat. Wanita itu segera beranjak dari sofa. Dia mengambil jaket dan helm. Setelah memakainya, wanita tangguh itu mengambil kunci sepeda motor. Sampai detik ini masih sepeda motor kendaraan favorit Norah. Walau terkadang di luar hujan sedang deras, tetapi wanita itu sama sekali tidak peduli.
Zion duduk di dalam mobil dan memeriksa spion belakang. Ketika dia tidak melihat ada yang mengikuti dari belakang, pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Zion ingin segera berangkat ke markas Gold Dragon. Ada masalah di sana yang membuat Zion harus turun tangan langsung.
Norah menghidupkan sepeda motornya dan segera mengikuti Zion dari belakang. Wanita itu tidak perlu susah-susah mencari jejak Zion karena sepeda motor Norah dan mobil Zion sudah terhubung ke GPS. Mereka bisa saling tahu dimana mereka berada. Zion sengaja melakukan semua itu agar dia tidak pernah kehilangan jejak adiknya.
"Kenapa Kak Zion menuju ke markas Gold Dragon?" gumam Norah di dalam hati. "Jika saja sampai tidak terjadi sesuatu di sana, aku pasti akan menyesal karena sudah bersih keras untuk mengikuti Kak Zion," umpat Norah di dalam hati.
...***...
Faith mulai menggerakkan jemarinya secara perlahan. Suster yang ditugaskan untuk menjaganya sampai sadar terlihat sangat gembira. Suster itu segera memanggil dokter ketika melihat Faith telah membuka kedua matanya.
Pasukan Gold Dragon yang masih berjaga di depan ruangan juga terlihat senang. Rasanya mereka sudah tidak sabar untuk memberitahu Zion kabar gembira ini.
Suster itu kembali bersama dokter. Tanpa pikir panjang dokter itu segera memeriksa kondisi Faith dan memastikan wanita itu sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Nona, Apa yang Anda rasakan saat ini. Apa kepala anda sakit atau perut Anda mual?" tanya dokter itu sambil memeriksa pergelangan tangan Faith.
__ADS_1
"Aku merasa jauh lebih baik.Tapi di bagian sini kenapa terasa sakit?" Faith Menunjuk punggungnya yang baru saja dioperasi. Wanita itu tidak sadar kalau dia sempat ditusuk oleh sebuah belati di bagian punggungnya.
Saat itu lokasi benar-benar ramai dan Faith sangat ketakutan. Dia berlari tidak tentu arah untuk kabur dari kejaran anak buah Dominic. Hingga seorang pria menusukkan belatih itu dipunggungnya agar dia tidak bisa berlari lebih jauh lagi. Faith benar-benar tidak sadar karena terlalu ketakutan. Sambil menangis wanita itu berlari menuju ke tempat yang lebih sunyi. Dia sempat bersembunyi di balik semak-semak agar tidak tertangkap. Tetapi lama-kelamaan tubuhnya mulai lemah karena dia kehilangan banyak darah. Faith tidak mau mati konyol di dalam semak-semak. Ketika melihat mobil Zion lewat wanita itu segera berdiri di tengah jalan. Dia berharap mobil itu adalah malaikat penolongnya.
"Nona, Apa yang anda pikirkan?" tanya dokter itu ketika dia melihat Faith hanya melamun saja.
"Siapa yang membawa saya ke rumah sakit, dok? Di mana dia. Di mana orang yang sudah menolong saya. Saya ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih."
"Saya tidak tahu hal itu, Nona. Di sini tugas saya hanya untuk memeriksa anda dan memastikan keadaan anda sudah berangsur pulih. Sisanya Anda bisa tanya langsung dengan suster yang sekarang berdiri di samping saya." Dokter itu menunjuk suster yang tadi memanggilnya. Suster itu memang suster yang bekerja di Rumah Sakit tempat Faith dirawat. Tetapi Zion telah membayarnya agar dia fokus menjaga Faith.
"Nona, anda mau minum?" tawar suster itu. Dia memberikan segelas air dan membantu Faith untuk duduk.
"Saya permisi dulu Nona," ucap Dokter yang memeriksa sebelum pergi. Faith hanya mengangguk saja. Wanita itu segera minum dengan rakus karena rasanya tenggorokannya kering sekali.
"Sudah, Nona?" tanya Suster itu dengan lembut.
Faith mengangguk. "Siapa yang sudah menolongku."
"Saya juga tidak tahu nona. Seseorang membayar saya untuk menjaga anda. Selebihnya Saya tidak tahu menahu. Tapi dari apa yang saya lihat selama ini. Sepertinya orang yang menolong Anda adalah pria yang sangat baik. Buktinya saja dia rela membayar penjaga untuk melindungi anda. Selama anda tidak sadarkan diri."
Mendengar kata penjaga membuat Faith melebarkan kedua matanya. Dia kembali ingat dengan Dominic. Si pria berkuasa yang sangat terobsesi dengan tubuhnya.
"Ada penjaga di depan kamarku?" tanya Faith Untuk kembali memastikan.
"Benar, Nona. Sebaiknya anda tidak memikirkan yang lain dulu untuk saat ini. Jaga kesehatan anda. Anda juga harus banyak-banyak istirahat agar bisa segera pulang."
"Apa boleh Aku meminta sesuatu?"
"Tentu saja, Nona. Saya akan membantu anda sesuai dengan kemampuan yang saya miliki."
"Saya ingin pergi dari rumah sakit ini. Tapi tanpa sepengetahuan orang yang menjaga saya di depan sana. Mereka itu orang-orang bayaran. Mereka yang sudah menyakiti saya sampai seperti ini," ucap Faith dengan pelan agar orang di depan sana tidak dengar.
Suster itu sempat kaget mendengarnya. "Apa benar seperti itu, Nona?" tanyanya tidak percaya.
"Ya. Kau harus percaya padaku. Tolong panggilkan polisi. Tolong bantu aku." Faith menggenggam tangan suster itu dengan wajah ketakutan.
"Saya akan membantu Anda, Nona. Sebaiknya sekarang Anda istirahat saja dulu. Anda juga tidak bisa kemana-mana karena kondisi Anda masih sangat lemah. Tapi sepertinya Anda sudah salah paham. Tidak mungkin pria yang menolong Anda adalah orang yang telah menyakiti anda. Buktinya saja dia rela mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nyawa anda."
"Mendonorkan darah?" tanya Faith tidak percaya.
"Benar, Nona."
__ADS_1
Faith kembali membisu. Di dalam hati wanita itu terus menebak-nebak sebenarnya siapa pria yang sudah menolongnya.
"Jika Dominic yang sudah berhasil menemukanku dia tidak akan mau untuk mendonorkan darahnya. Lalu siapa pria baik itu. Apa benar dia malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk menolongku?" gumam Faith di dalam hati.