Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 195


__ADS_3

Dubai


Seorang pria paruh baya berdiri di depan kaca sambil menikmati keindahan kota Dubai. Di usianya yang sekarang ia tidak mau memikirkan hal apapun lagi. Hanya boleh ada kebahagiaan di dalam hidupnya. Semasa muda dulu ia sudah berjuang keras untuk mencapai kesuksesan yang kini ia nikmati. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menikmati semuanya. Meskipun ia tidak dapat menikmati kesuksesan ini bersama dengan wanita yang ia cintai. Setidaknya ia masih memiliki anak yang akan menjadi penerus kejayaannya. Darah daging yang nantinya akan membanggakan dirinya.


"Bagaimana dengan Dominic? Apakah dia masih juga membuat masalah seperti biasa?" Pria itu memutar tubuhnya lalu memandang wanita yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Wanita itu adalah orang yang sangat ia percaya. Segala kebutuhannya dipenuhi oleh wanita itu sejak istrinya tiada. Wanita itu juga merupakan orang kepercayaan istrinya dulu.


"Tuan Zean. Apa hari ini anda merindukan putra anda? Sudah hampir 10 tahun ini Anda tidak pernah menanyakan kabarnya. Anda terlalu kecewa dengan keputusan yang ia ambil sampai-sampai tidak peduli lagi dengan kehidupannya di Las Vegas. Tetapi hari ini saya merasa senang karena anda kembali membahas Tuan Dominic. Ada banyak sekali informasi yang ingin saya sampaikan.Hanya saja saya tidak berani untuk mengatakannya karena anda pernah meminta saya untuk tidak mengungkit hal apapun yang berkaitan dengan Tuan Dominic," ucap wanita itu tanpa berani memandang Zean secara langsung.


"Aku berharap dia datang untuk menemuiku dan minta maaf. Tetapi sampai 10 tahun berlalu ia tidak juga menemuiku untuk mengakui kesalahannya. Usiaku sudah semakin tua. Aku tidak bisa keras kepala lagi seperti dulu. Kali ini aku harus mengalah demi kebaikannya. Aku ingin bertemu dengannya. Apa kau bisa mengurus segalanya?" tanya Zean penuh harap.


"Baik, Tuan. Ini adalah beberapa foto Tuan Dominic yang pernah saya ambil. Saya harap dengan melihat foto ini anda bisa melepas rindu." Wanita itu menghidupkan laptop yang ada di atas meja dan menunjukkannya ke arah Zean. Sepertinya ada beberapa foto lagi yang ingin Ia berikan kepada Zean, namun wanita itu tidak menampilkannya.


"Tuan Dominic baik-baik saja. Bisnis yang dia rintis sukses besar. Dia memiliki kemampuan yang hebat sama seperti Anda Tuan. Namun Ia memiliki sebuah kelemahan. Meskipun dia sanggup untuk membayar ratusan orang agar menjaga wilayah Las Vegas tetapi masih saja banyak ditemui penghianat di sana. Rata-rata penghianat itu dikirim oleh saingan bisnis Tuan Dominic sendiri. Walaupun begitu dengan uang yang dimiliki oleh Tuan Dominic ia berhasil mengatasinya dengan mudah. Ia menjadi pria tangguh sama seperti anda dulu. Melihat Tuan Dominic rasanya sama seperti melihat anda masa muda dulu. Wajah anda dan Tuan Dominic sangat mirip."


"Dia memang benar-benar Putraku. Kalau saja istriku masih hidup mungkin Kami tidak akan berjauhan seperti ini. Dia akan menjadi penengah atas perselisihan yang terjadi di antara kami."


"Tapi akhir-akhir ini Tuan Dominic menghadapi masalah besar karena seorang wanita. Dia jatuh cinta kepada seorang wanita namun wanita itu justru mencintai pria lain."


Deg.


Tiba-tiba Zean merasa tersinggung. Ia penasaran sebenarnya seperti apa wanita yang sudah berani menolak cinta putranya yang hebat itu. Zean merasa sangat yakin kalau Dominic adalah pria yang sempurna. Selain kaya dia juga tampan dan jago bertarung.


"Apa jabatan wanita itu sampai-sampai dia menolak putraku. Apa kedua orang tuanya adalah orang hebat. Bahkan lebih berjaya daripada aku," ketus Zean dengan wajah sombong.


"Wanita ini bernama Faith, Tuan. Dia berasal dari keluarga biasa." Wanita itu menahan kalimatnya. Sepertinya ada sebuah rahasia yang ia ketahui namun belum bisa ia sampaikan kepada Zean sekarang juga. "Bukankah selama ini Tuan Dominic terkenal sebagai pria yang playboy? Mungkin wanita ini menolak karena dia tidak mau sakit hati. Dia tahu kalau Tuan Dominic tidak bisa berhenti pada satu hati saja."


Zean kembali terdiam. Kali ini ia tidak mau menyalakan wanita yang sudah menolak putranya lagi. Namun ia kembali ingat kalau dulu ia juga pernah gagal mendapatkan wanita yang ia cintai. Hingga akhirnya ia bertemu dengan cinta yang baru dan menikah lalu mendapatkan Dominic di dalam hidupnya.


"Apa Ini pertama kalinya Dominic jatuh cinta?"


"Benar, Tuan."


"Itu berarti dia mengikuti jejakku." Zean tertawa kecil untuk menghibur diri sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku dulu juga gagal mendapatkan wanita yang menjadi cinta pertamaku." Zean kembali ingat dengan Leona.

__ADS_1


Sudah cukup lama mereka putus komunikasi. Kabar terakhir yang Zean terima Leona memiliki 3 anak dan mereka hidup bahagia. Setelah itu Zean tidak mau tahu lagi. Dia tidak mau muncul di depan Leona bukan karena dia dendam atau marah. Tetapi Zean tahu kalau ini adalah keputusan yang baik untuk semua orang.


"Tuan, informasi yang ingin saya sampaikan tidak sampai di sini. Ada banyak lagi informasi yang harus saya sampaikan," ucap wanita itu lagi ketika melihat Zean melamun.


"Kau bisa sampaikan sisanya nanti saja. Sekarang yang terpenting adalah Dominic. Aku ingin segera bertemu dengannya. Gunakan segala cara agar Ia mau datang ke Dubai dan menemuiku," perintah Zean.


"Baik, Tuan," jawab wanita itu. Dia segera mematikan laptopnya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Zean kembali berdiri di depan jendela untuk menikmati keindahan pemandangan kota Dubai.


"Dominic. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak mau ketika nanti aku pergi Aku belum berdamai dengan putraku." Zean memegang dadanya. Ternyata baru seminggu ini Ia mendapat kabar buruk.


Zean menderita penyakit kanker. Ada sebuah benjolan yang tumbuh di antara paru-paru dan jantungnya. Penyakit ini merupakan penyakit yang sangat mematikan. Dengan uang yang dimiliki oleh Zean dokter berani menjamin kalau Zean pasti akan sembuh. Namun Entah kenapa Zean tidak lagi memiliki semangat untuk hidup. Setelah wanita yang ia cintai pergi meninggalkan dunia ini, pria itu merasa hampa bahkan berkeinginan untuk menyusul istrinya agar mereka bisa bersatu di alam sana.


Tidak ada yang tahu mengenai penyakit Zean selain dokter dan dirinya sendiri. Bahkan wanita tadi juga tidak mengetahuinya Zean menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Dia akan memberitahu penyakitnya kepada Dominic jika pria itu sudah tidak sanggup untuk menahan penyakitnya lagi.


"Dadaku," lirih Zean sambil memejamkan mata. Napasnya terasa begitu sesak dan dadanya terasa panas setiap kali penyakitnya kambuh. Pria itu berjalan ke arah laci untuk mengambil obat yang sudah disiapkan agar bisa mengurangi rasa sakit yang ia derita. Belum sempat mencapai laci tersebut tiba-tiba Zean kehilangan nafasnya. Pria itu merasa sesak seolah-olah nyawanya akan dicabut detik itu juga.


Wanita yang tadi sempat keluar meninggalkan Zean kini kembali masuk karena barangnya ada yang tertinggal. Ia terlihat sangat panik ketika melihat Zean terduduk di lantai sambil memegang dadanya seperti sedang menahan sakit. "Tuan, apa yang terjadi?"


Zean tidak bisa bicara karena nafasnya sangat-sangat sesak. Ketika bala bantuan datang pria itu segera dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan wanita tersebut mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Tolong hubungi Tuan Dominic. Katakan kepadanya Kalau Tuan Zean sakit dan ingin bertemu dengannya." Wanita itu segera mematikan panggilan teleponnya lalu berlari mengejar rombongan yang kini membawa Zean.


...***...


Las Vegas


Faith tidak berselera untuk memasukkan makanannya ke dalam mulut. Wanita itu terus saja memikirkan Zion. Kali ini dia tahu apa yang selama ini dirasakan oleh Zion. Berulang kali Faith menyalahkan dirinya sendiri karena sudah mengambil keputusan yang salah. Tadinya dia pikir Kalau pria bernama Zeroun Zein itu akan membantunya dalam hal ini. Namun setelah mendengar keputusan Zion semalam, Faith menjadi tahu kalau tidak ada seorangpun dari pihak Zion yang membelanya. Wanita itu telah kalah. Harapannya untuk bersatu dengan Zion kandaslah sudah.


Dominic yang sejak tadi memperhatikan Faith terlihat kesal. Ia tidak suka melihat adiknya patah hati seperti itu. Jika saja Faith mengizinkannya untuk mengambil tindakan mungkin pria itu sudah menemui keluarga Zion dan meminta mereka semua untuk memikirkan ulang keputusan untuk menjodohkan Zion dengan wanita lain.


Tiba-tiba seorang pria masuk dan jalan menghampiri Dominic. Pria itu menunduk hormat sebelum memandang wajah Dominic. Dia terlihat ragu untuk menyampaikan informasi yang ingin Ia sampaikan karena masih ada Faith di sana. Dominic bisa mengerti dari ekspresi wajah bawahannya tersebut. Pria itu beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke ruangan yang jauh dari posisi Faith berada. Faith sendiri tidak terlalu peduli. Wanita itu kembali memandang makanannya yang sejak tadi masih utuh.


"Ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan kepadaku?" tanya Dominic tanpa memandang. Sesekali pria itu memandang ke arah Faith untuk memastikan kalau wanita itu masih di kursi makan.

__ADS_1


"Ini tentang Tuan Zean, Bos."


Mendengar nama orang tua kandungnya disebutkan membuat Dominic terdiam beberapa detik. Sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam dia juga sangat merindukan Ayah kandungnya. Namun karena terlalu sibuk pria itu berhasil untuk melupakan keberadaan Ayah kandungnya sendiri. Selama ini ia berjuang sendirian tanpa bantuan dari ayah kandungnya. Ya seperti itulah yang dipikirkan oleh Dominic. Detik ini ketika mendengar nama ayah kandungnya kembali disebutkan Dominic merasa ada desiran yang aneh di dalam hatinya.


"Ada apa dengan Papa? Apa dia baik-baik sajak?" tanya Dominic khawatir. Meskipun selama ini ia tidak bertemu dan mengobrol dengan Zean tetapi pria itu selalu saja mengirim mata-mata untuk mengawasi ayah kandungnya.


Hal itu juga yang membuat Dominic merasa kecewa. Karena selama 10 tahun Ayah kandungnya tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau sedang merindukannya. Bahkan Zean terlihat tidak peduli ketika Dominic masuk ke rumah sakit beberapa tahun yang lalu. Walaupun begitu Dominic tetap menyayangi Ayah kandungnya dan selalu memiliki niat untuk mengakhiri kesalahpahaman ini. Hal itu terbukti ketika Dominic mengetahui kalau Ayah kandungnya memiliki anak dari wanita lain. Karena tidak mau sang adik sengsara Dominic segera membayar orang untuk menyelidikinya. Namun ia gagal. Tidak disangka dia bertemu dengan adik kandungnya berkat bantuan seorang Zeroun Zein.


Dominic sendiri tidak terlalu tahu bagaimana masa lalu Ayah kandungnya. Dia mungkin tidak akan pernah menyangka kalau Ayah kandungnya pernah menjalin kasih dengan ibu kandung dari Zein Zein. Pria yang kini dicintai oleh adiknya. Semua ini masih menjadi rahasia para orang tua. Sebagai generasi penerus mereka tidak bisa mengorek terlalu jauh masa lalu para orang tua karena para orang tua menyimpan rapat rahasia ini agar tidak sampai terbongkar.


"Tuan Zean meminta anda untuk berangkat ke Dubai dan menemuinya. Baru ini saja Tuan Zean dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba kesulitan bernafas," jelas pria itu apa adanya.


Mendengar kabar kalau Ayah kandungnya sudah dibawa ke rumah sakit membuat Dominic menjadi panik. "Dubai? Sekarang Papa ada di Dubai?" tanya Dominic sekali lagi.


"Benar, Tuan."


Dominic segera berjalan menghampiri Faith. Ia ingin menyampaikan informasi ini kepada Faith dan mengajak Faith berangkat ke Dubai. Dia akan memperkenalkan Faith kepada Zean. Dominic merasa yakin kalau Zean pasti akan bahagia karena selama ini Putri yang ia cari telah ditemukan.


Faith mengernyitkan dahi ketika melihat Dominic berjalan menghampirinya dengan wajah yang begitu khawatir. "Ada apa kak? Apa terjadi sesuatu."


"Bersiap-siaplah kita akan berangkat ke Dubai," jawab Dominic.


"Kenapa mendadak sekali? Ada apa sebenarnya di Dubai." Faith beranjak dari kursi namun wanita itu belum melangkah pergi menuju kamarnya untuk ganti pakaian.


"Aku akan jelaskan semuanya di pesawat nanti. Sekarang turuti saja perintahku. Aku akan bersiap-siap di kamar dan kau juga segera bersiap-siap di kamar. Bawa barang yang penting saja. Soal baju kita bisa beli di sana. Kau tidak perlu membawanya."


Faith mengangguk cepat. Dominic segera berangkat menuju ke kamar tidurnya. Faith memandang punggung Dominic sejenak sebelum melangkah juga menuju ke kamarnya. Sambil berjalan wanita itu kembali melihat pria yang tadi sempat menyampaikan informasi kepada Dominic. Faith bersembunyi di balik dinding untuk menguping pembicaraan pria itu dengan rekannya.


"Kau ingin berangkat ke mana? Kenapa bos Dominic terlihat terburu-buru sekali," tanya rekan pria tersebut.


"Tuan Zean masuk rumah sakit. Setelah 10 tahun tidak memberi kabar kini Tuan Zean memintaTuan Dominic datang. Ini kabar yang sangat baik. Saya harap setelah pertemuan kali ini Tuan Dominic dan juga Tuan Zean bisa berdamai lagi sebagai ayah dan anak."


"Apakah nama ayah kandungku adalah Zean?" tebak Faith di dalam hati. Wanita itu juga merasa penasaran dengan identitas Ayah kandungnya. Sejak kemarin setiap kali ia bertanya kepada Dominic. Dominic selalu merahasiakannya seolah-olah pria itu enggan untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. "Jika memang pria yang bernama Zean itu juga Ayah kandungku ini berarti ini adalah kesempatan yang baik bagiku untuk bertemu dengan ayah kandungku," ujar Faith di dalam hati. Wanita itu segera melangkah ke kamar untuk bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2