
Livy sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat antusias melihat Livy menggerakkan tangannya. Mereka segera memanggil dokter agar ada yang memeriksa kondisi Livy. Katterine menggenggam tangan Livy lalu mengusapnya dengan lembut.
"Sayang, bangun nak ...."
Secara perlahan Livy membuka kedua matanya. Orang yang pertama kali ia pandang adalah ibu kandungnya sendiri. Livy masih membisu karena bibirnya terasa kaku. Wanita itu berusaha menggerakkan kepalanya ke samping. Di sana ia melihat ayah yang selalu menyayanginya.
"Livy, akhirnya kau bangun juga," ucap Oliver. Terlihat jelas kalau kini pria itu merasa jauh lebih tenang sekarang. Bahkan dia mulai bisa bernapas dengan lancar tanpa harus merasa sesak lagi.
"Mama," lirih Livy dengan suara yang tidak jelas. "Dimana Abio?"
"Jangan pikirkan apapun dulu karena sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu. Semua akan baik-baik saja. Termasuk Abio." Katterine sengaja mengatakan kalimat seperti itu agar putrinya tidak terobsesi untuk menemui Abio. Katterine
ingin Livy tetap berbaring dan istirahat. Namun berbeda dengan Livy sendiri. Wanita itu justru berusaha untuk duduk meskipun ia baru saja sadar. Ia tahu kalau kecelakaan yang mereka alami cukup tragis. Kini Livy sangat mengkhawatirkan pria yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1
"Di mana Abio, Ma? Izinkan Livy bertemu dengan Abio. Livy ingin melihat Abio, Ma."
"Jangan sayang," tolak Katterine dan Oliver. Mereka bersama-sama menahan tubuh Livy agar tidak banyak bergerak.
"Abio baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya," dusta Katterine berharap putrinya percaya. Padahal kabar yang baru saja mereka dapat kalau Abio juga belum sadarkan diri.
"Tapi Livy tidak akan tenang sebelum melihat keadaan Abio sendiri, Ma. Apa Mama lupa kalau Livy adalah seorang dokter? Biar Livy saja yang memeriksa keadaan Abio. Dengan begitu Livy akan tahu bagaimana keadaan Abio sebenarnya." Livy masih bersih keras untuk bangkit dari tempat tidur. Namun Katterine dan Oliver tidak memberi kesempatan kepadanya.
Pria itu dirangkul oleh Kwan dan Biao. Sepertinya Ia juga baru saja sadar dan bersikeras untuk menemui Livy. Tingkah laku sepasang kekasih itu membuat para orang tua geleng-geleng kepala. Namun mereka semua juga tidak bisa banyak protes karena mereka tahu apa yang sekarang dirasakan oleh Livy dan juga Abio. Sulit memisahkan dua insan yang saling mencintai.
"Sayang ... Apa kau baik-baik saja?" tanya Abio dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kau sudah sadar?"
"Abio, apa kau juga baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu," jawab Livy. Wanita itu terlihat jauh lebih tenang sekarang.
__ADS_1
Oliver menyingkir untuk memberikan ruang kepada Abio agar bisa berdiri di samping Livy. Abio masih terlihat lemah hingga Kwan tidak mau melepas genggaman tangannya. Dia tetap merangkul Abio meskipun kini Abio sudah ada di dekst Livy. Sebagai seorang ayah dia merasa sangat sedih melihat putranya cedera seperti ini.
"Keadaanku sudah jauh lebih baik. Sini biar aku periksa agar aku tahu bagaimana keadaanmu," tawar Livy dengan wajah khawatir.
"Sekarang statusmu adalah pasien jangan bertingkah seolah Kau adalah dokter, Livy. Kondisimu sendiri juga sangat memprihatinkan," sahut Abio. Pria itu mengambil tangan Livy lalu mengusapnya dengan lembut. "Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku pria yang ceroboh sampai-sampai tidak tahu kalau bahaya sedang ada di dekat kita. Aku sangat-sangat menyesal atas semua yang terjadi. Andai saja waktu bisa diulang kembali aku akan memperbaiki semuanya agar kau tidak berbaring di sini."
"Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya untuk menyalahkan satu sama lain. Yang penting Sekarang kita berdua sudah baik-baik saja." Livy masih memandang wajah Abio tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Rasanya ia tidak mau jauh-jauh dari Abio lagi. Meskipun harus celaka, tetapi Livy merasa tenang karena dia selalu ada di samping Abio dan masih bisa mendengar suara Abio.
"Kau benar sayang. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan karena Zion sudah berhasil melawan pria itu. Dia tidak akan berani mengusik keluarga kita lagi," ucap Katterine.
"Ma, Sebenarnya apa yang terjadi selama Livy tidak sadarkan diri? Apa mama bisa ceritakan semuanya kepada Livy karena Livy sangat ingin tahu, Ma," bujuk Livy kepada Katterine.
"Bukannya mama tidak mau cerita tetapi sekarang bukan waktu yang tepat. Kondisimu masih sangat lemah. Sebaiknya kau dan Abio banyak-banyak istirahat saja agar kalian bisa segera meninggalkan rumah sakit ini. Kita bahkan belum mempersiapkan apapun untuk acara pernikahan kalian berdua. Begitu juga dengan Norah. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan nanti di rumah. Sebaiknya sekarang kalian berdua fokus dengan kesehatan kalian dulu." Katterine menolak untuk menjelaskan. Dia juga berencana untuk tidak memberi tahu Livy kalau sekarang Zion dan Norah ada di ruangan sebelah. Dia tidak mau melihat putrinya khawatir.
__ADS_1