Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 186


__ADS_3

Leona tertawa kecil untuk memecahkan kecanggungan yang terjadi di sana. "Nyonya, sepertinya anda terlalu cepat memberi kesimpulan. Daisy dan Foster masih sangat muda. Sebaiknya mereka nikmati masa-masa berdua. Saya baru saja menikahkan anak kedua saya. Setelah ini saya ingin fokus untuk mencari jodoh anak pertama saya. Tidak kepikiran sedikitpun untuk menikahkan Daisy dengan Foster." Meskipun tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ny. Matthew. Tetapi Leona menolaknya dengan penuh kesopanan.


"Kenapa jadi begini? Tadinya aku pikir mereka sudah siap untuk menikahkan Foster dan Daisy. Daripada salah paham dan membuat salah paham lagi, lebih baik aku diam saja dan turuti keputusan yang sudah mereka tentukan. Toh mereka dari pihak perempuan. Yang terpenting aku sudah menunjukkan keseriusan Foster," gumam Ny. Matthew di dalam hati. Orang tua Foster memang terlihat kecewa. Namun wanita itu sudah berubah. Dia sama sekali tidak keberatan dengan keputusan yang di ambil oleh Leona. "Jika memang itu keputusan dari pihak wanita. Kami sebagai pihak laki-laki tidak bisa berbuat banyak." Ny. Matthew memandang ke arah pengantin yang kini sedang menyambut para tamu undangan. "Nyonya, bisakah nanti pesta pernikahan Daisy dan Foster lebih mewah dan megah dari pesta pernikahan kali ini," pinta Ny. Matthew hingga membuat Leona lagi-lagi harus menghela napas.


"Maksud anda pesta putri saya kali ini terkesan jelek?" Wajah Leona mulai jutek.


Ny. Matthew geleng-geleng cepat. "Bukan seperti itu maksud saya, Nyonya. Pesta ini sungguh mewah. Tetapi anda tahu sendiri kalau Foster adalah satu-satunya anak kami. Jika tidak merayakan pesta pernikahan Foster, tidak akan ada lagi pesta pernikahan. Semua biaya dari kami. Kami akan mempersiapkan segalanya. Anda sebagai pihak wanita duduk tenang saja. Kami tidak akan merepotkan anda meskipun kami tahu anda memiliki banyak uang." Senyum Ny. Matthew memiliki banyak arti hingga membuat Leona sulit untuk menentukan itu senyum palsu atau senyum tulus.


"Wah, kebetulan sekali. Itu ide yang bagus. Terima kasih atas pengertiannya, Nyonya. Anda memang calon mertua yang baik. Daisy tidak salah memilih Foster sebagai kekasihnya." Leona tidak tahu harus bicara apa lagi. Hingga akhirnya dia putuskan untuk menanggapi semua yang dikatakan oleh ibu kandung Foster. "Anda ibu yang sangat pengertian. Daisy beruntung memiliki mertua seperti anda."


Ny. Matthew tertawa dengan penuh rasa bangga. "Anda terlalu melebih-lebihkan Nyonya."


"Oh, iya. Saya harus menemui putri saya di depan. Bisakah saya tinggal sebentar?" pamit Leona dengan senyuman penuh arti.


"Silahkan silahkan." Ny. Matthew menyingkir untuk memberikan jalan. Tanpa pikir panjang lagi Leona berjalan menghampiri Norah dan juga Livy. Kini keluarga besar memang sedang mengelilingi pengantin untuk mengucapkan selamat dan memberi hadiah. Leona tidak mau sampai ketinggalan.


"Norah, selamat. Akhirnya kau menikah juga dengan Austin. Livy, selamat akhirnya aku menikah juga dengan Abio." Oma Lana melangkah mundur lalu memandang dua pasang Pengantin yang ada di hadapannya. "Kalian adalah pasangan yang serasi Saling mencintai dan rela berkorban demi pasangan. Oma doakan yang terbaik untuk kalian semua. Sebagai hadiah kecil Oma belikan tiket bulan madu. Oma rasa tidak seru jika kalian berdua bulan madu di tempat yang sama. Jadi Oma sudah memutuskan untuk menyiapkan dua paket bulan madu di tempat yang berbeda. Kalian hanya perlu memilih salah satunya karena Oma tidak mau menentukannya secara sepihak. Nanti kesannya akan tidak adil." Oma Lana menunjukkan dua amplop yang kini ada di tangannya kepada Livi dan juga Norah. Dia meminta kedua wanita itu untuk memilih salah satu paket bulan madu yang sudah dia sediakan.


"Sebagai seorang adik, aku meminta Kak Livy yang memilih duluan," ucap Norah sambil tersenyum bahagia. Wanita itu lagi-lagi merangkul Austin dan bersikap dengan begitu manja.


Livy memandang Abio sejenak lalu tersenyum hangat. Wanita itu segera memilih salah satu amplop yang ditunjukkan oleh Oma Lana. Rasanya ia sendiri juga sudah tidak sabar untuk melihat paket bulan madu yang disiapkan oleh Omanya.


Setelah Livy memilih salah satu paket bulan madu tersebut, wanita itu tidak langsung membukanya. Dia melihat amplop yang kini ada di tangan Norah. Mereka berdua tidak berani membuka amplop itu sebelum mendapat perintah dari Oma Lana.

__ADS_1


"Omah harap kalian bahagia dan suka dengan hadiah kecil Oma ini. Sekarang kalian berdua bisa membukanya secara bersamaan. Sepertinya semua yang ada di sini juga ingin tahu kemana tujuan tiket bulan madu yang kalian terima." Oma Lana merangkul lengan Opa Lukas.


Livy dan Norah sangat antusias untuk membuka amplop itu. Mereka membukanya secara perlahan sebelum mengeluarkan tiket yang ada di dalamnya.


"Jepang?" ucap Norah sambil tersenyum bahagia. Jepang selalu mengingatkannya dengan GrandNa.


Ekspresi Livy sangat tidak terbaca hingga membuat Oma Lana tidak tenang. Setelah membaca tiket bulan madu yang ada di tangannya, Livy tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia seperti yang ditunjukkan oleh Norah. Wanita itu hanya diam membisu sambil memandang tiket yang kini ada di genggaman tangannya. Hal itu menarik perhatian Abio yang sejak tadi juga membacanya. Dia memegang tangan Norah lalu mengusapnya dengan lembut.


"Apa ada yang salah?" tanya abio ingin tahu.


"Oma benar-benar hebat. Bagaimana bisa Oma tahu kalau aku ingin pergi ke tempat ini?" Livy tersenyum lalu menunjukkan tiket yang bertuliskan Brazil. Itu artinya Livy akan bulan madu di Brazil.


"Apa ada kenangan khusus dengan Brazil? Kenapa kau bahagia sekali bisa bulan madu di Brazil?" tanya Oma Lana penasaran.


"Dari mana kau mendengar cerita itu, Livy? Bisa saja cerita itu hanya sekedar candaan semata," sangkal Oma Lana.


"Tentu saja aku mendengarnya dari sumber yang sangat bisa dipercaya. Tapi saat ini aku tidak mau menceritakannya kepada Oma. Aku akan menyimpannya rapat-rapat di dalam hati. Cukup aku saja yang mengetahuinya kalau perjuangan Opa Lukas dan Oma Lana sangat berat."


Beberapa Oma dan Opa yang ada di sana hanya tersenyum penuh arti. Mereka semua tahu bagaimana perjuangan cinta Lukas waktu itu. Hanya saja mereka setuju dengan keputusan Livy. Tidak lagi mengungkit dan menceritakan masa lalu.


"Oke, baiklah. Sekarang Oma merasa jauh lebih senang melihat kalian berdua. Setidaknya hadiah yang Oma berikan tidak sia-sia. Semoga setelah pulang bulan madu nanti kalian bisa membawa kabar baik untuk kami semua." Oma Lana memeluk Norah dan juga Livy secara bergantian.


Oma Shabira juga seperti tidak ingin ketinggalan. Begitu juga dengan Oma Sharin. Hanya dari pihak Norah yang tidak memiliki Oma lagi.

__ADS_1


Sebenarnya hal itu membuat Norah merasa sedih. Namun ia segera menghilangkannya karena ia tidak mau semua orang yang ada di sana tahu kalau ia sedang bersedih. Melihat Livy dikerumuni oleh nenek-nenek yang menyayanginya, Norah memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. Austin tahu bagaimana perasaan Norah saat ini. Pria itu merangkul pinggang Norah lalu mengecup pipinya dengan mesra.


"Aku mencintaimu sayang. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi istriku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu walaupun nanti di tengah pernikahan kita ada selisih paham. Aku sudah meminta maaf dari sekarang. Aku sengaja katakan maaf dari sekarang agar kau tahu kalau aku ini sangat mencintaimu. Tidak ada niat sama sekali di dalam hatiku untuk menyakitimu walaupun itu terjadi pasti karena cara tidak sengaja," bisik Austin mesra hingga membuat Norah tersenyum manis.


"Kau melupakan satu hal Norah." Tiba-tiba saja Opa Zen muncul di sana. Pria itu juga tidak mau ketinggalan untuk memberikan hadiah pernikahan kepada cucu-cucunya. Dia berdiri sambil memegang dua kotak dengan bungkus kado yang warnanya sama dan ukurannya sama. Bisa ditebak sama semua orang kalau isinya pasti juga sama.


"Opa ke mana saja? Sejak tadi aku mencari-cari keberadaan Opa. Aku sudah tidak memiliki Oma lagi setidaknya Opa jangan hilang-hilang agar bisa mendampingiku di sini," protes Norah sambil cemberut.


"Sebagai kakek tua Opa sedikit kesulitan menyiapkan kado ini. Opa bisa saja menyuruh bawahan Opa untuk mencarikannya tetapi rasanya itu sangat tidak spesial hingga akhirnya Opa putuskan untuk mencari kado ini untuk kalian berdua." Tanpa banyak bicara Opa Zen segera memberikan kado yang ia bawa kepada Norah dan juga Livy. Pria itu juga terlihat bahagia bisa melihat cucunya bahagia.


"Di dalamnya ada sebuah benda peninggalan Oma Emelie dan GrandNa," ucap Opa Zen kepada Norah. "Benda itu sengaja Opa berikan di hari pernikahanmu karena dulu Oma Emily dan GrandNa pernah berkata kepada Opa kalau mereka ingin memberikan sesuatu yang spesial kepada cucu-cucu mereka ketika menikah nanti. Masih ada beberapa di rumah yang nantinya akan Opa berikan kepada Daisy dan juga Zion. Sekarang berhubung karena yang menikah duluan adalah Norah dan Livy, jadi Opa berikan saja sebagian dulu. Kalian tidak perlu penasaran dengan isi di dalamnya karena itu cukup sederhana. Tidak semewah yang kalian pikirkan. Apalagi jika dibandingkan dengan hadiah yang diberikan Oma Lana maka nilai jualnya berbeda sangat jauh. Namun Opa harap benda itu bisa mengingatkan kalian kepada Oma Emelie dan juga GrandNa. Begitupun Opa Daniel. Meskipun mereka sudah tiada tapi mereka selalu hadir di antara kita."


Mendengar perkataan Opa Zen membuat mata Norah berkaca-kaca. Begitu juga dengan Leona yang baru tiba di sana. Wanita itu rasanya ingin menangis setiap kali ia mengingat ibu kandung dan mertua wanitanya yang sudah tiada. Dia sangat merindukan dua wanita hebat tersebut.


"Opa, aku selalu berdoa agar Opa sehat selalu," ujar Norah sebelum memeluk Opa Zen. Livy yang tidak mau kalah juga segera berjalan menghampiri Opa Zen. Ia juga memeluk Opa Zen dengan begitu hangat. Dua pengantin wanita itu menangis ketika berada dipelukan Opa Zen.


"Berbahagialah. Mulai detik ini kalian akan memulai cerita yang baru. Opa harap kalian bisa melaluinya dengan cerita-cerita yang indah."


"Terima kasih, Opa," ucap Norah dan Livy secara bersamaan.


Shabira tidak kuat untuk menahan air matanya. Kenzo yang saat itu mengerti istrinya sedang bersedih segera memeluk Shabira. Suasana pernikahan yang tadinya dipenuhi dengan senyuman dan tawa kini dibanjiri dengan air mata kerinduan. Mereka semua ingin Emelie, Serena dan juga Daniel ada di antara mereka. Sayangnya mereka bertiga sudah tiada. Cerita ini akan terasa lengkap jika mereka masih hidup dan tertawa bersama mereka. Meskipun semua orang yang ada di sana tahu kalau usia setiap manusia selalu dibatasi. Cepat atau lambat mereka semua juga akan menyusul orang-orang yang sudah tiada.


"Kepalaku," lirih Shabira. Karena terlalu sedih Shabira sampai jatuh pingsan. Hal itu membuat kaget Kenzo dan semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"SHABIRA!"


__ADS_2