
Austin memberhentikan mobilnya di sebuah dermaga. Beberapa pria berpakaian serba hitam sudah menunggunya di sana. Hari sudah malam. Kedatangan Austin tidak lagi diketahui oleh penjaga di sana. Segerombolan pria itu segera membawa Austin naik ke kapal. Austin memandang satu persatu pria yang pernah menjadi bawahannya itu sebelum memandang ke depan. Dia memegang besi pembatas sambil memasukkan satu tangannya di dalam saku. Kapal itu melaju dengan cepat menembus ombak dan angin di malam hari. Sekitar pukul sembilan malam, Austin tiba di sebuah pulau.
Mereka membawa Austin menuju ke sebuah rumah yang ada di tengah-tengah pulau. Rumah berlantai tiga itu memang sangat luas dan mewah. Bahkan memiliki ruang bawah tanah. Ini bukan pertama kalinya Austin datang ke tempat tersebut. Sudah berulang kali dia mengunjungi tempat tersebut bahkan menginap di sana. Rumah itu adalah markas rahasia milik geng mafia The Bloods. Biasanya mereka akan menggunakan pulau itu untuk menyiksa musuh agar sulit ditemukan jejaknya. Melempar jasad korbannya ke lautan untuk dijadikan makanan hiu dan paus.
Seorang wanita yang begitu seksi menyambut kedatangan Austin. Dia melepas jas hitam yang dikenakan Austin sambil menatapnya dengan tatapan sensual. “Sudah lama anda tidak datang ke tempat ini, Bos,” goda wanita itu. Tetapi Austin tidak peduli. Ia melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam tanpa mau menjawab sapaan wanita seksi tadi.
Tiba Austin di sebuah ruangan luas yang di terangi lampu kristal di atasnya. Di dalam sana sangat ramai pria bersenjata. Austin menghela napas panjang dengan wajah malas. Dia datang ke sini karena di undang. Austin sama sekali tidak berniat untuk bergabung dengan mereka lagi. Dia hanya ingin berdamai agar bisa menjalani hidupnya yang sekarang dengan tenang. Tanpa ada di kejar-kejar lagi seperti yang beberapa hari ini dia alami.
“Austin Clark! Senang bertemu dengan anda lagi!” Seorang pria bertopeng muncul dari atas tangga. Beberapa wanita seksi mengawalnya di samping dan belakang. Mereka menjaga pria itu layaknya seorang raja. Austin terlihat muak melihat wajah pria itu. Dia memegang senjata yang ia simpan sebelum memandang ke arah lain.
“Apa kabar, Mr. A. Saya sama sekali tidak senang bertemu dengan anda,” sapa Austin malas.
“Ckckckck. Apa seperti ini sikap anda terhadap orang yang sudah menjadikan anda jago seperti sekarang?” sahut Mr. A.
“Saya tidak memiliki banyak waktu. Katakan saja apa yang anda inginkan hingga anda meminta saya datang ke sini!” ketus Austin. Dia tidak mau berlama-lama ada di pulau itu.
“Bersabarlah. Kau sendiri nanti yang keberatan untuk meninggalkan pulau ini, Austin.” Pria itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Dia mengangkat tangannya dan memetikkan jari. Sebuah pintu terbuka lebar. Mereka mendorong seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya di biarkan terbuka agar wanita itu bisa berteriak.
Pertama kali melihat wanita itu Austin langsung kaget. Dia tidak menyangka kalau Norah bisa sampai ke tempat ini. Bukankah seharusnya Norah ada di rumahnya? Wanita itu sedang tidur setelah menghabiskan makan malamnya? Austin sama sekali tidak tahu kalau Mr. A sudah merencanakan penculikan Norah sejak Austin dan Norah pertama kali bertemu. Di malam itu saat Austin membawa sepeda motor Norah untuk kabur.
__ADS_1
“Austin?” gumam Norah di dalam hati. “Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia tahu kalau aku adik Kak Zion jadi dia menangkapku agar dia bisa menjebak Kak Zion?”
“Bagaimana, Austin? Kau masih memiliki keinginan untuk meninggalkan tempat ini?” Mr. A tertawa puas. Dia meneguk minuman kristal yang telah di sediakan sambil memperhatikan wajah Austin yang kini terlihat menahan emosi. “Hanya bisnis kecil. Kita akan berbisnis seperti yang dulu pernah kita lakukan Austin. Bagaimana?”
Pria itu meminta bawahannya untuk mengikat mulut Norah. Austin terlihat tidak terima. Dia melangkah maju untuk menghajar orang yang bersih keras menyakiti Norah. Namun, sebuah senjata api mendarat di pelipis kanan Norah. Hal itu membuat Austin berhenti dan tidak berani melangkah lebih jauh lagi.
“Jika kalian berani menyentuh, Norah!” Austin memandang Norah dengan begitu tajam. Ujung senjata yang kini melekat di kulit kepala Norah membuatnya semakin ingin marah. “Kalian semua akan habis di tanganku!” ancamnya penuh dendam. “Aku akan menyiksa kalian dengan begitu pedih!”
Austin mengeluarkan senjata apinya dan mengarahkannya ke arah Mr. A. Mr. A sendiri sama sekali tidak takut. Dia justru tertawa meledek melihatnya. “Kau masih berani mengancamku? Sekali tarik saja, wanita itu mati!” ucapnya penuh kemenangan. “Turunkan senjatamu, Austin. Benda itu tidak pantas digunakan untuk mengancamku!”
Austin menggertakkan giginya hingga terlihat rahangnya yang mengeras. Dia tidak mau ambil resiko. Mr. A pria yang nekad. Austin kenal betul bagaimana karakternya. Senjata itu terlepas setelah Mr. A mengucapkan kalimat ancaman tersebut. Dua pria mendekati Austin untuk memegang tubuh Austin agar tidak kabur atau berontak. Sisanya memeriksa seluruh tubuh Austin untuk memastikan tidak ada lagi senjata di tubuhnya. Setelah di pastikan tubuh Austin bersih tanpa senjata, pria itu di paksa berlutut. Tatapannya masih ke Norah. Austin tidak mau memandang ke arah lain. Hanya Norah yang ingin ia jaga dan ia pastikan keselamatannya.
Sakit! Sakit sekali! Norah bisa merasakannya. Buliran air mata mulai menetes. Dia ingin berteriak. Tetapi mulutnya sudah di ikat. Norah hanya bisa memberontak di tempatnya duduk. Ikatan itu sungguh kuat hingga membuat Norah tidak bisa bergerak sedikitpun. Dia ingin meneriaki Austin untuk tidak melakukan semua ini. Dia ingin meminta Austin pergi saja dan mengabaikan nyawanya. Austin tidak perlu berkorban. Mereka tidak memiliki hubungan apapun.
“Austin … kenapa kau mau melakukan semua ini? Jangan buat aku memiliki utang budi yang tidak bisa aku bayar seumur hidupku. Tolong pergi! Jangan pedulikan aku. Jika memang aku harus mati, aku rela karena aku sedang menebus kesalahan kakakku. Aku ikhlas. Tetapi, melihatmu mengorbankan nyawamu seperti ini, membuatku menderita. Aku merasa sakit walau kini tubuhku tidak di lukai. Austin. Bangkit!” gumam Norah di dalam hati. Hanya di dalam hati dan hanya dia yang bisa mendengarnya.
Austin menunduk ketika sakit yang begitu luar biasa membuat pertahanannya hilang. Dia merasa lemah sekarang. Punggungnya membiru karena pukulan tongkat baseball itu begitu kuat. Rasanya dia ingin pingsan. Namun Austin tetap kuat demi Norah. Dia tidak mau sampai tidak sadarkan diri. Dia harus tahu apa yang ingin dilakukan pasukan The Bloods terhadap Norah.
“Kau memang pria baja, Austin! Kau memang pantas memimpin The Bloods!” ucap pria bertopeng itu. Dia tertawa melihat ke arah Norah sebelum duduk lagi di sebuah kursi besar yang ada di tengah ruangan. “Aku akan membebaskan wanita ini jika kau mau melakukan satu hal untukku!”
__ADS_1
Austin mengepal kuat tangannya. Dia tahu, semua ini tidak akan berakhir selama Norah ada di tangan mereka. Apapun perintah pria itu harus dia turuti agar Norah baik-baik saja. “Apa yang ingin kau minta dariku? Aku tidak mau memimpin The Bloods lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak kembali ke jalan yang sama!” jawab Austin tanpa memandang.
“Bunuh Zion Zein. Sesuai dengan dendam awalmu. Bawa mayat pria itu di hadapanku. Sebagai gantinya, aku akan membebaskan wanita ini!”
Norah menggeleng. Dia tidak setuju. Wanita itu semakin berontak seperti cacing kepanasan. Seorang pria yang menjaga Norah takut ikatan Norah lepas. Dengan emosi dia memukul kepala Norah.
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Austin emosi. Pria itu berdiri ingin mengejar. Namun, sebuah kayu mendarat di kedua kakinya hingga membuat Austin terjatuh lagi. Tubuhnya terjerembam di lantai yang keras.
Norah hanya bisa menangis. Dia bukan menangis karena sakit. Tetapi dia takut kalau Austin setuju dan akhirnya bertengkar dengan Zion Zein. Untuk saat ini, Norah tidak mau dua pria itu berkelahi apa lagi sampai ada yang kalah salah satunya. Cukup dia saja yang mati. Cukup dia saja yang mengorbankan nyawanya. Zion dan Austin harus tetap hidup.
“Kami tidak akan menyakitinya.” Pria itu memberi kode kepada bawahannya untuk menyuntikkan cairan ke leher Norah.
Austin ingin sekali menghajar bahkan mencincang semua orang yang ada di tempat itu. Tetapi, dia tidak bisa. Austin merasa seperti pria lemah dan pria bodoh. Dia tidak bisa menyelamatkan wanita yang ia cintai. Dia hanya bisa diam sambil menonton apa yang mereka lakukan terhadap Norah.
Norah merasa mengantuk. Dia berusaha untuk tetap terjaga. Tetapi, obat yang disuntikan mulai bereaksi. Hingga akhirnya Norah memejamkan kedua matanyay dalam kondisi terikat. Melihat Norah tidak sadarkan diri membuat mereka segera membawa Norah pergi dari sana. Austin di jaga dengan begitu ketat agar tidak mengejar dan membebaskan Norah.
“Norah, bertahanlah. Aku pasti bisa melakukan apa yang dia minta. Kali ini aku pasti bisa mengalahkan Zion Zein. Demi kau, aku akan mengalahkannya. Demi kau, Norah … aku akan membunuhnya!” sumpah Zion di dalam hati. Dia tidak pernah tahu kalau sebenarnya pria yang menjadi targetnya adalah kakak wanita yang ia cintai. Sosok pria yang akan menjadi kakak iparnya kelak jika dia sampai berjodoh dengan Norah.
Pria bertopeng itu tertawa di dalam hati. Dia merasa puas melihat pemandangan di depannya. “Kau akan menyesal, Austin. Kau akan menyesal sudah mencintai wanita ini. Setelah Zion tewas, aku akan memberi tahumu kalau wanita ini adalah adiknya. Wanita ini akan membencimu karena kau telah membunuh kakak kandungnya. Kau akan menjadi pria paling menyedihkan di dunia ini. Apa kau pikir kau bisa dengan mudah datang dan pergi di rumah The Bloods? Tidak, Austin! Tidak. Ada nyawa yang harus kau bayar jika kau ingin meninggalkan dan melupakan The Bloods!” umpat pria itu di dalam hati.
__ADS_1