Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 167


__ADS_3

Zion Tetap tenang pada posisinya meskipun kini ada beberapa mobil yang berhenti di hadapannya. Dengan santainya pria itu meneguk minuman kaleng dingin sambil sesekali memandang ke arah langit seolah-olah tidak terjadi apa-apa di sana. Suara klakson mobil yang berasal dari gerombolan Dominic terus saja memecahkan keheningan dikesunyian malam. Namun Zion tetap tidak peduli. Pria itu tidak akan menyingkir dari posisinya. Dia berdiri di depan mobil yang terparkir di tengah jalan sambil bersandar.


"Ada apa? Kenapa mobil di depan berhenti?" umpat Dominic yang saat itu ada di barisan tengah. Pria itu tidak bisa melihat Zion secara langsung karena terhalang oleh dua mobil di depan.


"Saya akan periksa, Bos," ucap sang supir sebelum turun dari mobil.


Dominic melirik jam di pergelangan tangannya. Tadi anak buahnya menyampaikan kabar kalau mansion mewah miliknya di serang. Dominic tidak mau sampai terlambat. Dia tidak mau hunian mewah yang ia bangun dari nol hancur begitu saja.


Dominic memandang ke depan lagi. Dia tidak bisa menunggu lagi. Tanpa pikir-pikir, Dominic turun dari mobil. Dia ingin melihat langsung sebenarnya apa yang sudah menghalangi jalannya.

__ADS_1


Ketika Dominic keluar dari mobil, semua pengawal juga turun. Mereka tidak mau sampai Dominic celaka. Mereka menjaga Dominic dengan sangat baik.


"Bos, sebaiknya anda masuk saja ke dalam mobil. Kami bisa mengatasinya," ujar salah satu pengawal.


"Apa yang terjadi?"


"Ada pria gila yang menghalangi jalan kita. Kami bisa mengatasinya," ujar pria itu dengan penuh percaya diri.


Seorang pria bersenjata mendekati Zion. Sepertinya pria itu sengaja memamerkan senjata api yang ia miliki agar Zion takut. Namun, Zion tetap terlihat cuek. Pria itu meneguk lagi minuman kaleng yang ada di genggaman tangannya sampai habis.

__ADS_1


"Menyingkirlah! Kami tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main dengan pria gila sepertimu. Aku masih berbaik hati dengan membiarkanmu tetap hidup. Sayangi nyawamu dan bawa mobil murahmu ini menyingkir dari jalan kami," ujar pria itu dengan wajah angkuh. Pria itu segera memutar tubuhnya. Dia merasa yakin kalau ancaman yang baru saja ia ucapkan akan membuat pria yang sudah menghalangi jalan mereka segera menyingkir karena selama ini tidak ada yang berani menentangnya.


"Aku tidak mau," sahut Zion. Hal itu membuat pria tadi kembali berhenti dan memutar tubuhnya. Kali ini kesabarannya sudah habis. Pria itu benar-benar muak melihat tingkah laku Zion. Dengan santainya ia mengangkat senjata apinya dan mengarahkannya ke arah Zion.


"Sepertinya kau sudah bosan untuk hidup ujar pria itu dengan senyum tipis di bibirnya.


Zion melempar minuman kaleng yang tadi ada di genggaman tangannya kaki pria tersebut. Jelas saja itu membuat pria tersebut semakin emosi. Dia mengokang senjata apinya dan siap untuk menembak Zion.


Namun, pria itu segera memandang keadaan sekitar sebelum menarik pelatuknya. Dia memandang segerombolan orang bersenjata kini keluar dari balik pepohonan dan siap untuk menembak.

__ADS_1


"Kita lihat. Siapa yang lebih dulu mati di antara kita!" ujar Zion dengan senyum tipis di bibirnya.


__ADS_2