
Austin segera mendekati Norah ketika melihat wajah wanita itu dipenuhi dengan luka. Amarahnya memuncak. Dia tidak rela wanita yang ia cintai di sakiti seperti ini. Austin mengambil belatih dan melepas tali yang membuat kaki dan tangan Norah terikat. Dia menepuk pipi Norah ketika wanita itu lemas dan tidak sadarkan diri.
"Norah, bangun Norah!" Austin mendekatkan telinganya di hidung untuk memeriksa apakah Norah masih bernapas atau tidak. Ada sedikit kelegaan ketika dia masih bisa mendengar nafas Norah dengan jelas.
"Norah, bangunlah. Apa kau bisa mendengarkanku?" Austin lagi-lagi menepuk pipi Norah agar Norah segera sadar.
Perlahan kedua kelopak mata Norah bergerak. Wanita itu menggerakkan bibirnya ingin mengatakan sesuatu. Austin mendengar suara sepatu mendekat. Pria itu segera menggendong Norah dan membawanya kabur dari tempat tersebut.
"Berhenti!" teriak seorang pria ketika dia melihat Austin membawa Norah kabur. Tanpa mau memandang wajah pria yang berteriak, Austin segera berlari meninggalkan lokasi tersebut.
Norah membuka matanya perlahan. Ia berpikir semua mimpi. Terasa melayang ketika Austin menggendongnya sambil berlari. Norah merasa seperti sedang terbang.
Suara tembakan memenuhi telinga Norah. Suaranya sangat dekat tetapi Norah belum bisa membuka kedua matanya. Seolah-olah tenaganya sudah tidak ada lagi.
"Aku ada dimana?" igau Norah.
Austin menunduk memandang wajah Norah sejenak sebelum berlari lebih kencang lagi. Tidak hanya satu. Tapi ada belasan pria bersenjata yang kini mengejarnya.
BYUUURRRR
__ADS_1
Austin membawa Norah melompat ke dalam lautan. Suara tembakan membuat Austin membawa Norah segera menyelam. Kali ini Norah tidak bisa memejamkan mata lagi. Wanita itu membuka kedua matanya. Ketika baru saja membuka mata, tiba-tiba Austin mencium bibir Norah. Sentuhan itu membuat Norah mendorong tubuh Austin. Bahkan tidak segan-segan wanita itu menendang perut Austin.
Ciuman itu terlepas tetapi Austin tetap menggenggam tangan Norah. Ia tidak mau sampai Norah terlepas dan hilang. Untuk beberapa saat mereka saling berpegangan tangan namun tidak bisa bicara. Hingga akhirnya Austin berhasil membawa Norah muncul di permukaan laut.
Gelap, dingin dan sungguh mengerikan. Tidak tahu kemana harus menepi. Ternyata mereka terseret ombak lautan cukup jauh hingga sekarang mereka ada di tengah lautan yang dingin dan gelap.
"Norah, kau sudah sadar?"
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Austin. Walau tadi terlihat tidak bersemangat, tetapi untuk memberi pelajaran kepada Austin dia masih bisa. Hal itu membuat Austin memegang pipinya dengan wajah bingung. Tubuh mereka masih melayang-layang di atas laut. Saling memandang tanpa tahu harus bicara apa.
Austin menghela napas. Dia mengusap wajahnya untuk membersihkan air yang melekat di wajahnya. "Aku pikir kau pingsan. Jadi, aku berinisiatif memberimu nafas buatan. Kau hanya salah paham. Aku tidak ada niat menodai wanita galak sepertimu. Aku juga masih menyayangi nyawaku! Aku tidak mau mati konyol!"
Norah kali ini tidak mempermasalahkan ciuman di dalam laut tadi. Kini wanita itu juga bingung harus bagaimana. Mereka tidak tahu arah mana yang bisa menuju ke daratan. Salah arah mereka bisa berenang semakin jauh. Berlama-lama di tengah lautan yang dingin juga bisa membuat nyawa mereka melayang.
"Norah, apa yang mereka lakukan? Apa ini perih?" Austin ingin memegang luka di wajah Norah. Tetapi Norah terlihat menghindar. Dia memalingkan wajahnya dan menangis. Austin bisa tahu ketika Norah mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Maafkan aku. Jangan menangis Norah. Jangan bersedih. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku janji akan menyelamatkanmu," ucap Austin. Dia berpikir kalau Norah menangis karena takut mati.
__ADS_1
"Aku tidak takut mati," ujar Norah. Sebenarnya dia sedih karena dia kembali ingat dengan Zion. Dia berpikir kalau Austin sudah kembali itu berarti pria itu sudah berhasil membunuh kakaknya.
"Lalu, apa yang membuatmu bersedih?" Austin juga bingung. Baru ini dia dibuat pusing oleh wanita. Menangis tanpa sebab dan marah tanpa alasan.
"Sekarang kita harus kemana? Aku kedinginan!" Norah mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau membahas masalah itu. Jika waktunya sudah tepat, Norah akan langsung mengatakan yang sebenarnya kepada Austin kalau dia adalah adik kandung Zion Zein.
"Ke sana." Austin menunjuk ke arah utara. Entah kenapa dia berpikir untuk berenang ke arah sana.
"Kau yakin?" tanya Norah ragu. Mereka tidak bisa melihat apapun saat ini. Norah tidak mau sampai terjebak di lautan yang semakin dalam.
"Ya," jawab Austin percaya diri. Dia memegang erat tangan Norah. "Ayo kita berenang bersama ke sana."
"Aku bisa sendiri!" Norah melepas tangan Austin sebelum berenang menuju ke tempat yang di tunjuk Austin. Austin hanya geleng-geleng kepala sebelum mengikuti Norah dari belakang.
Saat ingin berenang, tiba-tiba ombak yang besar datang menerjang mereka berdua. Norah berteriak minta tolong. Austin yang juga terseret ombak terlihat bingung karena kini Norah tidak ada di genggamannya.
"Norah!" teriak Austin.
Norah masuk ke dalam gulungan ombak. Wanita itu kesulitan bernapas. Dadanya seperti penuh dengan air. Kedua matanya perih hingga dia merasa seperti orang buta.
__ADS_1
"Kak Zion," gumam Norah. Dia merasa lemas dan tidak memiliki tenaga. Norah berusaha untuk keluar dari gulungan ombak namun ia tidak berhasil. Hingga akhirnya, dia tidak sadarkan diri lagi.