Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 137


__ADS_3

Faith tidak tahu harus bicara apa. Sejak naik ke mobil, dia duduk diam seperti patung manekin. Sama seperti Zion. Pria itu juga hanya diam membisu sambil memandang jalan ke depan. Padahal ada banyak sekali topik yang bisa mereka bicarakan. Tetapi entah kenapa mereka berdua hanya memilih diam seperti sedang bermusuhan.


"Sebenarnya dia ingin membawaku kemana? Dari tadi diam saja. Apa aku aja yang bicara duluan ya?" gumam Faith di dalam hati. Dia memandang wajah Zion beberapa detik sebelum memandang ke depan lagi. Kedua matanya terpejam. Wanita itu meremas dress yang ia kenakan dengan debaran jantung yang tidak karuan. Mau bicara saja rasanya sudah seperti ingin membunuh orang. Sampai-sampai dia terlihat sangat cemas.


"Tuan, kita mau kemana?"


"Aku ingin membawamu bertemu dengan seseorang," jawab Zion tanpa memandang.


"Seseorang?" Faith kembali khawatir. "Siapa, Tuan? Apa saya mengenalnya?"


"Tidak!" jawab Zion singkat. Pria itu kembali fokus ke jalan depan tanpa mau banyak menjelaskan. Membiarkan Faith yang kini diam dengan hati bertanya-tanya.


Tidak menunggu terlalu lama, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di suatu tempat. Faith memperhatikan lokasi di depannya dengan saksama. Setiap kali mereka berhenti selalu terlihat beberapa pria tegap yang sedang mengawasi. Faith tahu kalau semua orang pria itu adalah orang bayarannya Zion. Namun, sampai detik ini yang membuat Faith penasaran adalah sepenting apa seorang Zion hingga harus dijaga kemanapun dia berada.


"Ayo kita turun," ajak Zion. Tanpa menunggu jawaban dari Faith, pria itu turun dari mobil. Dia mengitari mobil dan berhenti di samping lalu membuka pintu mobil. Faith memandang wajah Zion sejenak sebelum turun. Lagi-lagi wanita itu lebih memilih untuk menunduk daripada harus memandang ke depan.


"Apa kakimu masih sakit?" Zion menjadi bingung ketika melihat Faith menunduk seperti sedang memeriksa kakinya. Luka di lutut Faith memang belum sembuh total karena wanita itu memang baru saja cedera.


"Tidak." Faith mengangkat dagunya dan memandang Zion. "Untuk apa kita ke tempat ini? Bukankah kita sudah sarapan?" Rasanya Faith tidak sanggup jika di ajak makan lagi. Perutnya sudah kekenyangan.


"Kita hanya akan mengobrol saja. Jika kau ingin makan kau boleh makan lagi."


"Tidak. Sepertinya saya akan pesan minum saja," sahut Faith cepat.


Zion dan Norah sudah janji akan ketemuan di tempat ini. Memang Norah dan Austin yang memilih tempat mereka bertemu. Pria itu sendiri tidak tahu kalau Norah akan mengajaknya bertemu di salah satu restoran yang ada di pusat kota. Semua ini memang tidak direncanakan. Semua terjadi secara mendadak. Saat Zion dalam perjalanan menuju ke rumah Faith, tiba-tiba saja pria itu memiliki pemikiran untuk mempertemukan Norah dan Faith.


"Ya. Kau bisa memesan minuman nanti. Ayo kita masuk." Zion menggandeng tangan Faith sebelum menariknya masuk ke dalam. Faith hanya menurut saja. Dia mengimbangi langkah Zion sambil sesekali memandang keadaan sekitar.

__ADS_1


Setibanya di dalam restoran mereka disambut oleh beberapa pelayan. Ketika Zion memperkenalkan diri, pelayan itu langsung membawa mereka menuju ke tempat Norah dan Austin berada. Sepasang kekasih itu memesan tempat yang sedikit jauh dari pintu masuk. Tempat di sana sangat indah karena berdampingan dengan jendela kaca yang besar. Mereka akan di suguhkan pemandangan taman bunga yang sangat indah.


"Itu adikku," ucap Zion sambil menunjuk Norah yang kini melambaikan tangan ke arah mereka.


"Adik? Untuk apa dia membawaku untuk bertemu dengan adiknya?" gumam Faith di dalam hati.


"Kak Zion." Norah mengukir senyuman manis. Wanita itu memandang Faith yang kini memandangnya dengan wajah bingung. "Apa ini Kak Faith?" Norah segera mengulurkan tangannya di depan Faith sambil mengukir senyuman ramah. "Aku Norah."


"Ya. Saya Faith." Faith membalas uluran tangan Norah. "Senang bertemu denganmu Norah." Wanita itu juga mengukir senyuman ramah. Baru bertemu juga dia sudah merasa dekat dengan Norah. Rasanya dia nyaman ketika berbicara dengan Norah.


"Kak Faith, ini tunanganku. Austin namanya." Norah menunjuk ke Austin. Mereka berkenalan.


Setelah saling berkenalan, mereka semua duduk di kursi yang telah disediakan. Norah dan Austin telah selesai sarapan. Tadi memang Zion mengajak bertemunya mendadak sekali. Ketika mereka sudah memesan makanan dan siap menyantapnya, Zion baru menghubungi Norah. Tidak mau makanan yang mereka pesan dingin, mereka segera menghabiskannya meskipun Zion dan Faith belum sampai.


"Apa Kak Faith sudah sarapan?"


"Sudah, Norah." Faith memandang Zion lagi. Wanita itu menyelipkan rambutnya. Entah kenapa dia terlihat gugup jadinya. Faith merasa dirinya tidak terlalu penting, untuk apa Zion memperlakukannya seistimewa ini?


Zion mengangguk setuju. "Hati-hati. Aku dan Austin akan menunggu di sini."


Norah memandang Faith dan beranjak dari kursi. "Ayo kak." Wanita menggandeng tangan calon kakak iparnya dan membawanya pergi meninggalkan restoran. Dia harus berhasil membuat Faith tertarik terhadap Zion. Wanita itu juga tidak tega melihat kakaknya terus-terusan sendiri. Dia ingin kakaknya segera memiliki pasangan agar tidak kesepian lagi.


"Kak, kita duduk di kursi itu saja ya."


Norah menunjuk kursi besi yang terletak berapa meter dari posisi mereka berdiri. Faith yang tidak tahu harus apa hanya mengganggu saja. Mereka sama-sama duduk dan menghadap ke arah taman bunga mawar yang kini sedang bermekaran.


"Kak, sejak tadi aku perhatikan kakak hanya diam saja. Apa Kakak sudah memikirkan sesuatu? Apa Kak Zion melakukan sesuatu yang tidak Kakak sukai? Jika memang benar, katakan saja. Biar nanti aku yang akan memarahi Kak Zion."

__ADS_1


Faith tertawa kecil mendengarnya. "Tidak. Zion pria yang sangat baik. Bahkan terlalu baik hingga aku merasa tidak pantas untuk berada di sisinya."


"Kak Zion dan Kak Faith memang sudah di takdirkan untuk bersama lagi setelah sekian lama berpisah," jawab Norah dengan santainya.


"Berpisah?" Faith terlihat bingung. "Apa sebelumnya kami pernah bertemu?"


Norah mengangguk. "Apa Kak Zion tidak pernah menceritakannya kepada kakak?" tanya Norah kaget. Padahal ini salah satu trik yang akan ia gunakan untuk membuat Faith kembali ingat dengan pertemuan pertamanya dengan Zion sepuluh tahun yang lalu.


"Norah, tolong ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Jika emang benar sebelumnya kami pernah bertemu, kapan itu terjadi? Aku sama sekali tidak mengingatnya. Apa kau bisa membantuku untuk mengingatnya kembali?" Faith memegang tangan Norah sambil memandangnya dengan tatapan memohon agar Norah mau menceritakan yang sebenarnya terjadi.


"Kak, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana Dita ceritanya. Kak Zion tidak pernah bercerita dengan serius. Tapi, sejak 10 tahun yang lalu. Kak Zion terus saja mencari kakak dan berharap besar agar bisa bertemu kembali."


"10 tahun? 10 tahun yang lalu kami bertemu lalu berpisah gitu?"


"Kak, waktu itu secara tidak sengaja Kakak dan Kak Zion bertemu di sebuah hutan. Kak Zion dikejar-kejar oleh orang jahat dan dia berlari ke sebuah desa terpencil yang ada di hutan tersebut. Kak Zion menolong kakak yang saat itu hampir saja jatuh ke jurang. Namun sialnya, kakak justru tidak tahu kalau niat hati Kak Zion ingin menolong kakak."


"Pria yang lompat ke jurang? Apa itu Tuan Zion?" potong Faith tidak sabar.


"Benar, kak. Kak Zion lompat ke jurang karena orang jahat yang mengejarnya muncul. Dia tidak mau sampai tertangkap lagi. Apa sekarang kakak sudah tahu apa alasan Kak Zion melindungi Kakak sampai seperti ini? Dia peduli sama kakak karena kakak salah satu wanita yang ingin Ia ajak bicara saat itu."


Faith merasa bersalah. Tetapi, dia sekarang merasa jauh lebih lega karena pada akhirnya dia tahu alasan Zion menolongnya apa.


"Norah, terima kasih karena sudah mau membantuku untuk mengingatnya. Masalah ini akan aku bicarakan lagi dengan Zion. Aku juga ingin meminta maaf padanya karena aku sempat melupakannya dan tidak mengenalinya."


Norah tersenyum manis. Namun, tiba-tiba saja ekspresi wanita itu berubah. Hal itu membuat Faith bingung.


Norah mengambil senjata apinya dan berdiri tegak. Dia menodongkan senjatanya ke depan. Bukan hanya Norah saja. Beberapa pasukan Gold Dragon yang berjaga secara diam-diam juga muncul dengan senjata api di tangan mereka.

__ADS_1


"Norah, ada apa?" Faith beranjak dari duduknya. Wanita itu memandang ke depan lalu melihat segerombolan pria bersenjata yang kini berdiri di sana. Satu hal yang membuatnya kaget adalah munculnya seseorang yang selama ini sangat ingin ia hindari kini muncul di hadapannya.


"Dominic?"


__ADS_2