
Faith merasa curiga ketika melihat Dominic tidak bersemangat hari ini. Biasanya pria itu selalu saja memiliki topik untuk dibahas. Tetapi kali ini Dominic banyak diam seperti ada yang dia sembunyikan. Namun Faith tidak berani bertanya secara langsung. Sambil menghabiskan makan siangnya wanita itu berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat Dominic kembali ceria. Ia mengira kalau Dominic sedih karena memikirkan ayah mereka yang kini berbaring di rumah sakit.
"Kak, tadi papa sempat bilang kalau dia ingin sekali mengelilingi dunia. Aku bilang sama papa kalau kita dua akan ikut jika ia ingin keliling dunia. Lalu Papa terlihat keberatan. Tapi aku tidak peduli. Kalaupun Papa menolak kita tetap ikut papa ya. Aku juga sangat ingin keliling dunia. Rasanya akan bahagia sekali Jika aku bisa jalan-jalan bersama dengan Kak Dominic dan juga Papa," ucap Faith dengan penuh semangat.
"Apa Papa berkata seperti itu? Apa dia benar-benar ingin keliling dunia?" tanya Dominic untuk kembali memastikan.
"Ya dan aku tidak mungkin salah dengar. Awalnya aku mengajak Papa untuk tinggal bersama kita di Las Vegas. Tetapi Papa langsung menolak lalu dia bilang kalau dia tidak ingin menetap pada satu rumah saja. Dia ingin keliling dunia."
"Jika memang seperti itu keinginan Papa maka akan kita kabulkan. Mulai besok kita akan membuat jadwal keberangkatan. Kita bertiga akan keliling dunia,"ucap Dominic mantap. Hingga membuat Faith tersenyum bahagia.
"Apa Kak Zion juga memikirkan keadaan papa. Sebenarnya aku juga sedih melihat Papa sakit seperti itu. Kenapa hatiku sulit untuk percaya jika Papa hanya sakit karena kecapean saja. Aku merasa kalau Papa mengidap penyakit yang serius." gumam Faith di dalam hati. Dia memandang keluar jendela sambil membayangkan wajah pucat Ayah kandungnya.
"Sebaiknya aku katakan saja agar Faith juga mengetahui kondisi Papa yang sebenarnya," gumam Dominic di dalam hati. "Faith, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu."
"Hal penting apa Kak? Apakah ini berhubungan dengan papa?" tebak Faith asal saja.
"Ya, kau benar. Ini berhubungan dengan papa. Sebenarnya Papa mengidap penyakit yang sangat serius. Tadi dokter sudah mengatakan semuanya kepadaku. Papa juga sudah mengetahui penyakit yang ia derita namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dari kita. Bahkan dia rela mengancam dokter yang menangani penyakitnya untuk tidak cerita kepada siapapun. Jika hari ini kita tidak membawa papa ke rumah sakit maka selamanya kita tidak akan tahu kalau Papa menderita penyakit kanker paru-paru."
"Kanker paru-paru?" celetuk Faith dengan wajah histeris.
"Ya dan Papa harus segera diobati. Tetapi melihat Papa yang keras kepala seperti itu Aku tidak yakin kalau Papa mau diobati. Maka dari itu aku memikirkan sebuah cara untuk mengobati penyakit papa secara diam-diam. Aku sudah menghubungi seseorang dan dia bilang kalau dia akan sanggup untuk mengobati penyakit papa. Dia akan meracik obat-obatan yang bisa menyembunyikan penyakit papa. Tapi tentu saja aku tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Aku butuh bantuanmu. Setelah obatnya dikirim kau harus memikirkan cara untuk memberikan obat itu kepada papa. Sebenarnya aku sudah meminta dokter yang selama ini merawat Papa untuk membantuku. Tapi aku tidak yakin dia akan berhasil. Dia tidak akan pandai berbohong di depan Papa. Jika Papa sampai mengetahui obat itu untuk menyembuhkan penyakitnya maka dia tidak akan mau meminum obat itu lagi."
"Baiklah Kak. Serahkan saja semua padaku. Aku akan memikirkan cara untuk memberikan obat itu kepada Papa tanpa diketahui Papa. Sekarang ayo kita kembali ke rumah sakit. Aku merasa tidak tenang jika meninggalkan Papa terlalu lama seperti ini." Faith beranjak dari kursi.
Dominic mengangguk setuju. Pria itu juga beranjak dari kursinya lalu mengajak Faith untuk meninggalkan restoran tersebut. Tanpa sengaja Faith melihat Zion yang saat itu membeli makanan di restoran yang sama dengannya. Faith sempat menahan langkah kakinya karena kaget melihat Zion ada di Dubai. Tetapi wanita itu tidak mau Dominic juga melihat Zion. Hingga akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Dominic tidak melihat keberadaan Zion di sana.
"Kenapa kau berhenti? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Dominic bingung ketika Faith tiba-tiba saja menahan langkah kakinya.
"Tidak ada. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing."
"Apa kau sakit?" tanya Dominic dengan wajah khawatir.
"Itu tadi. Tapi sekarang aku sudah sembuh. Jadi Kak Dominic tidak perlu khawatir lagi," jawab Faith sambil tersenyum manis.
"Secepat itu?" Dominic tidak percaya.
Wanita itu segera merangkul lengan kakaknya lalu menariknya pergi. "Ayo. Kita harus segera menemui Papa. Jangan sampai Papa terlalu lama menunggu kita." Faith memandang ke arah Zion sekali lagi untuk memastikan kalau apa yang ia lihat tidak salah. Ketika ia yakin kalau pria itu benar-benar Zion, wanita itu kembali memandang ke depan. "Sebaiknya aku dan Tuan Zion tidak bertemu lagi. Pertemuan kami sudah cukup sampai malam itu saja. Kami tidak berjodoh. Tidak sepantasnya kami sering-sering bertemu," gumam Faith di dalam hati.
...***...
"Terima kasih karena kau sudah mau datang untuk memeriksa sahabatku," ucap Leona kepada dokter pria yang berdiri di depannya. Wanita itu bahkan tersenyum bahagia melihat dokter pria yang kini sedang memeriksa Zean. Dokter itu adalah salah satu teman Livy. Dokter terbaik yang selalu berhasil menangani penyakit kanker.
__ADS_1
"Mungkin karena memang takdir masih mempermudah segalanya. Tidak disangka-sangka hari ini saya ada perjalanan ke Dubai. Jadi kita bisa bertemu," ucap dokter itu sambil tersenyum. "Dokter Livy sudah banyak membantu keluargaku. Kali ini gantian aku yang akan membantu keluarganya."
Zean yang saat itu diperiksa hanya bisa pasrah saja. Pria itu tidak bisa menolak apalagi mengusir dokter yang ingin memeriksa keadaannya karena masih ada Leona di sana.
"Tapi penyakit kanker tidak selamanya mematikan bukan? Kali ini Zean pasti akan segera sembuh kan?" tanya Leona penuh harap.
"Sembuh atau tidaknya tergantung takdir Tuhan. Tapi aku akan berusaha untuk menyembuhkannya."
Ketika Leona dan dokter itu sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja Dominic dan Faith masuk ke dalam. Kakak beradik itu terlihat bingung ketika melihat ruangan ayahnya dirawat dipenuhi dengan banyak orang. Bahkan mereka sempat berpikir kalau mereka salah masuk ruangan.
"Ada apa ini? Siapa kalian? Apa yang ingin kau lakukan?" Dominic segera jalan mendekati Zean untuk memastikan pria itu tidak diapa-apain. Berbeda dengan Faith yang justru berdiri mematung ketika ia melihat Leona ada di dalam ruangan itu.
"Tante," ucapnya dengan begitu pelan.
"Dominic, akhirnya kau kembali juga. Dokter ini adalah dokter sahabat papa. Dia tidak berniat jahat. Dia hanya ingin menyembuhkan penyakit papa. Dimana Faith? Kenapa dia tidak ikut bersamamu."
Dominic memandang ke samping. Ketika tidak menemukan Faith di sana, pria itu langsung memutar tubuhnya dan melihat Faith yang masih berdiri di depan pintu.
"Faith kenapa kau berdiri di sana? Cepat ke sini."
Mendengar nama Faith membuat Leona segera memutar tubuhnya juga dan memandang ke arah pintu. Ekspresi wanita itu sama dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Faith. Ia sangat tidak menyangka kalau akan bertemu Faith lagi di sini.
"Leona. Ini adalah Putraku namanya Dominic dan itu adalah putriku namanya Faith," ucap Zean memperkenalkan anak-anaknya.
"Itu berarti Zion mencintai putrinya Zean?" bisik Jordan di telinga Leona. Leona hanya diam saja tanpa tahu harus bicara apa. Dia sadar kalau semua ini sudah direncanakan oleh mertuanya.
"Faith, Kenapa kau diam saja di sana? Cepat salam tante Leona. Tante Leona ini adalah sahabat papa," perintah Zean.
"Baik Pa," ucap Faith hati-hati. Wanita itu memandang ke arah Dominic sebelum memandang ke arah Leona lagi. "Tante, apa kabar?" sapa Faith dengan nada yang lembut.
"Faith. Kenapa kau tidak bilang kalau sebenarnya Kau adalah Putri Zean."
Dominic menaikkan satu alisnya ketika mendengar pertanyaan Leona. "Apa Anda mengenal adik saya? Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" tanya Dominic ingin tahu.
Faith memandang wajah Dominic. "Tante Leona adalah ibu kandung Tuan Zion Zein, Kak."
"Apa?" celetuk Dominic tidak percaya.
Dokter pria yang sejak tadi memeriksa keadaan Zean berpamitan untuk pergi. Dia sudah berhasil membawa hasil pemeriksaan tentang kesehatan Zean. Dokter itu hanya perlu menentukan jadwal untuk pertemuan selanjutnya.
Kini di ruangan itu hanya ada mereka berlima. Keadaan masih terlihat canggung. Hanya Zean satu-satunya orang yang tidak mengerti dengan masalah yang pernah terjadi.
__ADS_1
"Leona, kenapa kau jadi pendiam seperti ini?Sebenarnya apa yang sekarang sedang kau pikirkan? Apa ada yang salah dengan kedua anakku?" tanya Zean bingung.
"Tidak ada. Mereka kelihatan seperti anak yang baik," jawab Leona. Dia memandang ke arah Faith lagi lalu tersenyum dan melupakan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. "Tante ingin bilang kepada kalian kalau sebenarnya Papa kalian mengidap penyakit kanker paru-paru. Dia sengaja menyembunyikan penyakitnya karena tidak mau membuat kalian berdua sedih. Sekarang kalian tenang saja karena Tante sudah berhasil membujuk Papa kalian. Dia mau penyakitnya diobati." Leona memandang ke arah Zean lagi. "Dia bilang dia tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum melihat kalian berdua menikah."
"Kami sudah tahu, Tante," jawab Dominic. Sejak dia tahu kalau wanita yang berdiri di depannya adalah ibu kandung Zion Zein membuat Dominic memasang wajah tidak suka. Pria itu tidak peduli meskipun Leona adalah sahabat Ayah kandungnya. Hatinya terlalu kecewa dengan Zion Zein karena sudah mematahkan hati adiknya.
"Benarkah?" tanya Leona untuk kembali memastikan.
Di saat suasana belum kunjung tenang, Zion justru masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa beberapa bungkus makanan. Sama halnya dengan Leona dan juga Faith. Pria itu sangat syok ketika melihat Dominic dan Faith ada di dalam ruangan tersebut. Bahkan karena terlalu kaget sampai-sampai bungkus makanan yang ada di genggaman tangannya terlepas dan tergeletak di lantai.
"Faith, kenapa kau bisa ada di sini!" ketus Zion.
Dominic berjalan mendekati Faith lalu merangkul pundak wanita itu. "Ini adalah ruang tempat ayah kandung kami dirawat. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau bisa ada di sini?"
Zion menggertakkan rahangnya mendengar jawaban Dominic. Ini suatu kebetulan yang seolah-olah sudah direncanakan. Pria itu belum siap untuk bertemu dengan Faith lagi.
Zean mulai menyadari kalau ada yang salah di sana. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wajah kalian tegang semua. Apa kalian pernah memiliki masalah sebelumnya. Apa sekarang kalian semua bermusuhan?" tanya Zean ingin tahu.
Faith memandang ke arah Zean lalu tersenyum. Ia mendekati Ayah kandungnya dan duduk di samping pria itu. "Tidak, Pa. kami tidak bermusuhan. Kami hanya saling kenal saja dan sudah lama tidak bertemu. Kami tidak menyangka kalau akan bertemu di tempat ini." Faith sengaja mengatakan kalimat seperti itu agar Zean tidak kepikiran. Dominic sendiri tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi. Pria itu memikirkan kondisi Zean saat ini. Begitu juga dengan Leona dan juga Jordan mereka lebih memilih untuk merahasiakan masalah yang pernah terjadi di antara mereka semua.
"Wah. Sepertinya kita memang benar-benar berjodoh Leona," ucap Zean sambil tersenyum bahagia. "Kau memiliki anak laki-laki yang belum menikah dan sedang mencari jodoh. Sedangkan aku mencari jodoh untuk putriku Faith. Bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita saja. Bukankah Mereka kelihatannya cocok? Faith, Apa kau setuju jika menikah dengan Zion? Putra dari Tante Leona?"
"Papa tidak bisa menjodohkan Faith seperti ini. Faith harus menikah dengan pria yang ia cintai dan juga mencintainya!" Ketus Dominic tidak setuju.
"Keputusan Papa sudah bulat. Papa tidak mau kau membantah keputusan papa kali ini." Zean mengalikan pandangannya ke arah lain. "Jika Faith dan Zion tidak menikah, penyakit ini sebaiknya jangan disembuhkan. Biar saja Papa mati menjemput mamamu," ancam Zena. Ia terpaksa memanfaatnya penyakitnya sekarang.
"Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu. Kau ini seperti anak kecil!" protes Leona tidak suka.
"Apalagi yang harus ditunggu? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau sebelum aku pergi aku harus melihat anak-anakku bahagia. Ini adalah momen yang tepat untuk kita menjadi saudara. Apa kau tidak ingin bersaudara denganku?"
Zion memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Leona memperhatikan kepergian Zion sebelum mengambil makanan yang tergeletak di lantai. Suasana benar-benar berubah menjadi kacau saat ini.
"Zean, kami pamit dulu. Nanti malam kami akan ke sini lagi. Kami juga butuh istirahat," ucap Jordan.
"Baiklah aku akan tunggu kedatanganmu nanti malam. Kita akan kembali membahas masalah perjodohan anak-anak kita," ucapnya penuh semangat.
Jordan memandang Faith dan Dominic secara bergantian. "Kalian harus menjaga Zean dengan baik. Jangan tinggalkan dia sendirian jika tidak dalam keadaan mendesak."
"Baik paman," ucap Faith. Pria itu segera mengajak Leona untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Setelah pintu kembali tertutup, Faith segera menarik Dominic dan mengajaknya sedikit menjauh dari posisi Zean berada.
"Kak, tolong jangan ceritakan kepada Papa masalah yang pernah terjadi antara aku dan Tuan Zion. Papa sedang sakit. Jika Papa sampai tahu kalau Kakak pernah berkelahi dengan anak sahabatnya ini akan membuat kondisi Papa semakin memburuk.
__ADS_1
"Kau tenang saja.Aku juga tidak akan mungkin membuat Papa celaka. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan langsung kepadamu. Apa kau mau menikah dengan Zion Zein jika dia bersedia untuk menikah denganmu? Apakah kau akan memaafkan kesalahannya karena pernah menyakiti hatimu."
Faith memandang ke arah Zean yang kini memperhatikan mereka dengan wajah bingung. "Jika memang kami dijodohkan untuk bersama. Aku tidak akan menolak Tuan Zion menjadi suamiku."