Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 29


__ADS_3

Ketika Austin ingin mendaratkan kursi itu di kepala Abio, tiba-tiba terdengar ledakan dari arah pintu. Sudah berbagai cara mereka coba agar bisa membuka pintu tersebut. Namun, tidak ada yang berhasil. Hanya bom itu yang mereka pikirkan. Berharap pintu itu terbuka.


Namun sepertinya bom itu juga tidak bisa membuat pintu terbuka. Austin telah berhasil mendesain ruangan yang tidak mudah di tembus sembarang orang. Hanya sidik jarinya yang bisa digunakan untuk membuka pintu. Selain itu tidak ada lagi.


Austin menahan gerakannya. Dia tidak jadi menghantam Abio dengan kursi kayu tersebut. Pria itu berjalan ke arah pintu. Sepertinya Abio sudah tidak menarik lagi baginya. Dia ingin menemui pria bertopeng yang ia kira adalah Zion. Dia ingin berhadapan dengan Zion langsung.


"Aku akan membunuhmu, Zion Zein!" ketusnya sebelum membuka pintu.


Setelah pintu terbuka lebar, Austin segera mengangkat senjatanya. Tanpa pikir panjang, Austin mengeluarkan tembakan demi tembakan. Tidak tahu kalau sebenarnya orang-orang yang ada di depan pintu adalah pasukannya sendiri. Mereka ingin menolong Austin di dalam karena sudah terlalu lama Austin berada di dalam. Mereka khawatir dan berpikir kalau Austin celaka.


Setelah peluru yang dimiliki Austin habis, pria itu baru sadar kalau orang yang baru saja ia tembak adalah bawahannya sendiri. Kini sebagian dari bawahannya tergeletak dalam keadaan tidak bernyawa. Austin semakin geram. Belum pernah ia di buat emosi hingga separah ini. Austin terus saja mengumpat nama Zion Zein dan juga Gold Dragon.


"Aku akan membunuhmu!" umpatnya dengan penuh emosi.


"Lakukan saja jika kau bisa!" sahut Zion yang ternyata sejak tadi sudah memperhatikan Austin dari jarak yang tidak terlalu jauh. Awalnya memang Zion dan pasukan Gold Dragon yang ingin meledakkan pintu itu untuk menolong Abio. Tetapi ketika mereka melihat pasukan Austin ingin melakukan hal yang sama, akhirnya Zion menahan pasukan sendiri.


Zion merasa senang melihat orang-orang yang di tembak Austin bukan pasukan Gold Dragon. Sekarang pria itu tidak perlu repot-repot membunuh pasukan milik Austin karena mereka sudah lenyap di tangan pimpinan mereka sendiri.


Austin tersenyum melihat Zion. Kali ini dia tidak akan tertipu lagi. Dari nada bicara, tingkah laku hingga tatapan matanya sangat mirip dengan sosok yang selama ini dia cari. Walau Zion masih tetap menggunakan topeng, tetapi Austin yakin pria yang ada di depannya itu adalah Zion Zein. Pemimpin Gold Dragon yang terkenal hebat dan Tidka terkalahkan.


Livy ada di samping Zion. Wanita itu tidak lagi menggunakan topeng. Austin lagi-lagi harus mengumpat kesal karena baru sadar kalau wanita murah yang tadi ia pikir hanya seorang ****** ternyata salah satu anggota Gold Dragon. Entah apa yang akan dipikirkan Austin jika dia sampai tahu kalau Livy adalah pemimpin sebuah geng mafia bernama The Filast.


"Kau seharusnya berterima kasih kepada pria yang ada di dalam. Jika pria yang ada di dalam adalah dirimu, mungkin sekarang kau yang tinggal nama!"


Mendengar perkataan Austin membuat Zion dan Livy khawatir. Mereka menyesal sudah menyeret Abio hingga sejauh ini. Entah apa yang akan mereka katakan kepada kedua orang tua Abio jika Abio sampai tidak selamat.


"Livy, aku akan mengalahkannya. Kau fokus ke Abio. Gitu ada celah segera masuk dan bawa Abio pergi dari tempat ini," perintah Zion dengan nada berbisik.


"Baik, Kak," jawab Livy. Sebenarnya Livy juga sudah babak belur. Tetapi, dia harus membantu Zion. Norah memilih tugas untuk melindungi Daisy dan Foster. Memastikan mereka berdua selamat sampai rumah sakit.


Austin berjalan ke arah lemari. Pria itu mengambil cambuk besi yang biasa ia gunakan untuk bertarung. Zion tidak mau terlalu banyak tingkah. Dengan atau tanpa senjata sekalipun dia yakin pasti bisa mengalahkan Austin.

__ADS_1


Pasukan Gold Dragon bersikap waspada. Mereka mengangkat senjata api mereka dan mengarahkannya ke Austin. Atas perintah Zion, mungkin puluhan peluru akan mendarat di tubuh Austin dan membuat pria itu tewas. Tetapi Zion tidak sepengecut itu. Dia juga ingin tahu seperti apa kemampuan Austin. Waktu di rumah sakit mereka tidak bertarung satu lawan satu. Zion menang karena trik yang ia gunakan tidak disadari oleh Austin.


"Kau berani melawanku sendirian? Atau memang kemampuanmu tidak ada apa-apanya hingga kau membutuhkan bantuan orang-orang payah yang sekarang ada di dekatmu itu?" sindir Austin dengan senyuman menghina.


Zion memandang pasukan Gold Dragon dan meminta mereka menurunkan senjatanya. Sebenarnya Zion tidak terlalu membutuhkan pasukan Gold Dragon. Dia membawa mereka agar mereka bisa melindungi Livy dan membantu Livy membawa Abio. Zion sendiri merasa sangat percaya dengan kemampuannya sendiri.


Zion memegang belatih berukuran sedang dan melangkah maju ke depan. Ia mengitari keadaan sekitar sebelum memandang Austin lagi.


"Anda tidak perlu marah kepada saya. Karena orang yang sepantasnya marah adalah saya. Anda sudah berani mengusik ketenangan keluarga saya. Adik saya tidak tahu masalah yang terjadi di antara kita. Saya akan membuat anda menyesal karena sudah berani menyentuh adik saya!"


Zion masih bertahan di posisinya berdiri. Zeroun pernah mengajarkan sebuah trik. Jangan pernah menyerang lebih dulu walau kau yakin senjata yang kau miliki jauh lebih hebat. Buat lawanmu emosi hingga ia tertarik untuk menyerang lebih dulu. Pahami senjata yang ia miliki dan cari celahnya.


Seperti apa yang pernah dikatakan Zeroun. Kini Zion menuruti perkataan Opa Zen. Pria itu terus saja membuat Austin panas hingga akhirnya pria itu tergerak untuk menyerang lebih dulu. Ia memutar cambuk yang ada di tangannya dan mengarahkannya ke arah tubuh Zion.


Di saat yang bersamaan, Zion menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Pria itu menghindar dan memegang belatih yang ia miliki dengan sekuat tenaga. Setelah itu dia memegang cambuk yang tadi dimainkan Austin dan menggenggamnya dengan erat. Pria itu kembali berdiri tegak dan memandang Austin dengan senyuman tipis.


"Hanya segini kemampuan anda, Tuan?"


Di detik yang sama, Livy mencuri kesempatan itu untuk menolong Abio. Ketika pasukan Austin menghalanginya, pasukan Gold Dragon membantunya untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi di depan pintu.


Livy berlari masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat Abio dan Austin bertarung. Wanita itu kaget melihat Abio tergeletak dengan tubuh bersimbah darah. Ia merasa sedih. Livy dan beberapa pasukan The Filast yang ikut bersamanya segera mendekati tubuh Abio.


"Tuan, bangunlah!" Livy meletakkan Abio di atas pangkuan. Memeriksa denyut nadi pria itu untuk memastikan kalau dia masih hidup. Setelah menemukan denyut nadi Abio berdenyut dengan normal, Livy segera memandang ke arah pasukan The Filast.


"Tolong angkat dia. Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan segera mengobati lukanya," perintah Livy.


"Baik, Bos," jawab mereka sebelum mengangkat Abio dan membawanya pergi. Livy berhenti sejenak di dalam ruangan itu. Dia kembali membayangkan pertarungan yang terjadi antara Abio dan Austin di ruangan itu tadi. Seperti apa hebatnya kemampuan seorang Austin sampai-sampai dia membuat Abio hingga separah ini sedangkan dirinya baik-baik saja.


"Kak Zion. Apa yang terjadi dengan Kak Zion? Apa dia bisa mengalahkan Austin?" gumam Livy di dalam hati. Wanita itu segera mengikuti pasukan The Filast yang membawa Abio. Walau sangat ingin membantu Zion, tetapi dia juga harus memikirkan keselamatan Abio. Zion juga meminta Livy segera pergi setelah Abio berhasil ditemukan.


Karena Austin tidak berhasil merebut cambuk besi itu dari tangan Zion, akhirnya dia melepas benda itu dan memilih untuk menghadiri Zion dengan tangannya. Jemarinya sudah tersemat cincin berduri, pria itu yakin bisa mengalahkan Zion menggunakan trik yang tadi ia gunakan untuk mengalahkan Abio.

__ADS_1


Sayangnya Zion cepat tanggap. Dia tahu kalau di jari Austin ada senjata yang cukup berbahaya. Pria itu memutar tubuhnya dan memainkan pecut besi yang berhasil ia rebut dari Austin. Dia berjongkok sebelum memecut kaki Austin dengan benda tersebut.


Austin terjatuh sebelum dia berhasil memukul Zion. Pria itu terjerembab di lantai dengan begitu kuat. Kepalanya sampai berdarah karena posisi jatuh Austin yang lebih dulu mendarat di lantai adalah bagian dahi.


Zion ingin menghajar Austin lagi. Namun, dia sempat berhenti ketika melihat Livy dan pasukan The Filast keluar sambil membawa Abio. Melihat Abio sekarat seperti itu membuatnya merasa bersalah. Begitu banyak orang yang berkorban hanya demi menemukan Daisy.


Tanpa sepengetahuan Zion, Austin telah berada di bawah kakinya dan menarik kaki Zion dengan begitu kuat. Hingga akhirnya Zion terjatuh ke belakang dengan posisi telentang. Sakitnya lumayan parah karena kebanting dengan begitu kuat. Bahkan tanpa di sadari Zion, sudah ada bercak darah di lantai yang berasal dari kepala Zion sendiri.


Austin berdiri dan tertawa melihat luka di kepala Zion. Karena saat itu posisi Zion yang berbaring sedangkan Austin sudah berdiri, jadi dengan mudahnya Austin menyerang Zion. Pria itu naik di atas tubuh Zion dan menghajar Zion tanpa ampun.


Pukulan yang sempat dihindari Zion kini mau tidak mau harus ia terima. Livy yang melihat kejadian itu tidak terima. Dia ingin membantu Zion.


"Tidak, Nona. Ini bukan pertarungan anda. Jika anda ikut campur, Tuan Zion tidak akan tahu apa yang harus dia lakukan. Saya yakin, Tuan Zion bisa menghadapi pria itu dan bahkan bisa mengalahkannya!" ucap salah satu pasukan The Filast. Mereka menahan Livy dan memaksa Livy untuk segera pergi. Karena memang bukan seperti itu rencana yang sudah ditentukan Zion.


"Bagaimana dengan Kak Zion? Dia sudah terluka?"


Livy berhenti sejenak. Ia tidak akan pergi sebelum melihat Zion bangkit. Tidak lama setelah pukulan di wajahnya, Zion berhasil mendorong Austin. Kini posisinya terbalik. Zion yang ada di atas tubuh Austin. Pria itu yang menguasai tubuh Austin. Dia telah siap untuk menghajar Austin tanpa ampun.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!" umpat Zion sebelum memukul wajah Austin tanpa ampun.


Austin berusaha menghindar, namun tenaga Zion masih kuat. Kali ini memang lawan Austin sangat seimbang. Sampai-sampai dia kehabisan tenaga. Darah segar mengalir di wajah masing-masing.


Austin memejamkan matanya ketika Zion telah berhenti memukulnya. "Kau menyerah?" ledek Austin dengan mata terpejam. Ketika pria itu membuka matanya, dia di buat kaget ketika melihat Zion sudah memainkan berlatihnya. Pria itu telah siap membunuh Austin.


"Tidak semudah itu, Zion Zein!"


Austin seperti memiliki kekuatan tiada Tara. Pria itu bangkit dan mendorong Zion menuju ke jendela kaca. Tubuh mereka berdua menghantam kaca yang ada di sudut ruangan hingga pecah. Tubuh mereka berdua sama-sama melayang di udara menuju ke lantai dasar.


Zion sempat memukul wajah Austin hingga akhirnya posisi mereka sama-sama jatuh di rerumputan.


Zion memandang ke lantai dua tempatnya terjatuh dengan kepala pusing. Begitu juga dengan Austin yang kini sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Zion memiringkan kepalanya untuk memeriksa lawannya. Pria itu dibuat tersenyum melihat Austin pingsan sebelum akhirnya dia juga tidak sadarkan diri.


__ADS_2