Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 241


__ADS_3

Zion terjatuh ketika Elyna menendangnya dengan kaki. Tubuh wanita itu memang terlihat mungil tetapi tenaganya sungguh luar biasa. Zion sampai memuntahkan darah akibat tendangan yang begitu kuat di bagian dadanya.


Melihat Zion terluka membuat Elyna tertawa kencang. Wanita itu merasa yakin kalau dia juga pasti akan menang meskipun harus melawan seorang pemimpin sebuah geng mafia.


"Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur jika tidak mau sampai celaka!" ketus Elyna. Dia merasa yang paling hebat dan tidak terkalahkan saat itu. Elyna benar-benar sombong.


"Pria pengecut seperti kalian tidak ada apa-apanya," hina Elyna lagi.


Elyna memandang ke arah pintu. Dari sana anak buahnya juga sudah berhasil membekuk Dominic. Wajah Dominic terlihat babak belur. Begitupun dengan wanita yang menjadi pengawal pribadi Elyna. Sepertinya pria itu sempat melawan sebelum akhirnya ia kalah dan kehilangan berlian miliknya yang berharga.


"Zion, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia duduk lemah seperti itu?" batin Dominic.


Dominic merasa sedih melihat Zion terluka. Mereka sebagai seorang lelaki merasa tidak berguna karena hanya menghadapi seorang wanita saja mereka tidak bisa.


"Hei, Tuan. Hanya mengalahkan anak buah saya saja Anda sudah kalah. Berani-beraninya Anda menantang saya tadi," ucap Elyna penuh dengan kesombongan.


Zion yang begitu geram segera bangkit lagi dan menyerang Elyna. Kali ini pria itu mengeluarkan semua kemampuannya. Dia tidak mau sampai kalah lagi. Apa lagi sama seorang wanita. "Sebelumnya aku menyerangnya dengan perasaan tidak tega karena aku memiliki adik perempuan. Tetapi sekarang aku tidak bisa menggunakan perasaanku lagi ketika bertarung. Karena itu akan membuatku kalah. Aku harus tega untuk membunuh wanita ini. Jika dibiarkan hidup dia hanya akan bisa mencelakai orang lain saja," gumam Zion di dalam hati.


Zion mengeluarkan senjata tajam andalannya sebelum mengincar tubuh Elyna.


Elyna kaget bukan main melihat kemampuan Zion yang begitu luar biasa. Wanita itu mengambil belati yang tersimpan di sepatunya. Kali ini Elyna harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan Zion. Dia tidak mau sampai tertusuk belati tajam yang dipegang oleh lawannya.

__ADS_1


"Sial! Ternyata tadi dia hanya pura-pura saja. Aku menyesal karena sudah menyepelekannya!" umpat Elyna di dalam hati.


Zion terus saja mengincar bagian perut Elyna. Tetapi dengan lincahnya Elyna menghindar. Begitupun sebaliknya. Elyna juga terus saja mengincar bagian organ vital Zion agar bisa melumpuhkan Zion. "Aku harus membuatnya tidak bisa menyerangnya lagi."


Di detik pertarungan yang begitu sengit, terdengar teriakan seorang wanita. Bersamaan dengan itu juga ada suara tembakan yang sengaja di lepas ke atas langit. Elyna menahan gerakannya. Wajah wanita itu terlihat panik ketika ia melihat ibu kandungnya berdiri tidak jauh dari posisinya berada.


"Mommy?"


Melihat Elyna lengah membuat Zion segera memukul Elyna dan menyayat lengan wanita itu dengan belati. Ternyata lagi-lagi Zion tidak tega untuk menusukkan belatinya yang tajam ke arah perut Elyna meskipun ia sudah memiliki kesempatan itu.


"Ugj!" Elyna mengeluh ketika luka sayatan itu terasa begitu perih. Tetapi sebenarnya sakitnya tidak terlalu luar biasa Karena kini justru Elyna jauh lebih takut dengan amarah yang akan keluar dari mulut ibu kandungnya.


"Kak Zion!" teriak Livy dan Norah bersamaan. Ternyata dua wanita cantik itu tiba bersama dengan Letty.


Sedangkan Letty berjalan untuk mendekati Elyna. Rasanya wanita itu sudah benar-benar geram hingga tidak sabar untuk menghukum putrinya sendiri.


"Mommy, kenapa mommy ke sini? Mommy hanya menggangguku saja!" protes Elyna tidak suka. Dia tidak bisa melanjutkan pertarungannya lagi karena kini ibu kandungnya ada di sana. "Sedikit lagi Elyna menang, Mom!"


"Kau ini benar-benar membuat Mommy malu. Bisa-bisanya kau menyerang keluargamu sendiri!"


"Keluarga?" tanya Elyna kaget. Wanita itu memandang ke arah Livy yang kini membersihkan luka di tubuh Zion. Dia termenung untuk beberapa detik. "Bukankah itu Livy sepupuku? Kenapa dia menolong pria jahat itu?" gumam Elyna yang hanya berani di dalam hati saja.

__ADS_1


"Mommy sungguh kecewa melihatmu Elyna. Bisa-bisanya geng mafia Mama kau jadikan seperti sebuah geng preman seperti ini." Letty tiba-tiba saja menarik kuping Elyna hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan. "Mommy, maafkan aku. Ampun, Mom. Tolong lepas," rintih Elyna kesakitan.


"Kau harus dihukum Elyna! Mama akan mengurungmu di kamar agar kau tidak bisa berbuat sesuatu yang membuat rugi orang lain."


Letty berhenti di depan Zion. Wanita itu merasa kasihan melihat Zion yang harus terluka dan cedera. "Zion, maafkan anak Tante. Tante akan membawa Elyna pergi dari sini." Letty memandang ke arah Dominic yang saat itu sudah dibebaskan. "Tolong maafkan putri saya. Saya janji dia tidak akan berani mengusik ketenangan anda lagi." Setelah berpamitan Letty kembali menarik Elyna agar pergi meninggalkan Las Vegas. Jika dilihat seperti itu Elyna tidak lagi terlihat seperti seorang pemimpin geng mafia.


"Kenapa wanita itu bilang kalau kami adalah saudara? Sebenarnya siapa wanita itu?" gumam Dominic di dalam hati. Pria itu segera berlari untuk menghampiri Zion. Dia juga harus memeriksa keadaan Zion dan memastikan calon suami adiknya baik-baik saja. "Aku akan panggilkan dokter."


"Ini hanya luka kecil. Sebentar lagi juga akan sembuh. Aku hanya butuh istirahat saja." Zion memandang Livy dan Norah sebelum tersenyum. Karena apabila ia memasang wajah kesakitan, dua wanita itu pasti akan menangis karena khawatir.


"Aku baik-baik saja. Kenapa kalian harus bersedih? Oh iya, siapa sebenarnya Elyna itu? Apa dia adalah Putri Tante Letti yang yang pernah kalian bicarakan?"


"Ya. Dia adalah putrinya tante Letty. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia sungguh mengerikan. Sebagai seorang wanita, dia benar-benar menyalahi kodratnya. Untung saja dia tidak berjodoh dengan Kak Zion. Padahal dulu aku sempat berniat untuk menjodohkannya dengan Kak Zion," ucap Norah apa adanya.


"Lalu bagaimana bisa kalian tahu kalau aku ada di Las Vegas?" Zion merasa yakin kalau tidak ada satu orang pun yang tahu ketika dia pergi selain Daisy dan Leona.


"Kakak tidak perlu tahu bagaimana caranya kami bisa tiba di sini. Sekarang kami harus menemui Abio dan juga Austin. Mereka belum tahu kalau pertarungan di sini sudah selesai. Pasti sekarang mereka masih bertarung melawan pasukan Queen Star. Astaga jika saja sejak awal aku tahu kalau lawan kita adalah Queen Star, aku pasti akan segera mencegahnya. Karena Opa Lukas pernah bilang kalau sejak dulu Queen Star dan juga Gold Dragon menjalin persahabatan yang sangat dekat. Kenapa bisa-bisa sekarang kita bermusuhan? Ini sungguh membuat malu para leluhur kita."


Livy benar-benar frustasi. Wanita itu segera mengambil ponselnya dari dalam saku untuk menghubungi Abio.


Dominic masih belum tenang meskipun kini kekuasaan dan berlian berharga miliknya sudah kembali. Pria itu terlihat cemas melihat adik iparnya kesulitan bernapas. "Zion, Ayo kita masuk ke dalam. Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Dominic membantu Zion berdiri lalu membawanya masuk ke dalam. Sambil melangkah masuk Zion kembali memandang wajah Dominic lalu tersenyum.

__ADS_1


"Bukankah kita adalah saudara? Kenapa Anda merahasiakan masalah anda dari kami? Jika saja kami tahu sejak awal, mungkin anda tidak perlu bersusah-susah bertarung sendirian seperti tadi."


"Justru karena kita saudara, aku tidak mau merepotkan saudaraku!" Dominic merangkul Zion layaknya adik. Pria itu sudah tidak mau gengsi lagi ketika berhadapan dengan calon adik iparnya itu. Dominic ingin dia dan Zion menjalin persaudaraan layaknya adik kakak.


__ADS_2