
Nyonya Gulnora mengangguk setuju. “Baiklah. Saya akan meminta mereka untuk menemui anda, Tuan. Semoga saja mereka mau mendengarkan penjelasan anda," jawab Nyonya Gulnora. Dia beranjak dari kursinya dan ingin melangkah ke pintu.
Baru saja Nyonya Gulnora melangkah setengah meter, Zion dan Livy sudah muncul di depan pintu. Mereka memandang Foster dengan tatapan penuh arti. Pria itu melangkah masuk sedangkan Livy bertahan di depan pintu dengan tangan terlipat di dada. Livy juga sempat memandang Nyonya Gulnora sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain. Di sana dia hanya menunggu. Tidak mau ikut campur berbicara dengan Foster. Bagi Livy itu bukan urusannya.
Foster mengeryitkan dahinya melihat Zion. Dia tahu kalau sudah pasti orang yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sudah membawanya kemari. Lagi-lagi dia tidak bisa mengenali wajah Zion. Saat ini Zion dan Livy menggunakan topeng. Memang bukan sembarang orang bisa melihat wajah mereka yang asli. Bahkan nyonya Gulnora sendiri, sampai sekarang juga belum tahu bagaimana wajah Zion di balik topeng tersebut. Apakah pria itu tampan atau tidak, nyonya Gulnora tidak pernah tahu. Yang dia tahu, Zion dan Norah adalah kakak yang sangat menyayangi adiknya.
"Kenapa aku merasa tidak asing dengan pria ini?" gumamnya di dalam hati.
Foster diam sejenak sambil mengingat-ngingat orang yang pernah menyerangnya saat di rumah. Namun, ketika dia melihat penampilan Livy, penampilannya berbeda dari Norah. Hal itu yang membuat Foster ragu untuk berkata kalau orang yang sudah menyerangnya sama dengan orang yang sekarang menangkapnya.
“Anda kakak kandungnya Daisy?” tanya Foster. Zion mengeryitkan dahinya. Ia memandang Nyonya Gulnora sejenak sebelum memandang Foster lagi.
“Dimana Daisy?”
“Belum menjawab sudah bertanya balik. Sangat tidak sopan,” umpan Foster dengan nada pelan. “Saya sudah tahu apa alasan anda menangkap saya dan menuduh saya telah menculik Daisy. Tuan ….” Foster menahan kalimatnya. Dia tidak tahu siapa nama pria di depannya. Hingga akhirnya ia memutuskan satu inisial agar bisa lebih nyaman saat berbicara. “Tuan bertopeng, saya tahu kalau sekarang anda sangat mengkhawatirkan adik anda. Sama seperti saya. Saya juga sangat menkhawatirkan Daisy. Ditemukannya kalung saya di kamar mandi Daisy, itu tidak menjamin kalau saya yang sudah menculik Daisy. Siapapun bisa meletakkan barang itu untuk menghilangkan jejaknya. Jaman sekarang sudah canggih. Sepertinya anda juga pria yang pintar dan berkelas. Ayo kita berpikir dengan hati yang tenang. Jika saya sudah menculik Daisy, untuk apa saya muncul di kamarnya? Apa saya ingin menyerahkan diri? Saya memiliki banyak uang untuk pergi keluar negeri. Bisa saja saya membawa Daisy ke sebuah pulau agar tidak ada yang tahu. Saya ini berasal dari keluarga Mattew. Keluarga Mattew sangat terpandang. Saya tidak mungkin mencoreng nama baik keluarga saya.”
Zion sebenarnya sudah tahu kalau Foster tidak terlibat. Baru saja anak buahnya memberi kabar terbaru kalau ada rekaman cctv yang menunjukkan wajah Daisy. Di sana terlihat jelas kalau seorang wanita yang membawa Daisy. Bukan pria. Itu berarti Foster memang tidak bersalah. Sayangnya, anak buah Zion tidak bisa mendapatkan wajah wanita yang sudah membawa Daisy pergi meninggalkan asrama. Zion menuduh Foster seperti ini karena dia ingin tahu. Seperti apa pria yang sudah berani mencintai adiknya.
__ADS_1
“Nyonya Gulnora, anda bisa melepaskannya. Pria ini sudah tidak berguna lagi.”Zion memutar tubuhnya ingin pergi.
“Tunggu!” teriak Foster. “Saya akan membantu kalian mencari keberadaan Daisy. Dengan bekerja sama, saya yakin Daisy bisa segera ditemukan.”
“Kami sudah tahu dimana Daisy berada, Tuan. Jadi, anda tidak perlu repot-repot menawarkan diri,” sahut Livy.
Zion melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ruangan sempit tersebut. Diikuti oleh Livy. Sedangkan Foster hanya bisa memasang wajah kecewa karena tidak di ajak dalam misi pencarian Daisy.
“Kenapa mereka sombong sekali?” umpat Foster di dalam hati. “Aku tidak menyangka kalau Daisy memiliki Kakak seperti mereka.”
“Anda bisa mencari Daisy dengan bantuan orang bayaran anda, Tuan. Bukankah anda memiliki banyak sekali bawahan?” sahut Nyonya Gulnora sambil membuka ikatan di tangan Foster.
“Mereka geng mafia. Tim mereka sudah terlatih sejak lama. Jelas saja mereka hebat.” Nyonya Gulnora membuka ikatan di kaki Foster. “Jika saya boleh memberi saran, sebaiknya anda tidak bermain-main dengan Daisy. Jika anda benar-benar mencintainya, perjuangkan dia. Tapi, jika anda tidak bisa berjanji untuk menjaga perasaannya. Ada baiknya anda mundur dari sekarang sebelum semua terlambat.”
“Nasihat yang bijak, Nyonya Gulnora. Tetapi sayangnya, saya tetap teguh pada pendirian saya. Justru setelah saya tahu kalau kakak kandung Daisy adalah ketua mafia, saya semakin tertantang untuk mendapatkannya. Kakaknya pasti akan menjaga adiknya dengan sebaik mungkin. Dengan begitu, saya bukan hanya mendapatkan wanita yang cantik dan pintar saja. Tapi wanita suci yang tidak pernah tersentuh oleh pria manapun!” Foster tersenyum membayangkannya. Padahal jalan cintanya dengan Daisy tidak semudah yang ia bayangkan. Banyak sekali tahapan yang harus ia lewati jika dia ingin menjadikan Daisy pacarnya.
“Sekarang anda mau kemana?” tanya Nyonya Gulnora ketika ikatan di kaki dan tangan Foster telah terlepas.
__ADS_1
“Mengikuti mereka. Aku juga ingin tahu dimana Daisy berada saat ini!”
Di sisi lain, Norah berbaring di atas sepeda motor sambil memandang langit malam. Dia masih kesal melihat Livy. “Kenapa Kak Livy harus berkata seperti itu? Aku tahu, dia itu wanita yang cantik bahkan nyaris sempurna. Tetapi, tidak sepantasnya dia menghinaku seperti tadi.”
“Sayang, kau bisa masuk angin jika memakai pakaian seperti ini.” Leona menutupi tubuh Norah dengan jaket yang ia bawa. Norah memandang wajah Leona sejenak sebelum membenarkan posisinya. Dia duduk di atas sepeda motor sambil memandang Leona yang kini berdiri di hadapannya.
“Ma, apa aku jelek?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Antara aku dan Daisy. Cantikan siapa? Pasti Daisy kan?”
Leona tersenyum mendengarnya. Ia menyelipkan rambut Norah yang terlepas dari ikatannya dan mengusap rambut wanita itu dengan lembut. “Kau dan Daisy memiliki sifat dan penampilan yang jauh berbeda. Tetapi, di mata mama. Kalian berdua adalah putri mama yang paling cantik dan baik.”
“Ma, maafkan aku karena tidak bisa menjaga Daisy dengan baik. Mama pasti kecewa sama aku dan Kak Zion.”
Leona memandang ke arah lain. Mengingat kalau sekarang Daisy hilang, membuatnya kembali bersedih. “Kalian sudah besar. Bukan anak-anak yang harus di kurung di rumah. Masalah seperti ini pasti akan datang menghampiri. Hanya waktunya saja yang kita tidak tahu. Sekarang masalah ini datang melalui Daisy. Bisa saja besok atau lusa datang melalui kau atau Zion. Sebenarnya ini alasan mama untuk tidak mempertahankan geng gold Dragon saat itu. Tetapi, Zion marah dan tidak terima. Sekarang mama hanya bisa berdoa agar anak-anak mama selalu dilindungi.”
__ADS_1
“Maafkan kami, Ma. Kami tidak pernah memiliki niat untuk membuat mama sedih. Kami janji akan segera menemukan Daisy dan membawanya pulang ke rumah dalam keadaan selamat.” Norah memeluk Leona sambil memejamkan mata. Leona menghapus air matanya yang menetes sebelum membalas pelukan Norah.
“Daisy sayang … kau anak yang kuat. Mama yakin kau bisa bertahan dan menunggu kakak-kakakmu datang menjemput.”