Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 224.


__ADS_3

Zion kembali muncul dengan menjinjing beberapa paper bag di tangannya. Meskipun tadi dia hanya sekedar membohongi Dominic. Tetapi sebenarnya pria itu benar-benar ingin memberi Faith sebuah hadiah.


Zion sendiri awalnya tidak tahu benda apa yang cocok dan bisa membuat Faith tersenyum. Namun memang pasukan Gold Dragon selalu bisa dihandalkan. Mereka tidak hanya jago membantu Zion ketika sedang bertarung. Tetapi mereka juga bisa membantu Zion ketika Zion kesulitan dalam memahami seorang wanita.


Zion membuka pintu ruangan itu secara perlahan lalu masuk ke dalam. Kemunculannya disambut dengan tatapan sinis dari Dominic. Berbeda dengan Faith yang kini mencuri-curi pandang ke arah Zion dengan bibir tersenyum bahagia. Sejak tadi wanita itu tidak bisa tenang karena ia mengkhawatirkan Zion yang tidak kunjung kembali.


Zean yang sudah bangun juga tersenyum bahagia melihat kemunculan Zion di ruangan itu. Sebelum Zion tiba, Faith juga sudah sempat memberi tahu Zean. "Zion, kemarilah. Ada yang ingin Paman katakan kepadamu."


"Baik, Paman," jawab Zion.


Pria itu tidak langsung berjalan mendekati tempat tidur Zean. Dia mendekati Faith untuk menyerahkan barang-barang yang ia beli secara khusus untuk Faith. Karena di sana juga ada Dominic, pria itu juga membelikan hadiah khusus untuk calon kakak iparnya.


"Ini hadiah kecil untuk kakak ipar. Semoga saja ukurannya pas." Zion meletakkan paper bag berisi sepatu untuk Dominic di atas meja.


Dominic melirik sekilas ke arah paper bag itu sebelum mengalihkan pandangannya. Meskipun senang tapi tetap saja ia tidak mau mengakuinya dan memperlihatkan kebahagiaannya di depan Zion. Dia tidak mau Zion besar kepala.


"Ini hadiah untukmu."

__ADS_1


Zion memandang Faith untuk beberapa saat. Rasanya ia tidak suka jika ada batas antara mereka seperti ini. Zion ingin sering-sering mendekati Faith dan menyentuh tubuh wanita itu. Tetapi apalah daya karena kini Faith dijaga ketat oleh Dominic.


Setelah selesai memberikan hadiah, Zion kembali berjalan menuju ke tempat tidur Zean. Pria itu menarik kursi kecil yang terletak di sana dan membawanya dekat tempat tidur.


"Kau tidak membelikan sesuatu untuk paman?" ledek Zean sambil tersenyum.


"Maafkan aku, Paman. Aku tidak tahu selera Paman seperti apa," ucap Zion mencari alasan. Padahal yang sebenarnya terjadi ketika berbelanja tadi pria itu memang sama sekali tidak kepikiran dengan Zean.


"Apa kau mau bilang kalau kau mengerti seleraku. Bagaimana kalau barang yang kau belikan ini tidak sesuai dengan seleraku?" teriak Dominic.


"Terima saja hadiah yang diberikan oleh Zion. Dia sudah susah-susah mencarikan hadiah untukmu. Jangankan Zion yang tidak mengerti akan seleramu. Bahkan kau saja sendiri tidak tahu bagaimana selera papa. Sampai detik ini bukankah kau tidak pernah membelikan sesuatu untuk papa," bela Zean hingga membuat Dominic bungkam. Pria itu merasa malu. Meskipun memang pada kenyataannya Dominic sekalipun tidak pernah memberikan hadiah kepada Zean.


"Paman, sebenarnya apa yang ingin Paman ketahui?" tanya Zion untuk memecahkan suasana di kamar itu. Dia tidak mau karena perkataan Zean, Dominic jadi membencinya.


"Paman ingin tahu sebuah informasi tentang keluargamu. Sudah lama Paman tidak mendengar kabar tentang kalian. Bagaimana kabar Tante Serena dan Paman Daniel? Apa mereka baik-baik saja? Mungkin sekarang mereka sudah sangat tua karena mereka sudah memiliki cucu."


"Mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi, Paman. Opa Daniel pergi lebih dulu. Mereka memang saling mencintai sampai-sampai selalu dipertemukan lagi meskipun di alam yang berbeda dengan kami," jawab Zion. Ketika menyinggung soal GrandNa dan Opa Daniel, pria itu terlihat sedih. Meskipun ia sudah ikhlas kehilangan Serena dan Daniel, tetapi pria itu belum terbiasa untuk hidup tanpa mereka.

__ADS_1


"Aku pernah mendengar kabar kepergian Paman Daniel. Tetapi aku berharap waktu itu kalau Daniel yang sedang mereka bicarakan bukan Paman Daniel yang aku kenal. Mendengar cerita ini darimu langsung membuat Paman jadi percaya kalau pria baik yang waktu itu mereka ceritakan adalah paman Daniel." Zean diam sejenak dengan wajah sedih.


"Aku bisa keluar dari keterpurukan sejak aku mengenal keluarga Edritz Chen. Sejak saat itu juga aku mengenal kasih sayang untuk sebuah keluarga. Mereka sangat berarti dalam hidupku karena berkat mereka aku bisa mengerti dan menikmati hidup. Masa mudaku terlalu buruk hingga aku merasa tidak pantas untuk hidup. Tapi itu semua sudah berlalu.


Oh ya Zion, kenapa kau tiba-tiba datang ke sini. Apa kau merindukan Faith atau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


Zion mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Zean. Jelas saja ia malu untuk mengakui rasa rindunya di depan semua orang. Namun jika ia menjawab dengan alasan lain, itu hanya akan membuat Faith kecewa. Dominic juga akan menilainya sebagai adik ipar yang jelek.


"Paman bener. Aku datang ke sini karena aku sangat merindukan Faith," jawab Zion pada akhirnya. Hal itu membuat Faith tersipu malu. Berbeda dengan Dominic yang kini justru mendengus kesal.


"Dasar buaya! Bisa-bisanya dia mengatakan kalimat semanis ini agar adikku luluh," ujar Dominic dengan suara sedikit kuat agar Zion bisa mendengarnya.


"Dominic, sebaiknya mulai sekarang kau juga cari wanita yang cocok untuk menjadi istrimu. Jadi kau tidak perlu lagi mencampuri urusan percintaan adikmu!" ketus Zean kesal.


"Aku tidak perlu menikah untuk bahagia," sahut Dominic tanpa memandang.


Ketika Zean ingin mengeluarkan kata, tiba-tiba saja Faith beranjak dari sofa. " Papa, apa papa mau buah? Faith ambilkan ya?" Dia sengaja melakukan itu agar Zean dan Dominic tidak kembali berdebat. Sedangkan Zion sendiri terlihat tidak peduli karena kini yang ada dipikirannya hanya Faith seorang.

__ADS_1


"Kenapa dia cantik sekali?" gumam Zion di dalam hati.



__ADS_2