Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 25


__ADS_3

"Tuan, apa yang ingin anda lakukan? Ini sangat sakit," rintih Livy dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu juga sudah siap-siap melawan jika memang benar Austin telah mengetahui identitasnya. Padahal malam ini dandanan Livy sangat berbeda jauh dari kesehariannya di rumah sakit. Seharusnya Austin tidak mengenalinya. Namun, lain cerita jika memang Austin sudah mengetahui rencana mereka sejak awal.


"Wanita tidak berguna. Tahunya nangis," ledek Rula. Wanita itu bersandar dengan kaki terlipat. Gaun hitam yang ia kenakan jatuh ke samping hingga memamerkan pahanya yang mulus. Namun, sudah segitu seksi Austin tetap saja tidak tergoda.


"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Austin dengan mesra. Pria itu mendekati leher jenjang Livy sebelum menciumnya dengan mesra. Ada getaran aneh yang kini dirasakan Livy. Dia seperti tersengat listrik. Belum pernah ada pria yang sedekat ini dengannya. Namun, untuk mempertahankan rencana yang sudah dibuat Zion, Livy memilih pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Austin. Pria itu mencium lehernya dengan begitu menggoda. Seolah-olah memang Livy ini wanita murah yang pantas dipertontonkan seperti itu.


Abio yang semakin geram sudah tidak bisa menahan emosinya. Pria itu mengambil gelas kristal berisi minuman alkohol sebelum merema*s nya sampai pecah. Dia akan menggunakan pecahan kaca itu untuk mengiris bibir Austin karena sudah berani menyentuh wanita pujaannya.


Livy mengetahui apa yang kini dipikirkan Abio. Wanita itu tidak akan membiarkan Abio menggagalkan rencana mereka. Livy mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Austin sebelum mendorong pria itu hingga terduduk di sofa dengan posisi bersandar.


Austin menahan langkah kakinya. Pria itu berputar dan memejamkan mata. Ia melihat tangannya yang berdarah. Hampir saja dia menggagalkan rencana Zion. Pria itu cepat-cepat berlari ke tangga karena tidak mau Livy terlalu lama bersama Austin.


Rula yang sudah sangat cemburu, membanting ponselnya ke sofa hingga ponsel itu tergeletak di samping Austin. Livy kali ini bisa melihat dengan jelas apa yang sejak tadi di tonton oleh Rula.


"Ternyata wanita itu melihat rekaman cctv. Itu pintu apa? Apa di dalam kamar itu Daisy di sembunyikan?" gumam Livy di dalam hati.


"Stop! Jala*Ng!" Rula menarik tangan Livy hingga ia terdorong dan tergeletak di samping Austin. "Berhenti menggoda calon suamiku!" ketus Rula.


"Calon suami? Berarti mereka sepasang kekasih? Wanita ini bukan bekerja karena demi bayaran. Tetapi karena ingin membantu kekasihnya yang tidak lain adalah Austin?" Kali ini Livy sudah mengetahui alasan yang sebenarnya. Namun, ia tidak bisa memberi tahu Zion sekarang. Dia akan menyampaikan informasi ini setelah Daisy berhasil ditemukan.

__ADS_1


"Rula, berhentilah bersikap seperti anak-anak. Kau belum tentu menjadi istriku! Kau juga harus ingat, jika malam ini kau gagal. Maka kau harus menjauh dari hidupku!" ancam Austin. Pria itu menarik tangan Livy sebelum beranjak dari sofa. "Ayo sayang kita ke suatu tempat. Sepertinya di sini sangat berisik. Kita bisa bersenang-senang di sana!" ajak Austin sambil menggandeng pinggang ramping Livy.


Livy sempat menjatuhkan ponsel itu di bawah sebelum menginjaknya. Walau tidak bisa menghilangkan ponsel tersebut, tetapi setidaknya dia berhasil merusak media yang digunakan Rula untuk memantau kamar Daisy.


Austin membawa Livy ke sebuah tempat yang sangat jauh dari keramaian. Wanita itu sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang ingin dilakukan Austin. Ia memandang keadaan sekitar sambil sesekali menebak kemana dia akan di bawa.


Austin membuka pintu dan membawa Livy masuk ke dalam. Pria itu mengunci kamar itu lagi sebelum merangkul pinggang Livy dan membawanya ke ranjang.


"Tidak! Aku tidak boleh sampai terjebak. Aku harus pikirkan sebuah rencana agar bisa pergi dari kamar ini," gumam Livy di dalam hati.


Satu hal yang tidak terduga. Ketika mereka sudah sampai di pinggir ranjang, Austin tidak melakukan apapun lagi. Pria itu melepas Livy sebelum berjalan sendiri ke balkon. Dia membuka jas dan kemeja yang ia kenakan hingga memamerkan tubuhnya yang berotot. Livy memalingkan wajahnya. Ini sangat memalukan. Dia harus terjebak di sebuah kamar bersama pria asing yang sedang bertelanjang dada.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat anda kembali tenang, Tuan?" tanya Livy dengan nada manja.


Austin tersenyum simpul. Pria itu membanting botol tersebut di meja sebelum memutar tubuhnya. "Apa yang bisa kau lakukan? Kau bisa menari?"


Livy melebarkan kedua matanya. Dia menggeleng pelan. "Saya tidak bisa menari."


Austin melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pria itu mengumpat sebelum berjalan ke pintu.

__ADS_1


Rula berdiri di depan kamar dengan wajah panik. "Dia sudah di sini. Kita harus segera ke sana!" ujar Rula dengan begitu serius.


Austin keluar dari kamar dan kembali mengunci pintu kamar. Pria itu mengabaikan Livy yang ada di kamarnya. Livy memandang ke pintu sebelum berputar. Setelah memastikan pintu di tutup rapat dan dalam keadaan terkunci, wanita itu mulai melakukan aksinya.


"Aku tidak menyangka bisa terjebak di kamar ini," umpat Livy. Dia memandang balkon dan berniat kabur dari sana. Namun, sebuah laptop yang tergeletak di atas meja membuat Livy tertarik. Wanita itu duduk di sofa dan membuka laptop tersebut. Dia ingin memeriksa isi di dalamnya. Walau menggunakan password, bagi hacker seperti Livy ini sangat mudah.


"Oke, semoga benda ini bisa membantu kami," ucap Livy dengan wajah penuh harap.


Dia membuka koneksi ke seluruh cctv yang ada di rumah itu. Wanita itu mencari bagian-bagian mana saja yang akan dilalui Zion, Norah dan Foster. Setelah berhasil menemukannya, Livy memutuskan koneksi itu agar tidak terdeteksi.


Ketika ingin menutup laptop itu kembali, Livy tanpa sengaja membuka rekaman yang memperlihatkan Daisy. Ya, Daisy. Wanita yang tertidur dengan tenang di sebuah kamar yang dingin. Livy melebarkan kedua matanya. Ia antara percaya dan tidak percaya. Dipandangnya layar laptop itu dengan saksama untuk memastikan kalau benar wanita itu adalah Daisy.


"Ya, dia adalah Daisy. Tapi, dimana tempatnya? Dia ada di mana?" Livy berusaha mencari lokasi tempat Daisy berada. Namun, terdengar suara sepatu yang semakin dekat dengan kamar. Livy memandang ke pintu sebelum menekan layar keyboard dengan lebih cepat lagi. Dia harus mengetahui keberadaan Daisy sebelum ketahuan.


"Aku harus cepat!"


Pintu terbuka secara perlahan. Tetapi Livy masih belum selesai. Loading di laptop seakak begitu menyiksa. Padahal hanya membutuhkan waktu 15 detik. Tapi, entah kenapa rasanya seperti menunggu 15 jam.


Ketika pintu terbuka dengan lebar, Livy cepat-cepat menutup layar laptop tersebut. Wanita itu berbaring di sofa dan memejamkan kedua matanya. Ia tidak berani membuka kedua matanya lagi. Sambil mengatur napasnya sendiri, wanita itu menebak kira-kira siapa yang masuk ke dalam.

__ADS_1


"Apa Austin kembali lagi?"


__ADS_2