
"Mama! Mama!" Norah terus saja berteriak ketika sudah tiba di Cambridge. Wanita itu seperti tidak sabar untuk memberi tahu berita kehamilannya ini kepada Leona. Ya, setelah dari rumah sakit. Norah dan Austin langsung membawa Harumi terbang ke Cambridge. Anak kecil itu sendiri awalnya bingung karena mereka pergi terlalu terburu-buru. Tetapi setelah Austin menjelaskan kalau ada adik bayi di dalam perut Norah, Harumi terlihat sangat senang. Bahkan wanita itu sudah tidak sabar menantikan kelahiran adik bayinya tersebut.
"Norah, kau pulang? Kenapa tidak telepon mama?" Leona segera menghampiri Norah.
Sedangkan Austin, terus saja memperingati istrinya agar tidak berlari karena sekarang kandungnya memang harus dijaga dengan hati-hati.
"Ma, aku punya kabar baik untuk mama!" Norah berdiri di depan Leona. Memegang tangan ibu kandungnya itu sambil tersenyum manis.
Leona melepas tangannya lalu mengusap pipi Norah. "Sayang, ada apa?"
Norah mengatur napasnya sejenak. Dia memandang Jordan yang juga baru saja keluar dari kamar dan memandangnya dengan bingung.
"Aku hamil!"
Leone tertegun sejenak sebelum mengukir senyum bahagia. "Hamil?" Leona langsung memegang perut Norah. "Ada cucu mama di sini?"
Norah mengangguk cepat. "Dokter bilang kembar," sahut Norah lagi dengan penuh riang gembira.
"Sayang, ini berita bagus." Leona langsung menarik Norah ke dalam pelukannya. "Selamat sayang. Mulai sekarang jangan beraktivitas terlalu berlebihan. Ingat! Ada bayi yang harus kau jaga!"
__ADS_1
"Ya, Ma."
Jordan membuka kedua tangannya. Tanpa bicara Norah segera memeluk ayah kandungnya tersebut. "Dad, aku senang."
"Ya, sayang. Kami juga senang mendengarnya. Selamat ya!"
Austin yang berdiri bersama Harumi juga ikut bahagia. Leona berjongkok lalu membuka kedua tangannya. "Harumi sayang, sini peluk Oma. Oma kangen."
Harumi segera berlari. Anak kecil itu tertawa riang ketika ada dipelukan Leona.
"Itu berarti usia kandunganmu tidak jauh dari Faith?" Perjelas Jordan lagi.
Jordan membawa Norah ke sofa. Begitupun dengan Leona yang mengajak Harumi dan Austin untuk duduk di sofa. Mereka akan mengobrol di sana.
"Lalu, apa malam ini kau akan menginap di sini?" tanya Leona penuh harap.
Norah memandang ke Austin sebelum ke Leona lagi. "Maaf, Ma. Tapi Harumi sudah sekolah. Kami ke sini hanya ingin memberi tahu mama saja. Nanti malam kami akan kembali ke Sapporo."
"Gak papa. Nanti mama dan papa ikut ke Sapporo. Tadi malam mamamu baru saja bilang kalau dia merindukan rumah utama," sahut Jordan.
__ADS_1
"Benar, Ma?" tanya Norah dengan antusias.
"Ya, sayang." Leona kembali memegang perut Norah. Dia sangat bahagia karena menantu dan putrinya akan segera menjadi ibu. "Waktu berjalan dengan sangat cepat. Sebentar lagi mama akan memiliki banyak cucu." Leona kembali memandang ke arah Harumi. "Pesan mama, meskipun kau akan memiliki anak lagi. Harumi akan selalu menjadi anak pertamamu."
"Tantu, Ma. Kami sangat menyayangi Harumi." Austin langsung memeluk putri kecilnya tersebut.
"Ya, Ma. Harumi segalanya bagi kami. Semua ini berkat doa Harumi juga."
"Harumi nanti maunya adiknya laki-laki atau perempuan?" tanya Jordan iseng.
"Harumi mau adik Harumi laki-laki, Opa," jawab Harumi dengan wajah polosnya.
"Kalau perempuan bagaimana?" tanya Norah penasaran.
"Harumi juga akan menyayanginya. Tetapi mama harus memberi mainan yang sama untuk kami nanti."
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa mendengar ocehan Harumi.
Beginilah kisah generasi ke tiga. Meskipun sebelumnya mereka harus melalui rintangan yang begitu menyakitkan, tetapi pada akhirnya mereka menerima akhir yang bahagia.
__ADS_1
"Jika kau menginginkan sesuatu, berusaha dan berdoa harus berjalan beriringan. Di tambah lagi, jangan pernah berkucil hati ketika melihat orang lain berhasil terlebih dulu."