Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 57


__ADS_3

Zeroun benar-benar murkah ketika melihat darah mengalir di perut Serena. Semua musuh yang berdiri di sana ia bantai dengan begitu keji. Di bantu oleh Lukas.


Daisy, Leona dan Jordan segera membawa Serena ke rumah sakit. Mereka tidak bisa membantu Zeroun lagi karena keadaannya tidak memungkinkan. Mereka tidak mau sampai terlambat membawa Serena ke rumah sakit.


"Ma, bangun ma," lirih Leona. Wanita itu tidak bisa membendung air matanya sejak naik ke mobil. Dia memangku Serena yang sudah tidak sadarkan diri. Wanita itu terlihat sangat lelah. Dia seperti sudah tidak memiliki semangat untuk hidup lebih lama lagi.

__ADS_1


Jordan memandang ke spion sesekali. Dia juga terlihat panik saat itu. Sedangkan Daisy hanya bisa diam sambil memikirkan keadaan keluarganya. Wanita itu ingin menangis seperti yang dilakukan Leona. Tetapi, menangis tidak bisa menyelesaikan masalah.


"Belum juga mendapatkan kepastian tentang Kak Norah, sekarang rumah sudah di serang. Di tambah lagi GrandNa tertembak. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Daisy kembali ingat dengan Foster. Walau saat ini dia tidak memegang ponsel khususnya. Tetapi, dia ingat nomor telepon Foster. Wanita itu mengetik sebuah pesan dan berhasil pesan itu akan segera di baca.


"Kak, kakak dimana? Aku butuh bantuan kakak. Rumah sedang di serang. Aku tidak yakin Opa Zen dan Opa Lukas bisa mengatasinya. Mereka semua bersenjata dan memiliki bahan peledak. Kak Livy dan paman Oliver juga sedang terjebak di rumah mereka. Kediaman mereka juga di serang kak. Sekarang aku tidak tahu harus minta bantuan siapa. Tolong kak. Tolong bantu Opa Zen dan Opa Lukas. Dan tolong bantu Kak Zion. Dia entah pergi kemana. Dia berlari begitu saja mengejar musuh. Aku takut dia celaka."

__ADS_1


Jordan tertegun. Dia baru ingat kalau sekarang putranya tidak bersama dengannya. Entah kemana pria itu pergi juga Jordan tidak tahu. Namun, membiarkan Daisy membawa mobil ke rumah sakit juga bukan solusi yang terbaik untuk saat ini. Apa lagi sekarang keadaannya Leona seperti itu. Wanita itu tidak akan memiliki kemampuan jika tiba-tiba ada musuh menyerang mereka. Jordan harus bisa membawa mertuanya sampai ke rumah sakit dengan selamat.


"Daisy, papa tidak bisa meninggalkan kalian. Papa rela kehilangan rumah asalkan kalian masih bersama papa," jawab Jordan. Pria itu menambah laju mobilnya agar mereka segera tiba di rumah sakit. Leona hanya bisa menangis tanpa tahu harus bicara apa. Kepalanya terasa sakit karena terlalu banyak menangis. Hatinya juga sangat mengkhawatirkan Zion. Andai saja Serena tidak sampai tertembak, mungkin sekarang wanita itu sudah berdiri di samping putranya untuk membunuh musuh yang sudah mengusik ketenangan mereka.


Jordan hanya bisa mengepal kuat stir mobilnya. Ketenangan yang selama ini dia pikirkan ternyata tidak sama dengan apa yang dia dapatkan. Musuh masa lalu tidak akan pernah berhenti mengusik mereka. Walau kini mereka sudah tua dan berkeluarga, nyatanya musuh mereka semakin banyak dan kuat. Bahkan dari generasi selanjutnya juga muncul dan mengincar nyawa mereka. Walau bisa di bilang kemampuan mereka cukup hebat. Tetapi tidak ada jaminan kalau mereka akan terus menang.

__ADS_1


"Zion putraku. Dimanapun kau berada. Papa selalu berdoa agar kau selalu beruntung. Saat ini, papa tidak bisa membantumu," gumam Jordan di dalam hati.


__ADS_2