Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 39


__ADS_3

Austin memijat dahinya sambil menunduk di sebuah kursi yang ada di rumah sakit. Pria sedang menunggu kedua orang tuanya sebelum di bawa pulang ke rumah untuk dimakamkan. Pria yang tadi datang bersama Austin juga masih ada di sana. Mereka duduk di depan Austin tanpa berani bicara satu katapun. Mereka tahu kalau saat ini suasana hati Austin sedang tidak karuan. Mereka tidak mau jadi sasaran amosi Austin yang kini tidak stabil.


“Dimana wanita tadi?” tanya Austin tanpa memandang. Dua pria itu saling memandang. Mereka tahu siapa wanita yang dimaksud. Namun, mereka tidak terlalu fokus pada wanita itu. Mereka hanya fokus untuk menangkap dalang dari kejadian ini. Karena terlalu fokus pada satu hal, mereka sampai lupa dengan sosok yang sudah membawa Tuan dan Nyonya Clark ke rumah sakit.


“Kami, tidak tahu kemana dia pergi, Tuan,” jawab salah satu pria itu.


Austin mengangkat kepalanya. Pria itu tidak langsung emosi. Dia masih berusaha sabar menghadapi dua pria yang ada dihadapannya. “Kalian tidak memberinya imbalan atau sekedar ucapan terima kasih karena dia sudah mau membawa kedua orang tuaku ke rumah sakit ini?” Nada bicara Austin masih lembut.


“Maafkan kami, Tuan.” Dua pria itu terlihat gemetaran. Mereka tahu, setelah ini Austin pasti akan mengamuk karena jawaban yang dia dengar tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Namun anehnya, Austin hanya menarik napas dalam sebelum bersandar. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Austin memandang satu persatu pria yang kini ada di hadapannya. “Bukankah kalian sendiri yang bilang. Di mobil itu sengaja di buat jalan sendiri agar mobilnya masuk ke sungai? Kalian tahu, apa yang akan terjadi jika mobil itu sampai masuk ke sungai dan terbentur batu? Bisa saja mobil itu meledak. Atau bahkan hanyut dan aku tidak akan pernah bisa menemukan orang tuaku. Itu berarti, wanita itu sangat berjasa bagiku. Kenapa kalian mengabaikannya begitu saja? Bagaimana kalau dia berharap ucapan terima kasih tadi?”


Dua pria itu saling memandang lagi. Kali ini mereka saling memandang bukan karena perkataan Austin. Tetapi nada bicara Austin yang pada nyatanya tidak juga meninggi seperti yang mereka perkirakan sebelumnya.


“Apa kalian mendengarkanku?” tanya Austin lagi ketika dua pria di depannya tidak memberikan respon apapun.


“Ya, Tuan. Kami dengar. Kami akan mencari tahu siapa wanita itu dan mengucapkan terima kasih,” jawab dua pria itu bersamaan.


Austin hanya mengangguk saja. Ia ingat betul wajah Norah. Wanita yang ia pandang sebagai malaikat penolong jenazah kedua orang tuanya. Tanpa dia ketahui, kalau sebenarnya wanita yang sudah menolongnya adalah adik dari musuhnya sendiri.


Segerombolan perawat muncul sambil membawa brangkar yang berisi jenazah. Austin beranjak dari kursi kareka dia ingin pergi ke mobil. Dia akan menunggu kedua orang tuanya di sana sebelum berangkat ke bandara. Dia harus menahan langkah kakinya sejenak sampai segerombolan perawat itu masuk ke dalam ruang jenazah.


Austin tertegun melihat jenazah yang di bawa adalah jenazah Rula. Pria itu melebarkan kedua matanya. Memang dia tidak tahu kabar Rula setelah pertarungan berakhir. Bahkan dia tidak tahu kalau sebenarnya Rula di tangkap oleh Norah dan di kurung di penjara bawah tanah.


“Rula?” celetuk Austin hingga terdengar perawat yang membawa jenazah Rula.


“Tuan, anda mengenal wanita ini?”


“Ya, dia teman saya,” sahut Austin.


“Seseorang mengantarkannya. Dia ditemukan di jalan dalam keadaan seperti ini,” jawab salah satu perawat. Tanpa di sadarai Austin, kalau salah satu perawat di sana adalah pasukan Gold Dragon yang sedang menyamar. Ia harus tetap ada di samping Rula sampai wanita itu dikebumikan. Melihat Austin ada di sana dia mulai waspada. Dia harus bisa berakting sebaik mungkin agar tidak ketahuan.


“Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?” tanya Austin lagi.


“Pasien keracunan makanan. Sepertinya dia meminum atau memakan sesuatu tanpa tahu kalau di dalamnya ada racun,” sahut perawat itu lagi. “Tuan, kebetulan sampai sekarang kami tidak tahu keluarga pasien. Apakah anda bisa membantu kami untuk menghubungi keluaga pasien?”


Austin mengangguk pelan. Dia tahu kalau Rula memiliki adik bernama Esme yang kuliah di Universitas Yale. “Baiklah, saya akan menyampaikan kabar duka ini sama keluarganya,” jawab Austin.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan. Kami harus memasukkan jenazah ke dalam. Jika anda ingin melihatnya lagi, anda bisa masuk ke dalam setelah jenazah dibersihkan.”


Austin hanya diam saja. Dia tidak terlalu peduli dengan Rula karena memang perasaannya sejak dulu sampai sekarang tetap sama. Dia tidak pernah cinta sama Rula. Hanya rasa peduli saya yang kini dia rasakan. Dia mengambil ponselnya dan memerintahkan anak buahnya untuk menghubungi Esme dan menyampaikan kabar duka ini kepadanya. Setelah itu, Austin melangkah pergi ke rumah sakit. Ia berjalan dengan tatapan seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Pria itu masih sedih atas kepergian kedua orang tuanya hingga tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Termasuk memikirkan hukuman yang pas untuk orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


***


Pagi yang indah. Norah bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar. Dia segera menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur. Wanita itu melangkah dengan malas menuju ke jendela untuk membuka tirainya.


“Selamat hari minggu,” ujarnya pelan. Norah membuka gorden hingga terlihat jelas pemandangan indah di luar jendela sana. Burung-burung berterbangan dari pohon ke pohon. Ada senyum indah di sudut bibir Norah. Ia memandang keadaan di bawah. Alisnya saling bertaut melihat GrandNa nya duduk di kursi roda sambil memberi makan ikan. Wajah wanita itu jadi berubah sedih. Ia merasa kasihan melihat GrandNa nya sekarang hidup sendirian. Awalnya memang Aleo bersama istri dan anaknya tinggal bersama Serena. Tetapi, sejak anak Aleo dinyatakan lulus di sebuah universitas untuk melanjutkan S2 nya, mau tidak mau Aleo dan istrinya harus ikut menemani. Hingga akhirnya Serena jadi tinggal sendirian di Sapporo.


“GrandNa sudah tua.” Tiba-tiba saja Norah kepikiran untuk tinggal bersama Grandna nya. Memang selama ini dia tidak terlalu peduli dengan urusan opa dan Grandna nya. Tapi, melihat Serena seperti ini membuatnya sedih hingga ia memutuskan untuk menemani Serena.


“GrandNa pasti tidak mau jika di suruh tinggal di rumah ini. Kebetulan sekali. Aku juga ingin mencari suasana baru. Aku bosan dengan hidupku yang sekarang. Aku juga bosan dengan Gold Dragon. Sepertinya ini akan menjadi alasan yang tepat agar aku tidak perlu berada di tengah-tengah Gold Dragon lagi. Biar urusan Gold Dragon ada di tangan Kak Zion saja. Bakatku tidak terlalu hebat jika dijadikan sebagai wanita patarung.”


Suara ketukan pintu membuat Norah melangkah ke pintu. Wanita itu merapikan rambutyang yang berantakan sambil berjalan. Dia melirik ke tempat tidur yang berantakan sebelum membuka kunci kamarnya.


Pintu terbuka dengan sendirinya. Leona berdiri di sana sambil membawakan sarapan untuk Norah. Wanita itu tersenyum hangat sambil memandang wajah putrinya. “Pagi sayang. Apa kau sudah bangun? Ini mama bawakan sarapan untukmu,” ucap Leona.


Norah bangun kesiangan. Tidak ada yang membangunkannya. Bahkan Norah juga melewati jadwal sarapan bersama keluarga besarnya. Hingga akhirnya Leona berinisiatif untuk membangunkan putrinyay sambil membawa sarapan pagi. Tidak di sangka kalau Norah sudah bangun lebih dulu sebelum dia tiba. Leona bisa tahu karena dia melihat gorden jendela yang sudah terbuka.


“Masuk, Ma,” ajak Norah.


Namun, belum sempat Leona tiba di sana. Norah sudah selesai. Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan ekspresi wajah bingung ketika melihat orang tuanya berdiri seperti itu. “Apa yang mama lihat?”


Leona memandang ke arah Norah. Tadinya dia ingin bertanya. Namun, putrinya juga punya privasi yang tidak semuanya harus dia ketahui. “Tidak, Sayang. Tadinya mama ingin membersihkan tempat tidurmu saja. Tetapi, kau sudah selesai. Cepat sarapam selagi hangat,” ucap Leona dengan senyuman.


Norah mengangguk pelan. Wanita itu duduk di sofa bersama dengan Leona. Melihat sarapan yang dibawakan mamanya membuat perut Norah menjadi keroncongan. Dia mewarisi sifat yang dimiliki Serena. Tidak bisa menahan lapar. Jika sudah waktunya makan wanita itu tidak bisa menundanya untuk nanti-nanti.


“Ma, ini sangat lezat. Apa mama yang memasaknya?” tanya Norah dengan penuh semangat.


“Ya. Tapi untuk sarapan di lantai bawah tadi, pelayan yang menyiapkannya. Sudah lama mama tidak memasakkan sesuatu untukmu. Kau dan Zion sangat sibuk beberapa bulang terakhir ini. Mama sampai cemburu dengan Gold Dragon,” ucap Leona.


Norah tertawa kecil mendengarnya. “Ma, tetap mama yang selalu ada dihatiku,” jawab Norah sebelum melahap sarapan paginya.


Pintu kamar tidak di tutup rapat. Daisy dan Zion muncul begitu saja. Mereka berdua sudah wangi dan rapi. Tidak seperti Norah yang terlihat seperti orang yang baru bangun tidur. Norah memandang kakak dan adiknya sejenak sebelum melanjutkan sarapan paginya. Dia tahu kalau Daisy dan Zion sudah datang, mereka akan merebut makanan miliknya. Norah tidak suka!


“Mama pilih kasih, Kak Norah dimasakin, aku dan Kak Zion enggak,” rengek Daisy. Wanita itu duduk dan segera menempel di tubuh Leona dengan manja. Merangkul lengan Leona sambil memandang Norah dan Zion.

__ADS_1


“Sayang, mama sudah sering memasakkan makanan dan mengirimkannya ke asrama,” jawab Leona.


“Tapi aku pingin rasain masakan mama lagi,” sahut Daisy. Ia melirik makanan yang ada di meja tanpa berani menyentuhnya. “Kelihatannya enak sekali.”


“Aku tidak mau bagi,” ledek Norah. Ia justru semakin bersemangat untuk membuat Daisy iri. “Enak sekali. Ini sangat lezat,” ujarnyay dengan penuh kenikmatan.


“Mama, kakak Ma!” rengek Daisy.


Zion Cuma diam saja. Dia tidak tahu harus membela yang mana. Dua-duanya adalah adik yang sangat ia sayangi. Membela salah satunya justru hanya akan menimbulkan perselisihan paham.


“Ayo mama masakin. Kita ke dapur ya?” bujuk Leona.


“Yee!” teriak Daisy kegirangan. Dia menjulurkan lidahnya meledek Norah. Norah hanya tertawa saja melihatnya. Leona dan Daisy pergi meninggalkan kamar itu. Tertinggal Zion di sana. Pria itu memang bertahan karena ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia berikan kepada Norah. Terkait masalah Norah kabur tadi malam.


“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Zion dengan tatapan curiga.


Norah menyelesaikan sarapan paginya. Ia membersihkan mulutnya sebelum memandang Zion. “Kak, Rula sudah tewas. Dia keracunan!” ucap Norah tanpa mau banyak basa-basi.


“Bagaimana bisa? Kau yang melakukannya?” Zion terlihat kaget. Kabar ini memang baru dia dengar pagi ini. Tidak satupun pasukan Gold Dragon memberitahunya.


“Tentu saja tidak,” jawab Norah sambil memajukan bibirnya. “Aku masih memiliki hati.”


“Lalu, sekarang dia dimana?”


“Aku sudah mengirimkannya ke rumah sakit sebelum dikebumikan,” jawab Norah lagi. Dia kembali memikirkan pertemuannya dengan Austin tadi malam. Hatinya dilema. Antara ingin cerita atau tidak.


“Kau menyembunyikan sesuatu?” tuduh Zion dengan tatapan curiga.


Norah menggeleng. “Kak, kalau aku tinggal bersama dengan GrandNa bagaimana? Apa kakak setuju?”


“Kenapa kau tiba-tiba kepikiran seperti itu? Kau tidak mau aku jagain lagi? Bagaimana dengan Daisy?”


“Kakak tetap menjaga Daisy. Aku bisa jaga diri sendiri.” Norah beranjak dari kursinya dan duduk di sofa yang sama dengan Zion. Memegang tangan Zion dan memandang pria itu. “Kasihan grandna. Dia sudah tua tetapi tinggal sendirian. Aku ingin di hidup terakhir grandna, dia bisa tersenyum bersama dengan cucunya. Kalau Kak Zion kan gak mungkin. Kak Zion tugasnya jaga Daisy. Kalau begitu aku saja,” jelas Norah berharap Zion mau menyetujui idenya.


“Ya, kakak gak keberatan. Bersama GrandNa kau juga pasti aman. Tetapi, bagaimana dengan mama dan papa? Apa mereka setuju?”


Norah menggaruk kepalanya. “Bantuin ya. Agar aku bisa membujuk mereka. Ya kak ya,” pinta Norah. Dia menarik tangan Zion. “Kak ....”

__ADS_1


“Ya, aku akan membantumu. Tapi, ingat. Setiap hari kau harus meneleponku. Bila perlu video call,” pinta Zion.


“Oke, Bos!” Norah memeluk Zion dengan wajah gembira.


__ADS_2