
Daisy membuka matanya secara perlahan ketika mendengar suara dari arah jendela. Dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh sebelum turun dari tempat tidur. Sebenarnya ada perasaan takut. Namun dia juga penasaran dan ingin melihat sebenarnya siapa yang sudah berani mengganggu tidurnya malam ini.
Langkah Daisy terhenti melihat Foster berdiri di balkon kamar sambil melambaikan tangan. Ternyata pria itu yang sudah mengetuk jendela untuk memberi petunjuk kepada Daisy agar segera bangun dan menemuinya.
"Kak Foster?" Tanpa banyak kata lagi Daisy segera berlari ke jendela. Rasa ngantuknya telah hilang ketika dia melihat Foster ada di depan jendela kamar. Sejak kemarin memang kabar dari pria itu yang sangat ia tunggu-tunggu. Daisy ingin tahu bagaimana hasilnya setelah Foster memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Daisy, aku merindukanmu." Ketika pintu balkon di buka, Foster segera memeluk Daisy. Pria itu sangat merindukan wanita yang ia cintai. Berulang kali Foster mengecup pucuk kepala Daisy sebelum memeluknya dengan erat.
"Kak, kita gak bisa ada di sini. Jika ada yang lihat bisa bahaya." Daisy memandang ke dalam kamar. Membawa Foster masuk ke dalam kamar juga bukan solusi yang tepat.
"Aku sudah pikirkan hal itu sebelumnya. Aku tahu dimana tempat yang nyaman untuk mengobrol." Foster menyelimuti tubuh Daisy dengan jaket yang ia bawa. "Pakai ini agar kau tidak kedinginan."
Daisy hanya menurut saja. Wanita itu segera memakai jaket yang diberikan oleh Foster. Dia memandang ke arah Foster lalu tersenyum bahagia.
"Sekarang bagaimana?"
"Kita turun." Foster menggenggam tangan Daisy. Ternyata Foster sudah menyiapkan tangga untuk Daisy turun. Sepertinya kali ini Foster sangat bersemangat membawa Daisy kabur dari rumah.
Secara hati-hati Daisy menuruni anak tangga. Sesekali dia memejamkan mata karena takut terjatuh hingga akhirnya dia berhasil tiba dibawah dengan selamat.
"Daisy, ayo kita pergi."
"Tapi, kemana kak? Kalau Kak Zion tahu, ini bisa jadi masalah besar. Kak Zion akan semakin membenci kak Foster."
"Tenang saja. Aku akan bertanggung jawab. Aku pastikan tidak ada yang melihat kita." Foster segera menarik tangan Daisy dan membawanya menuju ke pintu gerbang belakang. Penjaga di sana sudah di atasi oleh Foster. Pria itu kini bisa dengan bebas keluar masuk.
Dari balik dinding, Zion melipat kedua tangannya sambil memperhatikan Daisy dan Foster. Rasanya ingin sekali dia muncul dan memberi pelajaran kepada Foster karena sudah berani membawa adiknya keluar rumah tanpa izin. Namun suasana hari Zion lagi bagus. Dia tidak mau marah-marah. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mengikuti Foster dan Daisy secara diam-diam dan menguping apa yang akan mereka bicarakan.
Foster membawa Daisy ke lapangan golf. Jelas saja di sana sangat dingin. Pepohonan yang berbaris terlihat sangat menyeramkan. Sekeliling hanya ada kegelapan malam. Daisy merasa takut. Namun dia tetap berani karena ada Foster di sampingnya.
"Kak, untuk apa kita ke sini malam-malam?" Daisy memperhatikan keadaan sekitar sekali lagi.
Karena lokasinya gelap, Zion bisa dengan mudah bersembunyi. Pria itu berdiri di balik pohon yang tidak jauh dari kursi tempat Foster dan Daisy duduk saat ini.
"Tenanglah. Duduk sini." Foster meminta Daisy untuk duduk. Sedangkan pria itu sendiri berlari ke tengah lapangan.
"Kak, mau kemana? Jangan jauh-jauh. Aku takut," teriak Daisy.
Zion menaikan satu alisnya. Dia masih sabar untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Meskipun detik ini dia merasa kasihan melihat Daisy yang mulai ketakutan.
Foster berjongkok lalu mengambil korek api dari saku. Pria itu menghidupkan kembang api yang sudah ia susun rapi sebelum berlari menghampiri Daisy lagi.
"Kejutan!" teriak Foster.
Daisy beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu merasa bahagia melihat kembang api yang menyala terang di depannya. Ada banyak sekali kembang api. Lokasi yang tadinya gelap kini berubah menjadi benderang.
"Untuk apa semua ini kak?"
"Selamat ulang tahun," bisik Foster.
Daisy menggeleng. "Aku tidak ulang tahun malam ini kak," sangkal Daisy.
"Kita," jawab Foster mantap. "Malam ini adalah malam jadian kita. Tanggal jadian yang akan kita ingat dan kita rayakan setiap tahunnya. Aku ingin kita menikah di tanggal ini."
__ADS_1
"Menikah?" Daisy semakin bingung. Dia masih belum paham dengan maksud hati Foster.
"Kedua orang tuaku telah memaafkan kesalahanku. Mereka sudah menerimamu sebagai menantu di keluarga Matthew!" teriak Foster kegirangan.
Daisy melebarkan kedua matanya dengan wajah tidak percaya. "Beneran kak? Kakak berhasil berdamai dengan kedua orang tua Kak Foster? Mereka mau memaafkan Kak Foster?"
"Ya, Daisy." Foster mengambil tangan Daisy lalu memandang wanita itu dalam-dalam. "Aku mencintaimu. Setelah ini, kita tidak akan terpisahkan lagi. Hanya maut yang memisahkan kita."
Foster mendekati wajah Daisy karena ingin mencium bibir wanita itu. Belum sampai bibirnya mendarat sempurna, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara deheman Zion.
Daisy dan Foster sama-sama memandang ke belakang. Mereka berdua sama-sama melotot melihat Zion muncul di balik pohon. Padahal tadinya Foster sempat berpikir kalau ada musuh yang mengincar nyawa mereka. Tidak di sangka kalau ternyata itu adalah Zion Zein.
"Kakak?" celetuk Daisy. Wanita itu merasa malu karena dia yakin kalau apa yang mereka lakukan dan mereka bicarakan bisa di dengar dan dilihat langsung oleh Zion.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Foster segera berdiri di samping Daisy untuk meminta perlindungan. Sedangkan Daisy sendiri langsung memikirkan alasan yang tepat agar Zion tidak marah padanya.
"Kak, maafkan aku karena tidak ijin. Kak Foster hanya memberiku kejutan. Tidak lebih dari itu," ucap Daisy. Dia memandang wajah Foster berharap pria itu juga mau mengeluarkan kata agar Zion tidak semakin salah paham.
"Kami hanya berciuman." Foster segera menutup bibirnya. Daisy menepuk kepalanya sambil memejamkan mata. "Maksud saya, saya dan Daisy ...."
"Mau ciuman kalau saya tidak muncul?" potong Zion dengan nada yang tegas.
Foster menghela napas untuk mengatur ekspresi wajahnya. "Saya dan Daisy mau menikah," ucap Foster mantap.
"Apa?" celetuk Daisy dan Zion bersamaan.
Foster memandang Daisy sejenak sebelum tertawa kecil. "Apa ada yang salah?"
Foster mengangguk. "Kami saling mencintai. Tidak sepantasnya kami dipisahkan. Keluargaku sudah bisa menerima Daisy. Aku harap keluarga Daisy juga bisa menerimaku." Foster sadar kalau dia sudah salah bicara. Tidak sepatutnya dia membahas soal pernikahan untuk saat ini. Namun nasi sudah menjadi bubur. Karena sudah terlanjur di bahas, jadi Foster tidak mau mundur lagi.
"Kapan?" tantang Zion.
"Kak, ini salah paham," sahut Daisy cepat. Wanita itu memandang ke arah Foster. Dia menarik pria itu untuk mendiskusikan masalah pernikahan ini sekali lagi.
"Ada apa?" bisik Foster.
"Ini gak lucu. Bagaimana kalau Kak Zion serius? Bahkan Kak Norah belum menikah. Targetku akan menikah setelah Kak Zion menikah. Kita masih terlalu muda. Aku belum siap menikah," bisik Daisy pelan.
"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi tadi." Foster merasa bersalah. "Maafkan aku."
Daisy mengatur napasnya. "Baiklah, ayo kita temui Kak Zion lagi dan katakan padanya kalau tadi hanya candaan saja. Jangan bicara lagi. Biar aku saja yang bicara dengan Kak Zion."
Foster hanya mengangguk saja. Pria itu juga tidak mau buat masalah lagi.
Zion menaikan satu alisnya melihat Foster. Sebenarnya dia sudah mulai bisa menerima Foster sebagai adik iparnya. Namun, entah kenapa masih sulit untuk memperlihatkan sikap lembut di depan Foster.
"Kak, kakak gak tidur? Ayo kita pulang. Sambil jalan pulang aku akan ceritakan semuanya sama kakak," bujuk Daisy berharap kali ini Zion mau mengikuti keinginannya.
Zion memandang ke arah Foster dengan tatapan yang begitu tajam. "Jadi, kapan kalian menikah?"
...***...
__ADS_1
"Selamat. Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri."
Semua tamu undangan yang hadir bertepuk tangan dengan penuh gembira. Mereka merasa sangat bahagia melihat Livy dan Norah yang kini tersenyum bahagia di depan sana. Kini dua wanita itu sudah menikah. Mereka telah bersatu dengan pria yang mereka cintai.
Hari ini adalah hari pernikahan Livy dan juga Norah. Mereka menikah di tempat yang sama sesuai dengan rencana para orang tua sejak awal. Semua keluarga berkumpul di sana untuk merayakan hari bahagia tersebut. Tidak ada yang absen satupun karena mereka semua dipaksa untuk hadir.
Austin segera mencium Norah begitu juga dengan Abio yang segera mencium Livy. Kini wanita yang berdiri di depan mereka sudah sah menjadi istri mereka. Meskipun awalnya harus ada perjuangan yang begitu besar tetapi pada akhirnya mereka berhasil mencapai kebahagiaan itu sendiri.
"Akhirnya Kak Norah dan Kak Livy berhasil menikah dengan pria yang mereka cintai. Ini pemandangan manis yang selama ini aku bayangkan," gumam Daisy dengan mata berbinar. Foster yang saat itu ada di samping Daisy ikut tersenyum bahagia sambil sesekali memandang kedua orang tuanya yang baru saja tiba.
"Aku sudah janji sama Kak Zion untuk menikahimu dua tahun lagi. Tapi, setelah melihat mereka menikah, aku jadi ingin menikah denganmu hari ini juga." Daisy yang mendengar hal itu segera mencubit perut Foster.
"Jangan katakan hal yang tidak penting. Lebih baik diam!" protes Daisy dengan nada pelan. Foster hanya menghela napas tanpa mau membantah.
"Kedua orang tuaku sudah tiba. Ayo kita temui mereka. Aku juga sudah tidak sabar melihatmu akrab dengan orang tuaku." Foster segera membawa Daisy pergi dari sana. Mereka berdua berjalan menuju ke kursi tempat kedua orang tua Foster berada.
"Ma, ini Daisy," ucap Foster memperkenalkan Daisy.
Daisy masih merasa canggung. Setiap detiknya wanita itu kembali memikirkan penolakan kedua orang tua Foster beberapa waktu yang lalu. Rasanya ia terus saja merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping Foster setelah kejadian itu.
"Daisy?" Ibu kandung Foster berdiri. Dengan senyuman ramah wanita itu membuka kedua tangannya dan memeluk Daisy. "Senang bertemu denganmu Daisy."
Daisy merasa tidak takut lagi. Kini wanita itu justru merasa sangat nyaman ada di dalam pelukan Ibu kandung Foster. "Saya juga senang bertemu dengan anda, Tante. Foster sering kali bercerita tentang anda. Dia sangat menyayangi anda."
Foster melirik Daisy. Sebenarnya dia tidak pernah membanggakan kedua orang tuanya seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Daisy. Namun, jika sudah seperti ini pria itu tidak bisa menyangkalnya lagi.
"Daisy, terima kasih karena sudah membujuk Foster untuk pulang. Kami sangat merindukannya saat itu. Hanya saja sebagai orang tua, kami merasa gengsi hingga tidak mau meminta maaf duluan," ucap Ny. Matthew sedih.
"Tante, semua ini sudah takdir. Sekeras apapun bujukan saya jika hati Kak Foster keras, maka semua tidak akan terjadi."
"Oh ya, dimana orang tuamu Daisy? Tante ingin bertemu dengan mereka."
"Mama sama papa ...." Daisy mencari-cari keberadaan orang tuanya. "Di sana Tante. Tante bisa ke sana menemui kedua orang tuaku." Daisy menunjuk ke arah kedua orang tuanya berada.
"Oh ya, Tante akan ke sana. Tante juga ingin bicara banyak dengan mereka. Terutama membahas hubungan kalian berdua."
Daisy memandang Foster lalu tersenyum. Rasanya wanita itu bahagia melihat suasana hangat dan damai seperti sekarang.
Ny. Matthew berjalan mendekati Leona. Wanita itu mengepal kuat tangannya. Di dalam pikirannya, keluarga mafia adalah sekelompok orang yang begitu menakutkan. Tidak di sangka orang-orang yang ada di lokasi pesta justru terlihat sangat bersahabat sampai-sampai suasana pesta pernikahan terasa hangat.
"Nyonya," sapa Ny. Matthew pelan.
Leona memutar tubuhnya dan memandang Ny. Matthew dengan alis saling bertaut. "Maaf, anda siapa?"
"Saya ibu kandungnya Foster, Nyonya."
Leona melebarkan kedua matanya. Ia belum mendapatkan informasi terbaru kalau sebenarnya Foster sudah berdamai dengan kedua orang tuanya. Kabar terakhir yang diterima Leona bahwa kedua orang tua Foster tidak menyetujui hubungan Daisy dan Foster.
"Untuk apa anda datang ke sini? Hemm, maksud saya. Siapa yang sudah mengundang anda, Nyonya." Leona masih bersikap ramah dengan nada bicara yang lembut.
"Saya di undang oleh Daisy. Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Ini menyangkut masa depan anak kita."
Leona mulai merasa tidak enak. Namun dia tetap menyetujuinya. "Baiklah. Di sini saja. Cepat katakan." Leona memandang wanita di depannya dengan saksama.
__ADS_1
"Nyonya, anak kita sudah sangat dekat dan saling mencintai. Apa tidak sebaiknya kita segera menikahkan mereka saja."
"Menikah?" celetuk Leona kaget. Bagaimanapun juga sampai detik ini, Daisy adalah putri kecilnya yang sangat dia manja.