Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 53


__ADS_3

Norah membuka kedua matanya secara perlahan. Angin dari jendela bertiup dengan begitu kencang hingga membuatnya kedinginan. Wanita itu terlihat kehabisan tenaga karena belum makan dan juga tidak ada minum.


"Sebenarnya aku ada di mana? Kenapa ada laut di depan sana?" gumam Norah di dalam hati. Wanita itu kembali mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri.


Norah masuk ke mobil yang sudah disiapkan di halaman depan. Wanita itu terlihat sangat ceria karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya, Zion dan juga Daisy. Senyum indah mengembang di bibirnya. Norah mengambil ponselnya lalu memilih games favoritnya. Sama sekali tidak ada firasat kalau dia akan mengalami musibah.


Tanpa di sadari, mobil yang membawanya menuju ke jalan yang salah. Norah masih terlalu asyik bermain dengan ponselnya. Dia bahkan sama sekali tidak curiga dengan supir yang melajukan mobil yang ia tumpangi. Hingga tiba-tiba aroma farpum membuat Norah mengangkat kepalanya. Wanita itu memandang ke depan sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Norah sangat-sangat menyesali kecerobohannya. "Supir itu. Ya, sepertinya supir itu telah bekerja sama dengan Mr. A." Norah kembali mengingat perdebatan antara Austin dan Mr. A di ruangan tadi. Wanita itu menghela napas panjang.


"Austin. Apa dia benar-benar akan bertarung dengan Kak Zion? Seharusnya dia tahu kalau keputusan yang dia ambil salah." Norah diam sejenak. "Mr. A. Sebenarnya siapa dia? Kenapa suaranya seperti tidak asing. Apa dia tahu kalau aku ini adik Zion Zein? Sebenarnya Mr. A ini menculikku karena dendam sama Kak Zion atau dendam sama Austin?" Norah menggeleng kepalanya yang terasa pusing. "Aku selama ini memakai topeng. Sepertinya ada yang berkhianat. Seperti apa yang pernah dikatakan Opa Zen. Musuh kami tidak akan pernah tahu wajah kamu kecuali mereka berada di dekat kami selama 24 jam. Kira-kira siapa yang sudah berani berkhianat. Bukankah sejauh ini pasukan Gold Dragon terlihat sangat setia. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau mereka rela mengorbankan nyawa mereka hanya demi keselamatan pemimpin mereka."


Pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Norah kaget. Wanita itu menatap dengan tajam ke arah pria yang datang dengan makanan dan minuman di tangannya. Dia melirik Norah dengan kebencian sebelum membanting makanan dan minuman yang ia bawa di depan Norah. Sampai-sampai separuh dari makanan dan minuman itu tumpah di lantai.


"Apa yang ingin dia lakukan? Apa dia pikir aku bisa makan dan minum dengan menggunakan mata? Apa dia pikir hanya dengan memandang makanan dan minuman itu aku sudah kenyang?" umpat Norah di dalam hati.


Pria itu membuka ikatan di mulut Norah dan menyuapi wanita itu dengan kasar. Norah yang tidak terima, memilih untuk memalingkan wajahnya. Dia lebih baik tidak makan dari pada harus makan dengan cara seperti itu.


"Jala*Ng!" karena emosi, pria itu menampar wajah Norah dengan kasar. Sampai-sampai sudut bibir Norah mengeluarkan darah yang segar. Tidak hanya dari Bibir. Tetapi, dari hidung juga. Pukulan pria itu memang sekuat tenaga. "Makan atau kau akan ku bunuh!" ancamnya.


"Cuih!" Norah justru meludah ke arah wajah pria itu. Tawanya pecah ketika melihat salivanya mendarat di dekat mata pria tersebut.


"Kau ingin membunuhku? Lakukan kalau kau bisa! Pimpinanmu masih membutuhkan nyawaku untuk mengendalikan Austin! Mereka akan membunuhku setelah kau menghabisi nyawaku!" teriak Norah. Dia sangat puas bisa berbicara seperti itu.

__ADS_1


Pria di depan terlihat semakin emosi. Pria itu mengambil pistol dan segera melekatkan ujungnya di pelipis Norah. Norah tidak takut sama sekali. Wanita itu justru tersenyum menyambut kematiannya.


"Kau benar! Aku memang tidak bisa membunuhmu sekarang!" Pria itu menarik pistolnya. "Tetapi, setelah kau tidak berguna lagi. Aku orang yang akan menyiksa dan menghabisi nyawamu!" sambungnya sebelum pergi meninggalkan Norah sendirian di dalam sana. Norah hanya tersenyum pahit melihatnya. Dia lagi-lagi berusaha melepas ikatan di kaki dan tangannya. Walaupun sudah berdarah karena terkena gesekan tali, tetap saja ikatan itu tidak terbuka.


"Aku sudah melakukan semua trik yang di ajarkan Opa Zen. Kenapa tidak berhasil juga membuka tali ini?" umpat Norah dengan wajah kecewa. Pada akhirnya dia pasrah. Dia berusaha mengatur emosinya agar bisa memikirkan cara untuk kabur dari tempat terpencil ini.


...***...


Austin tiba dikediamannya. Pria itu terlihat sangat gusar hingga membuat Paman Tano curiga. Biasanya Austin akan menyapa Paman Tano lebih dulu sebelum masuk ke dalam kamar. Kali ini, bahkan keberadaan Paman Tano saja tidak lagi terlihat Dimata Austin. Semua orang yang berdiri di dekatnya seperti tidak ada. Austin hanya memikirkan keselamatan Norah. Pria itu benar-benar gila di buat oleh permainan Mr. A.


"Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan Nona Norah?" gumam Paman Tano di dalam hati. Dia melangkah menuju ke kamar Austin. Tentunya dia tidak akan tidur nyenyak jika belum tahu permasalahan yang kini dihadapi Austin. Belum sempat tiba di depan kamar Austin, Paman Tano di buat kaget ketika pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Austin berdiri dengan pakaiannya yang telah terganti. Di tangannya ada tas yang Paman Tano sendiri tidak tahu isi di dalamnya apa.


"Tuan, anda mau pergi ke mana?"


"Tuan, apa ini berhubungan dengan The Bloods?" Paman Tano memang tidak berbakat dalam hal penyelidikan. Namun, dia tahu kalau akhir-akhir ini Austin di kejar oleh pemimpin pasukan The Bloods yang lama.


Austin menahan langkah kakinya. "Tidak ada, paman," jawab Austin tanpa memandang.


"Tuan, seberat apapun masalah yang akan anda hadapi nanti. Anda harus ingat satu hal. Anda pernah berjanji di depan makam kedua orang tua Anda kalau tidak akan menggunakan kedua tangan anda untuk membunuh lagi. Jangan buat kedua orang tua Anda yang sudah tidak ada di dunia ini menjadi sedih dan kecewa."


Austin mengepal kedua tangannya dengan begitu erat. Saat ini dia dihadapkan pilihan yang begitu sulit. Antara janji dan sumpah! Austin telah berjanji untuk membebaskan Norah dari cengkraman Mr. A. Tetapi dia juga sudah bersumpah untuk tidak membunuh lagi.


"Saya permisi, Paman. Saya tidak akan kembali ke rumah ini dalam waktu dekat," ucap Austin sebelum melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


Paman Tano hanya bisa memandang punggung Austin yang semakin menjauh dari dirinya. "Semoga masalah yang anda hadapi segera terselesaikan. Semoga kedua tangan anda tidak digunakan untuk membunuh lagi. Apapun dan seberat apapun masalah yang anda hadapi, membunuhku bukan solusi."


Austin melajukan mobilnya menuju ke bandara. Pasukan The Bloods sudah menunggunya di kediaman yang lama. Dia harus segera menyelesaikan semuanya. Norah harus segera di bebaskan.


***


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 15 jam, pada akhirnya Austin tiba di New York. Kedatangannya sudah di sambut oleh pasukan The Bloods. Mereka semua terlihat bahagia melihat Austin hari ini. Mereka semua sudah tidak sabar bertarung di bawah pimpinan Austin Clark.


"Bos, bagaimana kabar anda? Kami sudah mempersiapkan segalanya. Bahkan foto dan alamat rumah Zion Zein kami sudah mengetahuinya," ujar salah satu pria yang saat itu menyambut Austin.


Austin hanya diam saja. Dari balik kaca matanya dia memandang beberapa pasukan The Bloods yang baru. Sudah pasti itu orang-orang yang dikirimkan oleh Mr. A untuk mengawasi Austin selama ada di Amerika. Sedikit saja pengkhianatan yang dilakukan oleh Austin, maka mereka akan segera melaporkannya kepada Mr. A.


"Bos, anda mau melihat fotonya?" tawar pria tadi.


Austin mengangkat tangannya dan menerima foto itu. Dia memandang wajah Zion tanpa topeng dengan alis saling bertaut. Tiba-tiba saja dia merasa kalau Zion mirip sama seseorang. Tetapi siapa?


"Bos, ini foto dua adik kandung Zion Zein. Ternyata mereka ada tiga bersaudara," ucap pria itu lagi.


Austin justru memberikan foto Zion kepada pria itu tanpa mau melihat foto dua adik kandung Zion yang tidak lain adalah Daisy dan Norah.


"Aku tidak memiliki masalah dengan adiknya!" sahut Austin sebelum melangkah lagi. Pria yang tadi memasukkan semua foto yang ia miliki lalu mengejar Austin agar tidak ketinggalan.


Beberapa pria yang menjadi mata-mata Mr. A hanya bisa saling pandang. Hampir saja rencana mereka terbongkar.

__ADS_1


"Kita harus bisa pastikan. Jangan sampai dia tahu kalau wanita itu adik Zion Zein," ucap pria berbadan tegap itu kepada rekannya. Rekannya hanya mengangguk saja. Mereka juga segera mengikuti Austin dari belakang.


__ADS_2