Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 42


__ADS_3

Daisy berbaring di atas tempat tidur sambil memandang ke jendela. Dia tahu kalau saat ini pasukan Gold Dragon sedang mengawasinya. Namun, entah kenapa dia ingin bertemu dengan Foster. Dia ingin menjawab pertanyaan pria itu. Dia ingin mengatakan kepada Foster kalau dia juga mencintai Foster. Namun, Daisy tidak tahu bagaimana caranya. Pasukan Gold Dragon akan memberi tahu Zion jika mereka melihat Norah keluar dari kamar malam-malam seperti ini.


“Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Kak Foster?” gumam Daisy di dalam hati. Dia memiringkan tubuhnya ke samping dan memeluk guling. Pikirannya terus saja mencari ide agar bisa bicara dengan Foster.


“Sepertinya aku pernah menyimpan nomor telepon Kak Foster.” Daisy beranjak dari tempat tidur. Wanita itu mengambil buku catatan dan mencari nomor Foster yang pernah dia tulis. Bibirnya tersenyum manis ketika dia berhasil menemukan nomor telepon Foster. “Semoga saja nomornya masih sama.”


Daisy memandang ke jendela. Dia menutup gorden sebelum mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Wanita itu yakin, kalau pasukan Gold Dragon akan berpikir kalau Daisy sudah tidur. Jadi, tidak mengawasinya dengan ketat lagi. Memang sekarang adalah jam tidur Daisy. Kalau hanya sekedar telepon saja mungkin tidak akan ketahuan pikirnya.


Daisy kembali ke tempat tidur. Dia mengambil ponsel rahasianya yang sengaja dia simpan di bawah kasur. Wanita itu menekan nomor telepon Foster. Debaran jantungnya menjadi tidak karuan hingga membuat Daisy ragu untuk menghubungi Foster.


“Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan nanti?” gumam Daisy bingung. Dia memandang nomor itu hingga beberapa saat sebelum menekan tombol hijau. Wanita itu menarik napas dalam-dalam ketika panggilan teleponnya telah tersambung.


“Halo, siapa ini?” sahut Foster di kejauhan sana. Daisy memejamkan matanya. Bibirnya kesulitan bicara. Dia takut dan grogi. “Halo,” ujar Foster lagi. Pria itu belum menyimpan nomor Daisy, jadi dia tidak tahu kalau yang menghubunginya malam ini adalah Daisy.


“Kak Foster,” ucap Daisy dengan nada yang lembut.


“Daisy ….” Hanya mendengar suara Daisy saja dia sudah tahu kalau itu adalah Daisy. “Apa benar ini kau, Daisy? Ini nomormu?”


“Ya, Kak,” jawab Daisy sambil tersenyum. “Kak Foster sudah tidur?”


Foster yang tadinya memang sudah mau tidur segera duduk di atas tempat tidur. Rasa kantuknya telah hilang ketika dia mendengar suara Daisy. “Aku belum tidur. Aku belum ngantuk. Daisy, Aku senang kau menghubungiku seperti ini.”


“Kak, ada yang ingin Daisy katakan sama Kakak.” Nada bicara Daisy sangat pelan hingga membuat Foster harus serius mendengarnya.


“Ada apa, Daisy?”


“Sebenarnya ….” Daisy memejamkan mata sambil mengigit bibir bawahnya. “Sebenarnya.”


“Sebenarnya apa?” tanya Foster bingung. “Apa kau baik-baik saja?”


“Aku juga suka sama Kak Foster,” jawab Daisy cepat. Rasanya jantungnya mau copot ketika bibirnya mengucapkan kalimat seperti itu.


Foster tertegun mendengarnya. Antara percaya dan tidak percaya. “Daisy, kau juga mencintaiku?”


Daisy mengangguk. Padahal lawan bicaranya tidak bisa melihatnya secara langsung. “Aku juga mencintai Kak Foster.”


Foster kegirangan. Namun dia tidak mau berteriak sekarang. Dia masih menahan rasa gembira itu. “Terima kasih. Daisy. Terima kasih. Aku senang mendengarnya. Tadinya aku pikir cintaku ini bertepuk sebelah tangan. Itu berarti, mulai sekarang kita pacaran?”

__ADS_1


“Tetapi, ada yang harus Daisy sampaikan kak ….”


“Tentang Kak Zion?” tebak Foster.


“Ya, Kak. Kak Zion tidak mau Daisy pacaran. Dekat sama laki-laki saja tidak boleh,” ucap Daisy apa adanya. “Bagaimana caranya kita pacaran?”


“Itu masalah gampang. Kita bisa pacaran diam-diam. Ini lagi tren,” ujar Foster tanpa beban. “Jika nanti kau sudah tamat kuliah, aku akan langsung menemui kedua orang tuamu dan melamarmu Daisy ….”


Daisy seperti melayang mendengar rencana manis yang diucapkan Zion. “Baiklah kak. Sekarang Daisy mau tidur dulu ya.”


“Baiklah, sayang. Mimpi yang indah ya. I love you …,” ucap Foster mesra.


Daisy tersipu malu dibuatnya. Foster merupakan pria pertama yang ia sukai sekaligus menjadi pacar pertamanya. Jelas saja Daisy masih kaku ketika ada pria yang mengucapkan kata-kata mesra seperti Foster. “Selamat malam, Kak.” Daisy segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia meletakkan ponsel itu di depan dada sambil tersenyum bahagia. “I love you? Kak Foster bilang I Love you?” gumam Daisy dengan wajah tersipu malu.


Dengan menyembunyikan ponselnya ke bawah tempat tidur lagi. Tidak lupa mematikannya terlebih dahulu agar tidak ada yang tahu kalau dia memiliki ponsel rahasia di bawah tempat tidur. Setelah itu Daisy meletakkan buku catatannya di nakas sebelum berbaring di tempat tidur. Dia memandang langit-langit kamar dengan bibir tersenyum indah.


“Seperti mimpi. Aku tidak menyangka kalau sudah jadian sama Kak Foster. Aku senang sekali,” gumam Daisy di dalam hati. Ia kembali ingat dengan Norah. Wanita itu biasanya akan selalu mendukung keputusan Daisy. Berbeda dengan Zion yang selalu tidak setuju jika masalahnya menyangkut soal pria.


“Kak Norah lagi sibuk gak ya?” Daisy mengambil ponsel yang biasa ia gunakan untuk menghubungi semua orang. Termasuk Zion. Dia tahu kalau di Sapporo saat ini pasti sudah pagi. Tidak ada halangan bagi Daisy untuk menghubungi kakaknya. Hanya saja dia khawatir kakaknya sedang sibuk hingga tidak bisa mengangkat teleponnya.


Dua tiga kali panggilan telepon Daisy tidak di angkat. Padahal biasanya saat Norah masih ada di sini wanita itu cepat sekali mengangkat telepon Daisy. Entah apa yang dilakukan Norah saat ini hingga akhirnya membuat wajah Daisy terlihat kecewa.


***


Norah baru saja masuk ke kamar lagi setelah tadi sarapan dan menemani Serena berjemur di taman. Wanita itu lupa bawa ponsel. Setibanya di dalam kamar ia segera memeriksa ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Tiga panggilan tidak terjawab. Wanita itu memandang ke arah jam dinding. Dia ingin menghubungi langsung, tetapi jika sekarang Daisy sedang tidur. Wanita itu hanya akan mengganggu tidur adiknya.


“Kenapa Daisy menelepon? Apa ada hal penting yang ingin dia sampaikan? Seharusnya dia baik-baik saja karena penjagaan Kak Zion sangat ketat,” gumam Norah di dalam hati. Karena penasaran, dia memilih untuk menghubungi Zion untuk memastikan kalau Daisy baik-baik saja.


“Halo, Kak,” ucap Norah pelan. “Kakak belum tidur?”


“Ada apa Norah? Apa kau dan GrandNa baik-baik saja?” tanya Zion khawatir.


“Kak, kami baik-baik saja. Tadi Daisy sempat menghubungiku. Tetapi, aku tidak membawa ponsel keluar rumah. Apa sekarang Daisy baik-baik saja?”


“Ya, dia baik-baik saja. Mungkin dia merindukanmu. Bukankah terkadang kau akan menemaninya tidur di kamar asrama?”


Norah menghela napas panjang. Ya, memang biasanya Daisy meminta Norah untuk menemaninya di kamar jika Norah masih ada di sana. Sekarang wanita itu harus tidur sendirian karena Zion tidak mungkin menemaninya. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan Zion saat malam hari.

__ADS_1


“Ya, mungkin saja. Besok jika dia sudah bangun aku akan menghubunginya,” jawab Norah.


“Norah, tetap jaga kesehatan ya. Kakak gak mau kau sakit,” pinta Zion.


“Baik, Kak. Kakak tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Norah sayang kakak.” Norah memutuskan panggilan teleponnya. Wanita itu meletakkan ponselnya lagi di tempat tidur. Dia memandang ke jendela untuk menikmati pemandangan yang begitu indah di luar sana. Bibirnya tersenyum.


Namun, tiba-tiba saja Norah kembali ingat dengan pertemuannya bersama Austin tadi malam. Wanita itu lagi-lagi dilema. Bahkan malam dimana dia membawa kedua orang tua Austin waktu itu belum ia ceritakan kepada Zion. Sekarang dia harus menyimpan rahasia baru lagi dari Zion. Norah merasa bersalah. Biasanya dia selalu terbuka sama Zion. Tidak ada hal apapun yang dia rahasiakan. Sekecil apapun itu. Sekarang jika ingin bercerita, Norah takut Zion salah paham.


“Maafkan aku, Kak.” Norah beranjak dari tempat tidur. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tidak lupa dompet kartu dan juga senjata api. Wanita itu ingin jalan-jalan mengitari kota Sapporo. Bahkan dia memiliki niat untuk mengunjungi Opa Kenzo dan Oma Shabira di kediamannya.


“Aku ingin pergi ke rumah Opa Kenzo dan Oma Shabira. Setelah itu aku ingin jalan-jalan ke tempat indah yang ada di kota ini,” gumam Norah penuh semangat. Wanita itu mengambil kunci sepeda motornya yang tergeletak di dekat meja rias sebelum mengganti sendalnya dengan sepatu boot. Penampilan Norah pagi itu terlihat sangat segar. Walau tidak mengenakan gaun, tetapi dia tetap terlihat anggun dengan rok pendek hitam dan kaos ketat yang kini ia kenakan. Tidak lupa jaket favoritnya juga ia bawa karena perjalanannya kali ini cukup jauh.


Norah menuruni tangga sambil memakai jaket hitam yang tadi dia ambil. Sambil berjalan, dia memeriksa lagi barang bawaannya. Di lantai bawah, sudah ada Serena yang kini duduk di sofa sambil menonton layar televisi. Wanita tua itu memiringkan tubuhnya ketika mendengar ada yang turun dari tangga.


“Norah, kau mau kemana?”


Norah memandang ke arah Serena. “Norah mau pergi ke tempat Oma Shabira, GrandNa. Sejak Norah di Sapporo, Norah belum pernah berkunjung ke sana.”


Serena tersenyum. “Hati-hati di jalan ya sayang.”


“Baik, GrandNa!” teriak Norah. Wanita berjalan menuju ke pintu utama. Dia memperhatikan lagi kediaman Endritz Chen yang sudah tua. Memang tetap di rawat, tetapi tetap saja itu bangunan yang sudah tua. Norah sendiri merasa bosan ada di dalamnya. Tidak ada pemandangan segar yang bisa di lihat seperti kediamannya di Cambride.


“Selamat siang, Non,” sapa pria penjaga pintu.


“Siang, Pak!” jawab Norah. Dia segera menuju ke sepeda motornya yang sudah terparkir di depan. Wanita itu memakai helmnya dan naik ke sepeda motor. Dia sempat memanasi mesin sepeda motornya. Menarik-narik gasnya hingga keluar kepulan asap di belakangnya. Pengawal yang berjaga di sana hanya bisa geleng-geleng kepala. Selama dia menjaga rumah keluarga Edritz Chen, hanya Norah yang ia temui sangat suka menaiki sepedan motor. Rela basah jika kehujanan. Rela kepanasan jika matahari begitu terik. Padahal pengawal itu sendiri tahu kalau keluarga Edritz Chen masih sanggup membelikan cucunya mobil sport keluaran terbaru untuk Norah. Tapi, entah kenapa Norah lebih memilih sepeda motor.


Setelah di rasa cukup, Norah segera melajukan sepeda motornya. Wanita itu sedikit membungkuk dan terlihat sangat senang. Dia meninggalkan kediaman Edritz Chen dan mungkin akan kembali nanti malam. Wanita itu ingin menyegarkan pikiran setelah beberaa minggu berdiam diri di dalam rumah.


Sambil menyanyikan lagu favoritnya, Norah terlihat sangat happy. Sampai-sampai wanita itu tidak sadar kalau ada mobil yang mengikutinya dari belakang. Wanita itu mulai sadar ketika ada lampu merah. Norah berhenti dan memandang ke spion. Alisnya saling bertaut melihat segerombolan orang turun dari mobil. Detik itu dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Toh, ada banyak orang yang menunggu lampu merah di sana. Tidak hanya dia saja.


“Turun!” Tiba-tiba sebuah senjata api diarahkan ke Norah. Norah yang tadinya ingin melaju kencang harus mengurungkan niatnya. Mau tidak mau dia turun dari sepeda motor.


“Ada apa ini?” tanya Norah bingung.


Pria lainnya membawa sepeda motor Norah pergi. Norah melebarkan kedua matanya dan tidak terima. “Hei! Apa yang kau lakukan! Kembalikan!”


Ketika pria yang tadi menodongkan senjata api ingin memukul Norah, tiba-tiba Austin muncul. Pria itu menghajar pria yang ingin mencelakai Norah. Norah memandang ke belakang. Dia memandang Austin dengan alis saling bertaut. Belum sempat mengeluarkan kata, Austin sudah memegang tangannya.

__ADS_1


“Ikut denganku. Kita tidak akanmenang melawan mereka,” ucap Austin. Pria itu menarik tangan Norah dan membawanya masuk ke dalam mobil. Masih dalam keadaan memakai helm. Norah yang tadinya merasa bisa melawan semua orang yang ada di sini lagi-lagi memilih untuk memendam kemampuannya.


Austin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali memandang ke spion. Norah melepas helmnya sambil mengumpat di dalam hati. “Kenapa aku harus bertemu dia lagi!”


__ADS_2