Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 97


__ADS_3

Hujan turun dengan deras hingga membasahi jalan raya. Langit yang gelap seolah mewakili hati Daisy yang kini sedang patah hati.


Karena tidak mau ketahuan yang lain, akhirnya Daisy memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia tidak mau ketika menangis, terlihat oleh Norah atau kedua orang tuanya.


Siang itu Zion yang mengantarkannya pulang. Sepanjang jalan Daisy terus saja meminta kakak kandungnya itu untuk tidak mencelakai Foster. Bahkan dengan wajah memohon Daisy meminta Zion untuk melupakan kesalahan yang sudah diperbuat oleh Foster. Walau sudah jelas-jelas Foster yang salah, tapi tetap saja dia melindungi pria itu.


Hujan yang deras membuat pandangan ke depan tidak jelas. Zion harus melajukan mobilnya dengan hati-hati. Walau sudah berjanji sama Daisy untuk tidak melukai Foster, tapi tetap saja pria itu tidak tenang. Dia tidak akan pernah merasa puas sebelum melihat Foster celaka dan menderita.


"Aku tidak tahu harus cerita ke siapa lagi sekarang. Kak Norah lagi sakit. Mama juga sibuk jaga Kak Norah. Hanya GrandNa yang selalu memiliki waktu untuk mendengarkan ceritaku. Bahkan sahabat saja sekarang aku tidak punya. Sekarang aku harus bagaimana? Cerita sama Kak Zion sama saja memancing singa yang sedang tidur. Aku tidak bisa memendam ini semua sendirian," keluh Daisy di dalam hati. Rasa sesak di dalam dadanya harus segera diluapkan agar dia bisa bernafas dengan lega. Namun, dia tidak tahu harus cerita kepada siapa. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Daisy juga tidak terlalu dekat dengan semua orang. Termasuk Livy. Daisy memang anak yang tertutup selama ini.


"Kau masih memikirkan pria itu?" tebak Zion tanpa memandang. "Aku akan membuatmu melupakan semua tentang dia," sambungnya lagi.


Daisy berusaha untuk tidak meneteskan air mata lagi walau sebenarnya hatinya masih terluka parah. "Kak, semua orang sibuk akhir-akhir ini. Siapa yang menjaga Opa Zen?"


"Opa Zen?" Zion mengeryitkan dahi. "Kakak juga tidak tahu. Kata Opa Lukas, Opa Zen masih belum mau bicara dengan siapapun."


Daisy mengangguk. "Aku ingin bertemu dengan Opa Zen. Aku ingin melihat keadaan Opa Zen."


"Kau yakin?" tanya Zion ragu.


Daisy mengangguk pelan. "Bolehkan?"


"Tentu saja boleh. Aku akan menjemputmu nanti malam."


"Jangan. Aku akan menginap di rumah Opa Zen. Aku janji tidak akan kabur." Daisy mengangkat kedua jarinya dengan senyum manis di bibirnya. "Aku bukan wanita lemah. Aku tidak serapuh yang kakak pikirkan."


Zion hanya diam saja. Dia tahu adiknya itu sedang berbohong. Demi menjaga Daisy, nantinya Zion akan meminta pasukan Gold Dragon untuk melindungi Daisy agar tidak kabur apa lagi sampai menemui Foster di Sapporo.


Karena arah rumah Zeroun Zein. berlawanan arah dengan rumah mereka, Zion harus memutar arah mobilnya di persimpangan jalan. Pria itu lagi-lagi memikirkan nasip adiknya. Entah kenapa tiba-tiba saja dia juga ragu dengan Austin. Padahal sebelum masalah Daisy dan Foster, pria itu sudah mantap untuk menerima Austin menjadi adik iparnya.


"Kak, apa badan kakak masih terasa sakit? Sebaiknya kakak istirahat saja. Aku akan meminta Kak Livy untuk merawat kakak," bujuk Daisy.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Livy juga memiliki banyak urusan," tolak Zion. Dia memperhatikan mobil yang berbaris di belakangnya sebelum memutar arah mobilnya. Walau Mr. A sudah tewas, tapi tetap saja dia harus waspada dimanapun berada.


Zeroun membangun rumah di dekat hutan dan bukit. Lokasinya jauh dari keramaian dan dipenuhi dengan kabut tebal setiap hujan dan pada pagi hari. Baru memasuki wilayahnya saja mereka berdua sudah merasa dingin yang teramat sangat. Tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah itu. Ada banyak sekali sniper yang berjaga untuk melindungi Zeroun selama pria itu tidak mau bicara dengan siapapun.


Zion memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk. Seorang pria berbadan tegap menyambut kedatangan Daisy dan juga Zion. Tetapi Zion tidak mau turun. Pria itu harus segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Austin.


"Aku masuk ya kak," pamit Daisy.


Zion mengangguk. "Ingat pesanku!"


"Oke bos!" Sebisa mungkin Daisy memasang wajah ceria. Dia turun dari mobil dan berdiri di sampingnya. Daisy masih berdiri di sana sampai mobil Zion benar-benar jauh.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang tadi menyambut kedatangan Daisy.


"Apa Opa ada di dalam?"


Pria itu terlihat ragu. Namun, dia tidak bisa menghalangi Daisy untuk masuk. Apa lagi dia tahu kalau Daisy adalah salah satu cucu yang disayangi Zeroun Zein.


"Mari, Nona. Saya akan mengantarkan anda bertemu dengan bos Zeroun."


"Nona, Bos ada di dalam. Bos baru saja bangun tidur. Anda bisa masuk ke dalam." Pria itu membukakan pintu. Dia terpaksa memasukkan Daisy tanpa izin dari Zeroun. Toh sekarang Zeroun memang tidak mau merespon siapapun.


"Terima kasih," ucap Daisy.


"Saya akan meminta pelayan membuatkan minuman hangat untuk anda Nona."


Daisy mengangguk. Dia segera masuk ke dalam kamar karena sudah tidak sabar bertemu dengan Zeroun.


Zeroun duduk di atas ranjang sambil memandang ke jendela. Pria itu mengenakan setelan piyama dengan kaki di tutupi selimut. Wajahnya dan kulitnya terlihat pucat karena sudah lama tidak terkena sinar matahari. Walau masih mau makan atau minum, tapi tingkah laku Zeroun seperti orang koma. Hal itu membuat sedih semua orang.


"Opa ...." Daisy berusaha menyapa Zeroun. Walau dia tidak mendapatkan respon apapun, tetapi Daisy tetap saja berjalan ke ranjang bahkan naik di atasnya. Dia duduk di samping Zeroun dan memegang tangan Zeroun. Mengecupnya sebagai bentuk hormatnya kepada sang opa.

__ADS_1


"Opa...." Kali ini Daisy tidak kuat lagi. Dia langsung menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Zeroun dan menangis sejadi-jadinya. "Opa, hatiku sakti Opa. Sakit sekali."


Daisy tahu Zero tidak akan meresponnya. Tetapi setidaknya ada yang mendengarkan curhatannya.


"Dia meninggalkanku. Dia ...." Isak tangis Daisy sangat pilu hingga menyayat hati. "Dia memutuskan hubungan ini tanpa alasan. Aku sangat mencintainya Opa. Hatiku sakit sekali. Apa seperti ini jatuh cinta? Aku tidak pernah mau mengenal cinta jika harus berakhir sakit Opa. Opa ... sekarang apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku melupakannya? Aku sudah cinta mati padanya Opa. Jika bukan bersamanya, aku tidak akan mau menikah dengan pria manapun. Ini memang sangat bodoh. Aku masih muda dan tidak sepantasnya memikirkan percintaan. Tapi, dia sudah memiliki seluruh hatiku. Bagaimana caranya aku membuang namanya dari ingatan Opa?"


Diasy menangis terisak-isak. Masih ada di atas pangkuan Zeroun. Hanya menangis sebentar saja sudah membuat kedua matanya bengkak dan merah. "Opa ... apa yang harus aku lakukan?"


Karena terlalu banyak menangis, Daisy kelelahan. Wanita itu memejamkan matanya dan tertidur di atas pangkuan Zeroun. Pelayan wanita masuk dengan cokelat panas.


"Nona-"


Pelayan itu tidak berani melanjutkan kalimatnya ketika melihat Zeroun mengangkat satu tangannya. Setelah meletakkan cokelat panas di meja, mereka segera pergi.


Zeroun memandang Daisy dan mengusap rambut wanita itu dengan lembut. Ada senyum di bibirnya. "Opa tidak akan membiarkan cucu Opa menderita karena cinta. Kau pasti bisa mendapatkan orang yang kau cintai, Daisy!"


Foster melajukan mobilnya dengan wajah yang sangat sedih. Sebenarnya dia sangat mencintai Daisy. Dia sangat menyayangi Daisy. Bahkan Foster ingin menikah dengan Daisy nanti.


Namun, kedua orang tuanya tidak memberikan restu atas hubungan mereka. Masalah keluarga besar Daisy memang sudah sampai ditelinga kalangan elit. Salah satunya kedua orang tua Foster. Mereka tidak mau sampai Foster celaka lagi. Apa lagi sampai tewas di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Mereka mau Foster itu menjadi pengusaha sukses agar hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan soal dendam di masa lalu. Kedua orang tua Foster tidak mau sampai Foster terlibat dalam masalah keluarga Daisy. Bukan main-main ancaman kedua orang tua Foster.


Ibu kandung Foster akan bunuh diri jika Foster tetap menjalin hubungan dengan Daisy. Foster tidak mau sampai hal itu terjadi. Dia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Terutama wanita yang sudah melahirkannya.


"AARRGHHH!" Foster memukul-mukul stir mobilnya. Dia masih belum sanggup membayangkan wajah sedih Daisy di rumah sakit tadi. "Aku pria tidak berguna! Pria brengsek!"


Foster melihat ponselnya berdering. Itu panggilan dari Daisy. Ternyata Daisy masih belum puas bicara dengan Foster. Wanita itu ingin tahu apa yang sudah menyebabkan Foster melakukan semua ini. Daisy merasa yakin kalau Foster pasti sangat mencintainya.


"Maafkan aku, Daisy. Aku akan semakin menyakitimu jika harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak perlu tahu. Dengan memandangku sebagai pria jahat, aku harap kau bisa melupakanku dengan cepat," ucap Foster sebelum menekan tombol merah yang ada di layar ponselnya. Pria itu membuang ponselnya begitu saja ke jok belakang. Dia melajukan mobilnya menuju ke sebuah gedung apartemen. Pria itu ingin menemui seseorang untuk menenangkan hatinya.


Tidak butuh waktu lama, Foster sudah tiba di gedung yang ia tuju. Pria itu menghela napasnya dan mengusap wajahnya dengan tangan sebelum turun. Dengan gusar pria itu melangkah menuju ke sebuah lift.

__ADS_1


Baru ingin menekan tombol lift yang ada di sana, tiba-tiba orang yang ia cari sudah muncul di hadapannya. Foster tersenyum memandang sahabatnya itu.


"Apa kabar?"


__ADS_2