Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 209


__ADS_3

Semua orang berkumpul di dalam ruangan Zean. Leona dan Jordan duduk di dekat Zean seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Sedangkan Dominic, Faith dan Zion ada di sofa sambil menikmati keindahan kota Dubai pada malam hari.


"Kira-kira apa yang papa bicarakan dengan wanita itu? Apa kau tahu?" bisik Dominic di telinga Faith.


"Aku juga tidak tahu," jawan Faith apa adanya. Wanita itu memandang Zion sejenak sebelum memandang Dominic lagi. "Kakak sudah makan?"


Zion melirik mendengar Faith memanggil kakak. Wajahnya kecewa ketika mengetahui kenyataan kalau saat itu Faith sedang berbicara dengan Dominic bukan dirinya.


Dominic tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Zion. "Terlalu percaya diri!" sindir Dominic.


"Kakak kenapa bicara seperti itu?" ujar Faith tidak suka.


"Apa kau ingin membelanya?" Dominic melempar tatapan tajam hingga membuat Faith geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Zion, Faith, kemarilah," ujar Leona.


Dominic segera bangkit dan memegang tangan Faith. Pria itu mengawasi adiknya agar tidak dekat-dekat dengan Zion. Zion beranjak dari sofa setelahnya. Pria itu memandang wajah Leona yang kini mengukir senyuman manis.


"Sayang, kemarilah." Leona memegang tangan Faith lalu meminta wanita itu berdiri di sampingnya. Dominic terpaksa melepas tangan Faith. Pria itu juga sudah tidak sabar untuk mendengar apa yang sejak tadi didiskusikan oleh orang tuanya.


"Tante dan papamu sudah sepakat. Malam ini kau dan Zion akan bertunangan," ucap Leona mantap.


"APA?" celetuk Zion, Faith dan Dominic bersamaan.


"Pesta pertunangan tidak perlu diadakan karena kau dan Zion akan langsung menikah setelah papa sembuh. Cincin itu akan menjadi simbol kalau kau sudah menjadi milik Zion begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, kalian berdua tidak diperbolehkan lagi membuka hati untuk orang lain," jelas Zean.


"Tidak! Aku tidak setuju mereka bertunangan. Apa lagi secepat ini." Dominic lagi-lagi berusaha untuk menggagalkan perjodohan antara Faith dan Zion .

__ADS_1


"Kau tidak memiliki alasan untuk menolak perjodohan ini," sahut Zion tidak suka.


"Jelas saja ada. Aku ini kakaknya Faith. Aku berhak untuk menentukan siapa jodoh adikku!" ketus Dominic tidak mau kalah.


"Zion adalah ipar yang baik. Kau tidak akan menyesal menerimanya sebagai suami adikmu. Zion ini juga pemimpin geng mafia Gold Dragon. Dia tangguh. Sangat cocok denganmu. Jika kalian bekerja sama kalian akan semakin kuat. Tidak ada lagi yang berani mengusik kalian berdua," ucap Zean dengan penuh keyakinan.


Dominic memandang Faith yang memilih untuk diam saja. Pria itu sedang memikirkan cara untuk membuat perhitungan kepada calon adik iparnya tersebut. Setelah beberapa detik ruangan itu kembali hening. Hingga akhirnya Dominic angkat bicara dan mengeluarkan kata. "Baiklah. Aku setuju jika adikku menikah dengan Zion Zein. Tapi ada syaratnya."


"Katakan saja syaratnya sekarang. Tante yakin Zion pasti sanggup untuk memenuhinya," ucap Leona dengan penuh percaya diri.


Dominic memalingkan wajahnya dan memasang wajah angkuh. "Aku ingin Zion Zein menjadi adik ipar yang baik."


Leona tersenyum mendengarnya. Dia merasa sangat percaya diri kalau Putra pertamanya itu bisa memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Dominic. Syarat itu terbilang sangat mudah.

__ADS_1


"Baiklah, kami setuju. Apa kita sudah bisa memulai pertunangannya?" ucap Leona dengan penuh antusias. Berbeda dengan Zion Zein yang kini menatap Dominic dengan tatapan penuh arti. "Kenapa tiba-tiba firasatku menjadi tidak enak," gumam pria itu di dalam hati.


__ADS_2