Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 157


__ADS_3

Matahari bersinar dengan terang. Semua orang berada di ruang yang berbeda-beda. Zeroun, Katterine, Oliver dan Lana berada di ruangan Livy. Biao, Sharin, Alana dan Kwan berada di ruang Abio. Sedangkan sisanya Leona, Jordan dan Daisy berada di ruang Norah. Karena dokter yang menangani pasien berbeda-beda.


Mereka bertiga tidak bisa di satukan dalam ruangan yang sama. Termasuk Livy dan Abio. Sedangkan Kenzo dan Shabira, mereka harus ke Sapporo karena ada urusan penting di sana. Mereka juga berjanji untuk segera kembali. Mereka juga ingin menemui Aleo dan memberi tahu masalah yang sekarang mereka hadapi agar Aleo bisa lebih waspada terhadap keluarganya.


Zion, Lukas, Austin dan Foster sudah dalam perjalanan menuju ke Las Vegas. Mereka akan menyerang Dominic dengan strategi yang sudah mereka persiapkan. Selama penyerangan, Zeroun tidak mengizinkan keluarganya keluar masuk rumah sakit. Pria itu merasa yakin kalau keadaan di luar belum aman.


Saat itu Daisy merasa bosan berada di dalam ruang perawatan Norah. Meskipun ruang itu mewah, tetap saja membosankan bagi Daisy. Dia tidak bisa bergerak bebas. Di tambah lagi sekarang Daisy sangat ingin tahu kabar kekasihnya. Dia takut Foster dan Zion bertengkar selama perjalanan menuju ke Las Vegas. Sampai detik ini Foster belum memberi kabar apapun kepadanya.


"Ma, aku boleh ke depan?" tanya Daisy sambil memandang Leona yang duduk di sampingnya.


"Sayang, Opa Zen bisa marah. Apa yang ingin kau lakukan di depan?"


"Aku mau berjemur di atap, Ma. Di sini membosankan," sahut Daisy. "Tapi jika Opa tidak ijin, aku tidak akan pergi. Aku juga tidak mau Opa Zen marah."


"Maafkan mama ya. Untuk saat ini kita menurut saja demi kebaikan semua orang," ucap Leona dengan ekspresi wajah menyesal.


Daisy mengangguk. Jordan memandang Daisy sekilas sebelum memandang Leona lagi. Pria itu duduk di samping tempat tidur Norah. Dia terlihat sangat khawatir melihat keadaan putrinya. Wajah Norah masih di perban. Entah seperti apa wajah Norah setelah di buka perbannya nanti.


"Ma, Daisy boleh ke ruangan Kak Livy? Daisy mau bertemu dengan Opa Zen," ucap Daisy lagi.


"Baiklah. Hati-hati ya." Leona menyelipkan rambut Daisy sambil tersenyum. Daisy hanya mengangguk saja sebelum beranjak dari sofa dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Setibanya di depan ruangan, Daisy tidak merasa ada yang aneh. Pasukan Gold Dragon juga masih terlihat berjaga-jaga di sana. Ruangan Livy di rawat ada di samping ruangan Livy dan Abio. Wanita itu tidak perlu berjalan jauh karena jarak ruangan yang satu dengan ruangan yang lainnya sangat dekat.


"Kakak."


Daisy menahan langkah kakinya ketika seorang anak kecil tiba-tiba saja menarik gaunnya.


"Kau memanggilku?" tanya Daisy sambil menunjuk dirinya.


"Ya," jawab anak kecil itu sambil mengangguk. Daisy langsung berjongkok agar bisa memandang wajah anak kecil itu secara langsung.


"Ada apa anak manis? Ada yang bisa Kakak bantu."


Daisy melirik boneka beruang yang kini dipeluk anak kecil tersebut. Dia tidak tega untuk menolaknya. "Kakak juga ingin menjenguk Kakaknya Kakak di ruangan sana. Kakak akan pegangkan boneka ini. Jika nanti kau sudah selesai boleh menunggu Kakak di kursi ini. Kakak juga tidak akan lama di ruangan itu."


Anak kecil itu mengangguk cepat sambil tersenyum bahagia. "Terima kasih Kak. Bonekanya jangan sampai jatuh ya."


"Baiklah." Daisy segera menerima boneka tersebut. Dia segera masuk ke dalam ruangan Livy. Wanita itu bahkan tidak menunggu anak kecil itu sampai masuk ke ruangan yang tadi dia tunjuk.


Setibanya di dalam ruangan Livy semua orang memandang ke arah Daisy dan mengukir senyuman manis. Katterine yang saat itu sedang makan buah menawarkan buah yang ada di piring kepada Daisy. Daisy tersenyum manis sebelum melangkah dan duduk di dekat Katterine berada.


"Bagaimana keadaan Kak Livy, Tante?"

__ADS_1


"Livy sudah jauh lebih baik. Tetapi dia belum juga mau bangun."


Daisy memandang Opa Zen. Ternyata pria tua itu sedang tidur karena kelelahan. Sepanjang malam dia tidak bisa memejamkan mata karena terlalu mengkhawatirkan cucunya.


"Boneka ini lucu sekali. Apa kau baru saja membelinya?" ucap Lana. Wanita itu duduk di dekat Daisy juga.


"Tadi ada anak kecil menitipkan boneka ini kepadaku, Oma," jawab Daisy apa adanya.


"Menitipkan?" sahut Oliver dengan ekspresi yang begitu serius.


"Iya. Anak kecil itu bilang kalau tantenya tidak bisa melihat boneka. Karena tidak mau boneka ini dikutip oleh orang lain jadi dia menitipkannya kepadaku."


Oliver berjalan menghampiri Daisy. Pria itu mengambil boneka yang kini ada di genggaman Daisy lalu melekatkannya di telinga. Oliver menghela nafas kasar lalu memandang Lana.


"Tante, sepertinya di dalam boneka ini ada bomnya."


"Bom kau bilang?" Lana melebarkan kedua matanya.


Katterine dan Daisy juga sama-sama berdiri dari sofa dengan wajah panik. Tidak dengan Oliver yang masih terlihat tenang.


Opa Zen segera membuka matanya dan duduk di atas tempat tidur. Pria itu mengacungkan jemarinya. "Berikan boneka itu kepadaku!"

__ADS_1


__ADS_2