Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 101


__ADS_3

Zion memandang wajah Austin ketika pria itu mengigau nama Norah. Ada senyuman di bibir Zion. Rasanya dia senang melihat calon adik iparnya itu terus saja memanggil-manggil nama adiknya walau dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Austin, apa kau mendengarku?" Zion berusaha mengajak Austin ngobrol agar pria itu segera sadar. Pria itu juga memegang tangan Austin dan menggenggamnya dengan erat. "Hei, bangunlah!"


Kedua kelopak mata Austin mulai bergerak. Secara perlahan, pria itu membuka lebar matanya. Karena terkena sinar lampu, Austin kembali memejamkan matanya. Dia menutup wajahnya dengan tangan sebelum membuka matanya lagi secara perlahan.


"Aku tahu kau pasti segera sadar. Kau membuatku tidak tenang seharian ini."


Zion kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Austin. Karena Austin tidak memiliki orang tua lagi dan Zion juga tidak tahu siapa saja orang-orang yang dekat dengan Austin. Pada akhirnya Zion memutuskan untuk menjaga pria itu sampai sadar. Hitung-hitung sebagai bentuk ucapan terima kasihnya karena sudah mau membantu menyelamatkan Norah.


"Dimana Norah? Apa dia baik-baik saja."


"Ya. Dia di rawat di ruang sebelah. Norah tidak tahu kalau kau ada di sini. Kondisi Norah lumayan buruk. Banyak sekali luka di sekujur tubuhnya akibat pukulan balik kayu. Dokter tidak memperbolehkannya banyak bergerak. Maka dari itu, aku merahasiakan kebenaranmu di ruangan ini. Aku tahu jika Norah tahu kalau kau tidak sadarkan diri, dia pasti akan memaksakan diri untuk menemuimu," jelas Zion apa adanya.


"Ya. Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Aku ingin menemui Norah. Aku ingin melihat langsung keadaannya." Austin segera duduk. Dengan santainya dia menggerakkan kakinya agar bisa turun.


"Apa yang kau lakukan? Dokter harus memeriksa kedua kakimu terlebih dahulu," protes Zion.


"Aku merasa jauh lebih baik sekarang!" Pertama kali kedua kakinya menapak, Austin tidak merasakan dinginnya lantai. Hingga akhirnya pria itu hampir saja terjatuh ke lantai kalau saja Zion tidak menangkapnya.


"Keras kepala!" umpat Zion.


"Apa yang terjadi dengan kakiku?" Wajah Austin pucat. Dia takut jika kakinya tidak bisa digunakan lagi.


"Aku bukan dokter!" Zion membantu Austin kembali duduk di atas tempat tidur. Dia menekan tombol yang akan memanggil dokter. "Sekarang berbaringlah. Dokter akan segera datang untuk memeriksa kedua kakimu. Semoga saja tidak ada yang serius."


Austin menghela napas dan memijat kepalanya sendiri. "Mr. A benar-benar merepotkan. Bisa-bisanya dia menancapkan benda tajam itu ke kakiku!"


"Beruntung racunnya cepat di atasi oleh Livy. Jika tidak, kau bisa beneran lumpuh!" sahut Zion.


"Livy?" Austin diam sejenak sambil mengingat lagi siapa Livy. Wajahnya berseri ketika dia berhasil mengingat wajah Livy. "Ha, Ya. Wanita itu. Apa dia dokter?"


"Hemm," jawab Zion malas.


Pintu terbuka. Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan tersebut. Zion menyingkir untuk memberikan ruang kepada dokter yang ingin memeriksa keadaan Abio.

__ADS_1


"Tuan, apa anda merasa pusing atau mual?" tanya dokter itu.


"Tidak. Saya tidak merasakan sakit sedikitpun. Hanya saja, kaki saya tidak bisa merasakan lantai yang saya pijak."


"Untuk beberapa hari ini anda harus menggunakan kursi roda, Tuan. Setelah racunnya benar-benar hilang, anda baru diperbolehkan belajar jalan lagi," jelas dokter itu.


"Kursi roda? Apa sekarang saya bisa pergi dengan kursi roda?"


"Boleh, Tuan. Tapi ini sudah malam. Anda mau pergi kemana? Anda tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh."


"Dia hanya ingin pergi ke ruang sebelah, Dok. Saya akan menjaganya," sahut Zion.


"Baiklah, Tuan. Yang penting ada yang menemani." Dokter itu merasa sudah selesai melakukan pemeriksaannya. Dia berpamitan sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan suster yang tadi ikut bersama dengannya.


"Apa sekarang aku boleh menemui Norah?"


"Lebih baik besok pagi saja. Kau harus banyak istirahat!" tolak Zion. Dia tidak mau Austin sembuhnya setengah-setengah.


"Baiklah," jawab Austin kecewa.


"Ada apa?" ketus Zion.


"Bos, pria itu datang ke rumah sakit lagi. Sekarang dia ada di parkiran."


"Cegah jangan sampai masuk. Aku akan ke bawah untuk menemuinya. Apa lagi yang dia inginkan!" umpat Zion kesal. Pria itu memutuskan panggilan teleponnya dan memandang Austin lagi.


"Siapa? Kenapa kau terlihat tidak suka?"


"Si Foster brengsek!" sahut Zion mantap.


"Foster? Kenapa dengannya? Bukankah semua baik-baik saja?"


"Ya, seharusnya. Tapi dia membuat kekacauan tadi pagi. Aku harus menemuinya. Aku ingin mendengar langsung alasannya mengatakan kalimat seperti itu apa." Zion memeriksa ke arah jendela dan segala arah yang ada di ruangan itu untuk memastikan tidak ada yang menyelusup masuk dan bersembunyi.


"Pergilah. Aku tidak akan turun. Aku akan baik-baik saja di sini. Tapi, bolehkah aku menghubungi Norah sekarang? Setidaknya aku bisa mendengar suaranya.'

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Aku pergi ke bawah dulu." Zion segera pergi. Sedangkan Austin nenek nomor Norah karena sudah sangat merindukan suara wanita itu.


...***...


Foster tidak bisa menerobos masuk ke dalam ketika pasukan Gold Dragon menghalanginya. Kini pria itu menunggu di samping mobil sambil sesekali menekan nomor Daisy. Apapun resikonya, Foster telah siap. Dia akan menjelaskan alasannya memutuskan hubungan dengan Daisy dan berharap Zion mau mengerti.


"Berani sekali kau datang ke sini lagi. Apa kau tidak sayang dengan nyawamu? Tadi pagi aku membiarkanmu pergi karena permintaan Daisy. Tapi malam ini, Daisy tidak ada di sini. Aku akan menghajarmu dan membuatmu menyesal karena sudah berani menyakiti hati adikku!" ancam Zion sambil memandang Foster dengan tatapan tidak suka.


"Kak Zion, aku-"


"Jangan sok akrab!" ketus Zion tidak suka. Foster kembali bungkam. Pria itu mengangguk dan menyadari kesalahannya sendiri.


"Saya tahu, maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahan saya. Tapi, saya ingin anda tahu kalau saya itu sangat mencintai Daisy. Apapun rela saya lakukan demi kebahagiannya."


"Kau sudah menyakitinya. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah lancang seperti anda. Apapun alasannya, saya tidak mau tahu!" Nada bicara Zion sudah mewakili kalau pria itu mulai di sulut api emosi. Jika Foster tidak segera pergi, mungkin pria itu akan pulang dengan keadaan babak belur. "Pergi atau kau akan mati!"


Foster masih tidak mau menyerah. "Mama mengancam saya akan bunuh diri jika saya tetap menjalin hubungan dengan Daisy. Tadi pagi saya sangat kalut hingga mengambil keputusan bodoh seperti itu. Sekarang saya menyesal. Saya ingin memperbaiki semuanya." Foster mengatupkan tangannya. Dia memandang Zion dengan tatapan memohon. "Tolong, maafkan saya. Izinkan saya bertemu dengan Daisy lagi untuk menjelaskan semuanya."


"Foster, semuanya sudah jelas. Kedua orang tuamu tidak suka dengan Daisy dan aku sebagai kakak kandung Daisy tidak menyukaimu. Jadi, pergilah jauh-jauh dari kehidupan Daisy. Sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bersatu!"


Foster berlutut di hadapan Zion. Memang pria itu sudah bertekad untuk mendapatkan maaf dari Daisy, Apapun akan ia lakukan. Termasuk mengemis maaf dari Zion dan juga Daisy.


"Tolong, maafkan saya. Saya janji akan membahagiakan Daisy. Saya tidak akan menyakitinya."


"Pergi!" Zion memutar tubuhnya dan pergi. Pria itu sengaja tidak mau menyakiti Foster karena pria itu juga pernah berjasa saat misi menyelamatkan Daisy.


Pasukan Gold Dragon mendekat. Mereka harus memastikan kalau Foster tidak nekad masuk.


"Saya sangat mencintai Daisy, Tuan ...," teriak Foster sekencang-kencangnya. Berharap Zion mau berhenti. Tetapi pada nyatanya tidak. Zion masuk ke dalam lift untuk kembali ke lantai atas.


"Tuan, sebaiknya anda pergi saja," ucap pasukan Gold Dragon yang ada di sana.


Foster diam sejenak meratapi nasipnya. Pria itu berdiri dan masuk ke dalam mobil. Wajahnya sangat kusut karena dia tidak berhasil mendapatkan maaf dari Zion maupun Daisy.


"Masih ada hari esok. Aku akan berjuang sampai berhasil. Soal mama akan aku pikirkan nanti," gumam Foster di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2