
10 Tahun yang lalu.
Zion mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu di kejar oleh segerombolan pesepeda motor yang tidak dikenali. Saat itu usia Zion masih 18 tahun. Kemampuan bela dirinya belum banyak. Jika sampai diserang dalam keadaan sendirian seperti ini, dia pasti kalah.
Mobil yang ditumpangi Zion kehabisan minyak. Memang perjalanan yang dia tempuh bukan main jauhnya. Sekarang dia harus segera pergi dari sana agar tidak tertangkap. Berulang kali dia memarahi mobilnya sendiri. Walau dia tahu itu semua percuma.
"Sial!" Zion memandang dari spion untuk memeriksa apakah segerombolan orang bersepeda motor yang mengejarnya masih ada di belakang. Dia bisa sedikit lega ketika mereka tidak terlihat. Pria itu memperhatikan lokasi sekitar. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Zion mengambil ponselnya dari saku. Wajahnya lagi-lagi kesal ketika dia tidak menemukan signal di sana. Bersamaan dengan itu, musuh mulai terlihat kembali. Kali ini tanpa pikir panjang dia segera turun dari mobil untuk menyelamatkan diri.
Zion berlari menuju ke sebuah desa yang tidak jauh dari sana. Pria itu berharap di sana dia bisa mendapatkan pertolongan. Zion menahan langkah kakinya ketika melihat seorang wanita yang sedang tertawa riang. Wanita itu bermain dengan teman-temannya di bawah pohon yang rindang. Mereka semua terlihat sangat bahagia tanpa peduli kalau langit sudah hampir gelap.
Wanita itu adalah Faith. Zion masih terpaku memandang Faith yang sedang bermain. Gadis berusia 15 tahun itu terlihat sangat bahagia hidupnya. Cantik dan ceria. Itu kesan pertama yang diberikan Zion ketika bertemu dengan Faith.
Tanpa sadar Zion ikut tertawa ketika Faith gantian berjaga. Matanya di tutup dengan kain dan dia harus menangkap temannya. Senyum di bibir Faith membuat Zion lupa diri.
Zion mengeryitkan dahinya ketika teman-teman Faith memilih pergi secara diam-diam. Faith di tinggal sendirian. Zion berjalan mendekati Faith karena ingin melihat Faith lebih dekat lagi. Sampai-sampai dia lupa dengan musuh yang ingin menangkapnya.
Faith meneriaki satu persatu nama temannya. Wanita itu terus berjalan hingga akhirnya berdiri di pinggir jurang. Zion berlari untuk mengejar. Dia tidak mau sampai Faith masuk ke dalam jurang.
"Kalian dimana?" teriak Faith yang masih terus mencari. Sebelum masuk ke dalam jurang, Zion menarik tangan Faith.
"Awas!" teriak Zion.
Faith berputar dan berteriak. Hingga pada akhirnya tubuh Faith ada di atas tubuh Zion. Wanita itu segera membuka kain yang menutupi kedua matanya. Dia sangat syok ketika mengetahui tubuhnya kini ada di atas tubuh seorang pria.
"Siapa kau?"
Zion segera menyingkirkan Faith. Pria itu duduk dan memandang ke samping. Di sana telah terlihat segerombolan orang yang ingin menangkap Zion. Zion tidak memiliki pilihan lain sekarang. Dia berdiri di pinggir jurang. Di bawah ada air sungai yang mengalir deras. Karena tidak mau sampai tertangkap, Zion segera melompat ke dalam jurang.
***
Norah memijat kepalanya dengan lembut. Di depannya terlihat Zion yang merasa puas karena sudah menceritakan awal mula pertemuannya dengan Faith. Dia merasa seperti memiliki alasan yang kuat untuk menyalahkan Faith karena tidak mengingatnya.
"Hanya seperti itu?" tanya Norah.
"Ya," jawab Zion dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Setelah masuk jurang, apa Kakak ada bertemu lagi dengannya?" Norah berusaha tetap tenang. Walau sebenarnya dia ingin sekali menertawai kakak kandungnya.
"Tidak. Itu menjadi pertemuan kami yang pertama dan terakhir. Bahkan saat itu aku tidak tahu siapa namanya. Tapi setidaknya aku pernah bertemu dengannya bukan?"
"Itu berarti kak Faith tidak salah karena tidak mengenali kakak. Pertemuannya saja seperti itu. Kalian berdua bahkan tidak berkenalan. Tidak mengobrol. Jelas saja tidak saling kenal. Mungkin kakak akan mengingat wajah Kak Faith karena kakak kagum sama dia. Tapi, bagaimana dengan Kak Faithnya sendiri? Pertemuan singkat itu tidak meninggalkan kesan apapun kak. Berhentilah menyalahkan Kak Faith. Karena di sini, Kak Faith tidak salah. Kakak yang salah karena terlalu berharap lebih!"
Zion menghela napas sebelum bersandar. "Sebenarnya kau ini ada di pihakku atau di pihaknya?" Zion tidak terima jika Norah menyalahkan dirinya.
"Kak, kakak harus berpikir dengan pikiran yang lebih jernih. Memang dari cerita kakak bisa aku simpulkan kalau kakak sudah menyelamatkan nyawa Kak Faith. Kalau saja Kakak tidak ada di sana, entah bagaimana nasip Kak Faith. Aku akui itu nilai plus untuk Kak Faith mengingat kakak. Tetapi, masalahnya kalian tidak sempat bicara. Bahkan mungkin saja Kak Faith tidak sadar kalau kakak berniat menolongnya. Jangan-jangan dia mengingat kakak sebagai pria yang mesum lagi karena sudah menariknya secara paksa dan membuatnya ada di atas tubuh kakak."
"Lalu sekarang aku harus bagaimana agar dia tahu kalau kami pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zion dengan wajah frustasi.
"Ceritakan yang sebenarnya terjadi. Hanya itu solusi satu-satunya," jawab Norah dengan santai.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan kalau dia bilang dia tidak mengingatnya?"
"Jika memang ceritanya seperti itu, seharusnya dia ingat. Tetapi, jika dia mengingat kakak sebagai pria mesum, ini bisa gawat. Bisa-bisa dia tidak mau bertemu dengan kakak lagi!" Norah merasa puas karena kali ini dia bisa membuat kakak panik. Jarang-jarang dia bisa seperti ini. Biasanya selalu saja Zion yang membuatnya tidak tenang dan khawatir.
Zion diam sejenak. Dia tidak mau sampai Faith menilai buruk tentang dirinya. "Kau saja yang bertemu dengannya. Aku tidak bisa."
"Baik. Tapi setelah bertunangan ya? Sesuai perjanjian awal."
***
Hari terus berganti. Faith memang aman sejak dia tinggal di rumah yang disediakan Zion. Tetapi wanita itu merasa bosan. Dia terus saja terkurung. Faith tidak diizinkan keluar rumah karena itu berbahaya. Bahan pokok untuk memasak sudah di sediakan di dalam kulkas. Faith bisa mengelolah makanan apa saja yang dia inginkan. Bahkan Zion juga sering mengirim makanan untuk Faith.
Pagi itu, Faith baru saja selesai mandi. Bajunya sudah berganti. Tetapi, entah kenapa dia terus saja menangis. Faith memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Matanya merah dan bengkak. Dia masih belum bisa berhenti menangis. Faith lelah menjalani kehidupannya yang sekarang. Sejak dulu dia selalu saja diberi cobaan yang begitu berat. Kali ini Faith tidak yakin kalau dia bisa melewatinya.
"Pa, Ma. Aku harus bagaimana. Sampai kapan aku bersembunyi di tempat ini. Pria yang menolongku juga pria asing yang belum pernah aku temui. Bagaimana kalau dia memiliki tujuan tertentu." Kejadian Sebelumnya membuat trauma yang begitu mendalam di hati Faith. Dia tidak mau sampai bertemu dengan pria yang seperti Dominic.
"Zion Zein. Apa benar dia pria baik?" tanya Faith di dalam hati.
Faith Menunduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja wastafel. Kepalanya pusing. Pikirannya benar-benar buntu saat ini.
Suara ketukan pintu membuat Faith terperanjat kaget. Wanita itu trauma berat karena sering dikejar-kejar oleh anak buah Dominic.
"Faith, apa kau di dalam?"
__ADS_1
Suara Zion membuatnya kembali tenang. Faith membasahi wajahnya dengan air dan mengeringkannya dengan handuk. "Ya, sebentar!" teriak Faith dari dalam kamar mandi. Wanita itu segera keluar agar Zion tidak terus mengetuk pintu.
Zion berdiri dengan rasa penasaran yang begitu besar. Sudah hampir satu jam Faith masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu khawatir. Dia takut terjadi sesuatu sama Faith.
"Apa kau baik-baik saja?" Zion semakin khawatir ketika melihat kedua mata Faith yang merah karena habis menangis. "Apa kau baru saja menangis?"
"Tidak. Tanpa sengaja mataku terkena sabun. Rasanya perih sekali. Aku membersihkannya dengan air yang banyak. Bukan hilang justru mataku menjadi merah," dusta Faith sambil menunduk.
Zion tahu kalau wanita yang ada di hadapannya sedang berbohong. Tetapi dia tidak mau memaksanya untuk jujur. Zion Ingin Faith selalu merasa nyaman jika berada di dekatnya.
"Apa kau sudah sarapan?"
"Aku ...." Faith menahan kalimatnya.
"Aku membawakanmu sarapan. Kita sarapan berdua ya."
Faith hanya mengangguk saja. "Aku mau ganti baju. Bajuku basah kena air."
"Baiklah. Aku tunggu di meja makan." Zion segera pergi meninggalkan Faith menuju ke dapur. Sedangkan Faith berjalan menuju ke kamar.
Zion Mengambil makanan yang ia beli di restoran. Pria itu meletakkannya di atas piring. Ini pertama kalinya dia sepeduli ini dengan seorang wanita. Zion sangat menikmati apa yang dia lakukan.
"Sebenarnya dia pura-pura lupa atau memang beneran lupa. Zion duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Pria itu memandang ke jendela sambil membayangkan pertemuan pertamanya bersama Faith. Detik ini dia baru sadar kalau memang pertemuan pertama mereka tidak sepantasnya diingat. Hanya pertemuan singkat yang tidak ada artinya sama sekali.
"Apa aku terlalu lama?" Faith telah muncul dan segera duduk. Wanita itu terlihat segar dengan balutam dress warna kuning.
"Makanlah. Kau harus banyak makan agar kesehatanmu kembali pulih," ucap Zion. Dia memasukkan makanannya ke dalam mulut sambil sesekali memandang Faith.
Faith hanya diam saja. Wanita itu juga memasukkan makanannya ke dalam mulut. Dia sebelum merasa ragu untuk memakannya. Dia takut telah ada campuran obat di dalam makanan itu. Faith takut di jebak.
"Kenapa diam saja?" tanya Zion ketika sendok itu hanya diam di depan mulut.
"Aku ingin tukaran. Apa boleh?" pinta Faith. Zion mengeryitkan dahinya. Dia memandang makanannya sendiri yang baru berkurang satu sendok.
"Tapi ini bekasku," jawab Zion. Terlihat jelas kalau pria itu menolak.
"Aku tidak mau makan makanan ini. Makanan yang kau makan terlihat lebih lezat," jawabnya asal saja. Padaha sebelum tidak seperti itu.
__ADS_1
"Oke, baiklah." Zion segera mendorong makanan itu ke arah Faith. "Aku akan memakan yang ini." Zion mengambil makanan milik Faith dan mulai melahapnya. Padahal jenis makanannya sama dan rasanya sama. Tetapi entah kenapa Faith meminta makanan mereka untuk di tukar. Hal ini membuat Zion bingung.
"Apa dia pikir kalau makanan ini sudah aku beri sesuatu yang aneh-aneh?" gumam Zion di dalam hati.