
"Leona ... Sudahlah. Jangan marah-marah lagi. Hari ini adalah hari pernikahan putri kita. Tidak baik jika ada orang yang mendengar. Mereka akan berpikiran yang aneh-aneh," bujuk Jordan.
"Bagaimana bisa aku tenang. Zion benar-benar menguji kesabaranku. Aku tidak pernah menyangka kalau anak yang tadinya aku pikir akan selalu membanggakanku dan mengerti apa yang aku rasakan kini mengkhianatiku. Ia sangat mengecewakanku, Jordan." Leona menghapus air matanya yang ada di pipi. Rasanya sulit bagi Leona untuk tenang sejak dia mendengar kabar kalau Zion berangkat ke Las Vegas.
"Aku tahu Zion pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia melakukan semua ini. Zion adalah putra Kita. Seharusnya kita bisa lebih memahaminya. Kapan dia menyakiti hati kita dan mengecewakan kita? Tidak pernah bukan. Dia anak yang sangat penurut. Bahkan berkata kasar di depan kita saja dia tidak pernah. Untuk masalah ini, sebagai orang tua sebaiknya kita mendukung keputusan yang diambil oleh Zion. Tidak lagi mempersulitnya. Jika pun dia harus kembali bersama dengan wanita itu kita harus berusaha untuk menerimanya. Tugas kita cuma satu. Kita harus membantu dia menyelidiki identitas wanita itu jika memang Zion ingin bersama wanita itu nantinya. Tapi jika dia tidak pulang bersama dengan wanita itu, kita hanya perlu lapang dada untuk memaafkan perbuatan Zion hari ini. Aku tahu semua tidak akan semudah itu. Tapi, tidak ada salahnya memaafkan anak kita ketika mereka melakukan kesalahan. Bukankah dulu orang tua kita juga selalu memaafkan kita setiap kali kita melakukan kesalahan?"
Leona menghela nafas dan berusaha untuk kembali tenang walaupun sebenarnya itu terasa sulit untuk ia lakukan. "Baiklah. Aku akan berusaha untuk tetap tenang. Tapi sebagai seorang ibu aku merasa sangat kecewa. Aku tidak bisa bersikap seolah semua baik-baik saja."
"Anggap saja ini karma yang harus kita terima karena dulu kita pernah mengecewakan orang tua kita. Seperti ini yang dulu dirasakan oleh orang tua kita ketika kita mengecewakan mereka."
Jordan menarik tubuh Leona lalu memeluknya. Pria itu mengusap punggung Leona dengan penuh perasaan. Dia sudah hampir kehabisan cara untuk membujuk istrinya. Rasanya pria itu ingin sekali menghubungi Zion dan memarahi putranya itu secara langsung. Namun Ia juga tidak mau membuat Zion membencinya.
"Sudah ya jangan marah lagi. Resepsi pernikahan Norah akan segera dimulai. Sebaiknya sekarang kau pergi untuk bersiap-siap. Kita akan segera berangkat ke lokasi pesta. Belajarlah untuk memasang wajah manis di depan semua orang." Jordan menarik kedua pipi Leona hingga membuat wanita itu seolah-olah sedang tersenyum. "Nah, Jika seperti ini kau terlihat sangat manis. Ini baru Leona yang selalu kucintai."
"Apa rasa cintamu hilang ketika aku sedang cemberut?" tanya Leona dengan wajah yang kesal.
"Sebenarnya aku akan tetap mencintaimu meskipun kau dalam keadaan cemberut. Tetapi kadang rasanya ada yang beda sedikit. Jika sebelumnya terasa sangat manis, namun kali ini sedikit terasa asam," ledek Jordan dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
__ADS_1
"Kau ini semakin tua semakin ada saja yang dibicarakan." Leona beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke meja rias. Ia sudah mengenakan pakaian yang bagus dan indah.Hanya perlu merapikan riasannya saja yang memang kebetulan terlihat berantakan terutama di bagian rambut. Jordan masih tetap duduk di sofa sambil memperhatikan Leona dari kejauhan.
"Kenapa semakin tua kau ini semakin seksi saja. Jika seperti ini aku akan semakin tergila-gila padamu," puji Jordan hingga membuat Leona tersipu malu. Meskipun sederhana, tetapi pria itu sudah berhasil membuat Leona melupakan sedikit kekecewaannya.
"Kau ini bisa saja," celetuk Leona sebelum memandang pantulan dirinya di depan cermin.
...***...
Bukan hanya Leona dan Jordan saja yang mengetahui kabar kepergian Zion. Ternyata Opa Zen juga sudah mengetahui berita ini. Malam itu Opa Zen duduk di pinggiran pantai ditemani oleh Opa Lukas. Mereka berdua memutuskan untuk tidak bergabung di resepsi pernikahan Norah dan Livy seperti yang lainnya karena mereka tahu acara itu hanya cocok untuk anak-anak muda saja. Orang tua yang biasa dipanggil opa seperti mereka tidak pantas untuk bergabung di acara resepsi itu.
"Sepertinya sekarang cucu kita berulah lagi. Kita ini sudah tua. Cucu kita tidak terlalu banyak tapi selalu ada saja cerita yang mereka buat." Lukas membuka obrolan malam itu.
"Jika boleh saya bertanya, apakah anda sudah tahu siapa sebenarnya Faith itu, bos?" Ada penekanan di dalam pertanyaan Lukas malam itu.
Opa Zen menggangguk. "Aku sudah tahu sejak awal. Tapi aku tidak tahu harus bicara dari mana. Aku berpikir kalau Faith bukan ancaman yang besar bagi keluarga kita. Termasuk Dominic. Jadi aku putuskan untuk diam saja dan menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Sayang aku mengetahui informasi ini setelah Livy dan Norah masuk ke rumah sakit."
"Apa anda mau menceritakannya kepada saya, Bos?Sepertinya di sini hanya anda satu-satunya orang yang tahu mengenai rahasia besar yang dimiliki oleh Faith." Lukas berusaha mencari informasi dari Opa Zen. Ternyata secara diam-diam pria itu sudah mengirim mata-mata untuk menyelidiki kehidupan Faith namun hasilnya gagal. Yang diketahui Lukas Faith berasal dari keluarga biasa. Tidak ada hal yang spesial di sana.
__ADS_1
Opa Zen memandang wajah Opa Lukas dengan saksama. "Semua masih berhubungan dengan Zean. Aku tahu kau tidak akan mungkin melupakan nama pria itu. Namanya selalu berhubungan dengan Leona."
Opa Lukas tercengang mendengarnya. "Zean?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan kalau apa yang ia dengar tidak salah.
"Ya, Aku yakin ketika Leona dan Jordan mendengar ini, dia pasti juga akan kaget. Faith dan Dominic adalah kakak adik namun mereka beda ibu. Ketika kalian berada di Las Vegas aku secara diam-diam menemui Faith di markas Gold Dragon. Tepatnya satu jam sebelum Leona tiba di sana. Aku memberitahu semua rahasia ini kepada Faith. Anak itu sepertinya tidak percaya dengan penjelasanku. Dia wanita yang sangat keras kepala ternyata. Aku bilang apa adanya. Aku juga katakan kepadanya, kalau memang dia mencintai Zion sebaiknya dia bisa menyampaikan informasi ini kepada Dominic agar kedepannya tidak ada masalah lagi."
"Itu berarti ketika dia mengatakan kepada Leona kalau dia sebenarnya tidak mencintai Zion, itu hanya trik yang ia gunakan agar ia bisa terbebas dari markas Gold Dragon?" tebak Opa Lukas.
"Ya. Jika sejak awal Leona tahu kalau Faith adalah anak dari Zean, maka wanita itu tidak akan membiarkannya pergi. Wanita itu akan mati-matian melindunginya. Ini akan membuat batasan bagi Faith untuk mengungkapkan rahasia yang sebenarnya kepada Dominic. Ketika Dominic tahu kalau Faith adalah adik tirinya maka pria itu tidak akan berharap lagi untuk menikahi Faith. Mau tidak mau pria itu akan merelakan Faith mencintai pria lain. Selama beberapa minggu ini tugas Faith di Las Vegas sederhana. Dia sengaja merayu Dominic agar mau untuk melakukan tes DNA. Itu satu-satunya cara untuk membuktikan kalau mereka beneran saudara kandung. Ketika semuanya terungkap, Faith kembali menghubungi Zion dan memintanya untuk menemuinya. Sebenarnya orang yang ingin berbicara dengan Zion bukan Faith, tetapi Dominic. Hal itu yang membuatku tetap tenang ketika tahu kalau Zion berangkat ke Las Vegas."
"Anda selalu mengetahui informasi yang belum diketahui oleh orang lain, Bos. Sebagai Opa Anda sangat luar biasa. Tapi tidak ada salahnya jika kita mengatakan semua kebenaran ini kepada Leona agar dia bisa jauh lebih tenang. Kelihatannya sejak tadi dia terlihat sangat gelisah."
"Kita tidak perlu melakukan hal apapun dalam hal ini. Kita lihat saja bagaimana perjuangan Zion untuk mendapatkan restu dan maaf dari ibu kandungnya. Jika kita terus-terusan membantu mereka ketika nanti kita tidak ada mereka akan kehilangan arah. Itu sama saja kita membuat mereka tidak mandiri."
"Baiklah kali ini saya setuju dengan anda. Setidaknya kita tahu kalau Zion akan pulang dalam keadaan selamat."
Opa Zen hanya menggangguk saja sebelum memandang ke pantai lagi. Ada senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Setiap masalah pasti ada solusinya."