
Leona memberikan cincin berlian yang sudah ia siapkan kepada Zion. Tanpa banyak protes pria itu menerimanya. Mereka berdiri saling berhadapan. Di tengah-tengah ada tempat tidur Zean yang menjadi pembatas bagi mereka. Zean memandang ke kanan dan ke kiri untuk memperhatikan wajah Faith dan Zion. Hanya melihat ekspresi wajahnya saja pria itu sudah tahu kalau Putri dan calon suami putrinya bahagia dengan pertunangan ini.
"Tunggu apa lagi? Cepat sematkan cincin itu di jari manis Faith," bisik Leona ketika Zion hanya diam saja memandang kotak cincin yang ada di tangannya.
Zean memegang tangan Faith Lalu memberikannya kepada Zion. Zion segera menyematkan cincin itu di jari manis Faith. Setelah cincin itu melingkar manis di jari Faith, detik itu mereka sah untuk bertunangan. Tanggal pernikahan memang belum bisa ditentukan karena keadaan Zean masih sakit. Setelah pria itu benar-benar sembuh, pesta pernikahan akan segera digelar.
"Papa harap kalian bisa saling menjaga hati untuk tidak berpaling dengan yang lain. Papa harap kalian bisa berjodoh sampai maut memisahkan," ucap Zean sambil tersenyum.
"Papa harus sembuh ya." Faith memeluk Zean lalu menangis. Wanita itu masih belum baik-baik saja melihat bibir Ayah kandungnya pucat. Ia ingin Zean berdiri dalam keadaan sehat seperti Jordan.
Zean menggangguk pelan. Tiba-tiba saja pria itu memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak. Semua orang di dalam ruangan itu menjadi panik. Dominic segera menekan tombol yang ada di samping tempat tidur agar dokter dan perawat lainnya masuk ke kamar.
"Pa, apa yang terjadi? Bagian mana yang sakit?" tanya Faith dengan air mata yang sudah tidak tertahankan lagi.
Leona sendiri juga sangat mengkhawatirkan keadaan Zean. Namun ia tidak memiliki ruang untuk mendekati pria itu karena sudah ada Faith dan Dominic. Jordan memeluk Leona yang kini juga menangis sedih. Mereka semua tidak ada yang tega melihat Zean merasa kesakitan seperti itu.
Dokter dan tim medis lainnya masuk ke dalam ruangan. Mereka meminta semua orang yang ada di dalam ruangan untuk segera pergi agar tidak mengganggu.
Faith yang sepertinya tidak rela untuk meninggalkan ruang yang itu harus tetap keluar dengan cara dibujuk oleh Leona. Berbeda dengan Dominic yang memilih untuk keluar sendirian dari ruangan tersebut dan tidak tahu entah pergi ke mana. Zion sendiri juga tidak tahu harus bagaimana saat ini. Melihat Faith menangis sedih seperti itu membuat hatinya terluka. Inilah yang dinamakan cinta. Tidak akan pernah rela melihat orang yang kita cintai menangis sedih.
Setibanya di depan ruangan, mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan. Air mata Faith masih belum kering. Wanita itu terus saja menangis dan meratapi nasib.
"Bagaimana papa, Tante? Aku tidak siap untuk kehilangan Papa. Kami baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah. Kenapa takdir mempermainkan kami? Kenapa kami dipertemukan dengan cara seperti ini?" protes Faith dengan wajah yang kecewa.
__ADS_1
"Sayang ... Tenanglah. Jangan menangis lagi nanti kau bisa sakit." Leona menghapus air mata yang menetes di wajah Faith. Wanita itu mengusap rambut Faith sebelum memeluknya lagi. "Ada Tante di sini. Tante akan menyayangimu seperti Zean menyayangimu." Leona sangat tahu bagaimana perasaan Faith saat ini karena Leona sendiri juga pernah kehilangan orang tua. Bedanya Leona kehilangan orang tuanya ketika sudah memiliki suami dan anak. Sedangkan Faith ketika wanita itu masih belum menikah.
"Aku takut terjadi sesuatu sama papa," lirih Faith lagi.
"Semua menyayangi papamu. Tidak ada yang rela jika terjadi sesuatu pada papamu. Kita harus berdoa agar semua baik-baik saja. Tante yakin dokter pasti bisa mengatasi keadaan papamu. Dia pasti sehat seperti dulu lagi."
Leona sendiri menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes deras. Debaran jantungnya sudah tidak karuan. Wanita itu tidak bisa tenang sebelum dokter dan tim medis lainnya keluar dari ruangan untuk memberi mereka informasi terbaru mengenai kondisi Zean saat ini.
"Kita sudah bergerak sangat cepat agar penyakit Zean segera diatasi. Hanya tinggal menunggu besok pagi maka kita akan membawa Zean ke Amerika untuk diobati. Kenapa malam ini dia harus begini?" gumam Jordan di dalam hati. Pria itu juga tidak rela jika Zean sampai pergi. Bagaimanapun juga mereka sudah memutuskan untuk menjadi saudara. Tidak lagi mengingat masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka bertiga.
Seorang perawat keluar dari ruangan. Leona dan semua yang lainnya mendekati perawat tersebut untuk mendengar kabar terbaru mengenai Zean.
"Bagaimana keadaan papa?" tanya Faith cepat.
"Benar. Bagaimana Papa? Apa saya boleh bertemu dengannya." Terlihat di wajah Faith kalau wanita itu ingin bertemu dengan ayah kandungnya.
"Tuan Zean ingin bertemu dengan Anda. Mari masuk dengan saya yang lainnya tetap tunggu di sini karena Tuan Zean hanya ingin bertemu dengan Faith saja."
Faith ikut masuk bersama dengan suster tersebut. Leona berhambur ke dalam pelukan Jordan. Wanita itu berusaha untuk tidak sedih lagi agar tidak membuat suasana semakin kacau.
Di dalam ruangan Zean sudah dipasang selang oksigen. Bibir pria itu semakin pucat. Dia berbaring dalam keadaan yang begitu lemah hingga membuat Faith merasa teriris-iris dan ingin terus menangis. Namun ia berusaha menekan kesedihannya agar Ayah kandungnya tidak melihat air matanya menetes lagi.
"Pa," lirik Faith dengan hati-hati.
__ADS_1
Zean melirik Faith lalu mengangguk pelan. Faith segera duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan Zean yang tidak ada infusnya.
"Papa pasti sembuh. Papa harus semangat untuk sembuh. Faith tidak mau kehilangan Papa. Faith sangat menyayangi papa." Berulang kali Faith mengecup punggung tangan Zean berharap pria itu kembali sehat.
"Sepertinya Papa tidak bisa hidup lebih lama lagi. Maafkan Papa Faith. Maafkan papa." Zean menutup matanya ketika rasa sesak itu kembali mengganggunya. Namun dia juga berusaha terlihat baik-baik saja di depan Faith agar dia tidak khawatir.
"Apa yang Papa katakan? Papa akan segera sembuh. Penyakit ini sangat sepele. Dia pasti akan diangkat oleh dokter dan papa akan segera sembuh. Jangan bicara yang aneh-aneh lagi karena itu hanya akan membuat Faith menjadi sedih." Meskipun kini keadaan Zean sangat lemah tetapi saat ini dia masih sempat-sempatnya untuk memarahi ayah kandungnya tersebut.
"Meskipun Papa tidak bisa menjagamu lagi tetapi Papa yakin kakakmu Dominic pasti bisa menjagamu dengan baik. Kau juga akan menikah dengan Zion. Leona dan Jordan pasti akan memperlakukanmu seperti anak kandungnya sendiri. Papa akan Pergi dengan bahagia jika melihatmu bahagia."
"Aku tidak mau bahagia jika Papa meninggalkanku dengan cara seperti ini." Faith memegang tangan Zean semakin erat lalu mengecupnya sambil menangis.
Tiba-tiba saja Zean kesulitan untuk bernafas lagi. Dokter dan tim medis kembali waspada. "Papa sudah tidak sanggup lagi. Ikhlaskan kepergian papa. Tadinya Papa juga ini memanggil Dominic tapi Papa tidak tega untuk mengatakannya secara langsung. Jika nanti papa sudah tiada katakan kepada kakakmu kalau Papa sangat menyayanginya. Selama ini Papa bukan tidak peduli dengannya tetapi Papa menjaga dia secara diam-diam. Papa hanya ingin dia menjadi pria tangguh yang mandiri. Selamanya dia akan menjadi Putra kebanggaan papa. Sebelumnya Papa tidak tahu kalau kau masih hidup di dunia ini jadi semua harta yang Papa miliki masih atas nama Dominic. Tetapi papa sudah meminta pengacara Papa untuk mengurus semuanya."
"Aku tidak butuh harta yang aku butuhkan adalah kesehatan papa. Tolong jangan katakan lagi kalimat menyakitkan seperti itu karena aku tidak sanggup untuk mendengarnya, pa," lirih Faith dengan mata yang sudah bengkak.
"Faith. Maafkan papa karena tidak bisa menjadi Papa yang baik untukmu. Satu-satunya kebahagiaan yang sekarang papa wariskan kepadamu adalah menikah dengan Zion. Jika nanti papa sudah tiada dan kakakmu menentang pernikahan kalian kau harus tetap berjuang untuk bersatu dengan Zion. Papa yakin hanya dia pria yang bisa membahagiakanmu. Belum tentu nanti kau bisa menemukan pria seperti dia."
Zion semakin kesulitan untuk bernapas. Suster yang di sana meminta Faith untuk menyingkir agar mereka bisa segera mengatasi keadaan Zean. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka lalu Dominic masuk ke dalam. Meskipun tidak ada yang memintanya untuk masuk ketika dia tahu kalau adiknya ada di dalam pria itu tidak bisa bersabar untuk menunggu di depan. Dia juga ingin melihat keadaan Ayah kandungnya.
"Kakak," lirih Faith sambil berlari memeluk Dominic.
"Apa yang terjadi dengan papa?" Dominic memandang ke arah Zean yang kini sedang ditangani oleh dokter. Kedua mata pria itu mulai meneteskan air mati. Dia tidak sanggup bicara lagi melihat ayah kandungnya kritis.
__ADS_1
"Aku tidak mau Papa pergi," lirih Faith semakin jadi. Dia memendamkan wajahnya dipelukan Dominic lebih erat lagi. Dominic mengalihkan pandangannya ke arah lain karena dia tidak sanggup melihat langsung keadaan ayahnya. Pelukannya semakin erat. "Jika waktu bisa diulang kembali. Aku ingin bertemu dengan papa lebih awal, tidak ketika dia sakit seperti sekarang," gumam Dominic di dalam hati.