
Seorang wanita sedang memeriksa keheningan kota Las Vegas dari atas gedung tinggi yang ada di kota tersebut. Sebenarnya dia hanya seorang pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh salah satu saingan bisnis Dominic untuk membunuh Dominic. Dia datang ke Las Vegas untuk mencari keberadaan Dominic dan merenggut nyawa pria itu.
Tetapi setelah tiba di Las Vegas, justru ia menjadi jatuh cinta dengan kota Las Vegas. Kota itu sangat cocok untuk dijadikan wilayah kekuasaannya. Kota Las Vegas sesuai dengan wilayah kekuasaan yang selama ini dia impikan. Hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk menguasai Las Vegas. Bahkan dia tidak lagi peduli dengan nyawa Dominic.
Malam ini wanita itu mendapat kabar kalau sang penguasa akan pulang ke Las Vegas. Jelas saja wanita itu kembali waspada. Dia belum berhasil menguasai seluruh kota Las Vegas tetapi sang pemiliknya sudah pulang.
Wanita itu mengirimkan salah satu pembunuh bayarannya untuk membunuh Dominic. Dialah supir taksi yang tadi mengincar nyawa Dominic. Meskipun wanita itu sendiri merasa tidak yakin kalau pembunuh yang ia kirim berhasil mengalahkan Dominic.
"Dominic. Kira-kira Seperti apa reaksi wajahnya ketika dia tahu kalau wilayah kekuasaannya sudah hampir separuh ini aku kuasai. Dari informasi yang aku dapat, dia tidak memiliki pasukan yang setia seperti geng mafiaku. Bahkan kebanyakan pengawal yang bekerja di bawah pimpinannya hanya orang-orang tidak berguna.
Bagaimana mungkin ia bisa menguasai Las Vegas yang luas seperti ini. Dia sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Hanya aku yang pantas menguasai Las Vega," gumam wanita itu dengan penuh percaya diri.
Dia membidik lagi lokasi pertemuannya dengan supir taksi yang bertugas untuk menjemput Dominic. Namun sudah sampai satu jam ia menunggu, tetapi supir taksi itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Hal itu membuatnya semakin yakin kalau orang suruhannya telah gagal.
"Dia pasti gagal membawa Dominic. Dasar pria tidak berguna!" umpat wanita itu kesal. Dia menurunkan senjatanya lalu memandang ke depan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Wajahnya terlihat ketakutan melihat nama yang tertera di ponselnya. Wanita itu berdehem pelan sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut. Nada bicaranya pun dia atur sedemikian ramah.
"Elyna. Kenapa kau tidak mengangkat telepon Mommy. Kau ke mana saja? Mommy sudah memintamu untuk berangkat ke kapal yang sudah dipesan oleh Tante Leona. Tetapi sampai detik ini kau tidak juga memperlihatkan batang hidungmu. Apa kau membohongi Mommy, lagi?"
Suara Letty yang begitu lantang membuat telinga Elyna terasa sakit. Wanita itu sedikit menjauhkan ponselnya agar suara ibu kandungnya tidak terdengar begitu mengerikan.
"Mommy, Elyna tidak suka acara keluarga. Untuk apa coba? Mereka semua hanya akan membahas hal-hal tidak penting. Elyna tidak suka!" sahut Elyna membela diri.
"Elyna! Kau ini Putri mommy. Sudah berulang kali kau tidak hadir ketika mereka mengadakan acara. Kenapa kau bersikap seperti ini!" Letty rasanya emosi sekali jika mengobrol dengan putrinya itu.
"Mommy, Mommy harus ingat satu hal. Kalau bukan aku saja yang selalu absen. Tetapi Mommy juga. Bahkan kalau diingat-ingat kembali. Bukankah baru hari ini saja Mommy datang ke acara mereka. Mom, aku memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada harus berlibur seperti itu. Aku akan hubungi Mommy besok pagi."
Elyna segera memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Dia tahu kalau ibu kandungnya belum selesai bicara. Dari sini Elyna bisa membayangkan bagaimana reaksi wajah ibu kandungnya di seberang sana. Sudah pasti wanita itu mengumpat Elyna dengan penuh emosi.
"Aku tahu mommy melakukan semua ini demi kebaikanku. Aku juga tahu kalau Mommy sangat menyayangiku. Tapi sekarang aku harus fokus dengan misi ini. Aku harus berhasil menjadikan Las Vegas sebagai wilayah kekuasaanku. Sedikit lagi. Aku tidak mau menyerah. Mommy, doakan putrimu ini dari jauh sana. Aku melakukan semua ini demi kebaikan Queen Star juga."
Elyna kembali mengambil senjata api laras panjangnya yang tergeletak di bawah. Wanita itu tahu kalau ada datang. Mereka semua berjalan menuju ke tempatnya berada. Elyna memposisikan dirinya di tempat yang tidak terlihat dengan jelas. Wanita itu membidik menggunakan senjatanya.
"Hanya 5 orang saja ternyata. Lalu, apa mereka pikir mereka berlima bisa menangkapku dengan mudah? Sepertinya Dominic sudah mulai beraksi. Dia sudah mulai mengirimkan orang-orang bayarannya untuk menangkapku."
Elyna merasa sangat percaya diri. Wanita itu segera menembak satu persatu musuh yang ingin menangkapnya sampai akhirnya mereka berlima tewas di tempat. Setelah itu Elyna tersenyum puas. "Kita lihat saja, sapa pemenangnya. Tetapi jika dilihat dari tipe orang yang dia kirim, sepertinya akulah yang akan menjadi pemenangnya," ucap Elina dengan penuh kesombongan.
...***...
"Kau benar-benar minta dihukum Elyna! Awas saja kau. Mommy akan menghukummu nanti," ucap Letty dengan penuh emosi. Wanita itu sangat malu ketika Lana dan Lukas menanyakan soal Elyna tadi. Sudah lama wanita itu gagal untuk mempertemukan Elyna dengan Oma dan Opanya. Sampai detik ini Letty masih tidak percaya kalau Elyna bisa membedakan mana musuh dan mana keluarga. Letty takut jika suatu saat nanti Elyna justru akan bertarung dengan keluarganya sendiri. Putrinya itu memang tidak pernah bertemu langsung dengan keluarga intinya.
__ADS_1
"Tante, apa yang Tante lakukan di sini? Kenapa Tante tidak berkumpul dengan yang lain?"
Livy yang kebetulan lewat di jalan itu memutuskan untuk mengajak letty mengobrol. Bagaimanapun juga Livy dan Letty memiliki hubungan persaudaraan yang sangat dekat.
"Sayang, kau dari mana?" Letty tersenyum memandang Livy. Wanita itu segera menyimpan ponselnya ke dalam tas. Dia menghempaskan napasnya dengan kasar sebelum bicara. "Ini karena Elyna. Dia benar-benar menjengkelkan. Semakin besar dia semakin berulah. Kelakuannya semakin menjadi. Sepertinya Tante sudah terlalu memanjakannya selama ini!" jawab Letty apa adanya.
"Bukankah Elyna memimpin Queen Star?"
"Ya, dia yang meminta Queen Star agar menjadi miliknya. Padahal waktu itu Tante belum setuju karena usianya masih 17 tahun. Awalnya Tante pikir Queen Star akan menjadi benteng untuk melindungi Elyna dari bahaya. Tetapi lama-kelamaan Elyna justru membuat tante tidak tenang di rumah. Elyna cepat sekali belajar hingga akhirnya Queen Star berkembang pesat.
Satu hal yang membuat Tante tidak setuju jika Elyna memimpin Queen Star. Sampai detik ini dia masih menerima jasa membunuh. Tante tidak suka Putri Tante satu-satunya menjadi pembunuh bayaran. Dia sudah menyalahgunakan Queen Star.
Tante merasa malu dengan Nona Serena dan juga Tantemu Leona. Bagaimanapun juga merekalah pemimpin sebelumnya. Sekarang ketika Queen Star jatuh ke tangan Tante dan diwariskan oleh Elyna, justru Queen Star semakin memalukan." Letty merasa sedikit lega bisa menceritakan apa yang memenuhi pikirannya selama ini. Wanita itu juga yakin kalau Livy pasti tidak akan mungkin menceritakan semua ini kepada orang lain.
Livy diam sejenak. Wanita itu juga tidak tahu harus bicara apa sekarang karena dipandang dari sudut Elyna. Elyna sudah melakukan hal yang benar karena memang kebanyakan pasukan Queen Star itu memiliki bakat sebagai seorang pembunuh bayaran. Namun Livy sendiri juga tidak bisa setuju jika Queen Star berkembang dengan tujuan untuk menjadi organisasi pembunuh bayaran.
"Sekarang Elyna ada di mana, Tante? Bagaimana kalau kita jemput saja. Livy akan meminta bantuan The Filast untuk mencari keberadaan Elyna."
"Sayang, sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dalam masalah yang dilakukan oleh Elyna. Kau ini pengantin baru. Bersenang-senanglah dengan suamimu. Jangan pikirkan hal lain lagi. Biar tante yang mengurus Putri tante." Letty mengusap rambut Livy dengan bibir tersenyum. "Andai saja Elyna seperti Livy ...." gumamnya di dalam hati.
"Aku sama sekali tidak keberatan. Tapi jika Tante menolak Aku juga tidak bisa memaksa."
"Kedua orang tuamu telah berhasil mendidikmu menjadi anak yang sopan. Meskipun kau ini adalah ketua mafia, tapi kau masih memperlihatkan sifatmu sebagai seorang wanita. Di tambah lagi kau ini memiliki bakat sebagai seorang dokter. Jangankan kedua orang tuamu, Tante saja bangga melihatmu. Andaikan saja Elyna bisa diatur sepertimu. Bahkan sekolah saja dia tidak tamat. Tante benar-benar tidak habis pikir dengannya. Dia sangat barbar. Bahkan Tante yang nakal seperti ini saja tidak bisa untuk mengatasinya."
Letty mengangguk. "Ya, Sayang. Terima kasih atas tawaranmu. Mungkin Tante akan menghadapi Putri Tante sendiri."
"Baiklah, Tante. Kalau begitu Livy pergi dulu. Livy juga ingin gabung dengan yang lainnya."
"Iya, sayang. Hati-hati." Letty mengusap lembut pipi Livy.
Wanita itu tetap memandang punggung Livy yang semakin menjauh dari posisinya berada. "Andai saja Livy itu adalah Elyna. Mungkin aku akan menjadi Ibu paling bahagia di dunia ini."
Letty segera mengambil ponsel yang tadi sempat ia masukkan ke dalam tas. Wanita itu menghubungi nomor seseorang. Meskipun kini Queen Star seluruhnya dikuasai oleh Elyna. Tetapi tetap saja Letty memiliki mata-mata di dalam sana. Hingga akhirnya kemanapun Elyna pergi, Letty bisa tahu di mana putrinya berada.
"Halo, Bos. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita di dalam telepon.
"Katakan padaku. Di mana keberadaan Elyna saat ini dan apa yang sudah ia rencanakan? Bahkan untuk menemuiku saja dia tidak memiliki waktu lagi. Apa benar seberat itu masalah yang sekarang dia hadapi?"
"Bos Elyna berencana untuk menguasai kota Las Vegas Bos?"
Letty melebarkan kedua matanya. "Menguasai kota? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Kota ini dipimpin oleh seseorang dan bos Elyna berencana untuk mengalahkannya agar bisa menjadikan Las Vegas ini sebagai rumah bagi Queen Star. Saya tahu pekerjaan ini sangat beresiko. Tetapi Bos Elyna bertekad besar kalau dia pasti akan berhasil."
"Tidak tidak. Aku tidak mau putriku celaka. Apa dia pikir kota Las Vegas itu seperti kota mainan?" Letty memijat kepalanyasendiri yang tiba-tiba saja terasa sakit. Wanita itu benar-benar geram. Jika saja kini Elyna ada di hadapannya, mungkin ia langsung menarik kuping putrinya tersebut.
"Persiapkan semuanya. Aku akan menemuimu Elyna. Kita akan sama-sama berangkat ke Las Vegas. Aku harus menjemput putriku sebelum dia melakukan kesalahan yang fatal."
"Tapi, bos. Jika anda tiba-tiba saja muncul di Las Vegas itu hanya akan membuat Bos Elyna curiga. Dia bisa tahu kalau saya yang sudah memberi tahukan keberadaannya." Wanita itu seperti ketakutan.
"Yang aku pikirkan sekarang adalah keselamatan putriku." Dengan penuh emosi, Letty segera memutuskan panggilan telepon tersebut secara sepihak. "Bisanya ia memiliki pemikiran seperti itu. Sepertinya semakin ke sini kelakuan semakin menjadi. Aku tidak bisa mentolerinya lagi. Aku harus menemui Elyna. Aku akan menangkapnya dan mengurungnya di dalam kamar. Bila perlu segera ku carikan jodoh saja agar dia menikah. Aku sudah pusinga memikirkannya. Aku sudah tidak sanggup. Jika terus-terusan seperti ini, aku bisa mati berdiri!"
...***...
Livy menahan langkah kakinya ketika ia melewati lorong yang sangat panjang dan gelap. Bukan karena lorong itu yang membuat Livy berhenti, tetapi tanpa sengaja ia melihat Norah dan Leona seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Livy takut jika kemunculannya membuat mereka terganggu. Hingga pada akhirnya wanita itu memutuskan untuk mendengar pembicaraan mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Ma, biarkan Aku dan Austin juga ikut membantu Kak Zion. Ini masalah yang besar. Tidak bisa disepelekan begitu saja. Kak Zion juga akan segera menikah dengan Kak Faith. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Kak Zion? Ijinkan aku berangkat, Ma," rengek Norah dengan wajah memohon.
"Maafkan Mama, Norah. Tetapi kakakmu meminta Mama untuk mencegahmu pergi. Sebaiknya pikirkan juga tentang Harumi. Dia pasti akan sedih jika tahu kau pergi. Masalah ini juga belum tentu selesai dalam waktu 1 atau 2 hari. Jadi tolong. Menurutlah."
"Aku benar-benar menyesal karena sudah membiarkan Kak Zion pergi. Jika saja tadi Aku tahu kalau Kak Zion pergi tidak untuk membantu Foster, mungkin aku sudah naik ke dalam helikopter itu dan mengikutinya kemanapun dia pergi. Soal Harumi kan bisa dijaga oleh Austin." Norah melipat tangannya dengan wajah kecewa.
"Kak Zion pergi ke mana Tante?" Tiba-tiba saja Livy muncul. Ternyata wanita itu sudah tidak sabar dan ingin tahu informasi selengkapnya. Ia juga yakin kalau Leona tidak akan mungkin menyembunyikan sesuatu darinya. Apa lagi jika hal itu berhubungan dengan Zion.
"Livy, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Leona khawatir. Berbeda dengan Norah yang terlihat tenang saja karena dia percaya kalau Livy adalah orang yang selalu ada di pihaknya dan Zion.
"Baru saja Tante. Aku baru tahu kalau Kak Zion pergi. Memangnya ada masalah apa? Tolong ceritakan kepada Livy. Siapa tahu Livy bisa bantu."
"Sayang, sebenarnya ini hanya masalah kecil saja. Zion pergi ke Las Vegas untuk membantu Dominic. Wilayah kekuasaan Dominic diusik oleh seseorang. Tante sendiri juga tidak tahu informasi lengkapnya karena Daisy yang menyampaikan informasi ini kepada tante."
"Kak Zion pergi dengan Foster? Hanya berdua saja?"
"Ya tentu saja Gold Dragon ikut bersama dengan mereka," sambung Norah.
Livy memandang ke arah Norah sekilas saja. Dua wanita itu tidak tenang jika tahu kalau Zion akan bertarung di Las Vegas. Memang kota Las Vegas hanya kota kecil. Tetapi setiap sudutnya bisa saja musuh mereka membuat jebakan dan itu bisa membuat Zion celaka.
"Kita harus pergi sekarang!" ajak Livy penuh semangat.
"Kakak benar. Kita harus pergi sekarang juga. Kita tidak perlu menunda lagi." Norah memandang ke arah Leona yang kini justru lebih memilih untuk memijat kepalanya yang terasa pusing. "Maafkan aku, Ma. Tapi kali ini aku tidak bisa menuruti perintah Mama. Kami berdua harus segera pergi. Aku akan membawa Austin bersamaku."
"Abio juga akan pergi bersama denganku, Tante. Maafkan Livi. Tapi keputusan Livy ini sudah bulat. Maaf sekali lagi karena sudah membuat tante tidak tenang."
Leona menghela napas. Setelah itu dia memandang Norah dan Livy secara bergantian. "Pergilah dan pulanglah bersama-sama dalam keadaan baik-baik saja. Biar tante yang mengurus semua orang yang ada di kapal ini. Kalian tidak perlu memikirkannya lagi. Segera hubungi tante jika terjadi sesuatu di sana. Jika kalian butuh bantuan, Tante dan keluarga besar kita akan turun tangan langsung. Kali ini kami tidak mau anak-anak kami celaka lagi."
__ADS_1
Norah dan Livy segera memeluk Leona. "Kami pasti akan pulang dengan selamat," ucap dua wanita itu penuh percaya diri.
Mereka semua tidak tahu kalau sebenarnya musuh yang akan mereka hadapi adalah bagian dari keluarga mereka sendiri.