
Abio. Putra tunggal pasangan Kwan dan Alana. Cucu dari Kenzo dan Biao. Ketampanan dan sifatnya sangat mirip dengan ayahnya, Kwan. Abio memang playboy. Tidak bisa melihat wanita cantik sedikit dia langsung tertarik untuk mendekatinya. Sejauh ini, belum ada yang berani menolak pesona pria berusia 27 tahun itu. Karismanya selalu membuat wanita mabuk kepayang.
Ketika masuk rumah sakit karena kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu, Livy yang bertugas untuk menanganinya. Di sana Abio dan Livy bertemu. Sebenarnya mereka saling tahu kalau Opa mereka sahabatan. Namun, bukan jamannya semua orang yang dekat dengan Opa mereka harus akrab dengan mereka juga. Apa lagi di jaman yang super canggih seperti sekarang ini. Anak muda memiliki kehidupan masing-masing yang tidak bisa di atur oleh orang tua lagi.
Melihat Livy dengan jarak yang begitu dekat membuat Abio jatuh cinta. Entahlah. Sampai sekarang Abio sendiri belum yakin. Sebenarnya dia benar-benar cinta atau hanya kagum semata. Semakin sering Livy menghindar, Abio semakin tertantang untuk mendapatkannya.
"Kau mengikutiku? Aku tidak mau bertemu dengan pasien mesum sepertimu!" ketus Livy.
"Untuk apa kau pakai topeng? Aku sudah hafal setiap detail wajahmu yang cantik ini," sahut Abio tanpa peduli dengan ocehan Livy barusan.
"Nona, ada perlu apa anda mengejar saya?" tanya Foster. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk mendengar ocehan yang keluar dari mulut Livy dan juga sahabatnya Abio.
Livy memandang ke arah Foster. Dia baru saja ingat tujuan utamanya ada di sana apa. Tadi sempat lupa ketika dia bertemu dengan Abio.
"Tuan Foster, bukankah Anda mau mencari Daisy? Kami perlu bantuan anda," ucap Livy dengan tatapan penuh harap. "Apa anda mau bergabung dengan kami?"
Foster merasa gembira. "Tentu saja. Apa yang harus aku lakukan?"
"Anda hanya perlu pura-pura menjadi Kak Zion. Mereka mengincar Kak Zion, tetapi mereka tidak tahu wajah asli Kak Zion. Anda mau kan berakting menjadi Kak Zion?" pinta Livy lagi.
"Maaf, bukan saya tidak mau membantu kalian dalam hal ini. Tidak adakah cara lain? Mereka sudah menggunakan namaku untuk menjadi kambing hitam. Jelas saja mereka kenal denganku. Tidak semudah itu menipu penjahat!" Foster memandang ke arah Abio. "Bagaimana kalau sahabat saya saja yang berperan jadi Kak Zion? Kemampuannya juga tidak perlu diragukan. Dan sepertinya kalian juga saling kenal. Bukankah itu hal yang menarik?"
Livy memandang ke arah Abio sebelum geleng-geleng kepala. "Tidak! Kak Zion tidak tahu. Dia pasti tidak akan setuju!"
"Hei, aku juga bagian dari keluarga bukan? Kenapa kau bersikap seolah-olah aku ini orang asing? Kau harus tahu, Opa Biao, Opa Kenzo dan Opa Daniel bersaudara. Dan kau adalah cucu adik dari menantu Opa Daniel. Sedangkan aku-"
"Stop! Kepalaku pusing mendengarnya!" ketus Livy. "Jika kau ingin gabung, ayo ikut denganku bertemu dengan Kak Zion."
Livy memandang mobilnya yang sudah masuk ke dalam jurang. Wanita itu memutar tubuhnya dan memandang Foster dengan tatapan menikam.
"Akan aku ganti," jawab Foster dengan entengnya. "Katakan saja anda ingin mobil seperti apa."
"Bagus! Jika anda tahu diri!" sahut Livy. "Nanti akan aku kirimkan fotonya."
__ADS_1
Abio hanya diam sambil memandang kecantikan Livy. Pria itu rasanya tidak mau memandang ke arah lain. Hanya Livy satu-satunya yang terindah.
"Kalau begitu anda bisa ikut dengan saya," tawar Foster.
"Tidak! Dia bersamaku!" Abio memegang tangan Livy dan menariknya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" umpat Livy kesal. Dia ingin melawan namun bukan saatnya untuk bertarung. Di tambah lagi luka di kepala Abio belum sembuh total. "Lepaskan!"
"Diamlah, Dok. Atau aku akan menarik topengmu agar Foster bisa melihat wajahmu yang cantik ini," ancam Abio.
Livy diam. Dia memilih untuk ikut saja ke mobil Abio daripada identitasnya harus ketahuan. Foster juga masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Abio dari belakang. Mereka sama-sama menuju ke tempat Zion dan Norah berada.
...***...
Waktu terus berganti. Hari yang di tunggu semua orang telah tiba. Hari ini pesta besar dan mewah itu akan berlangsung. Tepat di hari minggu sejak sore hingga pagi. Musik terus menggema di dalam rumah mewah dan halaman samping dekat kolam renang. Wanita berpakaian seksi terus saja berdatangan dan menari untuk menghibur para pria tampan.
Austin sudah ada di salah satu kursi untuk menyaksikan penampilan para penari yang ia bayar. Di sampingnya ada Rula yang sejak tadi mengamati keadaan di depan kamar Daisy dengan menggunakan ponsel. Wanita itu tidak masuk sampai gagal. Hari ini dia harus berhasil menangkap Zion Zein ahar Austin mau menikah dengannya.
Di sisi lain, Livy dan Abio baru saja tiba di halaman depan rumah Austin. Livy terpaksa menggandeng lengan Abio demi melengkapi penyamarannya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah dengan belahan sampai ke paha. Sedangkan Abio mengenakan jas dengan tiga kancing kemeja yang sengaja di buka untuk memamerkan dada bidangnya.
"Sayang, jangan lepaskan tangan lembutmu ini dari lenganku jika kau tidak mau digoda pria hidung belang," bisik Abio mesra.
"Anda salah, Tuan. Saya datang ke sini memang untuk menggoda. Bukan untuk bersikap seolah saya ini tamu," sahut Livy tanpa memandang.
Sebelum masuk ke dalam, Livy dan Abio harus melewati proses pemeriksaan. Jika tidak ditemukan senjata yang berbahaya di tubuh mereka, mereka baru diperbolehkan masuk. Livy dan Abio jelas saja sudah tahu kalau pemeriksaan ini pasti akan terjadi. Maka dari itu sejak awal mereka tidak membawa senjata apapun. Termasuk belatih yang ukurannya kecil sekalipun.
Setelah tiba di dalam rumah, Livy mencari-cari posisi Austin berada. Tidak butuh waktu lama dia sudah menemukan Austin duduk. Ternyata pria itu tidak sendirian. Walau sudah ada Rula di sampingnya, tetap saja masih ada beberapa wanita seksi yang kini menggodanya. Mereka melayani Austin layaknya seorang raja.
"Dia Austin," ucap Livy agar Abio tahu mana target mereka kali ini.
Abio memandang ke arah Austin. Pria itu mengangguk pelan sebelum mengambil segelas minuman yang ada di dekatnya. "Baiklah. Aku akan menjagamu dari sini, sayang," ujar Abio sebelum melepas tangan Livy. Livy membuka rambut yang diikat dan menggoyangkannya untuk mendapatkan rambut bervolume.
Abio menahan gelas yang hendak masuk ke dalam mulutnya. Pria itu tersenyum sebelum membuang tatapannya ke arah lain. "Dia benar-benar cantik!" pujinya di dalam hati.
Kemunculan Livy membuat perhatian semua orang teralihkan. Memang tugasnya seperti itu saat ini. Membuat semua orang sibuk dengan kecantikannya agar tidak ada yang fokus dengan keadaan Daisy.
__ADS_1
Austin memandang ke arah Livy dan meminta wanita-wanita seksi di depannya untuk menyingkir. Pria itu tidak kepikiran kalau Livy adalah orang yang bekerja sama dengan Zion. Di dalam pikirannya, Zion pasti akan datang langsung ke kamar Daisy tanpa mau singgah ke lokasi pesta.
"Hai, Baby. Kemarilah!" Austin menepuk kursi yang ada di sampingnya. Dia meminta Livy duduk di sana.
Livy memandang Rula. Tatapan wanita itu sangat menakutkan. "Sepertinya dia suka dengan pria ini. Aku bisa memanfaatkan untuk membuat suasana pesta ini berantakan," gumam Livy di dalam hati.
Ternyata Livy tidak duduk di tempat yang disediakan Austin. Wanita memilih duduk di atas pangkuan Austin dengan kedua tangan merangkul leher jenjang pria itu.
"Tuan, malam ini anda sangat tampan," puji Livy.
Austin mengangguk pelan. Dia memberikan segelas minuman beralkohol kepada Livy. "Mari kita bersenang-senang cantik!"
Rula mendengus kesal melihat tingkah laku Austin. Wanita itu melihat ke arah ponsel lagi.
"Bagaimana?" tanya Austin kepada Rula.
"Belum ada tanda-tanda dia akan muncul," sahut Rula malas. Dia cemburu. Dia juga ingin duduk di atas pangkuan Austin seperti yang sekarang dilakukan oleh Livy. Sayangnya Austin tidak pernah mengijinkannya.
Livy bersandar di dada bidang Austin dan bermanja-manja dengan pria itu. "Apa yang dia maksud?" gumam Livy di dalam hati. "Apa mereka mengawasi kamar Daisy melalui ponsel itu? Bagaimana caranya agar aku bisa melihat ponsel itu secara langsung?"
Abio menggeram melihat Livy bersikap seperti itu terhadap Austin. Dia cemburu. Dia juga ingin mendapatkan belaian seperti itu dari Livy.
"Semua harus segera berakhir," umpatnya di dalam hati. Dia membanting gelas kosong itu di meja sebelum menjalankan rencananya. Kali ini Abio harus pergi ke kamar Daisy. Dengan begitu Austin akan mengira kalau dia adalah Zion Zein.
"Siapa namamu cantik?" tanya Austin. Livy tersadar dan segera mengukir senyum manis di bibirnya. "Angel, Tuan."
"Malaikat. Ya, kau memang malaikat penolong bagiku," ucap Austin. Pria itu tiba-tiba saja menjambak rambut Livy dengan geram dan menatap Livy dengan tatapan tajam.
"Tuan, apa yang anda lakukan? Sakit," lirih Livy. Tentu saja dia harus bersikap seperti wanita lemah. Bukankah memang seperti itu sifat para ****** yang biasa menggoda pria kaya. Bersikap lemah seolah tidak berdaya agar bisa mendapat perhatian.
Rula tersenyum melihat Livy di sakiti. Wanita itu kembali fokus ke layar ponselnya karena tidak mau sampai kecolongan.
Abio yang tadinya mau naik ke tangga menahan langkah kakinya. Dia tidak mau sampai Livy celaka.
"Apa yang terjadi? Apa dia tahu kalau Livy adalah bagian dari musuhnya?"
__ADS_1