
Beberapa bulan kemudian
Faith merasa tidak tenang ketika sedang menunggu hasil tespek yang kini ada di genggaman tangannya. Wanita itu sudah terlambat tiga minggu. Leona memintanya untuk segera membeli tespek untuk memastikan apa benar dia hamil atau tidak.
Di dalam kamar mandi, sambil menunggu hasil tespek itu terlihat, Faith kembali membaca petunjuk yang ada di bungkus tespek tersebut. "Jika garisnya 2 itu tandanya hamil. Jika garisnya 1 berarti tidak," ucap Faith pelan. Wanita itu kembali memandang ke tespek yang ada di tangannya. Wajahnya langsung berseri melihat garis dua di tespek tersebut. Karena terlalu senang, wanita itu berteriak memanggil suaminya.
"Kak Zion! Kak Zion!" teriak Faith hingga suaranya memenuhi seisi kamar mandi.
Zion yang khawatir segera masuk ke dalam kamar mandi. "Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?" Zion langsung memeriksa ke sudut kamar mandi untuk memastikan tidak ada bahaya di sana.
Faith memutar tubuhnya dan langsung memamerkan hasil tespek yang ada di genggaman tangannya. "Lihatlah. Hasilnya positif. Itu berarti aku hamil," ucap Faith dengan penuh riang gembira.
Zion segera mengambil hasil tespek itu dan melihatnya dengan jarak yang lebih dekat. Wajah Zion pun langsung berseri. "Benarkah? Apa hasilnya tidak mungkin salah?" tanya Zion lagi. "Kau beneran hamil, sayang?"
"Mama bilang kalau garisnya 2 itu tandanya hamil. Tetapi untuk lebih memastikannya, sebaiknya kita berangkat ke dokter sekarang juga."
Zion mengangguk setuju. Pria itu segera membawa Faith keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap. Hari ini juga mereka akan berangkat ke dokter kandungan untuk memastikan kebenaran dari hasil tespek tersebut.
Faith duduk di sofa sembari mengusap perutnya yang masih rata. "Aku harap hasilnya benar-benar positif. Aku sudah tidak sabar untuk mengandung anak Kak Zion," gumam Faith di dalam hati.
Setibanya di rumah sakit, Zion dan Faith langsung mendapatkan nomor antrian pertama. Mereka duduk di kursi yang disediakan setelah dokter melakukan pemeriksaan terhadap Faith.
"Selamat, Tuan. Sebentar lagi Anda akan menjadi ayah!"
Kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter itu membuat Zion ingin bersorak. Pria itu segera memeluk istrinya. "Terima kasih sayang. akhirnya doa kita dikabulkan juga." Faith mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Dokter yang ada di depan mereka juga terlihat sangat bahagia. "Mulai sekarang Anda harus menjaga kesehatan anda, Nona."
Faith mengangguk. wanita itu langsung menghapus air mata yang menetes di pipi. "Terima kasih, Dok."
Zion dan Faith segera pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut. Mereka akan ke apotek untuk menebus resep yang dituliskan di selembar kertas.
"Sayang tunggu di sini aku akan menebus vitaminnya. Sambil menunggu kau bisa menelepon mama dan memberitahu kabar ini kepada Mama," ucap Zion. Faith mengangguk setuju. Dia segera mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi nomor Leona.
"Halo, sayang. Bagaimana hasilnya?"
"Ma, aku positif hamil," ucap Faith dengan suara yang riang.
"Benarkah? Akhirnya, mama akan segera memiliki cucu. Mama akan mengajak Papa untuk berangkat ke sana. Kita harus merayakan kehamilanmu."
Faith merasa sangat bahagia. Tidak lama setelahnya panggilan telepon itu berakhir. Faith berjalan menghampiri Zion yang sudah tiba.
"Ayo kita ke supermarket. Aku sudah tidak sabar untuk membeli susu hamil," ucap Faith dengan penuh antusias. Zion hanya mengangguk saja. Pria itu juga merasa sangat bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya.
***
Norah baru saja tiba di rumah. Dia baru saja pulang dari menjemput Harumi sekolah. Kedatangan Norah dan Harumi langsung disambut hangat oleh Austin. Pria itu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Dia langsung membawa dua gelas es krim dan memberikannya kepada Norah dan Harumi.
__ADS_1
"Apa kau suka es krim, sayang?" tanya Austin kepada Harumi.
"Aku suka sekali," jawab Harumi penuh semangat.
"Kenapa hanya Harumi saja yang ditanyain?" ujar Norah cemburu.
Austin langsung menarik tubuh Norah lalu mengecup pipinya dengan mesra.
"Austin, jangan lakukan hal seperti itu di depan Harumi," protes Norah lagi.
"Tidak masalah, Mama. Aku akan menutup mataku agar tidak melihat apa yang Mama dan Papa lakukan," ucap Harumi dengan wajah polosnya. Anak kecil itu segera menutup matanya dengan tangan. "Jika sudah selesai katakan biar Harumi lanjut makan es krim."
Norah dan Austin sama-sama tertawa geli mendengar ocehan Putri mereka. Austin segera menarik Harumi dan meletakkannya di atas pangkuan. "Sekarang kau bisa memakan es krim ini sampai habis. Jangan pedulikan Mama lagi."
Norah juga duduk di sofa. Wanita itu langsung memakan es krim yang baru saja diberikan oleh Austin.
"Sayang, tadi mama Leona baru saja telepon. dia bilang kalau nomormu tidak bisa dihubungi."
"Ya, tadi hp-ku mati. Apa ada sesuatu yang penting?"
"Mama bilang kalau Faith hamil. Dia baru saja pulang dari dokter bersama dengan Kak Zion," ucap Austin.
Ekspresi wajah Norah langsung berubah. Wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia senang mendengar kabar kehamilan Faith. Austin yang mulai merasa ada yang aneh dari istrinya segera meminta Harumi untuk masuk ke dalam kamar dan menghabiskan es krimnya di sana. Setelah itu Austin berjalan mendekati Norah. Dia memegang kedua tangan istrinya lalu mengusapnya dengan lembut.
"Kenapa wajahmu tiba-tiba berubah sedih seperti ini? Apa ada yang salah dari perkataanku?"
Austin segera menarik Norah dan memeluknya. Pria itu mengusap punggung Norah untuk memberi ketenangan. "Bukankah kita sudah memiliki Harumi? Kau tidak perlu memikirkan soal kehamilan lagi karena itu hanya akan membuatmu sedih. Aku bahagia dengan hidup kita yang sekarang. Aku janji tidak akan menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia selama berada di sisiku. Di rumah utama ini kita akan membangun keluarga sederhana kita bersama dengan Harumi."
"Tetapi sebagai seorang wanita di lubuk hatiku yang paling dalam, Aku memiliki harapan agar segera hamil. Apa aku salah?"
"Tidak. Sama sekali tidak salah. Tetapi aku takut keinginanmu ini membuatmu lupa untuk merawat Harumi. Bukankah kita sudah sepakat untuk menjadikan Harumi seperti anak kandung kita sendiri?"
Norah diam sejenak. Wanita itu mulai bisa menerima keadaannya yang sekarang. "Ya kau benar. Sepertinya memang kita masih diberi kesempatan untuk fokus mengurus Harumi. Tetapi aku akan tetap melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan."
"Ya aku akan selalu mendukung semua keputusan yang kau ambil. Tetapi ingat kau tidak boleh terlalu memikirkannya. Jika gagal itu berarti belum rezeki." Austin kembali ingat dengan kabar kehamilan Faith. "Jika kau sudah jauh lebih tenang sebaiknya segera hubungi Faith lalu ucapkan selamat kepadanya. Dia pasti akan senang mendengarnya. Aku akan ke kamar Harumi untuk memeriksanya. Apakah dia sudah berhasil menghabiskan es krim yang aku berikan tadi."
Norah tersenyum. Wanita itu mengambil ponsel nya di dalam tas selalu menekan nomor Faith. sambil menunggu panggilan telepon itu diangkat Norah memandang punggung Austin yang semakin menjauh.
"Sebenarnya apa yang sudah aku pikirkan? Aku hampir saja iri pada kakak iparku sendiri. Aku yakin anak ini akan hadir di waktu yang tepat," gumam Norah di dalam hati.
...***...
Elyna berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya lagi. Wanita itu terlihat sangat cantik. Ia memakai pakaian kantor dengan rambut di gerai rapi. Tidak ada lagi senjata api yang melekat di tubuhnya. Berkat usaha Letty, Elyna akhirnya berhasil berubah menjadi wanita yang feminim.
Awalnya selalu saja Letty yang membantu Elyna untuk berhias. Tetapi lama-kelamaan wanita itu bisa merias wajahnya sendiri. Sekarang Elyna benar-benar menjadi wanita yang menakjubkan. Bahkan sudah banyak pria yang datang ke rumah hanya untuk melamarnya. Tetapi sayangnya lamaran mereka semua ditolak oleh Elyna. Sedangkan Letty sendiri tidak lagi berani untuk menjodohkan Elyna dengan anak sahabatnya. Karena sejak Miller kembali, pria itu melarang keras Letty untuk menjodohkan Putri mereka. Miller menyerahkan sepenuhnya jodoh Elyna di tangan Elyna sendiri. Pria itu tahu bagaimana rasanya ketika dijodohkan. Belum tentu juga jika pria yang mereka pilih sesuai dengan keinginan Elyna.
Pintu terbuka lebar dan Letty muncul dengan segelas susu di tangannya. Wanita itu tersenyum bahagia melihat penampilan Elyna yang sekarang. Putrinya selalu saja wangi dan berpenampilan rapi sesuai dengan apa yang diimpikan Letty selama ini.
__ADS_1
"Ini susu yang kau pesan kemarin." Letty meletakkan susu itu di atas meja.
"Kenapa Mama harus membawanya ke kamar? Aku bisa menjemputnya di bawah." Setelah selesai berhias Elyna segera berjalan ke meja dan mengambil susu tersebut lalu meneguknya secara perlahan.
Apa hari ini kau akan pulang malam lagi?"
"Aku juga tidak tahu. Tergantung kesibukan di perusahaan nanti," jawab Elyna apa adanya. Wanita itu segera menghabiskan susu yang dibuat oleh Letty.
"Sayang. Apa kau yakin tidak mau menikah? Maafkan Mama karena lagi-lagi harus menyinggung masalah ini. Tetapi mama baru saja mendapatkan kabar kalau istri Zion hamil dan itu membuat Mama iri karena sebentar lagi tante Leona akan menggendong cucu sedangkan Mommy tidak tahu entah kapan."
Elyna kembali terdiam. Tiba-tiba saja ia ingat akan seseorang. "Sayang, kenapa kau diam saja? Cepat berangkat. Sekarang sudah siang."
Elyna mengangguk. Dia memandang jam di dinding sebelum memeluk Letty dan mencium pipi kanan dan pipi kirinya.
"Elyna berangkat dulu ya Mom."
Letty menggangguk. Wanita itu memandang putrinya sampai menghilang di balik pintu. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan selama ini. Kenapa setiap kali aku menyinggung soal pernikahan Ia seperti sedang memikirkan sesuatu."
Saat Dominic masuk rumah sakit, memang hubungan Elyna dan Dominic sudah membaik. Tidak ada lagi dendam di antara mereka. Baik Dominic maupun Elyna sudah memutuskan untuk melupakan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Namun bukan berarti Elyna dan Dominic harus berpacaran dan menikah. Karena pada nyatanya Dominic dan Elyna tidak lagi pernah bertemu sejak pertemuan di rumah sakit waktu itu.
Elyna memberhentikan mobilnya ketika sudah tiba di parkiran perusahaan. Wanita itu diberi kepercayaan oleh Miller untuk mengurus perusahaan Sonia yang sempat terbengkalai. Berkat pengalaman singkat yang dimiliki oleh Miller, pria itu berhasil mendidik putrinya untuk mengurus perusahaan terbengkalai itu hingga menjadi perusahaan yang kembali sukses.
Kedatangan Elyna pagi itu sudah disambut hangat oleh beberapa security yang berjaga di depan kantor. Mereka membukakan pintu mobil lalu menunduk hormat ketika Elyna turun.
"Selamat pagi, Nona," sapa mereka.
"Selamat pagi," jawab Elyna sambil tersenyum manis. Meskipun kini Elyna sudah menyandang sebagai pemilik perusahaan besar yang ada di Amerika tetapi tetap saja wanita itu adalah Big Boss Queen Star. Elyna masih belum bisa meninggalkan Queen Star karena baginya Queen Star adalah bagian dari hidupnya.
Kedatangan Elyna disambut hangat oleh seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris pribadi Elyna. Baru juga masuk ke dalam ruangan kerjanya Elyna sudah dihadapkan dengan sejuta kegiatan yang membuat kepala Elyna langsung terasa pusing.
"Nona, ini adalah jadwal anda hari ini. Sepertinya hari ini kita akan pulang malam lagi," jelas wanita itu sambil menyodorkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Elyna.
"Mommy pasti akan marah lagi jika aku pulang malam," ucap Elyna sebelum menandatangani satu persatu berkas yang ada di hadapannya. "Tapi aku tidak peduli. Bukankah mommy sendiri yang menginginkan aku untuk menjadi wanita karir. Sekarang aku sudah menjadi seperti apa yang dia inginkan."
Sekretaris Elyna hanya tertawa saja mendengar wanita itu curhat. "Oh iya, Nona. Tadi ada yang menitipkan bunga ini untuk anda. Dia bilang akan menemui anda nanti siang. Saya tidak kenal siapa orangnya karena sebelumnya Anda tidak pernah bertemu dengannya."
Elyna memandang buket bunga mawar yang tergeletak di atas meja lalu ia mengambil kartu ucapan yang ada di dalamnya.
"Apa kabar?" celetuk Elyna tidak percaya. Lalu ia mencari lagi petunjuk di dalam bunga itu untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sudah mengirim bunga itu ke perusahaannya.
"Sepertinya anda memiliki pengagum rahasia, Nona. Buktinya saja dia tahu kapan Anda masuk ke kantor kapan anda pulang. Bukankah tadi dia bilang kalau dia akan menjemput anda nanti siang? Itu berarti dia ingin mengajak anda untuk makan di luar."
"Tapi aku sama sekali tidak tertarik. Nanti siang ketika dia datang katakan saja aku sudah pergi," ucap Elyna sambil mendorong bunga itu agar menjauh darinya. Bisa dibilang ini bukan pertama kalinya Elyna menerima bunga maupun coklat. Hal itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Elyna karena memang hampir setiap harinya ia menerima hadiah-hadiah kecil seperti itu.
Sekretaris Elyna menemukan sesuatu dari dalam buket bunga itu. "Nona, sepertinya ini adalah nama pengirimnya," ucap wanita itu dengan wajah penuh semangat.
"Siapa nama pengirimnya?" tanya Elyna tanpa memandang.
__ADS_1
Sekretaris wanita itu mengernyitkan dahinya. "Dominic?"