
"Ma, sebenarnya di mana Austin? Kenapa setiap kali Norah bertanya dimana Austin berada, Mama selalu diam saja. Apa terjadi sesuatu terhadap Austin?Norah ingin bertemu dengan Austin sekarang, Ma," desak Norah. Wanita itu tidak bisa sabar lagi.
Leona sengaja tidak memberitahu Norah kalau sekarang Austin sudah ada di Las Vega. Ia tahu kalau putrinya sangat nekat. Jika wanita itu sampai tahu kalau pria yang dia cintai sudah ada di Las Vegas, sehat sedikit saja mungkin Norah sudah menghilang dan muncul di Las Vegas. Leona tidak mau sampai hal itu terjadi.
"Austin sedang membereskan masalah perusahaan. Dia menemanimu selama kau tidak sadarkan diri. Bahkan saat kau operasi dia juga menunggumu di depan ruang operasi. Baru saja dia berangkat ke bandara, kau sadarkan diri. Sebentar lagi Austin pasti akan menghubungimu. Papa baru saja memberitahu Austin kalau kau baru sadar," dusta Norah semakin menjadi.
"Lalu di mana Kak Zion, Ma? Kenapa Kak Zion tidak ada di ruangan ini?"
"Sayang, sebaiknya jangan bertanya tentang orang lain terlebih dahulu. Pikirkan kesehatanmu sendiri. Mama masih tidak habis pikir denganmu. Kenapa kau nekat sekali membawa bom itu dan melemparkannya ke udara. Apa kau tidak berpikir resikonya sebelum melempar bom itu. Wajahmu rusak terkena ledakan bom. Apa kau tahu itu Norah?" Leona terpaksa mengalihkan pembicaraan agar Norah tidak terus bertanya keberadaan orang-orang yang sekarang ada di Las Vegas.
"Rusak?" tanya Norah dengan wajah serius. "Maksud Mama, wajahku sudah tidak cantik lagi?" Norah memegang wajahnya sendiri. "Dimana cermin, Ma? Aku ingin melihat wajahku, Ma. Cepat berikan aku cermin."
"Kau sudah melewati operasi plastik dan sekarang wajahmu telah kembali bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya, sayang." Leona mengambil cermin yang ada di dalam laci lalu memberikannya kepada Norah agar wanita itu bisa kembali tenang. "Lain kali jangan suka berbuat yang nekat seperti itu lagi. Norah, bukan hanya Mama dan Papa yang khawatir. Austin juga sangat mengkhawatirkanmu bahkan berulang kali ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah menyebabkan kau celaka. Pikirkan perasaan orang lain jika kau tidak peduli dengan perasaanmu sendiri Norah!"
__ADS_1
Norah hanya bisa menunduk jika Leona sudah marah seperti ini. "Justru Norah melakukan semua itu karena Norah tidak mau orang-orang yang Norah sayangi celaka, Ma. Austin terus aja berusaha untuk menjinakkan bom itu namun dia tidak mampu melakukannya. Hanya tersisa waktu sedikit saja saat itu. Kalau saja aku masih memiliki waktu yang banyak, aku sudah menyerahkan bom itu kepada Opa Zen. Aku juga tidak mungkin bertindak seceroboh itu, Ma." Nada bicara Norah melemah hingga membuat Leona tidak tega untuk mengalahkan putrinya lagi.
"Baiklah. Kali ini mama percaya dengan penjelasanmu. Daisy juga sempat mengatakan kalau dibawa mobilmu ada bom. Mama dan papa langsung panik dan berlari keluar. Entah bagaimana perasaan Mama saat melihat bom itu meledak dan melihatmu tiarap di dekat ledakan bom kemarin. Tapi semua sudah berakhir. Sekarang kau sudah sehat kembali."
"Maafkan aku Ma karena sudah membuat Mama khawatir. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Norah segera memeluk Leona. Wanita itu sangat menyesali perbuatannya walaupun sebenarnya dia masih belum percaya dengan alasan yang dikatakan oleh ibu kandungnya tersebut. Ia yakin kalau ibu kandungnya sedang menyembunyikan keberadaan Austin sekarang.
"Daisy menemui Opa Zen. Tadi Opa Zen memanggilnya. Daisy juga tadi hampir saja dijebak oleh seseorang. Dia memegang boneka yang ada bomnya dan membawanya ke ruang perawatan Livy. Teror musuh kita kali ini benar-benar berbahaya. Kita harus selalu waspada dalam keadaan apapun dan lebih waspada lagi dengan orang-orang baru yang datang ke ruangan kita. Hanya rumah satu-satunya tempat yang aman. Selama kita ada di rumah sakit kita harus tetap selalu waspada."
"Apa Opa Zen yang sudah menjinakkan bomnya, Ma?"
"Ya, sayang. Tapi Daisy terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Dia jadi takut dan tidak berani menemui semua orang. Dia memang anak yang lemah. Daisy sama seperti mama dulu," ucap Leona sambil mengenang masa mudanya dulu.
__ADS_1
"Mama pasti membohongi, Norah. Papa pernah bilang kalau sejak dulu mama itu wanita yang jagoan dan tangguh. Itu yang membuatku bertekad untuk menjadi wanita hebat seperti mama," sahut Norah.
"Sayang ... saat Mama pertama kali bertemu dengan papa, mama itu memang sudah jadi wanita yang jagoan. Tapi sebelum itu sebenarnya Mama hanya wanita manja yang tidak tahu apa-apa. Sok hebat jika ada orang yang menantangi Mama, padahal sebenarnya Mama juga tidak bisa melindungi diri Mama sendiri. Paman Kwan yang selalu menjadi teman Mama kemanapun Mama berada."
"Benarkah? Lalu apa yang sudah membuat Mama tertarik untuk mempelajari dunia mafia. Bukankah itu dunia yang berbahaya? Kenapa wanita manja seperti mama tertarik untuk berada di dalamnya. Kalau dipikir-pikir GrandNa dan Opa Daniel pasti bisa melindungi Mama dari bahaya tanpa Mama harus terjun langsung ke dalam dunia mafia."
Leona menahan kalimatnya. Dia tidak bisa mengatakan cerita yang sebenarnya terjadi. Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Dia tidak mau membuat putrinya salah paham lalu menimbulkan permusuhan. "Mama juga tidak tahu apa alasan Mama sampai tertarik ke dalam dunia mafia. Melihat seorang wanita memegang senjata dan bertarung kelihatannya sangat keren hingga membuat mama ingin untuk mencobanya. Ternyata sangat sulit ketika tahap-tahap pelatihan tetapi mama akhirnya berhasil."
"Mama yakin tidak ada yang mendasari perubahan sikap Mama itu?" Norah bertanya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Kenapa kau menatap Mama dengan penuh curiga seperti itu sayang? Sekarang cepat habiskan makananmu. Bukankah tadi Dokter bilang kalau kau harus banyak makan agar tenagamu bisa kembali pulih. Jangan sakit-sakit lagi. Jangan buat mama tidak bisa bernapas dengan tenang. Kalian bertiga itu adalah nyawa mama. Jika sedikit saja di antara kalian celaka, Mama akan terus menyalakan diri Mama karena sudah gagal menjaga kalian."
"Maafkan Norah ya Ma karena sudah membuat mama sedih." Norah memasukkan makanannya ke dalam mulut. Dia memandang ke luar jendela lalu tersenyum. " Austin, Apakah kau sudah makan?" tanya Norah di dalam hati.
__ADS_1