Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 236


__ADS_3

Rencana liburan yang tadinya direncanakan Jordan hanya untuk para orang tua saja ternyata tidak sesuai rencana. Bagaimana tidak? Anak-anak mereka tidak mau ketinggalan. Hingga akhirnya Jordan menamai liburan mereka ini liburan keluarga. Semua orang di undang dan semua orang memang diwajibkan ikut.


Leona merasa senang karena dia masih diberi kesehatan untuk berkumpul dengan keluarga besar yang ia miliki. Kali ini Zean juga ikut liburan bersama mereka. Pria itu sudah sehat. Wajahnya terlihat jauh lebih segar.


Leona mengeluarkan banyak uang demi bisa mewujudkan liburan ini. Dia rela menyewa kapal pesiar dengan nilai yang fantastis. Leona sengaja membuat liburan ini terlihat mewah agar ia bisa memiliki kenangan yang indah ketika nanti anak-anaknya sudah menikah.


Opa Zen dan Kenzo duduk di kursi yang berdampingan. Tidak jauh dari posisi mereka duduk ada Lukas dan juga Biao. Ternyata keempat pria itu tidak tertarik lagi untuk mengikuti cucu dan anak mereka yang kini sedang menikmati pesta di depan kolamm renang. Keempat pria itu memilih duduk di kursi mereka sembari mengawasi keluarga tercinta.


“Bos Zeroun, apa anda sudah minum vitamin?” ledek Kenzo. Bukan Kenzo namanya jika dia diam saja ketika duduk di samping Zeroun. Yang tidak lain adalah kakak iparnya sendiri.


“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah mengolesi pinggangmu yang suka sakit itu dengan minyak urut?” ledek Zeroun gantian. Ternyata hari ini mood Opa Zen sedang baik hingga ia mau ikut bercanda dengan Kenzo.


Kenzo tertawa mendengarnya. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebotol minyak oles ukuran mini. “Aku membawanya ke mana-mana. Benda ini jauh lebih berarti dari senjata api. Bukankah begitu Lukas?” Kenzo tahu kalau Lukas memiliki penyakit yang sama dengannya.


Lukas hanya mengangguk saja. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi sekarang karena mereka semua sudah tua. Tidak lama lagi mereka semua juga akan pergi meninggalkan dunia ini.


“Apa aku boleh meminjamnya?” pinta Biao hingga membuat Zeroun, Kenzo dan Lukas yang sedang tertawa kembali terdiam. Meskipun sudah tua, tetapi di antara mereka berempat yang masih memiliki ekspresi dingin hanya Biao seorang. Pria itu terlihat tetap cool meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Sharin benar-benar merawat Biao dengan baik. Sampai-sampai pria itu jauh lebih muda dari usianya.


“Kau yakin?” tanya Kenzo. Tetapi pria itu tetap memberikannya. “Jangan banyak-banyak. Harganya tidak mahal. Tetapi sekarang kita ada di tengah laut. Dimana ada jual minyak oles?” ujar Kenzo lagi.


Biao menerima minyak oles ukuran mini itu. Saat ingin membukanya tiba-tiba saja minyak itu terlepas dan tergelincir. Karena memang para Opa duduk di pinggiran kapal. Dengan mudahnya minyak oles itu meluncur ke laut.


Kenzo langsung beranjak dari kursi yang ia duduki dengan wajah protes. “BIAO! Kau ini sudah tua tapi sama sekali tidak bisa di percaya. Aku menyesal sudah memberikannya padamu!”


Biao hanya diam saja. Seperti ekspresinya sejak dulu. “Maaf,” ucapnya singkat tanpa merasa bersalah sedikitpun. Zeroun dan Lukas tertawa geli melihatnya. Meskipun mereka hanya berempat, tetapi mereka jauh lebih ramai dibandingkan yang lainnya.

__ADS_1


Dominic baru saja keluar dari kamar. Pria itu memperhatikan keramaian yang ada di sekitar kolam renang. Sejak tiba di kapal Dominic memang memilih untuk tidur. Bukan karena pria itu mengantuk, tetapi dia tidak mau bergabung dengan keluarga besar calon adik iparnya.


Dari atas sana dia bisa melihat Faith yang sedang tertawa bahagia ketika berbincang dengan Leona dan yang lainnya. Dominic juga merasa bahagia. Rasanya dia semakin rela menyerahkan adiknya untuk menikah dengan Zion.


Ponsel Dominic di dalam saku berdering. Wajah pria itu terlihat serius ketika panggilan telepon itu berasal dari orang kepercayaannya yang ada di Las Vegas. Dominic tahu kalau pria itu tidak akan mungkin menghubunginya jika bukan karena ada suasana yang darutat.


“Ada apa?” tanya Dominic. Dia memperhatikan lagi lokasi tempatnya berada untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraannya.


“Bos, kita di serang lagi. Bagaimana sekarang? Saya sudah memberikan sejumlah uang dan berlian yang mereka incar. Tetapi mereka tidak ada puasnya. Mereka meminta anda untuk datang ke sini,” ujar pria di dalam telepon.


“Apa?” Dominic memejamkan matanya sejenak untuk mengatur emosinya. “Aku akan segera ke sana!” Dominic segera memutuskan panggilan telepon itu. Dia berputar lagi dan memandang Faith di bawah. “Maafkan kakak. Kakak harus pergi. Papa bisa menjagamu selama kau liburan bersama mereka.”


Dominic segera berjalan menuju ke tempat sekoci berkumpul. Pria itu akan meminta bantuan kapten kapal untuk pergi secara diam-diam. Dia tahu, jika sampai Faith maupun Zean mengetahui masalah yang ada di Las Vegas, mereka berdua pasti tidak akan mengizinkan Dominic pergi.


“Faith, Tante Katterine ini sebenarnya adalah calon Ratu. Tetapi dia mengundurkan diri dan lebih memilih untuk meninggalkan kerajaan Cambridge. Sama dengan keputusan yang diambil oleh Paman Jordan. Tante harap kau tidak salah paham jika suatu ketika kami ada menyinggung soal kerajaan Cambride. Karena sebenarnya kita memang masih bagian dari kerajaan Cambride,” jelas Leona apa adanya. Wanita itu memperkenalkan semua keluarga yang berkumpul kepada Faith. Menceritakan satu persatu kisah yang mereka miliki.


Faith merasa sangat bahagia. Keluarga seperti ini yang sejak dulu ia impikan. Ramai tetapi tetap saling menyayangi satu sama lain. Saling menjaga perasaan satu sama lain.


“Bagaimana dengan Oma Sharin, Ma? Faith lihat Oma Sharin paling muda dari Oma yang lainnya.” Faith memandang ke arah Sharin yang duduknya cukup jauh jaraknya dari posisinya berada.


“Oma Sharin dan Opa Biao memang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh. Oma Sharin menikah di usianya yang masih muda. Berbeda dengan Oma yang lainnya. Mereka hanya berjarak beberapa tahun saja dengan Opa,” jelas Leona apa adanya.


Faith mengangguk mengerti. Wanita itu memandang lagi ke arah Zion yang kini berkumpul dengan para pria untuk bermain kartu. Tiba-tiba saja Faith merasa ada yang aneh. Dia tidak menemukan Dominic di sana dan itu membuatnya khawatir.


“Ma, Faith ke kamar dulu ya. Faith ingin istirahat sebentar. Kepala Faith sedikit pusing. Ini pertama kalinya Faith naik kapal di tengah laut.”

__ADS_1


Leona mengangguk. “Ya, sayang. Hati-hati. Nanti jika keadaanmu sudah jauh lebih baik kau bisa berkumpul lagi di sini bersama kami.”


“Ya, Ma.” Setelah berpamitan, Faith segera masuk ke dalam kapal. Wanita itu berjalan cepat menuju tangga yang akan menghubungkannya dengan kamar tempat Dominic istirahat.


Setelah melangkah beberapa meter akhirnya Faith tiba di depan kamar yang menjadi tempat Dominic istirahat. Belum mengetuk pintu juga Faith sudah merasa ada yang aneh di sana. Pintu kamar Dominic tidak di kunci seperti sebelumnya.


“Kak,” kata Faith. Ia mendorong pintu itu secara perlahan sebelum melangkah masuk ke dalam. Sunyi. Itulah yang pertama kali dilihat Faith. Sama sekali tidak ada jejak kalau Dominic ada di kamar tersebut. “Kak, apa kakak di dalam?” Faith melangkah ke kamar mandi berharap kakaknya ada di dalam sana. Namun hasilnya nihil karena memang saat ini Dominic sudah dalam perjalanan menuju ke Las Vegas.


Faith menemukan surat yang sengaja di tulis dan diletakkan Zion di atas tempat tidur. Wanita itu segera mengambil surat itu sebelum duduk di tepian ranjang dan membaca isinya.


“Faith, aku harap kau yang menemukan surat ini untuk yang pertama kalinya. Kakak hanya ingin bilang, jangan panik. Tetaplah bersikap sewajarnya seolah-olah tidak ada masalah. Kakak merasa bosan di kapal ini. Maafkan kakak karena tidak bisa bersenang-senang denganmu dan yang lainnya. Kakak merindukan Las Vegas. Dengan surat ini kakak katakan padamu kalau kakak sudah merestui hubungan kalian. Cepat tentukan tanggal pernikahannya. Ketika kalian berdua sudah menentukan tanggal pernikahan kalian, segera hubungi kakak. Kakak sangat menyayangimu. Jangan bersedih. Bersenang-senanglah karena kau berhak bahagia!”


Faith merasa terharu membaca surat Dominic. Wanita itu memeluknya dengan mata terpejam. Rasanya Faith tidak sabar untuk emmberi tahu informasi ini kepada Zion. Calon suaminya itu harus tahu agar mereka bisa segera menentukan tanggal pernikahan mereka.


“Kak, aku mencari kakak kemana-mana.” Daisy muncul di kamar tersebut. Namun wanita itu hanya berani berdiri di depan kamar saja. Dia tahu itu kamar Dominic. Daisy tidak mau sembarangan masuk ke kamar orang lain. “Kak Norah ingin bertemu sama kakak,” jelas Daisy lagi agar Faith tidak bingung.


“Ya,” jawab Faith. Wanita itu segera menghapus air mata bahagia yang baru saja menetes. Namun, Daisy menjadi khawatir.


“Kak, kakak kenapa menangis? Apa ada masalah? Dimana Kak Dominic?”


“Dia pergi ke Las Vegas. Memang dia sudah lama meninggalkan Las Vegas.” Faith beranjak dari tempat tidur. “Kau tidak perlu khawatir melihatku menangis karena ini air mata bahagia. Aku terharu membaca surat Kak Dominic. Dia bilang kalau dia sudah merestui hubunganku dengan Zion. Dia meminta kami berdua untuk segera menentukan tanggal pernikahan.”


Daisy terlihat bersemangat. “Serius kak?” Faith hanya menjawab dengan anggukan. “Wah, selamat kak. Selamat. Tidak lama lagi kakak akan menjadi kakak iparku. Ayo kita temui kak Zion. Kita harus sampaikan ke Kak Zion berita bahagia ini.”


Faith hanya diam saja ketika Daisy menariknya menuju ke tempat Zion berada. Wanita itu sama sekali tidak memiiki firasat apapun kalau sebenarnya kakaknya Dominic akan menantang bahaya di Las Vegas nanti.

__ADS_1


__ADS_2