Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 180


__ADS_3

Daisy membuka kedua matanya secara perlahan. Ternyata dia sempat ketiduran karena lokasi di sana sangat nyaman. Semilir angin membuatnya terlelap sampai-sampai dia tidak peduli kalau sekarang ada di tempat umum.


"Kau sudah bangun?" tanya Foster sambil mengusap rambut Daisy.


"Apa aku ketiduran? Kenapa kak Foster tidak membangunkanku jika aku ketiduran? Aku sudah terlalu lama di sini. Papa pasti sudah menungguku di rumah," ujar Daisy panik.


"Aku tidak akan berani membiarkanmu ketiduran jika belum mendapatkan izin dari mertuaku," ucap Foster dengan santai.


"Mertua? Apa maksud Kak Foster?"


"Tadi saat kau ketiduran Aku ingin membangunkanmu tapi kedua orang tuamu datang ke sini. Mereka memintaku untuk menjagamu. Aku senang mendengarnya karena kedua orang tuamu merestui hubungan kita. Sekarang aku hanya perlu mencari cara untuk meluluhkan hati kakak iparku agar dia bisa menerimaku di dalam keluargamu."


"Mama dan papa ke sini?" tanya Daisy tidak percaya. "Kau sangat kelelahan sampai-sampai tidak sadar ya. Sekarang kita pulang. Aku juga harus ke bandara dan pulang ke rumah. Aku ingin memperbaiki semuanya. Meskipun hasil akhirnya tetap sama, setidaknya aku sudah berusaha untuk membuat kedua orang tuaku percaya."


"Semoga kak Foster berhasil."


Foster tersenyum melihat Norah. "Terima kasih sayang," ucapnya dengan mesra.


***


"Aku sudah kenyang," ucap Norah. Wanita itu rasanya tidak mau memakan makanan yang disuapin oleh Austin lagi karena perutnya terasa sangat penuh.


"Sedikit lagi. Kau tidak akan berubah menjadi gendut hanya memakan beberapa suapan saja. Selama sakit kau tidak memasukkan makanan apapun ke dalam mulutmu. Aku tidak mau ketika kita menikah nanti kau tinggal kulit dan tulang," ucap Austin dengan begitu serius seolah-olah pria itu tidak sedang bercanda saat ini. Padahal sebenarnya dia senang sekali meledek kekasihnya yang baru sadar itu.


"Tapi aku tidak bisa menelannya lagi karena perutku sudah terasa sangat penuh. Bisakah kita lanjutkan nanti saja?" tawar Norah dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan, Aku tidak bisa memaksamu lagi." Austin meletakkan piring yang sejak tadi ada di genggaman tangannya ke atas nakas. Pria itu memandang ke arah Zion yang kini mulai menggerakkan tangannya.


"Norah, lihatlah. Sepertinya Kak Zion sudah sadar."


Norah yang saat itu sudah lepas infus segera beranjak dari tempat tidurnya. Dibantu oleh Austin ia berjalan mendekati tempat tidur Zion. Ada senyum di bibirnya ketika melihat Zion mulai menggerakkan kelopak matanya secara perlahan. Ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh Norah. Melihat kakaknya membuka mata untuk memastikan kalau kakak kandungnya itu baik-baik saja. Reaksi obat yang disuntikkan ke tubuh Zion telah hilang. Kini Zion akan bangun dengan tubuh yang jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Kak Zion," ucap Norah sambil melangkah lebih dekat lagi ketika Zion membuka matanya dengan sempurna. Pria itu masih belum mau berbicara. Ia hanya memandang Austin dan Norah secara bergantian sebelum menghela nafas. Sepertinya ia tidak terlalu bahagia melihat adiknya.


"Kenapa ekspresi Kak Zion seperti itu? Kak Zion tidak suka aku ada di sini?" tebak Norah asal saja Meskipun sebenarnya tebakan wanita itu benar.


"Aku tidak mau kau sakit lagi. Aku belum sempat memarahimu kemarin karena kau tidak sadarkan diri dan langsung masuk ke ruang operasi. Tadinya aku ingin menunggumu, tetapi di waktu yang bersamaan Aku harus berangkat ke Las Vegas. Aku benar-benar kesal melihatmu. Kau seharusnya dihukum saja," jawab Zion. Dia harus mengatakan alasannya memasang wajah masam ke Norah agar wanita itu tidak salah paham.


"Kenapa Kak Zion mengatakan kalimat sekejam itu? Aku mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkan nyawa semua orang. Setidaknya hargai pengorbananku. Jangan salahkan aku dengan cara seperti ini." Norah memasang wajah sedih andalannya hingga akhirnya Zion menyerah dan tidak tega untuk menyalahkan wanita itu lagi.


"Kemarilah. Aku sangat merindukanmu. Aku senang kau baik-baik saja."


Tanpa proses Norah segera memeluk Zion dan tersenyum bahagia. Hal itu membuat Austin garuk-garuk kepala. Meskipun dia tahu Zion adalah kakak kandungnya Norah, tetapi entah kenapa dia tidak suka wanita yang ia cintai dipeluk oleh pria lain selain dirinya. Apalagi terlihat mesra seperti itu.


"Aku senang mendengar kabar kalau kakak pulang dalam keadaan baik-baik saja. Kakak curang sekali pergi tanpa aku. Bukankah dulu kita pernah berjanji kalau kita akan membuat Gold Dragon semakin kuat. Kakak lupa dengan kata kita. Itu berarti selalu ada namaku di setiap perjuangannya."


"Kau masih sakit. Jika saja kau tidak berbaring di tempat tidur itu aku sudah menyeretmu untuk ikut denganku karena memang misi kami kemarin membutuhkan seorang wanita."


"Seorang wanita? Lalu Siapa wanita yang sudah membantu kakak? Apa aku kenal?"


"Si Playboy itu yang mencarinya. Aku sendiri juga tidak mengenalnya. Tidak tahu di mana dia menemukan wanita."

__ADS_1


"Playboy?" tanya Norah bingung.


"Ya, si Foster Playboy," jawab Zion dengan wajah kesal. Sepertinya pria itu masih sulit untuk berdamai dengan Foster meskipun jelas-jelas kemarin Foster sudah membantunya begitu banyak.


Norah tertawa mendengar jawaban Zion. "Kakak jangan terlalu membenci Foster nanti kakak bisa semakin menyayanginya," ledek Norah sambil tersenyum.


"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin mau menyayanginya," sangkal Zion tidak terima.


"Maksudku Kakak akan jatuh cinta kepadanya sebagai adik ipar. Sebenarnya apa yang kakak pikirkan? Apakah kakak berpikir yang aneh-aneh."


Austin yang mendengar perbincangan Norah dan Zion hanya bisa menunggu sambil menahan tawa. Rasanya ia sangat bahagia bisa berada di tengah-tengah keluarga mereka. Karena keluarga mereka menjunjung kebersamaan dan kekeluargaan dibandingkan segalanya.


"Di mana dia? Apa dia menemui Daisy ketika aku tidak sadarkan diri? Dia pasti memanfaatkan kesempatan ini. Aku akan memukulnya," ucap Zion. Pria itu segera membuka infus yang masih menancap di punggung tangannya.


"Kak, jangan lakukan itu. Dokter bisa marah kepada kakak. Kakak harus diperiksa dulu jika keadaan kakak baik-baik saja maka kakak baru boleh melepaskan infusnya." Norah terlihat khawatir.


"Kelamaan. Aku tidak memiliki waktu untuk basa-basi di rumah sakit ini. Aku harus segera berangkat ke markas Gold Dragon."


Mendengar markas Gold Dragon membuat Norah tertegun. Ketika Zion menurunkan kedua kakinya tiba-tiba saja Norah memegang lengan Zion dan menahannya agar tidak pergi.


"Jangan pergi kak," bujuk Norah.


"Kenapa? Bukankah di sini ada Austin?"


"Kak Faith sudah tidak ada di markas Gold Dragon.

__ADS_1


__ADS_2