
"Kami akan segera melakukan kemoterapi. Kita akan lihat perkembangannya sebelum melakukan pengobatan lebih lanjut," ucap dokter pria yang ada di depan.
Dominic memegang tangan Faith sebelum mengeluarkan kata. "Apa papa kami bisa sembuh, Dok?"
"Tentu saja bisa, karena kita mengetahui penyakitnya lebih awal. Penyakit ini akan menjadi penyakit mematikan jika kita mengetahuinya saat sudah stadium akhir. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Zean."
"Sebelumnya apa ada pasien yang mengidap kanker paru-paru bisa sembuh, Dok?" tanya Faith dengan wajah ragu-ragu. Sebenarnya ia juga merasakan kekhawatiran yang sekarang dirasakan oleh Dominic.
"Ada banyak, Nona. Hampir 80% pasien kami sembuh. Seperti yang saya katakan tadi. Jika kita bisa mengetahuinya sejak awal, kita bisa dengan mudah untuk mengobatinya. Namun ketika kita tahu saat penyakit itu sudah parah, maka akan sulit untuk mengobatinya."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk papa saya. Saya akan membayar berapapun biayanya."
"Baik Tuan. Untuk beberapa waktu ini sebaiknya Tuan Zean tetap ada di rumah sakit agar saya lebih mudah untuk memantaunya. Dokter Livy sendiri yang meminta saya untuk merawat langsung Tuan Zean. Saya tidak mau sampai mengecewakan Dokter Livy."
__ADS_1
"Livy? Siapa Livy?" tanya Dominic bingung.
"Livy adalah sepupu Kak Zion," jawab Faith. Memang sebelum masuk ke ruangan dokter Zion sempat bercerita kalau rumah sakit ini adalah milik Livy sekarang. Livy juga yang sudah memerintahkan bawahannya agar mengirim dokter hebat untuk menyembuhkan penyakit Zean.
"Ternyata mereka berkontribusi banyak untuk kesehatan Papa. Sepertinya aku harus mulai bisa menerima mereka," gumam Dominic di dalam hati.
"Kak, sebaiknya Kakak jangan marah lagi ya. Semua ini demi kebaikan papa. Aku tahu kalau Kak Dominic tidak suka jika berhubungan dengan keluarga Kak Zion."
"Aku akan mempertimbangkan pria itu lagi untuk menjadi calon suamimu. Sepertinya dia tidak seburuk yang aku pikirkan," ucap Dominic tanpa memandang hingga membuat Faith tersenyum lebar. Pria itu memandang ke arah dokter lagi.
"Itu benar. Karena saya ingin pasien istirahat total tanpa diganggu oleh siapapun. Tapi untuk sekarang anda sudah bisa untuk menjenguknya. Kemungkinan sebentar lagi pasien juga akan sadar. Anda bisa membicarakan soal kemoterapi ini agar ketika nanti ada perawat yang menjemput ke ruangan, pasien sudah tidak kaget lagi."
"Baiklah Dok. Kami akan membujuk Papa agar mau kemoterapi," ucap Faith.
__ADS_1
Faith dan Dominic beranjak dari kursi lalu pergi meninggalkan ruangan dokter tersebut. Meskipun Zean belum sembuh total, tetapi mereka masih memiliki harapan agar Zean bisa kembali sembuh.
"Tante Leona memang wanita yang baik. Aku tahu kalau waktu itu dia membenciku pasti karena ada alasannya."
Dominic menahan langkah kakinya lalu menatap wanita itu dengan begitu tajam. "Bahkan ibunya juga pernah membencimu?" tanya Dominic. Selama ini dia pikir hanya Zion saja yang pernah melukai hati Faith. Tidak disangka kalau ibu kandung Zion juga pernah melukai hati adiknya.
"Semua ini tidak seburuk yang kakak pikirkan. Apa yang dilakukan oleh Tante Leona memang benar waktu itu. Secara terang-terangan aku bilang sama Tante Leona kalau aku tidak mencintai putranya dan ingin menjauh dari putranya. Ibu mana yang tidak marah jika mendengar wanita yang dicintai putranya mengatakan kalimat sekejam itu? Semua ini berkat bantuan Tuan Zeroun. Dia memintaku untuk pergi ke ke Las Vegas dan menjelaskan semuanya yang terjadi. Jika tanpa bantuan Tuan Zeroun, mungkin saat ini kita tidak tahu kalau sebenarnya kita adalah kakak adik." Faith berusaha meyakinkan Dominic agar pria itu tidak sampai salah paham.
"Semua sudah terjadi seperti ini. Sekarang aku tidak bisa banyak bicara lagi. Sebaiknya kita fokus saja pada kesehatan papa. Jangan dulu membahas soal pernikahanmu dengan pria itu. Bukankah kalian sudah tunangan semalam. Harusnya itu sudah bisa menjadi ikatan antara kalian agar bisa menjaga satu hati sama lain."
Faith merangkul lengan Dominic lalu memandang pria itu sambil tersenyum. "Apa kakak sudah merestui hubungan kami?"
"Bukankah tadi sudah aku bilang akan ku pikirkan lagi. Kalau begitu jangan tanya sekarang. Tanya saja nanti ketika aku sudah bisa untuk memutuskannya."
__ADS_1
Faith hanya tersenyum saja. Melihat ekspresi wajah Dominic yang sekarang, dia merasa yakin kalau kakaknya sudah merestui hubungan mereka.