
Austin berdiri di hadapan Lukas. Pria itu tidak diperbolehkan menghubungi Norah. Namun dia sangat merindukan kekasihnya. Bukan tanpa alasan Lukas melarang Austin untuk menghubungi Norah. Mereka lagi sibuk. Jika sekali saja Austin menghubungi Norah, maka pria itu akan terus-menerus menghubungi Norah. Mereka di sini untuk bertarung bukan berlibur. Lukas hanya ingin Austin fokus dengan misi mereka. Belum lagi jika sampai Austin salah bicara itu akan menimbulkan kecurigaan pada Nora dan membuat Norah memiliki keinginan untuk berangkat ke Las Vegas. Lukas ingin Austin benar-benar serius dalam bertarung. Dia tidak mau melibatkan seorang wanita di dalamnya.
"Ada apa Austin? Apa kau ingin membujukku untuk memberikan ponselmu lagi?" tanya Lukas tanpa memandang.
"Aku sangat merindukan Norah," jawab Austin apa adanya.
"Setidaknya kau tahu kalau Norah sudah sadar. Kita harus segera menyelesaikan misi kita agar kita bisa segera pulang. Kau tidak lupa kan kalau kita ada di sini untuk bertarung mempertaruhkan nyawa bukan berlibur untuk bersenang-senang?" Lukas memasukkan senjata apinya lalu memandang Austin. Jelas saja hal itu membuat Austin menunduk karena memang dia tidak berani memandang wajah Lukas secara langsung.
"Hanya mengirimkan pesan singkat saja Opa. Tidak harus bicara dengan Norah. Aku tahu sekarang Norah pasti bertanya-tanya. Kenapa aku tidak menghubunginya. Jika aku tidak memberinya kabar dia akan semakin khawatir. Norah pasti akan mencari cara untuk mengetahui keberadaanku. Kita semua tahu kalau Norah adalah wanita yang sangat cerdas. Tidak mudah untuk membohonginya."
Lukas mengambil ponsel Austin yang sejak kemarin dia simpan. Alasan yang dibilang Austin masuk akal. Lukas tidak memiliki alasan lagi untuk menahan ponsel itu.
"Kendalikan dirimu sendiri agar Norah tidak sampai terlibat dalam masalah kita," ucap Lukas sebelum pergi meninggalkan Austin sendirian di sana.
__ADS_1
Austin tersenyum hanya melihat layar ponselnya. Ia segera mengaktifkan layar ponsel tersebut. Pria itu rasanya sudah tidak sabar untuk menghubungi wanita yang ia cintai.
Setelah ponsel aktif, puluhan pesan masuk. Hampir semua pesan yang masuk itu berasal dari Norah. Isinya juga sama. Norah bertanya dimana sekarang Austin berada. Sambil mengusap wajahnya dengan kasar, Austin tersenyum membaca pesan-pesan kekasihnya.
"Sudah kuduga dia pasti sangat mengkhawatirkanku saat ini." Austin segera melekatkan jarinya di ponsel lalu menekan pesan yang akan ia kirimkan kepada Norah.
"Aku mencintaimu Norah. Sangat mencintaimu. Jangan ceritakan soal rindu karena saat ini rinduku lebih besar daripada rindu yang kau rasakan. Aku sedang menyelesaikan urusan yang sangat penting. Maafkan aku karena tidak bisa memberitahumu masalah yang sekarang aku hadapi. Bukan karena aku tidak mempercayaimu lagi. Tetapi aku ingin kau fokus saja pada pernikahan kita. Aku akan kembali secepatnya."
Austin segera mengirim pesan singkat itu lalu tersenyum. Cepat-cepat dia mematikan ponselnya lagi. Jika tidak Norah pasti akan segera meneleponnya.
"Sudah. Semua sudah aku periksa dan kita sekarang siap untuk berangkat."
"Lawan kita tidak terlalu kuat. Dia hanya kaya raya dan memiliki kekuasaan. Aku yakin kita bisa dengan mudah untuk mengalahkannya," ucap Zion dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Seperti apapun keadaan musuh kita, kita tidak bisa menyepelekannya. Itu hanya akan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Apapun yang terjadi kita tetap harus waspada menghadapi Dominic."
"Sepertinya kau tahu banyak tentang Dominic. Apa sebelumnya kalian saling mengenal." Zion memperhatikan senjata yang akan ia gunakan nanti.
"Sejak awal aku sudah bilang kalau Dominic adalah pria yang berkuasa. Namanya terkenal di mana-mana, terutama di dalam dunia bisnis. Tentu saja aku tidak mengenalnya karena jika aku sampai mengenalnya aku akan menasehatinya bukan menyerangnya."
Zion memandang ke segala arah. "Dimana dia?"
"Siapa?" tanya Austin bingung.
"Foster," sahut Zion malas.
"Dia sudah ada di Kasino. Foster sangat bersemangat dalam penyerangan ini. sepertinya ia ingin mendapatkan nilai plus dari Kak Zion. Bagaimanapun juga setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Berikan kesempatan kepada Foster untuk memperbaiki diri agar dia bisa masuk ke dalam keluarga kita. Dia juga sampai mengorbankan keluarganya sendiri hanya demi mendapatkan cintanya Daisy."
__ADS_1
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" ajak Zion tanpa mau menjawab pertanyaan Austin. Austin hanya mengangguk saja tanpa mau memaksa Zion untuk membahas Foster lebih jauh lagi. Mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan lokasi tersebut.